Atasi Stunting, Kerja Sama dengan Asing?

Atasi Stunting, Kerja Sama dengan Asing?

Oleh: Alifvia An Nidzar, Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok

Halo sobat semua, stunting merupakan salah satu penyakit (tinggi badan tidak sesuai umur akibat kurang gizi kronis) yang lagi merembak di kalangan masyarakat Indonesia. Kasus stunting ini tidak bisa dikatakan sebagai masalah sepele karena berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia, jumlah penderita stunting pada 2018 mencapai angka 30,8% sedangkan 2022 mencapai angka 24,4%.

Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah ruah, dari sabang hingga merauke. Tak sampai di situ, sumber daya energi pun turut menyertai. Namun, di balik kekayaan SDA dan SDE yang melimpah ruah ini justru kasus stunting tidak kunjung mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Tentu saja kasus stunting ini menjadikan paradoks yang berkembang di kalangan masyarakat. Sebagian masyarakat merasa acuh dan sebagian lainnya menjadi waspada.

Berdasarkan laporan republika.co.id, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penggalangan bersama Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA) dalam upaya pencegahan stunting. Sebanyak 15.077 butir telur yang diperoleh dari peternak di Kabupaten Kendal sudah disiapkan untuk dimakan bersama dalam kegiatan yang diinisiasi Pemerintah Kabupaten Kendal dan Koperasi Unggas Sejahtera Kendal. BKKBN berharap adanya kegiatan ini membuat masyarakat khususnya para ibu hamil terbuka dan mau untuk mengonsumsi telur sebagai sumber protein yang mudah didapatkan. Tidak hanya sebagai penggerak adanya kegiatan ini, BKKBN pun melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman antara BKKBN dan Badan Pangan Nasional/NFA.

BACA JUGA:  Dibalik Canggihnya AI

Tak lama berselang, BKKBN juga berkesempatan turut menggandeng sejumlah mitra swasta dan asing guna memperkuat penanganan stunting. Tentu langkah yang diambil ini bukanlah langkah yang tepat sasaran. Mengingat adanya peran dari mitra swasta dan asing merupakan bentuk lepas tangan penguasa terhadap urusan masyarakat. Karena seperti yang sudah-sudah, ketika penguasa melakukan penandatangan MoU tentu penguasa akan menyerahkan sepenuhnya urusan tersebut kepada swasta dan asing. Walaupun terlihat memudahkan, nyatanya kerja sama ini merupakan salah satu bentuk campur tangan negara lain terhadap negeri ini. Apakah kalian tidak miris sobat?

BACA JUGA:  Hak Hak Kaum Disabilitas Masih Terabaikan

Negara asing yang sering kali memberikan bantuan berupa pinjaman atau utang, patut untuk diwaspadai dan dihindari. Mengapa demikian? Bukankah ini sebuah kemajuan yang diperoleh negeri ini? Tentu kita semua tahu ini bukan lah sebuah kemajuan. Secara siginifikan sobat, negara asing ini telah mengetahui berapa persen jumlah potensi SDA dan SDE yang nantinya akan didapatkan apabila mereka memberikan bantuan berupa pinjaman.

Di sisi lain sob, tentunya pinjaman ini tidak jauh jauh dari bunga yang semakin berbunga bunga (tinggi). Semakin besar jumlah pinjaman maka semakin besar pula bunga yang didapatkan. Perlu digarisbawahi, kerja sama yang diadakan oleh para penguasa ini akan menjadi jalan masuk untuk swasta dan asing mengeksploitasi potensi generasi dan mengarahkan pembangunan SDM pada kepentingan asing melalui program program yang mereka tawarkan.

BACA JUGA:  NATO, Jembatan Diplomasi Pertahanan dalam Menghadapi Ancaman Non-Tradisional

Miris, kalimat yang terlintas ketika melihat kasus stunting ini semakin hari semakin merembak di penjuru negeri. Sebagai seorang Muslim dan Muslimah sob, tentu kita tidak ingin generasi mendatang menderita stunting. Karena dampak stunting ini tidak main-main loh. Mulai dari mengecilnya ukuran tubuh hingga tidak maksimalnya daya serap otak kita.

Melihat dampak pada kasus stunting ini, tentu diperlukan penanganan secara sungguh-sungguh tanpa dibumbui oleh kepentingan. Karena apabila ditangani melalui kepentingan tentu tidak akan pernah selesai hingga hari ini. Sayang seribu sayang, penanganan ini tidak akan ditemukan di dalam dunia kapitalis hari ini. Dunia tipu-tipu yang menyelimuti kita semua. Lantas ke mana kita harus melangkah guna menemukan solusi yang mumpuni? Ke mana lagi bila bukan kepada hukum Islam yang terlaksana dalam sistem Islam. []

Pos terkait