Benarkah Orang yang Pernah Terkena COVID-19 Mengalami Perubahan Mental dan Kognitif?

Benarkah Orang yang Pernah Terkena COVID-19 Mengalami Perubahan Mental dan Kognitif?

DEPOK POS – Seperti yang diketahui, pandemi Coronavirus disease 2019 (COVID-19) yang terjadi memberikan perubahan yang besar terhadap kehidupan manusia di seluruh dunia baik secara sosial, mental, fisik, psikologis maupun ekonomi. Namun, ternyata pasca pandemi COVID-19 juga turut memberikan dampak perubahan dalam masyarakat. Salah satunya berupa masalah pada kesehatan, baik kesehatan mental ataupun kognitif.

Orang yang pernah terkena dan selamat dari COVID-19 (penyintas COVID-19) juga mengalami perubahan kesehatan, terutama dalam aspek mental dan kognitif. Hal ini didukung oleh Abdelghani et al (2022) yang menyatakan bahwa penyintas COVID-19 diketahui mengalami penurunan yang signifikan di semua domain kognitif dan lebih cenderung mengalami gangguan kesehatan mental yang lebih tinggi. Penurunan pada domain kognitif pada penyintas COVID-19 dapat berupa bentuk keterampilan visuo-eksekutif, koordinasi psikomotorik, pemrosesan informasi, perhatian, bahasa atau kefasihan verbal, dan memori atau daya ingat yang dapat menyebabkan mengalami demensia amnestik ringan, sedangkan gangguan kesehatan mental yang sering dialami oleh penyintas COVID-19 berupa depresi, kegelisahan, kecemasan, insomnia, dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), bahkan bunuh diri. (Abdelghani, 2022 ; Ratmadewi, 2021 ; Wulan & Keliat, 2021).

Pada penyintas COVID-19, terdapat beberapa faktor pendorong yang dapat merubah kondisi mental maupun kognitif. Pada kondisi mental, terdapat dua faktor utama yang dapat menyebabkan perubahan tersebut. Faktor pertama adalah predisposisi atau sebuah faktor yang menjadi sumber utama munculnya stress dan faktor kedua adalah faktor presipitasi atau faktor yang dapat menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan. Contoh dari keterkaitan kedua faktor ini terhadap penyintas COVID-19 adalah rasa khawatir yang muncul saat melakukan tes RNA. (Aristawati et al., 2022).

BACA JUGA:  Terapi Bobath untuk Penderita Stroke

Selanjutnya adalah faktor-faktor yang dapat mendorong munculnya perubahan pada aspek kognitif. Aspek kognitif yang dimaksud adalah kemampuan individu untuk menilai dan mengambil keputusan atas suatu peristiwa yang terjadi. Pada penyintas COVID-19, perubahan kognitif yang terjadi dapat dipengaruhi oleh penurunan kesadaran terhadap lingkungan, atau perasaan kebingungan atas apa yang terjadi di sekitar mereka. Jika tidak ditindaklanjuti, maka penurunan kemampuan kognitif ini akan semakin parah, dan dapat meningkatkan potensi cedera pada sistem saraf. (Abdelghani, 2022).

Oleh karena itu, penyintas COVID-19 harus meningkatkan kesadaran terhadap gangguan kesehatan mental dan kognitif untuk mencegah dan mengatasi masalah gangguan kesehatan mental dan kognitif. Untuk mengatasi masalah kesehatan mental, penyintas COVID-19 disarankan untuk menjalani layanan konsultasi atau intervensi yang mendukung kesehatan mental mereka, seperti strategi perilaku untuk mengatasi stres, berdiskusi secara terbuka dengan orang lain mengenai hal yang dirasakan, berusaha menemukan faktor yang menyebabkan gangguan kesehatan mental dan mencari solusi untuk mengatasinya. (Wulan, 2021 ; Asti, 2021; Costa et al., 2022).

BACA JUGA:  Cara Mengatasi Stres Tanpa Overeating pada Wanita

Kemenkes (2017), menyarankan hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah dampak gangguan kesehatan mental berupa depresi pada diri sendiri agar tidak semakin parah, yaitu sebagai berikut:

⦁ Bicara dengan orang yang dipercaya mengenai perasaanmu.
⦁ Mencari bantuan profesional, bisa dimulai dengan ke tenaga kesehatan dan dokter.
⦁ Tetap menjaga hubungan baik dengan keluarga, teman, dan orang sekitar.
⦁ Berolahraga secara teratur, walaupun hanya olahraga ringan
⦁ Biasakan untuk tetap makan dan tidur teratur.
⦁ Hindari penggunaan alkohol dan narkoba, karena semua ini hanya akan memperparah depresi.
⦁ Tetap lakukan hal-hal yang selalu disenangi, bahkan ketika kehilangan selera untuk melakukannya.
⦁ Tetap waspada dengan berbagai pikiran negatif yang terus muncul serta kritik diri yang berlebihan dan coba menggantikan pikiran dengan hal yang positif serta beri semangat dan selamat pada diri sendiri atas hal yang sudah didapatkan.

Selain itu, sebagai masyarakat yang mendukung para penyintas COVID-19, kita perlu mengubah stigma buruk kepada para penyintas COVID-19 dengan memberi dukungan, tidak menganggap mereka berbeda, tidak mengucilkan, dan tetap saling membantu. Kemenkes (2017), menyarankan hal-hal yang dapat kita lakukan untuk membantu orang lain dengan gangguan kesehatan mental berupa depresi, yaitu sebagai berikut:

BACA JUGA:  Pengaruh Virus Hepatitis B Terhadap Ibu Hamil

⦁ Menjelaskan pada mereka bahwa kita ingin membantu, mendengarkan tanpa menghakimi dan menawarkan solusi
⦁ Mendorong mereka untuk mencari bantuan professional dan tawarkan padanya untuk menemani menemui tenaga kesehatan.
⦁ Bila mereka mendapatkan resep obat, bantu untuk minum obat sesuai dengan anjuran.
⦁ Bersabar karena biasanya membutuhkan waktu beberapa minggu untuk mereka merasa lebih baik.
⦁ Membantu menjalankan tugas harian dan memastikan mereka makan dan tidur dengan teratur
⦁ Ajak mereka untuk berolahraga dan melakukan kegiatan sosial.
⦁ Bila mereka mengutarakan pikiran untuk melukai diri sendiri, jangan tinggalkan sendirian. Cari bantuan dari layanan darurat atau tenaga kesehatan yang tepat (konselor, psikolog, psikiater) dan amankan benda-benda, seperti obat-obatan, benda tajam dan senjata lain.

Untuk mengatasi masalah kognitif, penyintas COVID-19 disarankan untuk mulai bersosialisasi dengan masyarakat lingkungan sekitarnya. Hal ini karena bersosialisasi dapat meningkatkan kemampuan berinteraksi dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar, yang mana akan membantu perkembangan dalam berbicara dan berbahasa. (Jati, 2020).

Ahmad Ariq Atthaya, Az Zahra Amalia Putri, Jesslyn Metta Santi
Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia

Pos terkait