Cara Menerapkan ABC-X of Family Crisis dalam Dunia Psikologi

DEPOKPOS – Ketika berbicara tentang bagaimana sistem keluarga menangani krisis, kita harus menyebutkan model ABC-X Reuben Hill. Sosiolog Amerika adalah pelopor dalam bidang studi ini. Dia mengembangkan proposal yang memungkinkan untuk mengidentifikasi kerentanan terhadap stres dalam keluarga dan memahami mengapa krisis dipicu dan bagaimana mereka bereaksi terhadapnya.

Dengan perspektif yang lebih lengkap ini, model penyesuaian dan adaptasi keluarga Double ABCX , yang dirumuskan oleh McCubbin dan Patterson pada 1980-an, dikembangkan. Diusulkan bahwa ada dua fase yang digerakkan ketika sebuah keluarga harus menghadapi stres.

Menurut model ABC-X, ada tiga elemen yang terlibat:

 Perisiwa yang menegangkan

Ini adalah jenis situasi di mana sebuah keluarga tidak siap dan yang menuntutnya dan anggotanya. Stresor ini bisa sangat beragam dan tidak sama di semua keluarga. ini tidak selalu merupakan masalah kesulitan, melainkan peristiwa baru yang menghasilkan ketidakseimbangan tertentu .

 Sumber daya kelurga

sumber daya dan kapasitas yang tersedia bagi keluarga untuk merespons dan menangani stresor .

BACA JUGA:  Rahasia Diet yang Efektif untuk Menurunkan Berat Badan

 Definisi acara

Definisi atau interpretasi yang dibuat oleh keluarga atas peristiwa tersebut. Nah disini kita mulai dari pemahaman yang sederhana model ini menjelaskan “bagaimana cara keluarga mengetahui penyebab utama dari permasalahan yang ada, dan bagaimana cara keluarga itu mengatasinya”.

 Komponen A itu mengacu kepada stressor event yaitu sebuah stress yang sedang dihadapi oleh keluarga bisa financial difficulties, divorces illness, or natural disaster.

 Komponen B itu mengacu ke family resource and coping strategies hal ini menjelaskan bagaimana cara keluarga ini menggunakan strategi dalam menghadapi sebuah permasalahan di dasari oleh sumber daya yang ada.

 Komponen C ini mengacu ke family perception yaitu bagaimana cara keluarga memandang permasalahan yang sedang dia hadapi, serta sumber daya yang sedang dia miliki sekarang. Hal ini bisa di dasari oleh latar belakang mereka, agama mereka, dan juga lingkungan dimana mereka berada.

BACA JUGA:  Manfaat Mandi Pagi untuk Kesehatan

 Dan komponen X mengacu kepada crisis dimana komponen ini bukanlah hasil yang di tentukan di awal tetapi hasil yang di tentukan berdasarkan interaksi Antara ke-3 komponen tersebut komponen A,B dan C.

Jika kalian masih belum bisa membayangkan bagaimana cara ngeimplementasiin model ini adalah permasalahan yang sesungguhnya. Dan selanjutnya sekarang kita akan bahas menggunakan “study case”

 Casenya tentang finansial difficuities

Contohnya: ada sebuah keluarga yang memiliki keterbatasan finansial orang tua nya merasa khawatir jika mereka tidak bisa membiayai kuliah anaknya. Dan anak nya pun khawatir jika anak nya akan di drop out dari sekolahnya.

 Peran Task ini Berarti membuat tugas utama dari keluarga ini adalah bagaimana dia mencari dana untuk membayar kuliah si anak atau yang biasa di sebut dengan mencari solusi.

 Action ini memiliki arti dimana melakukan pendekatan atau bukti yang nyata dan action ini bisa dilakukan dengan dua pendekatan yaitu:

BACA JUGA:  3 Cara Mencegah Insomnia, Milenial Harus Tau!

-problem focused coping = mencari solusi yang direct ke permasalahan yaitu ke bagian financial.

-emotional focused coping = bagaimana cara tetap meyakinkan si anak kalau misalkan tindakan perjuangan orangtua nya bisa ia lakukan begitupun sebaliknya.

 Result ini menjelaskan tentang hasil di akhir dimana hasil di tentukan oleh seberapa besar effort yang mereka lakukan dan bagaimana presepsi mereka dalam menghadapi sebuah permasalahan melalui strategi dan sumber daya yang ada.

Nah kalau keluarga kita tidak bisa berkolaborasi dalam menghadapi stressor event yang ada berdasarkan case study, sebelumnya tadi kita membahas financial difficulties maka akan lanjut ke part berikutnya yaitu crisis dimana si anak sudah ke drop out dan itu sudah di bilang parah, makannya kita mengupayakan mitigasi secepat mungkin supaya hal-hal tersebut bisa di selesaikan.

Penulis: Danella ulva annora – mahasiswi prodi psikologi universitas binawan

Pos terkait