11 Tips Menjadi Entrepreneur Sejati

DEPOKPOS – “Melampaui The Qashflow Quadrant – nya Robert T. Kiyosaki, Rasulullah telah menunjukkan Sembilan dari sepuluh pintu rezeki yang ada dalam perniagaan. Bahkan, Sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga adalah wirausahawan”

Bumi madinah bergetar, terdengar suara gemuruh dari hiruk–pikuk. Getaran begitu dahsyat hingga membuat Ummul Mukminin, Sayyidatina Aisyah , bertanya, “suara apa ini?. Apa yang sedang terjadi di Madinah?” orang-orang menjawab, “kafilah abdurrahman bin auf dari syam membawa barang-barang dagangannya, dengan iring-iringan tujuh ratus unta bermuatan penuh membawa sandang, pangan, dan keperluan-keperluan penduduk”.

Bacaan Lainnya

Ummul Mukminin berkata, “Semoga Allah melimpahkan keberkahan bagi Abdurrahman bin Auf dengan baktinya di dunia serta pahala yang besar di akhirat”.

Abdurrahman bin Auf adalah teladan agung bagi dunia entrepeuner dalam Sejarah kemanusiaan. Kehidupannya adalah inspirasi dan motivasi yang dihadirkan Sang Pencipta sebagai teladan dalam Sejarah, dia dibina oleh manusia terhebat, Muhammad saw, dari sumber Yang Mahahebat, dan tumbuh berkembang di lingkungan yang sangat baik.

Seluruh kesempurnaan seorang entrepeuner sejati ada padanya; personalitas, karakter, mental, moral, dan spiritual, yang berkembang berkembang berdasarkan ajaran islam.

Perilaku bisnis yang dijalankan Abdurahman bin Auf mengikuti alur dan aturan main yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Dan terbukti, ketundukan itu telah mengantarkannya kepada taraf seorang pengusaha sejati yang tidak dapat disaingi atau dikalahkan oleh pengusaha-pengusaha non muslim di zamannya.

Mengenai kebesarannya sebagai seorang entrepeuner, Khalid M. Khalid menukilkan bahwa, “Keberuntungannya dalam perniagaan sampai suatu batas yang membangkitkan ketakjuban kebenaran, hingga ia berkata, ‘ Sungguh kulihat diriku, seandainya aku mengangkat batu niscaya kutemukan dibawahnya emas dan perak.’”

Entrepeuner, Sang Pembelajar Sejati

Semangat entrepeunership, menurut Ir. Ciputra, merupakan instrument penting untuk menghapuskan kemiskinan dan ketertinggalan sebuah bangsa. Para entrepeuner selalu membuka lapangan kerja, bukan mencari kerja. Mereka efektif menyerap lonjakkan jumlah pengangguran yang menggelisahkan bangsa.

Seorang pengusaha mempunyai kemungkinan melakukan perjuangan dalam bidang ekonomi, al-jihad al- iqtishody. Negeri kita Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, saat ini ternyata hanya memiliki entrepeuner sejumlah 3,47%. Menteri Koperasi dan UKM (MenKopUKM), Teten Masduki mengatakan, rasio kewirausahaan menjadi prasyarat Indonesia untuk menjadi negara maju pada 2045 sehingga Indonesia harus memiliki rasio entrepreneur, pengusaha, maupun wirausaha minimal sebesar 4 persen dari populasi penduduk.

MenKopUKM saat mewakili Presiden RI dalam acara Pelantikan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Muda Wirausaha Indonesia (BMWI) Periode 2023-2026 di Jakarta, Kamis (9/3) mengungkapkan, bahwa salah satu prasyarat menjadi negara maju adalah entrepreneur-nya.

“Jadi bukan sekadar infrastruktur, pembangunan SDM, tapi juga kita harus menyiapkan pengusaha-pengusaha yang unggul yang inovatif,” ucap Menteri Teten, seperti dilansir dari siaran pers, Kamis (9/3/2023).

“Entrepreneur itu apa, yaitu menciptakan lapangan kerja, bukan lagi nanti kita mencetak mahasiswa yang mencari kerja,” katanya.

Kondisi tersebut memberikan tantangan sekaligus tuntutan bagi kita untuk megembangakan potensi kewirausahawan. Itu bukan hanya untuk kita atau keluarga, tetapi juga untuk bangsa dan umat yang secara tidak langsung menunggu hasil usaha kita.

BACA JUGA:  Quarter Life Crisis, Ketika Ekspektasi Tidak Seindah Realita

Selaras dengan itu, Sembilan dari sepuluh pintu rezeki, kata Rasulullah, ada dalam perniagaan. Bahkan Sembilan dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk syurga adalah wirausahawan. Melampaui The Qashflow Quadrant-nya Robert T. Kiyosaki, Rasulullah telah menunjukkan bahwa bisnisman dan investor sebagai dua hal yang harus menjadi pilihan kerja seorang muslim. Bukan self employee, apalagi employee.

Mengapa? Karena kita hidup di dunia ini harus menjadi pembelajar abadi. Belajar itu harus minal lahdi Ilal lahdi. Jadi nilai pekerjaan bukan hanya terletak pada jumlah harta yang bisa ia kumpulkan, tetapi pembelajaran kehidupan yang ia peroleh dari ragkaian usaha yang dilakukannya. Ada pembelajaran istimewa yang hanya ada dalam diri seorang pengusaha.

Resiko adalah Tantangan

“Nilai seorang manusia tidak dapat diukur di saat ia berada di zona nyaman,
melainkan bagaimana ia menghadapi tantangan dan kontrovensi”.
[Martin Luther King Jr.]

Sepakat atau tidak, saya mengutip kalimat Purdi E. Candra, bahwa untuk menjadi pengusaha tidak perlu “pintar” dan memiliki embel-embel gelar. Sebab jika terlalu pintar malah akan terlalu banyak berhitung dan melihat banyak risiko yang harus dihadapi, sehingga nyalinya malah ciut.

Anda boleh setuju atau tidak dengan kalimat pak Purdi. Yang jelas semua keputusan yang kita pilih itu selalu megandung risiko. Semuanya. Keputusan apapun itu. Orang yang sedang memanjat pohon kelapa; ia beresiko jatuh, yang sedang tidur pulas di kamarya pun beresiko tertimpa bangunan. Lho? Iya, hal itu mungkin saja kita alami, kalau terjadi gempa? Lupa, ya, bagaimana gempa tektonik memporak porandakan Yogyakarta dalam 57 detik di awal 2006 yang silam. Apalagi secara geografis, posisi Indonesia memang terletak di wilayah rawan gempa.

Begitupu keputusan finansial kita. Kalau menjadi pegawai, risiko yang kita kenal paling di-PHK. Tetapi dengan berbisnis, kita akan banyak belajar tentang arti sebuah risiko. Insyaa Allah dunia entrepeunership menjadi Pelajaran yang membuat anda semakin matang.

Jiwa Merdeka

Seorang wirausahawan tidak punya atasan. Jadi, kalau lagi ingin kerja, ya kerja, Kalau ada aktivitas yang lain, ya, boleh saja. Tidak ada bos yang memarahi, yang ada dimarahi relasi atau pelanggan, itu lain lagi ceritanya. Betapa hebat anda, jika hanya Allah dan diri anda sendirilah yang menentukan Nasib usaha anda. Bukan atasan, bukan CEO, bukan bos. Tentu anda akan bebas mengendalikan dan mengembangkan kreativitas anda, tanpa dibatasi oleh orang lain.

Pembelajaran Mejadi Leader

Bagaimana sosok CEO [Chief Execitive officer] atau pemimpin Perusahaan yang ideal? Tentu saja banyak sekali jawabannya. Namun, yang pasti, ada satu jawaban yang sangat sederhana dan insyaa Allah banyak yang setuju. CEO ideal adalah seseorang yang mampu menggabungkan semua sifat terbaik yang terdapat dalam diri manusia

Gordon selfridge membedakan antara orang yang bertipe pemimpin dan orang yang bertipe bos dengan Bahasa yang indah. Seorang bos mempekerjakan bawahannya, tetapi seorang pemimpin mengilhami mereka. Seorang bos mengandalkan kekuasaannya, tetapi seorang pemimpin mengandalkan kemauan baik. Seorang bos menimbulkan ketakutan, tetapi seorang pemimpin memancarkan kasih. Seorang bos mengatakan “aku” , tetapi seorang pemimpin mengatakan “kita” . seorang bos menunjukkan siapa yang bersalah, tetapi seorang pemimpin menunjukkan apa yang salah. Seorang bos tahu bagaimana sesuatu dikerjakan,tetapi seorang pemimpin tahu bagaimana mengerjakannya. Seorang bos menuntut rasa hormat, tetapi seorang pemimpin membangkitkan rasa hormat. Seorang bos mengatakan “pergi!” , tetapi seorang pemimpin berkata, “mari kita pergi!” maka jadilah seorang pemimpin bukan seorang bos.

Kita memiliki satu teladan sepanjang masa yang menjadi pelopor kepemimpinan abadi. Dialah sang rosul Muhammad.pelajari sirah Nabawi dan ambil hikmah bagaimana prinsip kepemimpinan beliau.

Ary ginanjar agustian dalam buku bestseller-nya, ESQ [Emotional Spritual Quotien], telah telah merangkum lima tangga kepemimpinan yang harus dilalui seorang pemimpin secara bertahap, dimana tidak boleh ada satu tangga yang terloncati untuk menuju tangga berikutnya.

Pemimpin yang dicintai
Pemimpin yang dipercaya
Pemimpin yang menjadi pembimbing
Pemimpin yang berkepribadian
Pemimpin yang abadi

Semoga dengan menjadi wirausahawan, kita belajar bagaimana memimpin manusia. Belajar menjadi leader.

Agar Menghargai Silaturrahim

Love your customer, respect you competitor. Cintai pelanggan anda dan hormatilah para competitor anda. Begitulah kalimat pembuka oleh pak Hermawan saat mengungkapkan tentang prinsip pertama dalam konsep The 10 Credos of compassionate Marketing yang sedang dikembangkannya. Apapun bidang usaha yang sedang ditekuni oleh seorang usahawan, pada hakikatnya adalah sebuah pelayanan kepada konsumennya, bahkan juga sebuah bentuk penghormatan kepada kompetitornya.

Kompetitor akan memperbesar pasar. Sebab tanpa kompetisi, industry tidak akan berkembang. Sebagai contoh, orang yang menjual martabak, disuatu tempat, kalau tidak ada orang yang menjual martabak di sebelah – sebelahnya, maka pasar “pemartabakan” mungkin tidak akan besar. Jadi, your competitor will increase your market.

Itu alasan pertama. Kedua, kompetitor anda adalah tempat anda belajar. Tentu dari mereka ada yang bagus dan ada yang tidak. Yang bagus silakan ditiru. Istilah kerennya benchmarking. Yang jelek, jangan sampai kita mengikuti produk yang terbukti gagal itu. Cukuplah kita dari kompetitor itu yang banyak belajar banyak hal. Di dinilah Pelajaran silaturrahim amat bermakna. Benarlah Rasulullah Muhammad yang memberi teladan, bahwa silaturrahim memperluas rezeki kita.

Kreatif Kelola Dana

Kalau seorang pegawai atau karyawan punya utang, begitu ada uang untuk membayar, biasanya pasti terpikir cepat-cepat uang itu ia gunakan untuk membayar utangnya meskipun bekum jatuh tempo. Mengapa? Karena ia khawatir uang itu Kalau tidak cepat-cepat dipakai melunasi utang, takutnya akan terpakai untuk yang lain.

Tetapi tidak begitu dengan usahawan, waktu seminggu pun uag itu masih bisa diputar untuk menghasilkan laba yang lebih besar lagi.

Penghargaan Terhadap Waktu

Seorang pegawai negeri,mungkin akan sulit memahami peribahasa time is money. Ia masuk kerja atau tidak, gajinya tetap segitu. ia masuk atau datang telat ke kantor, pemasukan bulananya tetap segitu. Tidak ada yang berbeda.

Tentu berbeda dengan seorang usahawan. Seorang pengusaha amat dianjurkan menghargai waktu yang ada. Tidak kerja, ya, pemasukannya berkurang. Apalagi pengusaha baru yang belum punya karyawan. Tidak kerja, ya, tidak ada pemasukan. Oleh karena itu, seorang pengusaha sangat menghargai waktu, baginya waktu adalah uang, time is money.

Menuai Pengalaman

Sekolah enrepeuner adalah sekolah kehidupan. Banyak hal yang harus kita tahu dari perjalanan bisnis. Dari bisnis, kita berperan sebagai subjek yang turun langsng. Dengan begitu, kita yang lebih tahu tentang ilmu usaha daripada para pegawai yang menjadi salah satu objek yang dikendalikan dalam usaha.

Begitulah, seorang bisnisman harus terus belajar, belajar, dan belajar. Ia harus mengikuti perkembangan berita. Ia tidak boleh menggunakan pendekatan lama dalam menentukan usahanya kedepan. Keadaan dari waktu ke waktu selalu berubah, sehingga pembelaaran abadi sangat di butuhkan di sini.

Peka Untuk Syukur dan Sabar

Posisi pekerjaan aman [meskipun saya kurang setuju jika pegawai dikatakan aman dalam pekerjaan] terkadang tidak baik dalam perkembangan hati. Tidak ada surprise yang membuat kita berbeda dari keadaan normal. Tidak ada kejutan-kejutan yang membuat kita bersyukur atau sebaliknya, harus bersabar. Dengan gaji yang tetap, tidak ada saatsaat indah menikmati kelebihan atau saat-saat gundah menyikapi kerugian.

Berbeda denga para usahawan. Situasi bisnis yang dinamis akan menjadi Pelajaran yang berharga bagi hati kita. Ketika bisnis lancer dan kentungan melimpah, inilah waktunya untuk menyungkur sujud mengucap Syukur. Ketika bisnis lagi seret,atau ditimpa kerugian, inilah saatnya untuk belajar sabar. Demikianlah hidup, dinamis tidak selalu stabil.

Di sinilah letak keindahan seorang muslim. Jika diberi nikmat ia bersyukur, jika mendapat cobaan ia bersabar. bila sedang kesulitan maka hendaknya ia memperhatikanorang yang lebih sulit darinya. Bila sedang diberi kebudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya.

Sebuah cerita yang disampaikan Salim A. Fillah cukup inspiratif mengenai sikap para pedagang pasar Beringharjo yang unik. Saat dagangan mereka laris, mereka sedekah sebagai rasa Syukur. Mereka punya satu harapan indah, agar dengan Syukur itu, nikmatnya ditambah sama Allah. Saat pasar sedang sepi, bukannya mereka tidak bersedekah, nilai sedekah justru mereka tambahi. “untuk menjemput temannya [rezeki] yang masih di awang-awang,” begitu alas an para pedagang itu.

Tentu beda cerita kalau kita seorang pegawai yang mempunyai gaji tetap. Waktu gajian setiap bulan, sudah ditetapkan. Pengeluaran pun sudah dialokasikan ke berbagai jalur; kebutuhan dapur segini, untuk bayar listrik dan air segini, untuk bayar sekolah anak-anak segini, dan untuk ditabung segini. Nah, sisanya, untuk sedekah segini. Seorang usahawan tidak demikian, ada sedekah saat lapang, ada sedekah saat sempit. Saat itulah ia merasakan indahnya sedekah.

Memaknai kerja keras

Ini juga yang membedakan seorang pegawai dengan pengusaha. Seorang pegawai, ia mau kerja keras atau tidak, gajinya tiap bulan selalu tetap. Erbeda dengan usahawan. Kalau ia mau kerja keras, pemasukannya akan meningkat. Apabila ia kerja bermalas-malasan, penghasilannya pun akan berkurang. Karena itulah, insyaa Allah pengusaha lebih bisa memaknai arti kerja keras.

Merasakan Nikmatnya Memberi Manfaat

Manusia terbaik adalah manusia yang memberi kemanfaatan bagi banyak orang. Jadikan usaha anda sebagai ladang kebaikan bagi saudara-saudara kita yang masih mebutuhkan kehadiran bisnis kita: bagi para karyawan, bagi keluarganya, bagi partner bisnis, dan bagi konsumen. Semoga mereka semua merasakan manfaat dari bisnis yang kita geluti.

Shakira Vidya

 

Pos terkait