Beda Polling dan Survey, H minus 62 hari dari Pencoblosan pilpres 2024

MJ, Jakarta – Semua lembaga survey pakai uang untuk melakukan survey, operasionalnya lumayan besar, dalam keilmuan survey termasuk bidang penelitian, dengan basis keilmuan eksak Matematika-Statistik.

Banyak Lembaga Survey yg mempunyai kredibilitas tinggi di Indonesia, dan hasil surveynya tidak pernah meleset.

Dan sekarang mayoritas hasil survey capres 2024 yang terbaru, hasilnya : PRABOWO dan GIBRAN RANKING SATU, dari 12 hasil survey, hitungan urutan satu : Prabowo Gibran 11 survey, Ganjar Mahfud 1 survey dan AMIN 0 survey, benarkah mayoritas hasil survey, urutan satu ini ?

Kalau ibarat hadist Nabi saw., seperti hadist Mutawatir, yang dirawikan oleh banyak perawi hadist. Sama hasil survey juga, seperti hadist, ada yang Mutawatir, Shahih, Hasan dan Dha’if. Sebagai contoh yang terindikasi dha’if adalah hasil survey Charta Politika, satu-satunya lembaga survey yang menghitung Ganjar dan Mahfud ranking satu, hingga pimpinannya menyatakan untuk sementara tidak akan aktif di medsos, mungkin malu dengan hasil survey nyelenehnya. Itulah contoh kasus hasil survey yang Dha’if.

BACA JUGA:  Kemenkumham Jatim Sabet Dua Penghargaan Bidang Kekayaan Intelektual

Setiap lembaga survey yg kredibel punya etika dan profesionalisme, bahkan sekarang ada asosiasinya yg mengontrol kinerja lembaga-lembaga survey, dan tentunya tidak sekedar di bayar.

Keuntungan bagi yang membayar adalah mengetahui lebih detail dari yang di umumkan, dan ada advis-advis khusus dan terukur untuk melakukan antisipasi terhadap hasil survey yang mereka lakukan. Dan yang membayar kode etiknya dirahasiakan.

Sebenarnya sebelum pencoblosan pun hitung-hitungan suara, sudah terekam oleh Mayoritas Hasil Survey, pencoblosan dan real count, hanyalah legitimasi secara hukum.

Dan survey, pasca pencoblosan menjadi Quick Count, bahkan ada yg lebih cepat lagi dengan Exit poll Count.

Yang Rasional Pasti Pakai Survey. Dan semua partai dan calon sangat berpatokan kepada hasil mayoritas survey, untuk mengantisipasi gerakan-gerakan politiknya.

BACA JUGA:  John Palinggi Mendukung Prabowo dan Gibran Menjadi Presiden dan Wakil Presiden

Sementara polling, tidak perlu biaya besar, hanya potret suara komunitas-komunitas tertentu, dan tidak bisa mewakili suara menyeluruh semisal Indonesia yg sangat besar, dan sama sekali tidak bisa di pakai sebagai prediksi perhitungan suara. Polling hanya sekedar untuk menghibur diri, di antara komunitas-komunitas tertentu, pendukung salah satu calon, bahwa calonnya bagus.

Makanya sebanyak apapun responden pooling, bahkan bisa mencapai ratusan ribu, tetap saja tidak bisa jadi ukuran, mewakili seluruh pemilih. Termasuk jika Youtube, Istagram, Tiktok dan Goggle melakukan survey juga, tetap hanya sebatas *komunitas-komunitas* medsos tersebut, tidak bisa menghitung dan mewakili keseluruhan pemilih, yang di Indonesia hingga 200jt lebih pemilih.

Lain halnya survey, walaupun cuma 1200 responden, dan paling banyak 1800 responden, tapi setiap responden yang di pilih acak tersebit, sudah melalui proses riset sampling yang sangat terukur, untuk mewakili seluruh pemilih. Itulah ilmu pasti *matematika statistik* yang tidak bisa terbantahkan, hingga terukur margin off errornya yg sangat kecil prosentasenya, bergantung riset samplingnya, mau mengambil margin off error berapa persen. Semakin kecil prosentasi margin off errornya, berarti risetnya semakin canggih.

BACA JUGA:  Menpora Dito Kunjungi Pelatnas PBSI, Pastikan Persiapan Menuju Olimpiade Paris 2024 Berjalan Lancar

Dan paska debat pertama pilpres, publik di pusingkan dengan polling hasil debat yang di lansir Litbang Kompas, hasil polling tersebut yang di ambil dari para penonton debat pemenangnya AMIN, tapi publik mesti tau Litbang Kompas pun dengan waktu yang relatif sama menerbitkan hasil survey, dan hasilnya sama dengan lembaga-lembaga survey lainnya, elektabilitas Prabowo Gibran nomor urut satu.

Jadi jangan terkecoh lagi, dengan polling atau survey. Bergantung kebutuhannya.

oleh : Ir. Dony Mulyana Kurnia

Pos terkait