Benarkah Kaum Rebahan Berisiko Terkena Diabetes dan Penyakit Jantung?

Benarkah Kaum Rebahan Berisiko Terkena Diabetes dan Penyakit Jantung?

DEPOK POS – Rebahan sambil scrolling Twitter dan Tiktok sudah jadi aktivitas wajib bagi kita, Gen Z. Dengan kemudahan teknologi, saat lapar melanda kita dapat dengan mudah memesan makanan lewat layanan pesan antar tanpa harus pergi keluar rumah. Kini, semua hal dapat dilakukan dengan instan tanpa harus mengeluarkan banyak energi yang justru melatih diri kita untuk malas bergerak dan melakukan aktivitas fisik!

Menurut studi yang dilakukan oleh Pusat Informasi Bioteknologi Nasional, hampir 33,8 persen anak Indonesia memiliki kecenderungan sedentary lifestyle atau gaya hidup yang tidak aktif. Padahal, sedentary lifestyle erat kaitannya dengan peningkatan risiko obesitas pada remaja, penyakit kardiovaskuler, gangguan pernapasan kronis, dan kesehatan mental yang buruk. Selain itu, gaya hidup sedentari juga mengakibatkan penyakit diabetes dan hipertensi sehingga tidak baik untuk tubuh.

Apa itu Sedentary Lifestyle?

Rebahan merupakan istilah yang tidak asing ditelinga kita. Rebahan atau berbaring/tidur-tiduran dalam waktu lama pasalnya tidak baik bagi tubuh. Kebiasaan ini disebut dengan gaya hidup sedentari atau sedentary lifestyle. Menurut Kementerian Kesehatan RI (2013), gaya hidup sedentari atau Sedentary lifestyle adalah perilaku duduk atau berbaring sehari-hari di luar waktu tidur, baik di tempat kerja, di rumah, atau di perjalanan/transportasi.

BACA JUGA:  Inilah Jenis-Jenis Lemak yang Harus Anda Ketahui

Sedentary lifestyle berarti seseorang melakukan aktivitas fisik dengan mengeluarkan energi yang sangat rendah atau energy expenditure-nya setara dengan 1-1,15 metabolic equivalent (METs), yakni setara dengan duduk santai tanpa melakukan apapun. Satu METs merupakan energi yang dikeluarkan dalam duduk dengan tenang, yang setara dengan konsumsi oksigen tubuh sekitar 3,5 ml per kilogram berat badan per menit untuk rata-rata orang dewasa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan orang dewasa berusia 18-64 tahun untuk berolahraga setidaknya 150 menit dengan aktivitas fisik intensitas sedang, seperti berjalan cepat, bersepeda, berenang atau melakukan senam aerobik yang setara dengan 3-6 METs. Jika penggunaan energi tidak memenuhi standar, maka dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius kedepannya.

Mengapa Sedentary Lifestyle dapat terjadi?

Banyak faktor yang mendukung seseorang untuk menerapkan gaya hidup sedentari, salah satunya merupakan lingkungan. Gedung-gedung tinggi yang memiliki akses lift mendorong para pekerja untuk menggunakannya dibandingkan melalui tangga. Dalam beberapa tahun terakhir terlihat adanya perubahan gaya hidup pada penurunan aktivitas fisik, seperti kecenderungan menggunakan layanan pesan antar makanan ketimbang membeli makanan dengan berjalan keluar rumah, work from home yang menyamarkan. Faktor-faktor tersebutlah yang dapat memicu gaya hidup sedentari terjadi.

BACA JUGA:  Mengenal Penyakit HIV/AIDS

Lalu, bagaimana cara menghindari sedentary lifestyle?

Adanya kemajuan teknologi yang pesat menyebabkan seluruh hal dapat diakses atau dilakukan melalui daring maupun online. Ditambah dengan kondisi seperti pandemi sekarang ini yang mengharuskan kita melakukan segala sesuatu secara online, baik dalam belajar, belanja, maupun bekerja dari rumah atau biasa disebut work from home, dapat meningkatkan perilaku sedentary lifestyle. Menurut Better Health, kurangnya aktivitas fisik dapat menimbulkan berbagai penyakit, bahkan dapat berakibat pada terganggunya kesehatan mental.

Oleh karena itu, kita tetap harus melakukan berbagai aktivitas fisik sebagai upaya dalam mengurangi sedentary lifestyle serta dalam mencegah dampak negatif yang mungkin timbul. Kita dapat memulai melakukan aktivitas secara perlahan, kemudian meningkatkan frekuensi aktivitas fisik tersebut secara bertahap. Terdapat beberapa aktivitas simple yang dapat dilakukan di sela-sela rebahan, yaitu melakukan berbagai pekerjaan rumah, seperti menyapu, mengepel, mencuci, melakukan peregangan di sela-sela menonton tv, belajar, maupun bekerja, mengurangi penggunaan kendaraan bermotor dengan memilih menaiki transportasi umum, bersepeda, maupun berjalan kaki, melakukan olahraga ringan, seperti jogging, berlari, bersepeda, memilih menggunakan tangga dibandingkan dengan menaiki lift saat berada di gedung bertingkat tinggi, dan lain-lain.

BACA JUGA:  Mengenal Manfaat Sambiloto

Berbagai upaya yang kita lakukan dalam mengurangi sedentary lifestyle tentu membutuhkan kunci sukses dalam pelaksanaannya. Kunci sukses terkait hal tersebut, yaitu dengan melakukan komitmen yang kuat dari dalam diri, manajemen waktu yang baik, serta kontrol diri yang baik akan membantu kita mewujudkan gaya hidup yang lebih baik. Selain itu, diharapkan pemerintah juga turut berkontribusi dalam mengupayakan masyarakat untuk lebih aktif dalam melakukan aktivitas fisik, seperti penataan kota yang ramah pejalan kaki dan pesepeda, pembuatan kebijakan mengenai pembatasan penggunaan kendaraan pribadi, serta pembangunan taman kota sehingga tercipta ruang aman dan nyaman bagi masyarakat. Dengan begitu, angka prevalensi atau kejadian obesitas, hipertensi, diabetes, dan berbagai penyakit lain yang disebabkan oleh sedentary lifestyle juga dapat ditekan apabila upaya-upaya tersebut dilakukan secara maksimal dan optimal.

Putri Suryani Utami , Khansa Vhastia Adityani , Milza Syafira Chairani
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Pos terkait