Apa Itu Low Carbon Lifestyle dan Bagaimana Peran Generasi Muda?

MAJALAH JAKARTA – Krisis iklim semakin menjadi ancaman besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Berbagai isu pemanasan global dan peringatan “Kode Merah” dari IPCC menandakan bahwa situasi ini memerlukan kepedulian dan keterlibatan nyata atas ancaman krisis iklim. Peringatan “Kode Merah” dari hasil laporan kelompok kerja ilmuwan IPCC memprediksi bahwa dalam 20 tahun kedepan bencana krisis iklim akan berisiko terhadap lingkungan hingga semakin tak terkendali (IPCC Report, 2021).

Menurut World Meteorological Organization, 8 tahun ke belakang merupakan tahun terpanas hingga terjadinya perubahan iklim. Suhu rata-rata global meningkat 1,15°C di atas rata-rata dengan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) mencapai rekor tertinggi di tahun 2021 dan terus meningkat pada tahun 2022 (Nullis, 2022). Angka tersebut terlihat kecil tetapi dampak yang muncul sangatlah besar dan menyebabkan perubahan iklim yang berkelanjutan.

Perubahan iklim adalah perubahan pada pola cuaca dalam jangka waktu yang panjang dan terjadi di seluruh dunia. Penyebab terjadinya perubahan iklim karena adanya perubahan pada total energi yang masuk dan keluar di permukaan bumi. Umumnya, terdapat dua sumber yang berperan sebagai energi yang masuk ke dalam bumi. Sumber energi tersebut, yaitu radiasi matahari dan panas bumi. Energi yang diterima dari matahari berupa gelombang pendek, sebagian diserap oleh permukaan bumi dan sebagian lain dipantulkan kembali ke angkasa. Namun, tidak semua energi dapat dikembalikan ke angkasa. Terdapat faktor yang berperan menahan energi panas di atmosfer yang menyebabkan suhu rata-rata di permukaan bumi meningkat. Faktor tersebut adalah gas rumah kaca yang terakumulasi di lapisan atmosfer sehingga menahan panas tetap berada di permukaan bumi. Semakin banyak gas rumah kaca maka semakin banyak panas yang ditahan. Itulah yang menyebabkan naiknya rata-rata suhu permukaan bumi.

Gas rumah kaca yang paling banyak berkontribusi terhadap naiknya suhu permukaan bumi adalah karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4). Kedua gas tersebut mengandung karbon yang dihasilkan dari aktivitas manusia (antropogenik), terutama dari aktivitas pembakaran bahan bakar fosil. Konsentrasi CO2 di atmosfer memiliki tren yang terus meningkat sejak abad ke-18 hingga abad ke-20 sedangkan pada abad-abad sebelumnya memiliki konsentrasi CO2 di atmosfer yang cenderung konstan karena penyebab utamanya hanya dari faktor alam.

BACA JUGA:  Cyberbullying, Mengubah Dunia Digital Menjadi Tempat yang Aman

Jumlah karbon yang dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia dalam kurun waktu tertentu disebut jejak karbon. Aktivitas manusia yang dapat menimbulkan jejak karbon, yaitu penggunaan transportasi terutama transportasi pribadi, penggunaan energi listrik dan konsumsi makanan berlebih. Konsumsi energi secara global menyumbang sekitar 70 persen GRK. Sedangkan transportasi merupakan penyumbang terbesar emisi GRK global sebesar 62 persen yang bersumber dari penggunaan bahan bakar cair kendaraan bermotor khususnya di perkotaan (IPCC, 2014).

Sebesar dua pertiga dari gas rumah kaca global secara langsung maupun tidak langsung dihasilkan dari aktivitas manusia sehari-hari. Oleh karena itu, perubahan perilaku gaya hidup adalah kunci untuk mengatasi perubahan iklim. Generasi muda merupakan aktor yang dapat berperan aktif memberikan kontribusi positif dalam menekan GRK. Untuk itu, perlu adanya dorongan keberadaan generasi muda yang peduli pada pengendalian perubahan iklim lewat aksi-aksi iklim dan energi bersih dengan menerapkan low carbon lifestyle.

Low carbon lifestyle merupakan gaya hidup rendah karbon yang berarti mengurangi atau tidak menambah jumlah CO2 yang dihasilkan oleh setiap individu. Salah satu cara terbaik untuk memiliki gaya hidup rendah karbon, yaitu dengan menghemat energi dan menjalani hidup zero waste atau minim sampah agar dapat menjaga jejak karbon yang rendah.

Dampak dari emisi karbon yang dihasilkan sudah sering kita lihat dan rasakan. Misalnya terjadi kenaikan permukaan laut yang semakin cepat, mencairnya gletser di Eropa yang memecahkan rekor karena kehilangan ketebalan rata-rata antara 3-4 meter pada lapisan esnya, dan suhu permukaan bumi yang meningkat di seluruh dunia. Hal tersebut tentunya akan berdampak negatif terhadap kondisi cuaca dan lingkungan sehingga mempengaruhi bagaimana cara kita hidup (Nullis, 2022).

BACA JUGA:  Tips Belajar Efektif Anti Sistem Kebut Semalam

Laporan mitigasi dari IPCC menyatakan bahwa perilaku dan gaya hidup memiliki pengaruh besar terhadap penggunaan energi dan emisi yang dihasilkan. Menurunkan jumlah konsumsi atau menerapkan perubahan perilaku lainnya juga memiliki pengaruh potensi mitigasi yang tinggi. Oleh karena itu, pentingnya keterlibatan aktif dari generasi muda pada kegiatan pengendalian atas krisis iklim yang terjadi. Terutama dalam menerapkan low carbon lifestyle, seperti mendorong penggunaan sumber energi yang ramah lingkungan, membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil, atau melakukan penanaman pohon dalam skala besar dapat mencegah kenaikan suhu bumi agar tidak lebih dari 1.5 °C (Kemenlhk, 2021).

Berdasarkan hasil survei, sekitar 73% generasi muda mengatakan bahwa saat ini mereka merasakan dampak dari perubahan iklim (UNEP, Survei GlobeScan, 2008). Perubahan iklim berpotensi menjadi ancaman besar bagi kesehatan dan stabilitas sosio-ekonomi generasi muda, khususnya di negara-negara berkembang tempat di mana terdapat sekitar 80% generasi muda hidup dan berkegiatan (Inisiatif Kerangka Kerja Bersama PBB tentang Anak, Pemuda, dan Perubahan Iklim, 2010).

Menurut UNICEF, generasi muda termasuk anak-anak dan remaja menanggung beban paling berat atas krisis iklim yang terjadi. Generasi muda merupakan setengah dari populasi dunia yang justru menanggung beban atas emisi gas rumah kaca, penggundulan hutan, dan praktik berbahaya lainnya yang merusak lingkungan. Keadaan tersebut merampas kemampuan anak-anak untuk tumbuh sehat dan pada akhirnya akan menyebabkan berbagai penyakit bahkan kematian (Nurhidayah, 2021).

Generasi muda dapat berperan sebagai aktor yang aktif berkontribusi secara positif dalam isu krisis iklim. Merekalah harapan dan tonggak penerus masyarakat di masa depan. Kekhawatiran akan dampak besar dari krisis iklim menjadi landasan dibentuknya aksi-aksi lantang oleh generasi muda. Aksi nyata pun dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dengan menerapkan low carbon lifestyle.

Beberapa upaya sederhana dalam rangka menerapkan gaya hidup rendah karbon adalah dengan menggunakan transportasi umum seperti kereta dan bus, menghindari penggunaan kendaraan pribadi dan pesawat terbang terlebih pesawat yang merupakan penyumbang sumber emisi karbon dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Dalam hal makanan, kita bisa memperbanyak makanan lokal, mengurangi konsumsi produk hewani, dan mendaur ulang atau membuat kompos sampah organik dapat membantu mengurangi jejak karbon. Selain itu, menghindari penggunaan listrik yang berlebih, seperti AC, lampu, lemari es, mesin cuci, dan charger karena dapat memperbanyak emisi karbon. Penyediaan listrik energi terbarukan juga dapat membantu memperkuat sumber energi yang rendah karbon (Laporan Perhitungan Jejak Karbon IPB, 2019).

BACA JUGA:  Tak Ada Lagi BI Checking, Ini Cara Cek Skor Kredit Sendiri di Internet

Melihat berbagai ancaman krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan dan akan terus bertambah seiring waktu, manusia tidak boleh tinggal diam. Dampak dari lingkungan akibat suhu global yang terus meningkat, konsentrasi gas rumah kaca yang mencapai titik tertingginya, hingga berpengaruh pada permukaan air laut dan cuaca ekstrem yang berujung kepada terancamnya eksistensi manusia. Generasi muda menempati setengah dari populasi dunia dan akan meneruskan generasi selanjutnya dengan dampak dari perubahan iklim yang semakin besar.

Peran mereka sebagai penerus generasi sepantasnya beriringan dengan langkah mereka untuk menjaga bumi. Langkah tersebut dapat berupa kontribusi positif dalam menekan gas rumah kaca, seperti terlibat dalam agenda pengendalian iklim, aksi-aksi lantang menyuarakan kekhawatirannya akan dampak dari krisis iklim, dan aksi nyata dengan menerapkan gaya hidup low carbon lifestyle dalam kesehariannya.

Penerapan low carbon lifestyle dapat menjadi salah satu solusi dari aksi nyata untuk menyeimbangi tingginya konsentrasi gas rumah kaca. Dengan mengurangi konsumsi karbon, menghemat energi, menjalani hidup zero waste atau gaya hidup rendah karbon tersebut maka dampak dari emisi karbon dapat dikendalikan. Langkah sederhana tersebut apabila diterapkan oleh berjuta-juta penduduk bumi dapat mencegah terjadinya ancaman krisis iklim di masa depan.

Farhah Nashrillah, Maghfira Nadya Salsabila
Mahasiswa Universitas Indonesia

Pos terkait