BMKG Minta Negara-negara Berbagi Pengetahuan untuk Menguatkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Non Seismik

MJ, Sendai, Jepang – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menekankan pentingnya kerjasama global dalam memperkuat sistem peringatan dini tsunami, terutama terkait dengan tsunami non seismik.

Dalam pertemuan Seventeenth Meeting of the Working Group on Tsunamis and Other Hazards related to Sea Level Warning and Mitigation Systems (TOWS-WG) di Tohoku University, Sendai, Jepang, Dwikorita memandang sharing knowledge sebagai kunci utama. (28/2/2024)

Menurut Dwikorita, kejadian tsunami non seismik semakin meningkat, sehingga perlunya kolaborasi yang lebih dalam antara negara-negara untuk memperkuat sistem peringatan dini tsunami yang berbasis non seismik.

Dalam kapasitasnya sebagai Ketua Intergovernmental Coordination Group for the Indian Ocean Tsunami Warning and Mitigation System (ICG/IOTWS), BMKG bertanggungjawab menyampaikan peringatan dini tsunami kepada 25 negara anggota di kawasan Samudra Hindia.

BACA JUGA:  Gedung Putih Ralat Pernyataan Biden Melihat Gambar Anak-anak Dipenggal Hamas

Pertemuan tersebut, yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan dari berbagai kawasan samudra, memperlihatkan bahwa sistem peringatan dini tsunami pada komponen hulu lebih kuat dibandingkan di hilir.

Oleh karena itu, perlu adanya upaya penguatan infrastruktur peringatan dini tsunami berbasis komunitas (Community-based Early Warning Infrastructure).

Dwikorita menjelaskan bahwa sistem peringatan dini tsunami saat ini umumnya hanya difokuskan pada tsunami megathrust yang sebelumnya didahului oleh gempa bumi besar.

Namun, kejadian seperti tsunami Palu dan tsunami Selat Sunda di Indonesia menunjukkan bahwa sistem peringatan dini harus dapat mengatasi ancaman tsunami yang dipicu oleh aktivitas non-seismik.

BACA JUGA:  Serangan Yahudi Terhadap Umat Kristen Meningkat di Yerusalem

Di samping itu, BMKG juga melaporkan progres penguatan sistem peringatan dini dan mitigasi tsunami di Samudra Hindia, termasuk pembangunan Multi-Hazard Platform, pengakuan terhadap 12 komunitas sebagai UNESCO-IOC Tsunami Ready Community, serta pembangunan Sistem Peringatan Dini untuk infrastruktur kritikal di beberapa bandara.

Dalam kesempatan tersebut, Dwikorita juga mempromosikan 2nd UNESCO-IOC International Tsunami Symposium yang akan diselenggarakan di Banda Aceh pada November mendatang, sebagai bagian dari peringatan 2 dekade Indian Ocean Tsunami 2004. Acara tersebut diharapkan dapat dihadiri oleh lebih dari 1000 peserta dari berbagai kalangan, baik nasional maupun internasional.

BACA JUGA:  70 Persen Rumah Sakit di Gaza Lumpuh

Kehadiran Dwikorita pada forum TOWS meeting didampingi oleh personil BMKG serta delegasi Indonesia lainnya yang memiliki peran kunci dalam upaya memperkuat sistem peringatan dini tsunami.

Dalam mengakhiri pernyataannya, Dwikorita menegaskan bahwa hanya melalui kerjasama global dan sharing knowledge yang baik, negara-negara dapat menghadapi ancaman tsunami dengan lebih efektif dan efisien.

Demikianlah rangkuman terkini terkait upaya BMKG dalam memperkuat sistem peringatan dini tsunami non seismik. Semoga kerjasama global dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita terhadap ancaman tsunami di masa yang akan datang.

Referensi: Biro Hukum dan Organisasi, Bag.humas BMKG

Pos terkait