Cerita Abdurrachim, Gelandangan yang Jadi Kaya Karena Kodok

Sehari-hari dia hidup di emperan toko dan bekerja sebagai pemulung puntung rokok di jalanan

MJ. Depok – Kisah keluarga Abdurrachim asal Lumajang jadi bukti pepatah bijak. Bahwa “Hidup adalah perjuangan dan harus diperjuangkan” ada benarnya.

Bacaan Lainnya

Bagaimana tidak, dia yang semula gembel berubah nasib menjadi miliarder berkat kerja keras tanpa henti. Berubahnya nasib Abdurrachim sempat menjadi pemberitaan banyak media di Surabaya pada Juni 1975.

Pada awalnya, Abdurrachim adalah gelandangan yang tidak punya tempat tinggal tetap. Sehari-hari dia hidup di emperan toko dan bekerja sebagai pemulung puntung rokok di jalanan.

BACA JUGA:  Tradisi Betawi Jelang Ramadhan yang Masih Dilakukan

Atas dasar ini pula dia pernah kena ciduk otoritas terkait. Bahkan, ia pernah ditempatkan di rumah penampungan.

Harian Surabaya Post (2 Juni 1975) melaporkan tempat penampungan tersebut berisi gelandangan seperti Abdurrachim supaya tidak berkeliaran dan istirahat di pinggir jalan. Kelak, pemerintah bakal menanggung hidup mereka.

Meski begitu, Abdurrachim tak ingin bergantung begitu saja. Pada siang hari dia tetap bekerja sebagai pemulung puntung rokok.

Lalu malam harinya dilanjutkan dengan melakoni pekerjaan sebagai pencari kodok hingga hari berganti. Selama itu pula, Abdurrachim tak sendirian dan ditemani oleh istrinya.

BACA JUGA:  Baju Baru Saat Lebaran di Betawi: Tradisi Muslim Lokal

Uang hasil pekerjaan lantas dikumpul dan diputar untuk modal. Usahanya tetap masih seputar jual-beli kodok.

“Pak Abdurrachim selain mencari kodok juga membelinya dari pencari-pencari kodok yang lain,” tulis harian Surabaya Post.

Singkat cerita, pekerjaan dan usaha tersebut moncer. Dia kemudian menjadi juragan kodok hingga terkenal sampai Surabaya. Sejak itulah perlahan hidup Abdurrachim mulai berubah.

Setiap minggu, Abdurrachim selalu mengirim kodok ke Surabaya sebanyak 3 kuintal atau 300 Kg. Harga satu kuintal saja bisa mencapai Rp 55.000. Artinya, selama 7 hari, dia bisa memegang uang Rp 165.000.

Di masa itu, Rp 165.000 merupakan nominal fantastis. Satu gram emas saja hanya seharga Rp 2.000. Sedangkan bensin bisa dibeli hanya Rp 57 per liter.

BACA JUGA:  Silat Betawi: Tradisi Maen Pukulan Masyarakat Betawi

Hidup Abdurrachim dari yang terlunta-lunta di pinggir jalan berubah seketika menjadi sejahtera dan terhormat. Atas dasar inilah, banyak orang menjulukinya sebagai miliarder baru.

“Keluarga bekas gelandangan ini telah memiliki kekayaan berupa sawah seluas 3 hektar, 1 sepeda motor, dan sedang merencanakan pembelian rumah seharga Rp 3.000.000,” ungkap Surabaya Post.

Meski begitu, kekayaan tak membuatnya terlena dan lupa diri. Sekalipun sudah banyak uang, Abdurrachim masih tinggal dan hidup bersama gelandangan lain di tempat penampungan.

Sumber: CNBC

Pos terkait