ASI Berkualitas untuk SDM Cerdas

ASI Berkualitas untuk SDM Cerdas

DEPOK POS – Sejak tahun 2012, Indonesia telah diprediksi akan menghadapi sebuah momentum yang berharga guna mengakselerasi pembangunan negara, yaitu bonus demografi. Bonus demografi yang dialami Indonesia sendiri ditandai dengan persentase penduduk usia produktif berjumlah dua kali lebih besar dibandingkan dengan jumlah usia non produktif.

Apabila dibandingkan dengan tahun 1961, jumlah penduduk usia produktif berdasarkan hasil sensus penduduk tahun 2020 mengalami peningkatan sebesar tiga kali lipat dari 53,4 juta jiwa menjadi 187,2 juta jiwa. Adapun puncak dari periode emas Indonesia berlangsung pada tahun 2020-2030 dan melalui fenomena ini, tingginya jumlah penduduk usia produktif tentu berpotensi untuk membuka jendela peluang atau “Window of Opportunity” dalam hal sumber tenaga kerja, pelaku usaha, hingga permintaan konsumsi yang menunjang produktivitas negara

.Sayangnya, kesempatan bagi Indonesia untuk dapat menikmati kesempatan bonus demografi memiliki tantangan dari segi kualitas sumber daya manusia. Tingginya jumlah penduduk usia produktif tidak semata-mata menjamin pertumbuhan kesejahteraan apabila tidak diimbangi dengan kualitas yang unggul.

Salah satu dimensi utama yang melandasi kualitas dari pembangunan suatu bangsa adalah kesehatan. Kesehatan menjadi modal dasar yang dapat menghantarkan penduduk menuju produktivitas sehingga harapan yang tercapai adalah ‘bonus’ demografi, bukan justru ‘beban’ demografi.

Tingkat pembangunan suatu bangsa dari aspek kesehatan dapat diukur melalui indikator Angka Harapan Hidup (AHH) saat lahir. Berdasarkan tinjauan data World Bank tahun 2021, Angka Harapan Hidup saat lahir di Indonesia pada tahun 2020 sebesar 72 tahun. Adapun angka ini masih terbilang lebih rendah dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lain seperti Vietnam, Malaysia, Thailand, dan tertinggi adalah Singapura yang masing-masing sebesar 75, 76, 77, dan 84 tahun.

Angka Harapan Hidup saat lahir berkaitan erat dengan kesejahteraan suatu bangsa karena mencerminkan kondisi fasilitas pelayanan kesehatan yang memadai di negara tersebut dan kesehatan ibu. Oleh karena itu, kesehatan ibu dan anak menjadi komponen yang semestinya menjadi prioritas.

Namun, pada realitanya kondisi kesehatan ibu dan anak masih menunjukkan keadaan yang memprihatinkan. Data Riskesdas tahun 2018 menunjukkan bahwasanya proporsi status gizi buruk dan gizi kurang pada balita sebesar 17,7% dimana nilai ini masih belum mencapai target RPJMN 2015-2019 untuk turun hingga menyentuh angka 17%.

BACA JUGA:  Tumbuhnya Sel Kanker Akibat Konsumsi Ikan

Selain itu, prevalensi stunting nasional dari hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2021 masih terbilang cukup tinggi dari kacamata kesehatan masyarakat, yakni sebesar 24,4%. Pada masalah kesehatan lain seperti anemia pada ibu hamil, didapatkan bahwa penderita anemia tertinggi berada pada kelompok usia yang muda, yaitu 15-24 tahun sebesar 84,6%.

Tingginya permasalahan kesehatan yang diderita oleh anak Indonesia menunjukkan bahwa negara ini masih memiliki tugas yang besar untuk dapat dengan segera mengatasi hal tersebut dalam rangka mengejar bonus demografi yang optimal pada masa mendatang.

Berbagai masalah status gizi di atas berakar sejak masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pertumbuhan dan perkembangan janin sejak berada dalam kandungan hingga berusia dua merupakan periode kritis yang menentukan status gizi anak saat dewasa.

Lebih lanjut, sebesar 80% perkembangan sel otak manusia terbentuk pada masa ini sehingga masa baduta memiliki peran yang krusial terhadap pencapaian IQ yang optimal. Berangkat dari hal tersebut, dapat dipahami bahwa pemenuhan kebutuhan zat gizi yang ideal pada masa baduta berimplikasi terhadap status gizi yang baik saat mereka dewasa yang pada akhirnya berkontribusi besar dalam melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mendorong produktivitas pembangunan.

Peran Ibu dalam Perkembangan Anak di Periode Kritis

Kunci keberhasilan utama dari pemenuhan gizi bayi setelah berakhirnya periode dalam kandungan, yakni usia 0-6 bulan berasal dari Air Susu Ibu (ASI). Selanjutnya hingga usia 6-24 bulan, kebutuhan dapat semakin terpenuhi melalui pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Untuk itu, perilaku Inisiasi Menyusui Dini (IMD) dan pemberian ASI Eksklusif oleh ibu semestinya dapat berjalan tanpa hambatan sebagaimana mengetahui bahwa kandungan nilai gizi ASI dapat mencukupi kebutuhan gizi bayi.

Kandungan zat kolostrum pada ASI juga dapat memberikan kekebalan 10-17 kali lebih besar sehingga bayi terlindung dari berbagai alergi atau penyakit infeksi. Adapun kualitas maupun kuantitas dari ASI sangat dipengaruhi oleh pemenuhan gizi seimbang ibu yang menyusui. Konsumsi nutrisi yang baik dan adequate pada ibu selama menyusui dapat berkontribusi positif terhadap kualitas ASI.

BACA JUGA:  Mengenal Lebih Jauh Tuberkulosis (TBC)

Ibu yang mengalami masalah kurang gizi dapat menjadi salah satu penyebab dari kegagalan pemberian ASI Eksklusif. Oleh karena itu, pemenuhan gizi ibu pada masa menyusui merupakan periode yang esensial karena turut memengaruhi gizi bayi yang dapat berdampak pada terganggunya pertumbuhan dan perkembangan mereka di periode kritis.

Gizi seimbang sangat penting dimiliki oleh seorang ibu, karena kaitannya sangat erat terhadap pemenuhan kebutuhan gizi ibu dan tumbuh kembang bayinya. Pemerintah telah melakukan beberapa usaha khusus untuk meningkatkan status gizi ibu hamil dan bayinya. Usaha ini salah satunya bertujuan untuk mengurangi prevalensi stunting yang cukup tinggi di Indonesia.

Data prevalensi balita stunting yang dikumpulkan World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa Indonesia termasuk ke dalam negara ketiga dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara/South-East Asia Regional (SEAR). Rata-rata prevalensi balita stunting di Indonesia tahun 2005 – 2017 adalah 36,4%.

Pemenuhan gizi pada bayi/balita juga dapat dipengaruhi oleh kecukupan gizi seorang ibu. Kecukupan gizi akan memberikan pengaruh pada kualitas dan kuantitas ASI yang akan dihasilkan oleh seorang ibu menyusui. Seseorang yang mempunyai kemungkinan lebih besar untuk dapat menghasilkan air susu dalam jumlah maksimal, maka diperkirakan kandungan zat gizi yang terdapat dalam air susu juga mencukupi.

Namun, pemerintah belum melakukan usaha khusus untuk meningkatkan status gizi pada ibu menyusui. Pemerintah masih lebih menitikberatkan usaha peningkatan gizi pada ibu hamil dan bayi, padahal jika praktek menyusui benar maka gizi bayi pun akan terpenuhi dengan maksimal. Periode menyusui merupakan periode yang sangat krusial dalam pemenuhan gizi bayi.

Gizi Ibu Menyusui Perlu Lebih Diperhatikan

Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Adapun beberapa program gizi spesifik yang telah dilakukan oleh pemerintah diantaranya: (1) Program mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat; (2) Program makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis; (3) Program untuk mengatasi kekurangan iodium; (4) Pemberian obat cacing untuk menanggulangi kecacingan pada ibu hamil; (5) Program untuk melindungi ibu hamil dari malaria.

BACA JUGA:  Pandemi COVID-19 Meningkatkan “Mager” Pada Remaja?

Dari program-program tersebut, dapat terlihat bahwa pemerintah masih memfokuskan upaya meningkatkan gizi ibu hamil , bayi, dan balita. Padahal menyusui merupakan cara alami untuk memberikan makanan dan minuman pada awal kehidupan bayi, maka dari itu asupan gizi pada ibu menyusui juga seharusnya dapat difokuskan.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention diperoleh bahwa hanya terdapat satu dari empat bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif sebagaimana yang direkomendasikan. Meninjau pada gambaran perilaku yang terjadi di Indonesia, laporan hasil Riskesdas Nasional pada tahun 2018 menunjukkan bahwa praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD) pada anak umur 0-23 bulan memiliki proporsi sebesar 58,2% dengan tiga provinsi terendah berada pada Provinsi Papua Barat, Provinsi Maluku, dan Provinsi Sumatera Utara yang masing-masing hanya 34,3%, 38%, dan 39,9%. Meskipun sebagian ibu menyusui telah melakukan praktik tersebut, namun hampir sebagian sisa dari proporsi tersebut masih belum melaksanakan praktik IMD.

Lebih lanjut, ditemukan adanya penurunan persentase praktik IMD pada tahun 2021 dibandingkan tahun 2019 yang menurun dari 58,2% menjadi 48,6%. Sementara itu, dilihat dari alasan anak usia 0-23 bulan belum/tidak diberi ASI menunjukkan proporsi terbesar diakibatkan ASI ibu yang tidak keluar, yakni 65,7%. ASI yang tidak keluar salah satunya dapat diakibatkan oleh kondisi fisiologis ibu.

Gizi ibu berperan penting dalam produksi ASI sehingga penting bagi Ibu untuk memenuhi gizi yang seimbang selama periode menyusui. Berdasarkan hasil data Survei Nasional tahun 2021 di bawah naungan Kementerian Kesehatan bersama UNICEF didapatkan bahwa konseling menyusui masih belum diterima oleh kurang dari 50% ibu menyusui. Kurangnya keterpaparan ibu menyusui terhadap informasi kebutuhan gizi dan pentingnya praktik ASI di Indonesia merupakan tantangan yang masih harus dihadapi dan membutuhkan dukungan oleh berbagai pihak.

Nadira Yuthie Salwa, Citra Ayu Budi Arifa
FKM UI

Pos terkait