5 Cara Mendidik Anak dalam Keluarga Sakinah

5 Cara Mendidik Anak dalam Keluarga Sakinah

 

Mendidik seorang anak sangatlah penting di dalam sebuah keluarga, apalagi di akhir jaman seperti ini, dimana kenakalan para remaja yang kurang didikan dari kedua orang tua akan menimbulkan perilaku negatif seperti mengikuti geng motor, berpacaran selayaknya orang dewasa, ikut tawuran antar desa atau antar sekolah, dan masih banyak lagi. Dengan kata lain orang tua memiliki peran penentu dalam proses mendidik seorang anak yang akan menjadi seperti apa ketika dewasa nanti. Tentunya kedua orang tua berharap tinggi kepada anaknya untuk menjadi seorang anak yang cerdas, sholeh dan sholehah, berbudi pekerti yang baik, berguna bagi dirinya sendiri, berguna bagi keluarganya, dan berguna bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 45 Undang Undang No. 1 Tahun 1974 yang mewajibkan orang tua untuk memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya. Kewajiban ini berlangsung dari seorang anak yang baru lahir sampai ia bisa memiliki sebuah keluarga, dalam artian sampai seorang anak itu menikah, mempunyai anak dan mempunyai keluarga sendiri.

Adapun tujuan berkeluarga yaitu ingin mewujudkan keluarga yang sakinah. Arti dari kata ‘sakinah’ sendiri adalah ketenangan, ketentraman, dan kedamaian antar anggota keluarga. Di antara ketentraman dalam sebuah keluarga yaitu dengan lahirnya seorang anak. Kelahiran seorang anak merupakan salah satu anugerah terindah yang diberikan oleh Sang Pencipta. Lahirnya seorang anak merupakan titipan dan amanah dari Sang Pencipta kepada orang tua untuk merawatnya, membesarkannya dengan penuh kasih sayang, dan mendidiknya untuk berbuat baik serta menjauhi hal-hal yang tidak baik bagi si anak. Anak juga sebagai harta bagi kedua orang tua, sebab anak dapat mendatangkan rezeki dan doa anak yang sholeh atau sholehah menjadi salah satu amalan yang tidak pernah terputus sampai kapan pun.

Maka dari itu, orang tua harus mengetahui pola asuh dalam mendidik seorang anak yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, diantaranya :

BACA JUGA:  Peran Komunikasi Bisnis pada Digital Marketing

1. Mengajarkan Tauhid

Banyak anak-anak Indonesia yang mengikuti era globalisasi, yang cenderung ke arah barat-baratan, seperti memakai baju yang kurang bahan dan tidak pantas untuk dipakai atau dilihat, apalagi si anak belum masuk ke usia dewasa. Walaupun sebenarnya ketika sudah dewasa pun juga tidak pantas untuk memakainya. Hal ini jelas sangat dilarang dalam agama islam, karena dalam islam aurat itu ada batasannya, terutama bagi perempuan harus sangat dijaga, bila tidak itu akan mempengaruhi kehidupannya di akhirat nanti. Oleh karena itu anak-anak harus diajari ajaran tauhid sejak dini. Tauhid merupakan bagian dari akidah seorang muslim atau keyakinan kepada Allah SWT. Apabila tauhid seseorang benar maka baik pula agamanya, dan begitupun sebaliknya apabila tauhid seseorang salah maka pemahamannya dalam ajaran islam juga salah.

2. Mengajarkan Ibadah

Cara menanamkan ibadah kepada seorang anak salah satunya yaitu, dengan mengajarkan anak shalat sedari kecil agar ketika tumbuh dewasa anak sudah terbiasa untuk menunaikan shalat. Karena sholat merupakan ibadah paling utama dan hukumnya wajib bagi seorang muslim serta jika seorang muslim tidak menunaikan shalat maka akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti. Terlebih bagi kedua orang tua, terutama seorang ayah akan dimintai pertanggung jawaban kenapa ia tidak menyuruh sang anak untuk mengerjakan ibadah sholat. Dan contoh lain dari ibadah yaitu mengaji, berpuasa, bersedekah kepada orang yang tidak mampu, dan masih banyak lagi.

3. Membentuk Kepribadian Anak

Orang tua harus berperilaku baik dan menciptakan lingkungan yang tentram, damai, dan hangat agar nyaman bagi si anak. Jika orang tua tidak berperilaku baik, hal ini akan dicontoh oleh sang anak. Sehingga sebisa mungkin sebagai orang tua harus berperilaku baik dan mencontohkan yang baik pula bagi si anak.

4. Mengajarkan Tanggung Jawab

Memiliki rasa tanggung jawab merupakan satu komponen yang bisa menjadikan seorang anak yang sukses. Orang tua sudah diharuskan untuk menerapkan tanggung jawab kepada anak dari kecil.

BACA JUGA:  Memaksimalkan Kemampuan Korespondensi sebagai Implementasi Komunikasi Verbal untuk Mencapai Keberhasilan Bisnis

5. Mengajarkan Akhlak

Contoh mengajarkan akhlak kepada anak salah satunya, yaitu dengan cara membiasakan berkomunikasi dengan baik kepada orang tua ataupun orang lain dan saat di dalam rumah atau dimanapun.

Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun salah satu tantangan bagi orang tua yang juga bekerja, yaitu bagaimana cara membagi waktu untuk sang anak, supaya sang anak masih tetap merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orang tuanya. Dan untuk menjawab tantangan tersebut, cobalah memanfaatkan hari libur atau waktu luang menjadi quality time dengan sang anak, yang bisa dimulai dari hal sederhana seperti menanyakan keseharian sang anak atau tanyakan terkait sekolahnya, mengajaknya jalan-jalan, mengajaknya makan bersama, mengajaknya bermain bersama, dan lain sebagainya. Hal itu, tentu sangat penting bagi si anak, karena sang anak merasakan bagaimana ia mempunyai rumah yang selayaknya rumah bagi dia. Sehingga sang anak tidak hanya terpenuhi dalam kebutuhan fisiologisnya, melainkan juga kebutuhan psikologisnya karena merasakan kasih sayang dan perhatian dari kehadiran sosok penting yaitu orang tuanya.

Selain itu kedua orang tua juga harus saling menjaga komunikasi dengan baik dan memiliki tujuan hidup yang sama, khususnya dalam mendidik anak. Komunikasi merupakan salah satu kunci langgengnya sebuah hubungan, sering seringlah berkomunikasi dengan pasangan, komunikasi yang paling efektif yaitu berkomunikasi dengan saling tatap muka. Dan dilandasi rasa saling percaya juga merupakan salah satu hal penting yang harus dilakukan juga bagi setiap pasangan, karena bila salah satu diantaranya ada yang tidak percaya, maka sebuah hubungan yang sudah terjalin dan dijaga lama kelamaan akan runtuh karena salah satu pihaknya menaruh rasa curiga. Jaman sekarang tentunya sudah ramai dengan isu-isu terkait perselingkuhan atau keretakan dalam rumah tangga. Tentu saja secara tidak langsung konflik rumah tangga seperti itu juga dapat mempengaruhi mental sang anak. Karena apabila kedua orang tuanya bercerai, sang anak akan berpikiran bahwa dirinya tidak berguna bagi kedua orang tuanya, dirinya tidak lagi mempunyai rumah untuk ia pulang, dan dirinya merasa cemas tidak merasakan kasih sayang lagi dari kedua orang tua yang ia sayangi. Salah satu contoh saat terjadi konflik di rumah tangga, orang tua berantem di depan sang anak, tanpa disadari hal itu akan menyebabkan sang anak mengalami efek psikologis, seperti trauma atau depresi. Akan tetapi gangguan psikologis yang dialami seorang anak broken home akan berbeda-beda tergantung temperamen dan usianya.

BACA JUGA:  Strategi Komunikasi Bisnis Online Shop dalam Meningkatkan Penjualan

Adapun lebih jelasnya mengenai dampak negatif perceraian bagi anak menurut islam, sebagai berikut :

1. Prestasi akademik menurun
2. Tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain
3. Anak akan merasa bersalah
4. Mudah dipengaruhi dengan hal negatif
5. Menjadi lebih posesif
6. Sulit percaya dengan orang lain
7. Membuat anak stres
8. Mengalami kesedihan yang akut
9. Parahnya perubahan suasana hati
10. Kehilangan fokus dalam beraktivitas
11. Menimbulkan masalah perilaku
12. Depresi

Maka memang sudah menjadi kewajiban kedua orang tua untuk berperan penting dalam hal apapun yang dilakukan sang anak, terlebih mengenai cara mendidik anak. Karena orang tua adalah guru pertama dan keluarga adalah sekolah pertama bagi sang anak, serta anak tidak mempunyai tempat pulang lagi selain kedua orang tuanya. Hal ini sudah dipastikan kepada kedua orang tua untuk tetap menjaga hubungannya yang harmonis dan tetap menjaga mental sang anak. Dan hal ini dapat mendukung terwujudnya keluarga yang sakinnah mawaddah warrahmah.

Oleh Indriana Pratiwi, Shintya Adisio Lestari, Silmy Kamila Azzahra
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait