Dampak Negatif Nonton Video Mukbang

DEPOK POS – Apakah Anda sering menonton video mukbang? Tren makan dalam porsi besar ini ternyata sudah lama populer, lho. Mukbang berasal dari bahasa korea, yaitu ‘meukneun’ yang artinya makan serta ‘bangsong’ yang artinya menyiarkan. Sehingga, mukbang dapat diartikan sebagai aktivitas makan yang dapat disiarkan melalui platform video daring ataupun internet. Mukbang telah menjadi suatu konten yang sangat populer belakangan ini. Ada beberapa daya tarik yang menyebabkan masyarakat gemar untuk menonton konten ini, seperti variasi hidangan yang beragam serta kemampuan makan dalam waktu yang singkat.

Salah satu Youtuber asal Indonesia, yakni Tanboy Kun, sering menyajikan konten video mukbang dalam channelnya. Channel Youtube yang ia miliki telah mencapai 16,8 juta subscribers dan penonton hingga 98 juta dalam satu video, lho. Hal ini membuktikan bahwa antusiasme masyarakat Indonesia terhadap konten mukbang sangatlah besar. Pada dasarnya, menonton mukbang dapat menghibur dan dapat meningkatkan nafsu makan. Namun, ternyata menonton mukbang secara berlebihan juga memiliki dampak negatif.

BACA JUGA:  Mukbang, Sebuah Tren yang Bisa Menimbulkan Masalah Kesehatan

Dampak Menonton Video Mukbang

Menonton video mukbang dapat menimbulkan beberapa dampak negatif. Disadari ataupun tidak, menonton video mukbang dapat memengaruhi persepsi dan pola makan seseorang. Para pelaku mukbang (mukbangers) kebanyakan memiliki badan yang kurus sehingga dapat menimbulkan persepsi bahwa makan dengan porsi banyak dan mengandung kalori yang tinggi tidak akan menyebabkan kegemukan atau obesitas. Selain itu, dengan melihat orang lain makan dalam jumlah besar, seseorang juga akan berkeinginan untuk meniru hal serupa (perilaku mukbang). Sebuah studi yang dilakukan oleh Amalia dkk dalam Journal of Nutrition College mengungkap bahwa terdapat hubungan antara menonton video mukbang dengan perubahan perilaku makan ke arah negatif. Hal ini dikhawatirkan dapat menimbulkan gangguan binge eating disorder (BED).

BACA JUGA:  Kunyit sebagai obat alami meredakan sakit gigi

BED merupakan suatu kondisi dimana seseorang sering mengonsumsi makanan dalam jumlah yang besar dan tidak dapat mengontrol nafsu makannya. Dalam jangka panjang, gangguan ini dapat menyebabkan seseorang mengalami obesitas. Apalagi makanan yang sering dipertontonkan dalam video mukbang merupakan makanan yang tidak sehat, seperti junk food. Berdasarkan National Eating Disorder Association, dua pertiga individu yang memiliki gangguan BED mengalami obesitas. Adapun obesitas merupakan penumpukan lemak yang berlebihan akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dengan energi yang digunakan dalam waktu yang lama. Obesitas dapat meningkatkan risiko munculnya berbagai penyakit, seperti serangan jantung koroner, stroke, diabetes melitus, hipertensi, batu empedu, kanker usus besar dan kelenjar prostat pada pria, serta kanker payudara dan leher rahim pada wanita.

Tindakan Pencegahan terhadap Risiko Obesitas

Menonton video mukbang dapat menjadi sebuah hiburan untuk mengisi waktu luang. Namun, perlu diingat bahwa ketika kamu mulai merasakan peningkatan nafsu makan, sebaiknya pastikan makanan yang dikonsumsi merupakan makanan yang sehat dan sesuaikan antara porsi makan dengan kebutuhan kalori kamu. Selain itu, jangan lupa untuk berolahraga secara rutin karena olahraga dapat menjadikan kita sehat secara fisik maupun mental. Terakhir, apabila kamu mengalami gangguan makan setelah menonton video mukbang, jangan ragu untuk berkonsultasi pada psikolog ataupun psikiater agar gangguan makan yang Anda alami tidak berlanjut.

BACA JUGA:  Keju KRAFT Hadirkan Tips Makanan Lezat Bernutrisi di Bulan Ramadhan

Menonton video mukbang memang memiliki dampak negatif, baik dalam aspek psikologis maupun fisik manusia. Namun, bukan berarti menonton video mukbang termasuk aktivitas yang terlarang. Video mukbang tetap boleh untuk ditonton asalkan kita tetap mengetahui batasannya. Selain itu, tindakan pencegahan yang telah dipaparkan sebelumnya juga bisa diterapkan untuk mencegah terjadinya obesitas.

Disusun oleh: Luthfia Amalia Tama, Maisan Zahra, Syifa Aulia Suryani
FKM UI

Pos terkait