Baratayudha Pilpres 2024, Semakin Terlihat Jelas Peran – Perannya, Minus 28 Hari dari Pencoblosan, 17/1/24

MJ, Jakarta – Cerita epik Mahabarata dengan perang Baratayudhanya menjadi legenda yang selalu menarik untuk diceritakan, karena filosofinya selalu relevan dengan setiap pertarungan elit politik sebuah negara ataupun dunia di setiap zaman dalam mencari pembuktian kebenaran melalui kemenangan sebuah peperangan perebutan kekuasaan

Masyarakat Indonesia, terutama masyarakat Sunda dan Jawa secara budaya tentu saja memahami filosofi dunia pewayangan ini, bahkan lebih dalamnya menjadi satu keyakinan untuk mengukur dan mengukir kebenaran sikap politik, dalam mendukung elit politik dengan idolanya masing-masing.

Para elit politisinyapun sering mempersepsikan dirinya menjadi seorang ksatria yang ada dalam dunia pewayangan tersebut. Personifikasi tersebut membuat spririt masyarakat Sunda dan Jawa, di dalam mengarungi pesta demokrasi modern di Indonesia yang sudah barangtentu tidak akan pernah lepas keunikannya sebagai demokrasi khas budaya Nusantara, dengan feodalisme warisan budaya kerajaan-kerajaan sebagai leluhur bangsanya.

Bisa dilihat hegemoni setiap elit politik di Indonesia akan selalu membentuk dinasty-dinasty di bawah naungan partai dengan berbagai atribut, tokoh-tokoh elit beserta keluarganya. Kita bisa melihat betapa hidupnya dinasty Sukarno, dinasty Suharto, dinasty Gusdur, dinasty SBY dan sekarang dinasty Jokowi dalam percaturan politik Indonesia

Sistem demokrasi yang berasal dari barat tentunya tidak akan pernah mampu sepenuhnya mendikte keberadaan budaya asli Nusantara dengan feodalisme kerajaan tersebut. Karena tentu saja budaya asli dan peradaban Indonesia ini sudah sangat mengakar selama ratusan bahkan ribuan tahun, sebelum demokrasi masuk ke Indonesia dan oleh karena itulah demokrasi di Indonesia, bisa di sebut demokrasi feodal khas Indonesia.

Analisa pilpres 2024 sungguh bisa di lihat dari persepsi cerita pewayangan Mahabarata dengan Baratayudhanya,”aneh tapi nyata ?”

Mahabarata adalah proses yang panjang dari sebuah peristiwa politik, sementara Baratayudha bisa dimaknai dengan *kotak suara* penentu akhir menang dan kalahnya perebutan kekuasaan.

Bisa kita lihat pertarungan politik saat ini, sesungguhnya pertarungan di antara rezim sendiri dan bisa di persepsikan sebagai keluarga Barata. Rezim penguasa Jokowi dengan ke delapan partainya yang terakhir dengan masuknya Demokrat, sudah barangtentu mampu membolak balikkan hasil dari demokrasi di Indonesia, bagaimana tidak lawan politiknya hanya tinggal satu partai politik saja PKS. Hingga saat ini kabinet Jokowi tetap eksist dengan dukungan tujuh partai.

BACA JUGA:  BAWASLU Jakarta Utara Terima Kunjungan Forum Wartawan Jaya Indonesia

Oleh karena itulah perhelatan politik pilpres 2024, tidak lebih dan tidak kurang kerumitannya adalah sebagaimana halnya peperangan keluarga Barata, antara Pandawa versus Kurawa atau Baratayudha yang memperebutkan kekuasaan di negeri yang sangat besar bernama Hastinapura.

Dari perang keluarga Barata, an sich rezim Jokowi ini, kemudian bisa diturunkan personifikasinya dalam pilpres 2024. Mari kita coba membaca tanda-tandanya, “believe or not” :

Yang pertama figure *KRISHNA*, yang merupakan perwujudan dari dewa Wishnu, bisa di persepsikan sebagai suara dan kehendak Rakyat. Manakala dalam demokrasi modern khas Indonesia, kelompok elit politik bisa memenangkan pertarungannya dan berkuasa, artinya kelompok elit tersebutlah yang memiliki kebenaran hakiki melalui legitimasi Rakyat yang merupakan perwujudan dari seorang Krisna.

Karena dalam cerita pewayangan dalam setiap zamannya, kelompok manapun yang di dukung oleh penjelmaan-penjelmaan dewa Wishnu, maka akan memenangkan peperangan. Hal ini tercermin dalam cerita epik Ramayana ataupun epik Mahabarata dengan perang Baratayudhanya.

Dalam pilpres alam demokrasi pun demikian, siapapun yang di dukung oleh Rakyat atau dipersepsikan Khrisna perwujudan Wishnu di dalam Baratayudha, maka akan memenangkan perebutan kekuasaan di Indonesia.

*YUDHISTIRA*, tentunya bisa dipersonifikasikan kepada Prabowo, sifat Yudhistiranya sudah di akui almarhum Gusdur yang bisa di personifikasikan sebagai baghawan Abiyasa yang sangat sakti mandraguna. Gusdur mengatakan Prabowo adalah orang paling *ikhlash* di Indonesia, itulah karakter seorang Yudhistira dan menurut Gusdur,”In Syaa Allah, Prabowo akan jadi Presiden di masa tuanya. Dan terlihat sekali jiwa bijaksananya seorang Yudhistira dalam dunia pewayangan yang sangat mengasihi siapapun, termasuk kepada musuhnya Kurawa sekalipun.

*BIMA*, atau Aria Werkudara berbadan besar ini adalah Airlangga Hartarto, dialah yang punya kekuatan yang dahsyat dengan ajian Bandung Bandawasanya yang bisa diibaratkan dengan GOLKAR. Sifat Bima nya terlihat dalam ekspresi Airlangga dengan tidak obsesi kekuasaan untuk menjadi capres, walau partainya betul-betul kokoh kuat, dia legowo cukup mendukung Yudhistira atau Prabowo.

Dan kita ingat Bima mempunyai anak yang sangat kuat bernama *ANTAREJA atau ANTASENA*, sangat mudah mempersepsikan Antareja yang mampu menerus bumi atau seorang arsitek adalah figure dan sosok Ridwan Kamil.

BACA JUGA:  Kemenkes – IFC Jalin Kerja Sama Pengembangan Sektor Kesehatan

Kemudian *GATOTGACA* bisa dipersepsikan dengan Rosan Perkasa Roeslani, dilihat dari namanya Perkasa dan bisa terbang mengawang dengan kekuatan ekonomi jaringan KADIN nya.

*ARJUNA* itu adalah Jokowi, dengan performa kurusnya, tapi punya kekuatan politik nomor satu di negaranya, Arjuna sangat lihay politik dan strateginya, siapapun akan kalah oleh Arjuna dengan senjatanya Pasopati alias *Cawe-cawe*.

Sekarang mana ada yang lebih kuat secara politik daripada Presiden Jokowi dan tentu saja Arjuna mendukung Kakaknya Yudhistira untuk menjadi Raja. Arjuna mempunyai anak yang sangat kuat bernama *ABIMANYU* dan bisa dipersepsikan sebagai Gibran Rakabuming Raka. Yang lolos jadi cawapres dibantu dengan keputusan MK yang mendukung eksistnya kepemimpinan kaum muda, dengan putusan bahwa capres/cawapres 40 tahun dan atau berpengalaman sebagai kepala daerah. Dalam proses Gibran jadi cawapres ini, ada figure Anwar Usman yang bisa dipersepsikan sebagai *PRABU DRUPADA* pamannya Abimanyu dan gugur di awal peperangan Baratayudha.

Ingat Arjuna, sudah pasti ingat *SRIKANDI*, Ksatria Perempuan yang mampu mengalahkan Bisma dari pihak Kurawa. Srikandi ini bisa dipersepsikan dengan Khofifah Indar Parawansa yang punya kekuatan politik sangat dahsyat di NU dan Jawa Timur.

*NAKULA*, performa ini sangat tepat dan melekat di Zulkifli Hasan ketua umum PAN, Nakula badannya kecil, namun diplomasi politiknya sangat lihay dan selalu mampu mengayomi saudara-saudaranya yang kuat-kuat dalam satu kesatuan dalam menghadapi berbagai gempuran Kurawa.

*SADEWA*, dia adalah AHY Ketum Demokrat, paling bontot masuk koalisi Indonesia Maju dan paling bontot di Pandawa Lima. Sadewa mempunyai daya kekuatan untuk menghimpun berbagai hal yang tidak terpikirkan oleh ke empat kakaknya, Yudhistira, Bima, Arjuna dan Nakula.

Kemudian lawan dari Pandawa Lima, ini adalah Kurawa. Pihak Kurawa pun, banyak Ksatria yang luar biasa, walau dalam peperangan kalah oleh Pandawa, bisa dipersepsikan sebagai berikut :

*KARNA*, figure Karna adalah yang sangat sakti mandraguna dengan senjatanya kontak atau bisa dipersepsikan sebagai intelektualitas yang tiada bandingnya, maka sangat mudah di persepsikan kepada figure Anies Rasyid Baswedan yang kita tahu Karna ini adalah anaknya dari *BATARA SURYA* siapa lagi kalau bukan Surya Paloh.

BACA JUGA:  FWJ Indonesia Menilai Korban Penipuan dan Penggelapan ‘RG’ Minta Perlindungan Hukum ke Mahfud MD Sudah Tepat

Kemudian *PRABU SALYA*, sangat bisa dipersepsikan sebagai figure Ganjar Pranowo. Dalam perang Barata Yudha, betapa dahsyat kekuatan Karna manakala Prabu Salya menjadi kusir kereta perangnya Karna tatkala perang tanding melawan Arjuna dengan kusir kereta perangnya Krishna. Hal ini bisa di ibaratkan dalam debat pilpres ketiga 2024, keduanya kompak dalam satu kereta pemikiran menyerang habis Prabowo.

Di pilpres pun terlihat betapa Arjuna atau dipersepsikan sebagai Jokowi, secara frontal berhadapan dengan pemikiran antitesanya dia, siapa lagi kalau bukan Karna atau Anies dan sehebat-hebatnya Karna, takdirnya kalah oleh Arjuna. Dan sehebat apapun Prabu Salya atau Ganjar Pranowo, ibaratnya akan kalah oleh kesaktian Yudhistira atau Prabowo, dengan ajian keikhlasannya Jamus Kalimusada.

Tidak lengkap jika tidak ada persepsi Megawati, di dalam perang Batatayudha, tentu saja Megawati sangat terlihat dan bisa dipersepsikan sebagai ibu suri Hastinapura bernama Dewi Gandari. Akibat kesalahan Dewi Gandari lah terjadinya perang Baratayudha, karena dia sangat berobsesi dan bersumpah menutup matanya demi kemenangan anak-anaknya Kurawa walaupun dia melihat dan tau sangat baiknya Pandawa.

Dan jika melihat Puan Maharani, walau perempuan mempunyai sifat Bisma, ada di pihak Kurawa, tapi mengasihi Pandawa. Terlihat ketika restu belakang layar turun kepada Gibran, terjadi pertemuan khusus sebelum resmi Gibran jadi cawapres Prabowo. Politik dua kaki Puan sangat kental terlihat dan mungkin karena Puanlah sehingga Mega galau dan tidak bisa bertindak tegas kepada Jokowi dan Gibran, bahkan sekarang terlihat PDIP pecah, terlihat kejadian terkini dengan keluarnya Maruar Sirait dari PDIP.

Demikianlah imajinasi perang Baratayudha yang dipersepsikan dengan Pilpres 2024. Dan kelihatannya ke lima PANDAWA ini hampir pasti bisa memenangkan peperangan BARATAYUDHA, karena mendapat restu KRISHNA yang merupakan simbol keseluruhan RAKYAT yang ada di negara Hastinapura, tercermin dari mayoritas hasil survey Krishna adalah suara Rakyat dan Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.

Wallahu alam Bishawab, sekedar melihat fenomena politik yang ada sekarang. Dan dari setiap pertarungan politik di dunia ini akan lahir dan lahir kembali. Cerita perang saudara BARATAYUDHA an sich pilpres 2024 adalah perang saudara Rezim Jokowi sendiri.

Pos terkait