“Anak Perempuan Adalah Cerminan Ayahnya”, Fakta Atau Mitos?

“Anak Perempuan Adalah Cerminan Ayahnya”, Fakta Atau Mitos?

 

“Anak perempuan adalah cerminan ayahnya”

Opini ini dapat membentuk atau mengubah sudut pandang seseorang bahwasanya anak perempuan adalah cerminan ayahnya, tapi benarkah demikian? Bagaimana pendapat ini melekat pada kita begitu lama? Dan bagaimana pendapat ini dibenarkan dari sudut pandang Islam?

Salah satu faktor pembentuk opini tersebut adalah peran ayah dalam membesarkan anak perempuan. Seorang ayah berperan penting dalam pembentukan karakter anak, terutama anak perempuan, sehingga tidak hanya sebatas mencari nafkah dan menjadi pemimpin keluarga yang bijaksana. Akan tetapi seorang ayah juga harus memberikan cinta dan kasih sayang yang cukup dan selalu bersama anak perempuannya di setiap langkahnya.

Menurut Khadhra Ulfah, Psikolog M.Psi yang dikutip di YouTube Halodoc mengatakan, keterlibatan sosok ayah dalam membesarkan anak sangat mempengaruhi perkembangan emosi, kognitif, sosial, akademik, dan fisik seorang anak. Selain itu, peran figur ayah dapat membentuk karakter anak, seperti menjadi panutan yang baik bagi anak, menjadi pelindung dan penyedia kebutuhan anak serta melengkapi simulasi tumbuh kembang anak.

Kehadiran ayah dalam kehidupan sehari-hari anak perempuannya merupakan bagian dari pendidikannya, khususnya pendidikan agama dan partisipasinya dapat memberikan kekuatan dan pemahaman kepada anak perempuannya akan makna hidup. Agar suatu saat anak perempuannya tumbuh dengan cinta dan kasih sayang yang cukup, sehingga dia tidak kehilangan dirinya dalam hidup dan melihat cinta serta kasih sayang yang mengerikan dari pria yang masih belum pantas mendapatkannya. Agar kelak di masa depan anak perempuannya mengembangkan rasa percaya diri bahwa dia tidak perlu takut akan berakhirnya cinta dari pria asing yang menikahinya, karena anak perempuannya melihat seperti apa cinta dari ayahnya dan dia merasa akan seperti itu. Sehingga putrinya siap menjadi ibu hebat dengan melahirkan generasi yang berkualitas.

BACA JUGA:  Benarkah Hiu Pemangsa Manusia

Sebagaimana ketika Fatimah merajuk saat mendengar kabar Ali bin Abi Thalib berniat meminang putri Abu Jahal. Kemudian Rasulullah SAW berdiri, lalu bersabda:

أَمَّا بَعْدُ، أَنْكَحْتُ أَبَا الْعَاصِ بْنَ الرَّبِيعِ، فَحَدَّثَنِي، وَصَدَقَنِي، وَإِنَّ فَاطِمَةَ بَضْعَةٌ مِنِّي، وَإِنِّي أَكْرَهُ أَنْ يَسُوءَهَا، وَاللَّهِ لَا تَجْتَمِعُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِنْتُ عَدُوِّ اللَّهِ عِنْدَ رَجُلٍ وَاحِدٍ. فَتَرَكَ عَلِيٌّ الْخِطْبَةَ

‘Amma Ba’du, Aku telah menikahkan Abul Ash bin Rabi’, ia mengatakan sesuatu kepadaku dan ia memenuhi apa yang ia katakan kepadaku. Sesungguhnya Fatimah adalah bagian dariku, dan aku tidak suka seseorang menyakitinya. Demi Allah, tidak akan berkumpul Putri Rasulullah dengan putri musuh Allah di bawah naungan satu laki-laki.” Lalu Ali bin Abi Thalib membatalkan pinangan tersebut.” (HR. Al-Bukhari no. 3729 dan Muslim 2449).

BACA JUGA:  Sukses Berbisnis dengan Menerapkan Strategi Pemasaran AIDA

Merujuk pada hadits di atas, menunjukkan bahwa Nabi selalu membersamai dengan putrinya Fatimah. Kesedihan Fatimah adalah kesedihannya, dan sebaliknya, kebahagiaan Fatimah adalah kebahagiaannya juga.

Anak perempuan memiliki kepekaan dan sentimentalitas yang lebih tinggi daripada anak laki-laki. Oleh karena itu, memberikan cinta dan perhatian dari seorang ayah sehingga anak perempuannya tidak merasa ada satu kebutuhan yang tidak terpenuhi merupakan peran terpenting seorang ayah dalam membesarkan anak perempuannya.

Pola Asuh Anak Menurut Rasulullah

Dalam Padjrin (2016), Rasulullah bersabda:
“Bimbinglah anakmu dengan cara belajar sambil bermain pada jenjang usia 0-7 tahun, dan tanamkan sopan santun dan disiplin pada jenjang usia 7-14 tahun, kemudian ajaklah bertukar pikiran pada jenjang usia 14-21 tahun, dan sesudah itu lepaskan mereka untuk mandiri.”

Padjrin (2016) menjelaskan cara mendidik anak sesuai dengan jenjangnya seperti berikut:
Usia 0-7 tahun merupakan periode pertama yang dilalui bayi setelah dilahirkan. Menurut Padjrin (2016), belajar sambil bermain dinilai sejalan dengan tingkat perkembangan anak-anak usia 0-7 tahun. Bimbingan yang diberikan orangtua dilakukan dengan ramah, riang, gembira, dan penuh kasih sayang.

BACA JUGA:  Mengapa Semakin Dewasa Semakin Sedikit Memiliki Lingkaran Sosial yang Luas?

Tahap kedua yaitu tahap usia 7-14 tahun adalah masa yang sangat sensitif karena terjadi proses pembentukan jiwa anak yang menjadi dasar keselamatan mental dan moralnya. Ada beberapa aspek yang berkembang pada tahap usia 7-14 tahun meliputi perkembangan intelektual, perasaan, bahasa, minat, sosial, dan lainnya. Pada fase ini, orang tua harus memberikan perhatian yang ekstra terhadap anak pendidikan dan mempersiapkannya untuk menjadi insan yang handal dan aktif di masyarakatnya kelak. Selain itu, didiklah anak untuk bangun pagi, membersihkan tempat tidur, dan lain semacamnya agar anak mulai terbiasa dengan hidup yang disiplin disertai punishment and reward dari orang tua.

Pada tahap usia 14-21 tahun, bimbingan yang diberikan kepada anak menurut Rasulullah saw. adalah dengan cara mengadakan diskusi, dialog, dan bermusyawarah layaknya dua orang teman sebaya. Rasulullah saw. pun menganjurkan untuk tidak memperlakukan mereka seperti anak kecil, tetapi didiklah mereka layaknya sebagai seorang teman.

Shafa Laila Alifa
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait