Budaya K3 di Tempat Kerja

Budaya K3 di Tempat Kerja

 

Kecelakaan industri di Indonesia cukup tinggi, sebagian besar kecelakaan industri terjadi pada tenaga kerja yang berpendidikan rendah (SD dan SLTP). Menganalisis banyaknya kecelakaan kerja menggunakan teori domino Heinrich, penyebab utamanya adalah ulah manusia (pekerja itu sendiri). Menurut teori domino Heinrich, kecelakaan kerja memiliki rantai kejadian tertentu dan penyebabnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu bahaya mekanis, yaitu sumber energi yang tidak terkendali dan tindakan yang tidak aman. Keduanya terjadi karena ulah manusia. Lebih lanjut Heinrich menyatakan bahwa 88% kecelakaan kerja disebabkan oleh tindakan tidak aman dan 12% oleh faktor lain. Pernyataan ini konsisten dengan Strasser dkk. bahwa “perilaku tidak aman menyebabkan 85% dari semua kecelakaan”.

Informasi di atas menunjukkan bahwa perilaku tidak aman (oleh orang) merupakan penyebab utama terjadinya kecelakaan kerja. Tindakan tidak aman disebabkan oleh sikap prioritas yang rendah terhadap keamanan kerja. Pendapat Strasser dkk “Perilaku seseorang sehubungan dengan kecelakaan tergantung pada sikap seseorang terhadap setiap situasi.”

Berikut beberapa faktor utama yang perlu dipahami bagi pekerja :

Budaya

Secara umum atau secara meluas budaya adalah suatu gaya hidup yang berkembang dalam suatu kelompok atau masyarakat dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Semua ilmu dan penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.

Budaya K3

Merupakan kombinasi dari sikap-sikap, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, norma-norma dan persepsi dari para pekerja dalam sebuah organisasi, yang memiliki keterkaitan secara bersama terhadap K3, perilaku selamat, dan penerapannya secara praktis dalam proses produksi.

BACA JUGA:  Komunikasi Non Verbal Terhadap Kepuasan Pelanggan

Tujuan Penerapan Budaya K3

⦁ UU No.1 Tahun 1970 : Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat kerja. Meningkatkan Kesejahteraan dan produktivitas Nasional. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.

⦁ PP RI No. 50 Tahun 2012 : Meningkatkan efektivitas perlindungan kesehatan dan keselamatan kerja yang terancam, terukur, terstruktur, dan terintegrasi. Mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja, dan serikat pekerja. Menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, dan efisien.

Program Inspeksi / Peninjauan K3 sebagai bentuk upaya promosi budaya K3 di lingkungan kerja

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa program peninjauan K3 sebagai bentuk sosialisasi budaya K3 di lingkungan kerja tercermin dari peningkatan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja di lingkungan kerja serta evaluasi informasi untuk pengembangan perawatan kesehatan kerja. Semua subjek merasakan manfaat program peninjauan K3 karena mampu membentuk budaya K3 di lingkungan kerja. Tempat kerja lebih nyaman (panorama tempat produksi, lebih bersih, pengaturan kerja bisa lebih maksimal, semuanya lebih mudah ditemukan). Semua subjek menilai program peninjauan keselamatan dan kesehatan kerja baik. Evaluasi program peninjauan K3 perusahaan berdasarkan jumlah kecelakaan setiap tahun seharusnya trendnya menurun, jika trend kecelakaan meningkat maka akan diberikan pelatihan dan penguatan untuk 3 elemen penting yaitu komitmen dari manajemen hingga infrastruktur, dibangun dengan lima prinsip hierarki pengelolaan lingkungan dan membangun budaya kesehatan dan keselamatan kerja.

BACA JUGA:  Pendiri Muhammadiyah Ternyata Seorang Habib Keturunan ke-15 Rasulullah

Pengaruh Budaya K3 di Bidang Konstruksi

Pengaruh budaya keselamatan dan kesehatan kerja adalah bahwa budaya keselamatan kerja harus dimulai dari manajemen puncak dalam masalah keselamatan kerja, dengan penerapan prosedur keselamatan kerja dalam konstruksi memegang peranan penting dalam meningkatkan kinerja proyek konstruksi. Karena semakin tinggi budaya keselamatan dan kesehatan kerja yang dipraktikkan oleh manajemen puncak, maka semakin baik pula kinerja proyek konstruksi tersebut. Berdasarkan penelitian dan literatur, ditarik kesimpulan yang menurutnya budaya keselamatan dan kesehatan perusahaan harus berasal dari manajemen puncak.

Penerapan Budaya Perilaku K3 di Rumah Sakit

Budaya perilaku K3 terdiri dari enam faktor pendukung, salah satunya manajemen telah memperhatikan pentingnya keselamatan karyawan melalui K3 dengan kebijakan K3. budaya K3 RS meningkat, aturan dan prosedur K3 dibuat oleh manajemen dan dilaksanakan oleh staf untuk mengikuti dan mengamati K3 rumah sakit. Komunikasi antara atasan dan bawahan memegang peranan penting dalam mempromosikan pelayanan kesehatan di tempat kerja, oleh karena itu diperlukan model dan alur komunikasi yang baik dan RS telah menerapkannya sesuai dengan itu. RS memiliki kompetensi K3 yang baik yaitu dengan adanya seorang Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja Umum (AK3U) dan dalam proses pembudayaan K3 tenaga kesehatan kerja menerima dan terlibat dengan baik, dan hal ini terlihat pada program pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja, dimana karyawan menggunakan alat pelindung diri. Lingkungan kerja yang bermanfaat adalah salah satu faktor untuk mencapai budaya K3 dan di RS hal ini telah dicapai oleh staf yang mengikuti instruksi SOP, rambu-rambu K3, poster K3 dan instruksi keselamatan pasien.

BACA JUGA:  Tips Belajar Efektif Untuk Mahasiswa

Dampak Apabila K3 Tidak Diterapkan

⦁ Akan berpotensi menciptakan berbagai kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja yang berpotensi mengakibatkan kerugian moril maupun materil, korban manusia.

⦁ Citra negatif perusahaan (Company Image).

⦁ Menyebabkan kondisi produktivitas perusahaan menjadi menurun yang disebabkan oleh biaya langsung seperti biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan akibat pegawai yang mengalami cedera atau kematian dan biaya tidak langsung seperti kompensasi, publikasi yang buruk.

Berdasarkan kesimpulan tersebut, pelatihan keselamatan kerja bagi karyawan di industri kecil dan menengah harus disertai dengan upaya lain yang bertujuan untuk menciptakan norma keselamatan kerja, meningkatkan sistem manajemen, memantau dan mengevaluasi sistem keselamatan dan kesehatan kerja yang sedang berlangsung, misalnya membudayakan penggunaan alat pelindung diri (APD), prosedur operasi standar (SOP), rambu-rambu, dan keselamatan pekerjaan. Di era otonomi daerah ini, sudah saatnya pemerintah daerah lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja (K3) pekerja di industri kecil dan menengah dengan membuat berbagai peraturan daerah untuk mendukung sistem keselamatan dan kesehatan kerja pekerja.

Aswin Hasjam
Prodi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi
Universitas Binawan

Pos terkait