Bagaimana Hukum Tidak Menikah di dalam Islam?

Bagaimana Hukum Tidak Menikah di dalam Islam?

 

Gen Z merupakan sebutan untuk generasi yang lahir pada rentang tahun 1997-2012. Selain disebut gen Z, generasi yang lahir pada rentang tahun tersebut juga kerap dikenal dengan sebutan i-Generation atau generasi internet karena diisi oleh orang-orang yang telah hidup berdampingan dengan teknologi sejak dini, sehingga mahir dan mudah beradaptasi dalam menggunakan berbagai macam teknologi. Dengan latar belakang hidup yang tidak gagap teknologi, maka dapat memberikan peluang yang sangat besar kepada gen Z untuk mengakses berbagai macam jenis informasi dengan cepat, dan bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa rutinitas keseharian hidupnya pun berada di internet. Hal ini pun pada akhirnya mendorong gen Z menjadi pribadi yang lebih kritis dalam memberikan penilaian terhadap segala informasi yang diperolehnya dari internet, namun tak jarang yang pada akhirnya mengakibatkan munculnya prasangka yang tidak baik.

Penggambaran kehidupan pernikahan dari pengalaman orang lain yang ada di dalam internet dan sosial media, baik pernikahan yang sakinah maupun yang tidak sakinah dapat memberikan stimulus dalam membayangkan bagaimana kehidupan berumah tangga yang sebenarnya. Gambaran dari pernikahan yang sakinah tentu tidak akan menjadi sebuah masalah, namun gambaran dari pernikahan yang tidak sakinah dapat menjadi sebuah masalah jika seseorang tidak dapat memaknai informasi tersebut dengan baik. Memaknai informasi dengan baik disini maksudnya adalah dengan menjadikan pengalaman pernikahan yang kurang sakinah dari orang lain tersebut sebagai pelajaran bagi dirinya, agar nanti kedepannya dapat membina hubungan pernikahan yang sakinah. Lantas apa yang akan terjadi pada orang-orang yang tidak dapat memaknai informasi tersebut dengan baik?

BACA JUGA:  Risiko Pengangguran Tahun 2023

Ya, rasa ketidaksediaan untuk menikah pun bisa saja muncul dalam diri orang tersebut. Selain faktor pengaruh dari pengalaman tidak menyenangkan dari orang lain yang dilihat pada internet dan sosial media, pengaruh dari latar belakang keluarga yang tidak harmonis juga dapat turut menjadi faktor pendukung dari menghilangnya keinginan untuk menikah, dengan tujuan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan terjadi jika dirinya menikah, misalnya seperti perselingkuhan, KDRT, perceraian, dan sebagainya. Trend ketidakinginan untuk menikah yang semakin menyebar di kalangan gen Z terutama yang beragama Islam pun menimbulkan sebuah perdebatan, karena Islam menyebutkan bahwa menikah merupakan sebuah ibadah dan dapat menyempurnakan separuh agama seorang muslim. Lalu, bagaimanakah sebenarnya hukum untuk tidak menikah seumur hidup yang telah diatur di dalam Islam?

Dalam menjawab pertanyaan tersebut, Buya Yahya di dalam kanal Youtube Al-Bahjah TV menyebutkan bahwa hukum tidak menikah di dalam Islam ialah diperbolehkan dan tidak mendapat dosa, dengan catatan individu tersebut tidak melakukan hal yang haram, tidak ada syahwat yang mengharuskannya untuk segera menikah dan memiliki penyakit tertentu yang sulit untuk disembuhkan. Selain itu, di dalam ceramahnya Abu Yahya juga menyebutkan bahwa tak sedikit para ulama terdahulu yang memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya karena dengan begitu rasa cintanya terhadap sang pencipta akan semakin dalam, selain itu juga karena menganggap akan ada mudharat yang besar jika menikah. Maksudnya, jika tidak menikah dapat membuat seseorang menjadi semakin cinta kepada Allah SWT. dan tidak melakukan perbuatan maksiat, maka dengan tidak menikah dianggap sebagai hal yang lebih baik. Namun sebaliknya, jika dengan tidak menikah dapat membuat seseorang menjadi semakin jauh dengan Allah SWT. dan melakukan perbuatan maksiat, maka dengan menikah dianggap sebagai hal yang lebih baik bagi dirinya.

BACA JUGA:  Berani Mengambil Risiko dalam Bisnis

Adapun menurut Jumhur, pada dasarnya hukum menikah bagi masing-masing orang dapat berbeda-beda, diantaranya:

  • Wajib. Hukum ini berlaku bagi mereka yang telah mampu melaksanakan nikah, mampu memberi nafkah kepada istri serta hak dan kewajiban lainnya dan dikhawatirkan jatuh pada perbuatan yang maksiat jika tidak melakukannya.
  • Sunnah. Hukum ini berlaku bagi mereka yang mampu dan tidak dikhawatirkan jatuh pada perbuatan maksiat jika tidak melakukannya.
  • Makruh. Hukum ini berlaku pada mereka yang merasa bahwa dirinya akan berbuat zalim terhadap istrinya jika menikah, namun tidak sampai pada tingkatan yakin, misalnya karena ia tidak memiliki nafsu yang kuat, khawatir tidak mampu menafkahi, tidak begitu menyukai istrinya, dan lain-lain.
  • Dalam pandangan Syafi’iyah, hukum makruh berlaku jika yang bersangkutan punya cacat seperti pikun, sakit menahun, dan lain-lain. Hukum makruh menurut Syafi’iyah juga berlaku pada mereka yang menikahi wanita yang sudah menerima pinangan orang lain, dan pernikahan muhallil yang tidak dikemukakan dalam akad.
  • Haram. Hukum ini berlaku bagi mereka yang tidak mampu lahir batin dan jika tetap menikah, akan menyebabkan mudharat bagi istrinya secara pasti.
  • Mubah. Hukum ini berlaku bagi mereka yang sudah memiliki keinginan untuk menikah, namun belum dapat membangun rumah tangga ataupun sebaliknya, belum memiliki keinginan untuk menikah, namun telah dapat membangun rumah tangga.
BACA JUGA:  Tujuan dan Manfaat Presentasi Bisnis

Oleh: Linendia Putri Anggini, Maia Maulida, dan Nuning Dwi Astuti
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait