Budaya Tabu Makanan pada Ibu Hamil: Bagaimana Fenomena Tersebut Dilihat dari Sudut Pandang Gizi?

Budaya Tabu Makanan pada Ibu Hamil: Bagaimana Fenomena Tersebut Dilihat dari Sudut Pandang Gizi?

DEPOK POS – Perayaan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember merupakan bentuk penghormatan untuk perjuangan para ibu di seluruh dunia. Perjuangan seorang ibu tidak hanya melahirkan dan membesarkan anaknya hingga dewasa, tetapi juga mengandung anaknya selama 9 bulan. Selama hamil, janin bergantung kepada ibunya untuk mendapatkan zat gizi agar ia dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Asupan ibu saat hamil juga dapat mempengaruhi kesehatan anaknya ketika ia menginjak dewasa (Fikawati dkk., 2018). Maka dari itu, ibu hamil perlu memastikan asupannya cukup. Namun, ibu hamil justru sering menghindari berbagai jenis makanan yang salah satunya diakibatkan oleh tabu makanan (Chahyanto & Wulansari, 2018).

Tabu makanan adalah suatu larangan mengonsumsi makanan tertentu karena terdapat konsekuensi berbahaya bagi pelanggarnya yang berakar dari budaya atau agama (Sukandar, 2006; Laksono & Wulandari, 2021; Jayadi dkk., 2020). Ibu hamil mempercayai tabu makanan karena merasa cemas terhadap kondisi janinnya (Intan, 2018). Kepercayaan terhadap tabu makanan ini menyebabkan ibu berisiko kekurangan gizi (Sholihah & Sartika, 2014). Pada tahun 2018, persentase ibu hamil di Indonesia yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan anemia masih tinggi yaitu berturut-turut sebesar 17,3% dan 48,9%. Menurut penelitian Kristya, dkk. (2021), perilaku tabu makanan berkontribusi terhadap 22,8% risiko KEK pada ibu hamil. Maka dari itu, masalah ini masih harus menjadi perhatian serius.

Ada banyak jenis makanan yang dipercaya sebagai tabu bagi ibu hamil. Sebagian besar makanan tersebut adalah kelompok lauk hewani. Menurut sudut pandang budaya dan agama, makanan yang tabu ini dihindari karena dapat berdampak negatif bagi ibu dan janinnya (Jayadi dkk., 2020).

Tabu makanan pada ibu hamil beredar luas di Indonesia. Daging kambing, nanas, dan nangka dipercaya di berbagai daerah sebagai makanan yang menyebabkan keguguran pada ibu hamil (Chahyanto & Wulansari, 2018; Jayadi dkk., 2020). Masyarakat Sulawesi Tengah dan Kalimantan Selatan mempercayai bahwa makanan laut seperti udang, kepiting, dan ikan dapat menyebabkan perdarahan dan penggumpalan darah saat persalinan (Jayadi dkk., 2020; Sukandar, 2007). Beberapa suku di Kepulauan Riau dan pulau Jawa juga beranggapan bahwa telur mengakibatkan bayi sulit keluar ketika persalinan dan bayi yang dilahirkan menjadi bisulan. Sayuran hijau seperti kangkung, daun pepaya, dan daun kelor juga dianggap sebagai makanan yang menghambat proses persalinan (Chahyanto & Wulansari, 2018). Selain jenis-jenis makanan yang sudah disebutkan, masih banyak lagi jenis tabu makanan di berbagai daerah lainnya, padahal kebanyakan makanan itu justru memiliki banyak manfaat bagi ibu hamil yang perlu meningkatkan asupannya.

BACA JUGA:  Protein Hewani Efektif Cegah Anak Alami Stunting

Kehamilan merupakan awal dari periode emas dalam siklus kehidupan manusia yaitu masa 1000 Hari Pertama Kehidupan yang berperan penting dalam kesehatan sang anak sepanjang masa hidupnya (Brown, 2017; UNICEF, 2017). Tumbuh kembang janin yang optimal membutuhkan zat gizi yang memadai. Ketika hamil, ibu mengalami banyak perubahan kebutuhan gizi untuk menunjang tumbuh kembang janin (Fikawati dkk., 2018). Hal ini tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 28 Tahun 2019 Tentang Angka Kecukupan Gizi. Berdasarkan isi peraturan tersebut, kebutuhan zat gizi ibu hamil terus meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan sehingga dampak tabu makanan pun menjadi semakin berbahaya.

Ibu hamil membutuhkan tambahan asupan energi sebesar 180-300 kalori setiap hari sehingga porsi makanannya perlu ditingkatkan. Ibu yang hamil ketika berusia 19-29 tahun akan mengalami peningkatan kebutuhan energi dari 2.250 kalori/hari menjadi 2.430 kalori/hari pada trimester ke-1 serta 2.550 kalori/hari pada trimester ke-2 dan ke-3 (AKG 2019). Kebutuhan semua zat gizi yang mencakup zat gizi makro (karbohidrat, protein, dan lemak) serta zat gizi mikro (vitamin dan mineral seperti asam folat, vitamin A, zat besi, kalsium, dan yodium) pun meningkat. Oleh karena itu, ibu juga perlu meningkatkan keberagaman jenis makanan yang dikonsumsi termasuk dari makanan yang tabu seperti daging kambing, ikan, kepiting, udang, telur, sayuran hijau, serta buah-buahan berwarna kuning kecuali jika terdapat anjuran dari tenaga kesehatan untuk menghindari makanan tertentu.

BACA JUGA:  Waspada Penyakit Diabetes pada Anak

Kepercayaan terhadap tabu makanan menyebabkan ibu hamil tidak berani mengonsumsi makanan tersebut yang berakibat pada penurunan asupan makan. Penurunan asupan makan ini menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pembagian zat gizi yang dalam kata lain terjadi kompetisi biologis antara ibu dan janin. Kondisi ini berisiko menyebabkan kekurangan zat gizi makro dan mikro yang buruk bagi kesehatan keduanya (Arzoaquoi, 2015). Kurangnya asupan zat gizi pada ibu hamil menyebabkan ibu tidak dapat mencapai kenaikan berat badan optimal sehingga ibu rentan mengalami Kurang Energi Kronis (KEK) dan melahirkan Bayi dengan Berat Lahir Rendah (BBLR) (Mohamad & Ling, 2016).

Ibu hamil tidak dapat memperoleh zat gizi tertentu dari lauk hewani yang dijadikan tabu oleh masyarakat setempat, padahal lauk hewani seperti ikan merupakan sumber asam lemak omega 3 dan zat besi yang bermanfaat bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi. Jika ibu kekurangan zat gizi tersebut, dampak jangka pendeknya adalah pertumbuhan bayi dapat terhambat; perkembangan intelektual, saraf, dan penglihatannya terganggu; dan terjadi anemia pada ibu hamil (Sholihah & Sartika, 2014). Dampak jangka panjangnya adalah penurunan kecerdasan dan peningkatan risiko penyakit degeneratif ketika anak menginjak usia dewasa (Fikawati dkk., 2018). Selain sumber hewani, sayuran dan buah-buahan sumber vitamin A, vitamin C, dan asam folat juga banyak yang dijadikan tabu seperti kangkung, nanas, dan nangka. Ibu hamil dan anak yang dilahirkan dapat mengalami anemia akibat kekurangan vitamin C dan asam folat. Kekurangan vitamin A juga berdampak pada peningkatan risiko ketidaksempurnaan perkembangan organ janin, khususnya paru-paru, jantung, dan saluran kemih (Ningtyias & Kurrohman, 2019).

BACA JUGA:  Tips Mengatasi Nyeri Haid

Tabu makanan yang masih banyak dipercaya oleh masyarakat berbahaya bagi kesehatan ibu dan janin selama periode kritis pertumbuhan dan perkembangan anak yaitu kehamilan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, sebagian besar makanan yang tabu berperan penting dalam pemenuhan gizi ibu hamil. Namun, makanan tersebut justru dihindari karena kepercayaan dan budaya. Oleh karena itu, diperlukan perbaikan pandangan masyarakat terhadap makanan yang dijadikan tabu melalui edukasi oleh tenaga kesehatan yang kompeten (Arzoaquoi, 2015).

Upaya untuk meminimalisir dampak negatif dari tabu makanan dapat dilakukan melalui pemberian edukasi kepada masyarakat terkait pentingnya menghindari pantangan makan, meningkatkan asupan zat gizi, serta mencari makanan alternatif sebagai pengganti makanan yang tabu bagi ibu hamil (Chahyanto & Wulansari, 2018). Selain ibu hamil itu sendiri, edukasi ini juga perlu diberikan kepada suami, orang tua, serta tokoh masyarakat setempat karena banyak ibu hamil yang masih menganut tradisi untuk mengikuti perintah orang tua dan sesepuh di daerahnya agar tidak dianggap durhaka (Mardiyati, dkk., 2019). Solusi ini membutuhkan peran dari pemerintah, khususnya tenaga ahli gizi dan promosi kesehatan di puskesmas untuk melakukan pendekatan secara efektif mengenai perubahan pandangan mengenai tabu makanan melalui kerja sama dengan tokoh masyarakat yang berpengaruh (FAO, 1997).

Allisa Putri Maryam | Hesty Ghaits Mubarrok
FKM Universitas Indonesia

Pos terkait