Dampak Perceraian Terhadap Psikologi Anak

Dampak Perceraian Terhadap Psikologi Anak

DEPOK POS – Sebagai seorang muslim, kita mempercayai bahwa Allah swt. menciptakan semua makhluk dengan berpasang-pasangan, langit dan bumi, matahari dan bulan, begitu pula dengan manusia, laki-laki dan perempuan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, manusia sebagai makhluk sosial di dunia pasti membutuhkan satu sama lain. Manusia yang berpasang-pasangan dan saling membutuhkan satu sama lain kemudian menjalin ikatan kasih agar keduanya tetap dapat menjalani hidup bersama.

Pernikahan bukan hanya sembarang ikatan yang mengikat antara pasangan laki-laki dan perempuan, melainkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pernikahan adalah suatu ikatan perkawinan yang dilaksanakan sesuai ketentuan hukum dan agama. Pernikahan bersifat sakral karena melibatkan hubungan antara manusia dengan Allah swt, karena pernikahan yang sah adalah pernikahan yang dihalalkan, mendapat ridha, dan sesuai dengan ketentuan yang Allah swt tetapkan.

Selain itu, pernikahan juga menjadi salah satu sunnah Rasulullah dan menjadi ibadah seumur hidup bagi setiap muslim. (Mone, 2019)

Pernikahan yang sudah dilaksanakan oleh pasangan laki-laki dan perempuan akan menghasilkan keturunan dan membangun sebuah keluarga. Keluarga adalah orang-orang yang masih terikat keturunan dan nasab. Menurut konsep islam, keluarga adalah satu kesatuan hubungan antara laki-laki dan perempuan melalui ikatan pernikahan yang sah secara hukum dan agama, dan menghasilkan anak keturunan dari pernikahan tersebut. (Al Hamat, 2018)

Namun, dalam menjalani kehidupan berkeluarga akan datang kebahagiaan dan permasalahan yang tidak terduga dan tidak terhindarkan. Suatu pernikahan dapat terputus dan berakhir karena berbagai alasan, salah satunya yaitu perceraian. Perceraian diperbolehkan dalam islam jika menjadi satu-satunya solusi terakhir yang harus dilakukan apabila pernikahan sudah tidak dapat dipertahankan. (Bakry et al., 2021)

Perceraian antara suami-istri, ayah-ibu yang terjadi di sebuah keluarga yang memiliki anak keturunan akan memiliki dampak bagi keluarga itu sendiri. Dampak perceraian tidak hanya dirasakan oleh pasangan suami-istri saja, namun perceraian orang tua juga dapat memberikan dampak bagi anak keturunan mereka.

Dampak yang dirasakan oleh anak keturunan mereka tidak hanya menyasar pada satu aspek saja, tetapi menyasar pada berbagai aspek kehidupan sang anak, salah satunya adalah dampak pada aspek psikologis atau mentalitas anak. Berdasarkan latar belakang tersebut, oleh karena itu, artikel ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui dampak pada psikologis yang terjadi pada anak yang disebabkan oleh putusnya pernikahan perceraian orang tua

BACA JUGA:  Inovasi Cilok Kuah Instan

Pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa yang ditegaskan pada ketentuan pasal 2 ayat (1) dan (2) undang-undang nomor 1 tahun 1974. Perkawinan merupakan cara untuk membolehkan atau menghalalkan hubungan antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan untuk hidup bersama dalam membina keluarga yang sakinah, mawaddah dan warohmah (Syalis & Nurwati, 2020).

Pernikahan merupakan suatu perjanjian, ikatan, atau akad suci yang mengikat seorang laki-laki dengan perempuan secara lahir dan batin dengan tujuan untuk membentuk sebuah keluarga yang bahagia (Sukmawati, 2021).

Pernikahan yang dilaksanakan sesuai ketentuan hukum dan agama akan menghasilkan sebuah keluarga. Keluarga adalah satu kesatuan masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang dihasilkan dari ikatan pernikahan (Sofyan, 2018).

Menurut Sulindiro dalam (Jenz & Apsari, 2021), keluarga merupakan kesinambungan kebahagiaan, hubungan keluarga yang saling mengasihi, pertemanan yang kuat, adanya percaya diri karena memiliki fisik yang sehat, keamanan di dalam sisi keuangan dan juga tercukupi dalam aspek pengembangan diri secara intelektual, dengan mengedepankan petunjuk Allah swt.

Keluarga merupakan bagian pertama dan utama dari seorang anak. Melalui keluarga, seharusnya anak memperoleh dasar pembentukan perilaku, watak, moralitas, dan pendidikan umum maupun pendidikan agama untuk penyesuaian diri di masa depan.

Keluarga seharusnya memiliki fungsi psikologis untuk anak sebagai pemberi rasa aman, sumber kebutuhan fisik maupun mental, sumber penerimaan dan kasih sayang, pengajar dan pemberi bimbingan, model perilaku yang tepat bagi pembelajaran pertama untuk anak, dll.

Namun, adanya fenomena terputusnya pernikahan atau perceraian yang terjadi pada suami-istri, ayah-ibu pada suatu keluarga akan menghilangkan seutuhnya fungsi keluarga pada anak mereka.

Perceraian merupakan salah satu alasan putusnya ikatan pernikahan antara sepasang suami dan istri. Perceraian adalah berakhirnya suatu hubungan suami dan istri yang ditetapkan oleh hukum atau agama (talak), karena alasan adanya ketidakharmonisan dalam suatu rumah tangga (Hasanah, 2020).

BACA JUGA:  Antara Tantangan Global dan Kesehatan Mental

Menurut Pasal 38 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974, perceraian adalah putusnya ikatan lahir batin antara suami dan istri yang mengakibatkan berakhirnya hubungan keluarga (rumah tangga) antara suami dan istri tersebut.

Meskipun Allah swt. membenci perceraian, namun dalam prinsip islam, perceraian tetap diperbolehkan asal menjadi satu-satunya cara terakhir untuk mengatasi masalah rumah tangga yang sudah tidak dapat dipertahankan. Adanya perceraian talak dalam sebuah keluarga tentunya akan memberikan dampak bagi semua anggota keluarga di dalamnya, baik ayah, ibu, maupun anak mereka.

Dampak yang dirasakan dan dialami oleh anak dari fenomena perceraian dalam sebuah keluarga, tidak hanya berimbas pada satu aspek saja, tetapi berimbas pada berbagai aspek kehidupan anak, salah satunya adalah dampak psikologis atau mentalitas anak pasca perceraian orang tua mereka.

Perceraian yang terjadi pada orang tua membuat anak menjadi cenderung menyalahkan dirinya sendiri, menganggap bahwa dirinya adalah salah satu alasan orang tua mereka berpisah. Perceraian yang terjadi di sebuah keluarga juga memberikan dampak buruk bagi perkembangan mental anak pada aspek kepribadian, yaitu adanya perubahan tingkah laku anak pasca perceraian orang tua mereka.

Keluarga dan orang tua yang seharusnya menjadi ‘sekolah’ bagi anak mereka dalam membentuk kepribadian, justru memberikan dampak negatif pada kepribadian anak. .

Selain berdampak pada kepribadian anak, perceraian orang tua juga berdampak pada aspek psikis-emosional anak. Emosi yang dirasakan anak pasca orang tua mereka berpisah adalah anak merasa malu, tertekan situasi, menderita, adanya konflik batin, trauma, dan merasa kurangnya afeksi dari orang tua mereka.

Menurut (Untari et al., 2018) dampak negatif yang terjadi pada psikologis anak pasca terjadi perceraian orang tua mereka antara lain; (1) Munculnya masalah kesehatan yang diakibatkan stress, (2) Merasa kecil dan malu, (3) Sulit berkomunikasi dengan orang dewasa, (4) Menurunnya rasa percaya diri, self esteem, dan self efficacy sang anak, (5) Selalu merasa takut dan cemas yang berlebihan, (6) Menunjukkan tingkah laku anti-sosial, (7) Sulit mempercayai orang lain, (8) Gangguan emosional, (9) Depresi.

Dampak negatif lainnya yang dirasakan oleh anak jika keluarganya mengalami perceraian adalah; (1) Anak merasa marah, sedih, kesepian, dan kecewa. Hal tersebut dapat dilihat dalam bentuk perilaku anak yang menjadi kasar; (2) Menjadi pendiam, pemurung,tertutup, dan tidak suka bergaul; (3) Lebih mendahulukan kepentingan dirinya tanpa memperhatikan keadaan teman-temannya; (4) Bersikap tidak peduli terhadap teman-temannya; (5) Kurang bisa menjaga hubungan baik dengan teman-temannya; (6) Suka melamun terutama mengkhayalkan orang tuanya akan bersatu lagi; (7) Sulit fokus; (8) Selalu merasa takut, tidak nyaman, dan tidak aman,dll.

BACA JUGA:  Manajemen Risiko Keuangan Pribadi

Berdasarkan pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah satu kesatuan masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak yang dihasilkan dari ikatan pernikahan. Fenomena perceraian yang terjadi pada sebuah ikatan pernikahan terbukti menjadi salah satu penyebab munculnya dampak psikologis anak.

Anak yang berada pada keluarga tidak harmonis ataupun kedua orang tuanya telah bercerai menjadi cenderung memiliki keadaan psikologis yang tidak sehat seperti mereka menjadi cenderung menyalahkan diri sendiri sehingga menganggap dirinya adalah alasan dari perpisahan kedua orang tuanya.

Selain itu perubahan tingkah laku anak cenderung mengarah pada hal negatif, hal ini dikarenakan kurangnya keharmonisan keluarga atau orang tua yang seharusnya menjadi tempat anak dalam membentuk kepribadian.

Dampak yang dihasilkan dari putusnya pernikahan lewat perceraian memberikan efek negatif yang cukup dalam bagi anak, oleh karena itu para orang tua tidak hanya mengalami putusnya pernikahan lewat perceraian, namun harus lebih memperhatikan kondisi anak mereka, baik kondisi secara fisik, maupun kondisi mental anak mereka.

Selain itu, para orang tua yang memutuskan untuk bercerai, tetap harus menjaga hubungan baik dengan anak mereka, tetap memberikan arahan, pembelajaran, pengertian, rasa keterbukaan, serta kasih sayang kepada anak mereka sebagaimana mestinya. Para orang tua juga tidak boleh melupakan kewajiban dan tanggung jawab mereka terhadap anak mereka meskipun sudah terjadi putusnya pernikahan melalui perceraian.

Hal tersebut disarankan kepada para orang tua agar dapat mencegah dan mengurangi dampak negatif yang terjadi pada anak mereka, khususnya pada aspek psikis atau mental anak pasca terjadinya perceraian orang tua.

Oleh: Azra Nurrahmah, Febria Shafa Nabila, Nur Azizah Apriana Putri
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Jakarta

Pos terkait