Banyak Remaja Mengalami Kelebihan Berat Badan dan Obesitas pada Masa Pandemi Covid-19, Apa Solusinya?

Banyak Remaja Mengalami Kelebihan Berat Badan dan Obesitas pada Masa Pandemi Covid-19, Apa Solusinya?

DEPOK POS – Sejak dinyatakannya Covid-19 menjadi pandemi pada 11 Maret 2020 oleh World Health Organization (WHO), banyak upaya yang telah diterapkan untuk menekan laju penularan Covid-19 di masyarakat. Adanya kebijakan penggunaan masker, melakukan penelusuran kontak, dan penerapan kebijakan pembatasan sosial merupakan sebagian kecil dari berbagai usaha yang dilakukan demi menjaga kesehatan masyarakat. Kebijakan-kebijakan ini mengubah gaya hidup seseorang, terutama pada pola makan yang disebabkan oleh terbatasnya kegiatan yang berdampak pada kenaikan berat badan yang saat ini masih menjadi isu.

Survei yang dilakukan CDC mengungkapkan bahwa sekitar 14,7 juta anak-anak dan remaja mengalami obesitas dan prevalensi obesitas pada remaja usia 12-19 tahun berkisar pada 22,2%. Obesitas dapat berdampak pada hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, asma, apnea tidur (henti napas waktu tidur), dan keluhan pada sendi (Bryan, et al., 2021).

Kelebihan berat badan dan obesitas yang terjadi pada remaja saat masa Covid-19 tidak datang begitu saja, tetapi disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

⦁ Makanan yang dikonsumsi
Terjadi peningkatan total makanan yang dikonsumsi, hal ini terjadi karena adanya kepanikan berbelanja yang berangkat dari keinginan masyarakat untuk menimbun makanan dan meminimalkan sosialisasi pada masa pandemi. Terdapat juga beberapa kebiasaan terkait makanan yang ditemukan pada remaja dengan kelebihan berat badan dan obesitas di masa pandemi, yaitu sedikit mengonsumsi buah, ikan, biji-bijian, hingga kacang-kacangan, memiliki kebiasaan mengonsumsi roti, pasta, dan pizza, dan memiliki kebiasaan jarang sarapan (hanya 4-6 kali/minggu) (Jovanic, et al., 2022 dan Cipolla, et al., 2021).

⦁ Rasa bosan
Pada masa pandemi terjadi peningkatan kebosanan pada anak yang kemudian mempengaruhi peningkatan keinginan untuk makan, seperti kenikmatan makanan, makan berlebih secara emosional, dan respon terhadap makanan yang pada akhirnya akan mempengaruhi berat badan pada anak (Phillie, et al., 2021).

⦁ Kebiasaan belanja makanan
Pandemi Covid-19 ini mengakibatkan masyarakat berkeinginan untuk menimbun makanan serta meminimalisasikan sosialisasi yang terjadi. Oleh karena itu, hal tersebut mendorong masyarakat, khususnya orang tua remaja untuk melakukan kepanikan berbelanja (Phillie, et al., 2021).

BACA JUGA:  Masa Depan Cerah untuk Fisioterapis Wanita

⦁ Aktivitas fisik
Aktivitas fisik pun juga menjadi faktor risiko yang menyebabkan kejadian kelebihan berat badan dan obesitas pada remaja. Hal ini disebabkan orang yang memiliki usia yang lebih tua serta memiliki aktivitas fisik yang kurang terorganisir ditemukan lebih berisiko untuk terkena kelebihan berat badan dan obesitas dibandingkan kelompok usia yang lebih muda (Jovanic, et al.,. 2022). Selama pandemi terjadi peningkatan gaya hidup sedenter (lebih banyak duduk), seperti menonton TV serta bermain video game dan internet lebih dari 2-3 jam/hari pada remaja (Farello, et al., 2022).

⦁ Waktu Tidur
Kejadian kelebihan berat badan dan obesitas juga disebabkan oleh waktu tidur. Ditemukan bahwa dari 3.464 remaja yang mengalami keterlambatan waktu tidur serta jam tidur yang sedikit, sebanyak 25% remaja mengalami kenaikan berat badan (Ventura et al., 2021).

⦁ Tingkat Pengetahuan terkait Gizi
Remaja yang memiliki pengetahuan terkait gizi kategori sedang memiliki peluang 1,49 kali lebih tinggi untuk mengalami kenaikan berat badan dan obesitas dibandingkan remaja yang memiliki pengetahuan terkait gizi kategori tinggi. Remaja dengan pengetahuan terkait gizi yang tinggi memiliki kemampuan untuk memilih mana makanan yang baik untuk dikonsumsi sehingga remaja tersebut akan memiliki berat badan normal. Selain itu, dengan pengetahuan terkait gizi yang baik maka dapat menurunkan resiko mengalami kenaikan berat badan dan obesitas pada orang tersebut (Jovanic, et al., 2021).

Kelebihan berat badan dan obesitas memiliki dampak yang kurang baik tidak hanya bagi kesehatan, tetapi juga berdampak pada psikologi remaja, loh! Obesitas berisiko besar untuk mengembangkan berbagai kondisi penyakit, termasuk penyakit gangguan jantung dan pembuluh darah, gangguan pada jalan makanan/pencernaan, diabetes atau penyakit gula tipe 2, gangguan sendi dan otot, dan apnea tidur atau henti napas waktu tidur. Obesitas juga dapat menyebabkan beberapa hal negatif, terutama dampak psikologis kepada remaja, seperti gangguan harga diri yang ditandai dengan adanya perasaan negatif pada diri sendiri, tidak berharga, tidak percaya diri dan putus asa (Sumiyati and Irianti, 2021).

BACA JUGA:  Melayani Berhenti Merokok atau Melayani Industri Rokok?

Pada masa remaja, tentunya masih terjadi masa perkembangan yang menyebabkan terjadinya kenaikan berat badan. Dengan demikian, kenaikan berat badan tidak menjadi masalah asalkan masih dalam batas normal serta menambah berat badannya pun dengan cara yang sehat. Akan tetapi, kenaikan berat badan yang berlebihan dan obesitas secara signifikan dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari serta meningkatkan risiko kematian jika tidak segera ditangani.

Kondisi terkait obesitas bermacam-macam, tetapi penurunan berat badan yang sederhana pun dapat memungkinkan pasien untuk mengurangi risiko gangguan jantung dan pembuluh darah, penyakit gula, henti napas waktu tidur, penyakit tekanan darah tinggi, dan psikologis di antara banyak penyakit penyerta lainnya (Cefalu et al., 2015).

Namun, kelebihan berat badan serta obesitas dapat dicegah, loh! Berikut adalah beberapa solusi yang dapat dilakukan oleh remaja untuk menghindari dan mengatasi terjadinya kelebihan berat badan serta obesitas.

⦁ Memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi
Untuk orang dengan status gizi normal maka dapat menggunakan model “Isi Piringku” yang terdiri dari ⅔ makanan pokok, ⅔ sayuran, ⅓ lauk pauk, dan ⅓ sisanya adalah buah-buahan. Namun, untuk orang dengan berat badan lebih atau obesitas maka dapat menggunakan model “Piring T” yang memodifikasi porsi makan dengan lebih banyak mengonsumsi sayuran dan buah dibandingkan karbohidrat, protein, dan lemak sehingga waktu kenyang lebih lama karena asupannya lebih tinggi serat dari sayuran dan buah-buah (Direktorat P2PTM Kemenkes RI, 2017). Selain itu, remaja pun harus membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak dengan per hari, yaitu 4 sdm (sendok makan) gula, 1 sdt (sendok teh) garam, dan 5 sdm lemak (P2PTM Kemenkes RI, 2018).

⦁ Mengurangi perilaku sedenter (banyak duduk) dan aktif beraktivitas fisik
Tidak ada pembatasan khusus waktu perilaku sedenter untuk remaja, tetapi WHO menganjurkan remaja untuk membatasi perilaku sedenter, seperti menatap layar dan lebih banyak beraktivitas fisik (WHO, 2020 dan Singh, 2021). Beraktivitas fisik pun tidak hanya berkaitan dengan olahraga, melainkan anjuran untuk aktif bergerak setiap hari sesuai kemampuan dan kondisi tubuh. Prinsip utama aktivitas fisik pada obesitas, yaitu meningkatkan pengeluaran energi dan membakar lemak untuk menurunkan berat badan (Direktorat P2PTM Kemenkes RI, 2017).

BACA JUGA:  Kenali dan Cegah Penyakit Berbasis Lingkungan

Anjuran aktivitas fisik dari WHO dan CDC untuk remaja, yaitu setidaknya 60 menit per hari dengan intensitas sedang hingga kuat, seperti jalan kaki, senam, hingga berlari (WHO, 2022 dan CDC, 2022). Pada masa pandemi Covid-19 pun kita dapat tetap melakukan olahraga di rumah, seperti senam dengan bantuan video, perergangan, sit up, dan push up (Yuliana, 2020).

⦁ Istirahat yang cukup
Berdasarkan anjuran dari Kementerian Kesehatan RI, remaja dianjurkan untuk memiliki waktu tidur sebanyak 8-10 jam karena jika remaja memiliki waktu tidur yang kurang maka akan rentan terkena depresi, obesitas, hingga penyakit lain (Kemenkes RI, 2018 dan CDC, 2020).

⦁ Meningkatkan pengetahuan terkait kesehatan dan gizi
Berkaitan dengan pengetahuan terkait gizi, untuk mencegah dan mengatasi obesitas dapat dilakukan dengan membiasakan diri membaca label pada kemasan pangan. Hal ini dilakukan agar memahami bahan-bahan yang terkandung pada makanan sehingga dapat memperkirakan dampak yang akan muncul jika mengonsumsi makanan atau minuman tersebut (Menteri Kesehatan RI, 2014). Selain itu, dapat dilakukan pula dengan membiasakan diri untuk membaca informasi terkait kesehatan dan gizi.

Dari hal di atas dapat diketahui bahwa pada masa pandemi Covid-19 rentan akan terjadinya kenaikan berat badan berlebih dan obesitas pada remaja. Padahal, masa remaja merupakan masa penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sehingga sudah sepatutnya untuk menjaga status gizi normal. Oleh karena itu, mari kita cegah dan kendalikan obesitas dengan menjalankan beberapa solusi di atas untuk hidup sehat yang lebih lama.

Penulis:
Rizka Nur Azizah Purwanto, Safira Hazzrah Medinah, Sita Sekar Kinasih
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Pos terkait