Antara Calo & Calon Berkualitas!

MJ, Jakarta – Hampir semua partai politik termasuk meraka para calon anggota dewan legislatif berkompetisi untuk meraih suara sebanyak banyaknya. Bahkan persaingan mereka menjangkau para pemilih yang punya beban psikologis berat karena sedang dirawat di Rumah Sakit!

Yang patut kita apresiasi adalah, setiap orang yang memiliki hak pilih berbicara politik dengan argumen yang sangat meyakinkan. Dan semua argumennya benar!, kita tidak berhak mengkoreksi sedikitpun argumen seorang pemilih, tim sukses dan konsultan politik sang calon ketika mereka berbicara politik dalam sistem demokrasi coblos. Karena dalam sistem ini yang dibutuhkan seorang calon hanya satu, yaitu para pemilih mencoblos angka, nama atau foto calon pada hari pemungutan suara!

Seorang kakek dan nenek yang sudah lanjut usia berjalan perlahan dengan badan membungkuk menuju TPS untuk memilih sang calon tertentu yang sudah memberinya sembako dan atau amplop, tentunya bukan amplop kosong walaupun isi paketnya tidak berjumlah sembilan bahan pokok!

Lain lagi dengan anak – anak muda milenial yang sama sekali tidak pernah berbicara politik, bahkan isi pembukaan UUD 45 saja tak pernah dibaca sampai paham. Anak anak muda milenial ini berani mengambil keputusan untuk mencoblos seorang calon bukan karena berdasarkan hasil perenungannya, tapi hasil ajakan teman-temannya yang sudah di entertain oleh tim sukses ngopi bareng di cafe yang harga menunya cukup lumayan mahal.

BACA JUGA:  PJ. Bupati Jombang Menandai Pemberangkatan Logistik Pemilu 2024

Lain lagi di kampung sebelah di sebuah kecamatan di Kabupaten Garut, provinsi Jawa Barat, seorang calon berbicara kepada saya via sambungan telepon, dia terpaksa akan ngasih pemilih amplop dengan isi uang tunai sebesar 20.000 (dua puluh ribu rupiah) agar mencoblos dirinya! Salah? Tentu tidak! Karena itu strategi seorang calon kepada pemilih. Beradab? Tentu saja tidak!

Jadi, strategi kampanye dari seorang calon, tim sukses dan seorang konsultan politik bisa disebut berhasil ketika si calon lolos! Caranya bagaimana itu perkara lain karena semua menjadi sah ketika penyelenggara (KPU) sudah memutuskan dan mengumumkan hasil pemilu.

Ketika seorang calon dengan anggaran biaya yang sangat besar sejak dirinya ditetapkan menjadi DCS, DCT lalu berkampanye hingga hari pemungutan suara ternyata tidak lolos, semoga saja si calon tidak stress dan segera berserah diri kepada Tuhan. Memohon ampunan kepada-Nya karena sudah memasuki ruang hawa nafsu yang tidak terkontrol, berharap mendapatkan suara sebanyak-banyaknya dari manusia yang tidak terlihat ketika mencoblos didalam bilik suara, kecuali setiap pemilih melakukan sumpah darah dengan si calon sebelum hari pemungutan suara.

BACA JUGA:  Temui Relawan Masih Prabowo Subianto ( MPS), Ini Pesan Rudi Susmanto

Karena prinsip demokrasi coblos yang dibutuhkan adalah suara terbanyak, maka segala cara ditempuh untuk mempublikasikan si calon agar pemilih mau mencoblos pada hari pemungutan suara.

Ada yang sogok para pemilih, ada yang karena kasihan, ada yang karena pertemanan, bahkan ada juga yang jual beli kepala manusia dengan harga yang bervariasi melalui kontrak politik antara calo dan calon.

Semua strategi kampanye yang telah di konsep oleh seorang calon, tim sukses dan konsultan politiknya, itu semuanya benar. Jangan pernah sekali-kali berdebat dengan politisi, tim sukses atau konsultan politiknya seorang calon mengenai konsep kampanye, karena konsep yang sedang dijalankan hasil buah pemikiran calon, tim sukses atau konsultan politik. Nah pemikiran ini yang harus dihormati oleh setiap orang.

Yang harus Anda ketahui adalah bahwa konsep kampanye dalam demokrasi coblos bukan ilmu pasti yang satu ditambah satu hasilnya dua. Semua konsep kampanye yang dijalankan oleh setiap calon dan tim suksesnya adalah bentuk usaha agar dipilih oleh rakyat yang memiliki hak pilih.

BACA JUGA:  Baratayudha Pilpres 2024, Semakin Terlihat Jelas Peran - Perannya, Minus 28 Hari dari Pencoblosan, 17/1/24

Yang menarik, unik dan asyik adalah usaha dari setiap calon itu berbeda-beda. Padahal membuat alat peraga kampanye (APK) itu sifatnya bukan wajib seperti kita membaca surat alfatihah ketika sholat. Anehnya semua calon di seluruh Indonesia membuat alat peraga kampanye (Baliho, spanduk,bendera, dll) hanya karena keinginan, tuntutan dan sedikit nafsu! APK bukan menjadi sebuah kebutuhan yang bisa membuat para pemilih tertarik berdasarkan perenungan sebelum dirinya keluar rumah menuju TPS! Ini hanya sekadar pendapat. Dan setiap pendapat dijamin oleh undang-undang.

Untuk bisa memastikan bahwa calon anggota legislatif itu berkualitas, berkomitmen dan memang layak menjadi pejabat publik, serta amanah kepada rakyat, maka kami (MJ.id, red) akan menggelar dialog publik antara calon dengan masyarakat. Calon yang menolak hadir artinya calon yang tidak siap menjadi seorang pejabat publik! Lantas buat apa si calon itu dipilih?

Pos terkait