Bagaimana Pandangan Islam soal Pernikahan Dini?

Bagaimana Pandangan Islam soal Pernikahan Dini?

 

Kecenderungan untuk menikah dini di Indonesia tampaknya sedang naik daun dan menunjukkan tren yang meningkat belakangan ini. Menurut riset dari BKKBN tahun 2010, perempuan Indonesia pada rentang usia 10-14 yang telah memilih untuk menikah sebesar 0,2 persen atau lebih dari 22.000 orang. Dilansir dari Kompas.com (02/10/2022), Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) telah mencatat kasus pernikahan dini di sepanjang tahun 2021 adalah sebanyak 59.709 kasus. Jumlah ini mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun sebelumnya yaitu sebanyak 64.211. Meskipun demikian, akumulasi angka tersebut masih tergolong sangat tinggi jika dibandingkan tahun 2019 dengan jumlah 23.126 kasus.

Pernikahan dini menjadi hal yang menimbulkan pro dan kontra khususnya di kalangan masyarakat Indonesia yang mayoritas warganya adalah penganut agama Islam. Banyak dari para pakar Islam telah melegalkan pernikahan dini. Hal ini dikarenakan pada zaman Rasulullah saw. dahulu, pernikahan dini merupakan hal yang cukup lumrah di kalangan para sahabat Rasulullah saw. Allah SWT berfirman dalam Surah an-Nur ayat 32, “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan yang perempuan.” Sebagian ulama menafsirkan yang dimaksud ‘layak’ dalam ayat tersebut adalah kemampuan biologis, yaitu memiliki kemampuan untuk menghasilkan keturunan. Pada syariat Islam sendiri, usia kelayakan menikah diartikan sebagai usia kecakapan berbuat dan menerima hak (ahliyatul ada’ wa al-wujub). Agama Islam juga tidak menentukan batas usia secara jelas, namun mengatur usia baligh untuk siap menerima pembebanan hukum Islam.

BACA JUGA:  Mengikuti Tren Fashion yang Sesuai Dengan Adab Berpakaian dalam Islam

Indonesia melalui UU mengatur tentang pernikahan dalam UU No.1 Tahun 1974, menyatakan bahwa pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami dan istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dalam undang-undang juga diatur tentang batasan usia pernikahan, yaitu pada UU Perkawinan Bab II Pasal 7 Ayat 1. Dikatakan bahwa sebuah hubungan pernikahan hanya akan diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 tahun dan pihak wanita telah mencapai umur 16 tahun. Apabila dua orang menikah dan masih di bawah tersebut, maka dapat dinamakan pernikahan dini. Kebijakan-kebijakan pemerintah tersebut dimaksudkan agar kedua belah pihak yang akan melangsungkan pernikahan sudah benar-benar siap dan matang baik dari aspek, psikis, mental.

Jadi dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pengertian pernikahan dini menurut islam dan negara, didapatkan sedikit perbedaan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan kurang dari batas minimal yang telah ditetapkan UU Perkawinan, adalah tidak sah secara hukum karena negara telah mengaturnya. Sementara dalam pandangan islam, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh atau belum memenuhi masa balighnya.

Hukum pernikahan dalam Islam ada 5, yaitu mubah atau boleh, wajib, sunnah, haram, dan makruh.

⦁ Mubah atau boleh, untuk seseorang yang tidak terdesak atau tidak memiliki alasan-alasan yang mewajibkan maupun mengharamkan orang tersebut untuk segera menikah.
⦁ Wajib atau tidak boleh tidak dilaksanakan, untuk seseorang yang sudah memiliki calon dan mereka mampu secara finansial atau nafkah, fisik, dan mental untuk menikah. Sebagaimana hal ini dijelaskan dalam sebuah hadis “Barang siapa yang kaya serta mampu menikah tetapi ia tidak menikah maka ia bukan dari golonganku” (HR. Baihaqi)
⦁ Sunnah, untuk seseorang yang nafsunya mendesak dan ia sudah mampu untuk menikah, namun ia masih bisa mengendalikan nafsunya dengan menahan diri atau mengalihkan nafsunya ke hal lain yang positif dan diridhai Allah swt.
⦁ Haram, untuk seorang laki-laki yang tidak mampu memenuhi nafkah materi untuk istri dan keluarganya kelak, seseorang yang tidak mampu memberi nafkah batin, nafsunya tidak mendesak, seseorang yang menikah tanpa tanggung jawab, seseorang yang menikah dengan tujuan menyakiti atau menyengsarakan pasangannya, seperti karena ingin balas dendam, menipu, mempermainkan, dan sebagainya.
⦁ Makruh, untuk seseorang yang lemah syahwat dan tidak mampu memberi nafkah batin, tetapi ia tidak merugikan pasangannya dikarena ia memiliki kelebihan lain, seperti kaya. Selain itu, seseorang yang apabila ia melaksanakan pernikahan, maka ia akan lalai dalam menunaikan kewajibannya kepada Allah swt.

BACA JUGA:  Bunda, Ini 5 Tips Membuat Anak Jadi Rajin Belajar di Rumah!

Adapun ketentuan hukum diatas dibuat untuk menghindari beberapa dampak negatif seperti rentan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga atau yang biasa disebut dengan KDRT. Selain itu pernikahan dini dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan terlebih khusus pada perempuan, yaitu rentan sekali mengalami keguguran dikarenakan organ reproduksi yang belum siap sehingga bisa menyebabkan pendarahan hingga keguguran, bahkan terparahnya bisa sampai menyebabkan kematian pada sang ibu saat proses melahirkan berlangsung.

BACA JUGA:  Mengenal Asuransi Syariah

Selanjutnya, apa yang sebenarnya menjadi faktor penyebab terjadinya pernikahan dini?

Ada banyak sekali faktor, salah satunya adalah kondisi ekonomi, kurangnya pengetahuan mengenai resiko pernikahan dini, terpapar dampak negatif media sosial, sosial dan budaya, serta kurangnya pendidikan atau kesadaran mengenai pentingnya pendidikan. Namun, selain dampak negatif di atas, Islam sebenarnya memiliki pandangannya tersendiri. Jika pernikahan dilakukan tanpa adanya unsur paksaan baik karena keadaan karena sudah hamil terlebih dahulu ataupun karena paksaan oleh orang tua maka akan ada beberapa dampak positif yang akan ditimbulkan, salah satunya adalah meminimalisir terjadinya perzinahan yang banyak dilakukan oleh kalangan muda. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pernikahan dini dapat menimbulkan dampak positif dan juga negatif tergantung bagaimana kondisi atau keadaan individu saat melakukan pernikahan dini. Jika karena paksaan dari orang tua maka perlu adanya perubahan pola pikir pada orang tua dalam mendidik anaknya. Namun, jika dilihat dari sudut pandang islam, pernikahan dini hukumnya adalah boleh asalkan untuk kemaslahatan atau membawa kebaikan.

Aisyah Nisa Taqiyya, Haura Eribati Lena, Rika Widya Nestiana Putri

Pos terkait