Daun Kelor, Superfood Solusi Anemia Ibu Hamil

DEPOK POS – Sering merasa lemah, letih, lesu? Hati-hati! Bisa jadi Anda mengalami anemia atau yang sering disebut dengan kurang darah. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tahun 2019 menyatakan bahwa hampir 50% ibu hamil Indonesia mengalami anemia. Kebutuhan zat besi ibu hamil yang meningkat serta perubahan alami pada tubuh selama kehamilan membuat mereka lebih rawan terkena anemia. Anemia atau kurang darah adalah kondisi dimana tubuh tidak memiliki sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke seluruh bagian tubuh karena kadar hemoglobin lebih rendah dibanding normal. Ibu hamil disebut anemia apabila memiliki kadar hemoglobin (Hb) di bawah 11 g/dL.

Gejala anemia pada Ibu Hamil dikenal dengan 5L yaitu lesu, lemah, letih, lelah, lalai yang terjadi karena kekurangan oksigen ke otak dan otot. Anemia pada ibu hamil akan meningkatkan risiko kematian ibu dan bayi, keguguran, cacat bawaan, serta meningkatkan risiko stunting (pendek) yang masih menjadi permasalahan gizi di Indonesia yang belum teratasi.

Pola makan yang Ibu Hamil rendah zat besi, asam folat, dan vitamin B12 berperan penting meningkatkan resiko untuk mereka mengalami anemia. Zat besi didapatkan pada daging dan kacang-kacangan yang penting untuk pembentukan hemoglobin. Folat dan Vitamin B12 bisa didapatkan dari sayur, buah, biji-bijian, dan protein hewani. Tanpa Folat dan Vitamin B12 cukup, sel darah merah tidak bisa berkembang dan berfungsi secara normal serta lebih rentan untuk rusak.

BACA JUGA:  Dampak Psikologis pada Suami Istri yang Alami Kemandulan

Di Indonesia sendiri, dikenal daun kelor (Moringa oleifera) yang terbukti dapat mencegah anemia. Kelor yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan “horseradish tree” atau “drumstick tree” berasal dari India yang diperkenalkan pada masa penjajahan, serta pengaruh masuknya agama Hindu dan Budha di Indonesia. Kelor berukuran relatif kecil, namun ketika ditanam dapat tumbuh hingga 10 meter. Daun kelor yang kecil akan tumbuh secara majemuk dalam satu tangkai. Kelor cocok ditanam di pekarangan rumah, terutama karena perawatannya mudah. Kelor dapat tumbuh di daerah beriklim tropis, termasuk daerah yang kering dan panas.

Daun kelor banyak digunakan untuk tolak bala, mengusir makhluk gaib, hingga pengobatan tradisional. Walau seringkali dikaitkan dengan hal mistis, ternyata daun kelor mengandung berbagai nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh, bahkan mendapat julukan superfood. Istilah superfood digunakan untuk makanan yang dianggap memiliki nutrisi tertentu dengan manfaat kesehatan yang signifikan untuk mencegah penyakit serta meningkatkan kesehatan. Kelor juga dijuluki sebagai “miracle tree” (pohon ajaib), “tree for life” (pohon untuk kehidupan), hingga “gift of nature” (hadiah dari alam) karena semua bagian kelor dari akar hingga daun bermanfaat bagi kesehatan, kecantikan, dan lingkungan.

Daun tanaman kelor rendah karbohidrat dan lemak, tetapi merupakan sumber protein dan asam amino esensial. Gopalakrishnan dalam “Moringa Oleifera: A Review On Nutritive Importance And Its Medicinal Application” menyebutkan kelor mengandung 7 kali lebih banyak vitamin C dari jeruk, 10 kali lebih banyak vitamin A dari wortel, 17 kali lebih banyak kalsium dari susu, 9 kali lebih banyak protein dari yoghurt, 15 kali lebih banyak potasium dari pisang dan 25 kali lebih banyak zat besi dari bayam, serta 1,77 kali lebih banyak diserap oleh tubuh. Bila kandungan zat besi 100 gram daging sapi hanya 2 mg, kandungan zat besi dalam 100 gram bubuk daun kelor mencapai 28 mg.

BACA JUGA:  Program Pencegahan HIV Pada Remaja di Negara Berkembang, Bagaimana dengan di Indonesia ?

Daun kelor kaya akan zat besi hingga zat bioaktif yang penting untuk metabolisme zat besi dalam tubuh. Kandungan alkaloid, flavonoid, fitosterol dan saponin dalam daun kelor memiliki sifat hematopoietik (pembentukan sel darah), serta sumber vitamin A, B, zat besi, dan protein yang berperan dalam pembentukan hemoglobin pada sel darah merah. Kandungan vitamin C yang tinggi pada daun kelor meningkatkan ketersediaan hayati zat besi yang dapat meningkatkan penyerapan zat besi dari sumber non-heme hingga 4 kali lipat. Penggunaan daun kelor ataupun ekstraknya secara rutin mampu meningkatkan kadar zat besi hingga hemoglobin. Pemanfaatan bubuk daun kelor dapat digunakan untuk mengobati anemia menggantikan tablet besi.

Tak hanya mudah untuk ditanam dan dirawat, daun kelor juga mudah diolah. Umumnya, daun kelor bisa direbus sebagai menu sayuran untuk makanan sehari-hari. Perebusan dapat meningkatkan zat besi dan kandungan antioksidan daun kelor. Untuk merebusnya, daun kelor dapat dengan dimasukkan ke air mendidih selama 2-3 menit. Hasil rebusan daun kelor ini dapat dikreasikan menjadi sayur bening, sayur santan kelor, hingga teh.

BACA JUGA:  Manfaat Tanaman Kelor untuk Kesehatan

Untuk memudahkan pemanfaatan daun kelor, daun dapat dikeringkan untuk menjadi bubuk yang lebih tahan lama. Caranya mudah, hanya dengan menjemur daun hingga kering kemudian diblender. Bubuk daun kelor kering ini dapat menjadi campuran berbagai makanan olahan yang menarik dan banyak disukai orang-orang mulai dari puding kelor, es krim kelor, teh kelor, stik kelor, kerupuk kelor, dan sebagainya.

Karena termasuk dalam kelompok sayuran, konsumsi daun kelor aman untuk dikonsumsi setiap hari. Rekomendasi konsumsi daun kelor sebanyak 70 gram per hari atau sekitar 10 sendok bubuk daun kelor untuk hasil kesehatan yang optimal. Namun, konsumsi yang berlebih dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan, termasuk diare, muntah, serta kadar besi berlebih dalam darah.

Ingat, konsumsi daun kelor akan lebih maksimal jika dibarengi dengan protein hewani, protein nabati, buah-buahan, dan sayur-sayuran lainnya. Dengan mengkonsumsi gizi yang seimbang, rajin berolahraga, dan memiliki gaya hidup sehat, terbebas dari anemia bukan menjadi masalah bagi ibu hamil.

Denny Susanto , Kristina Adjie
Public Health Nutrition Department Faculty of Public Health Universitas Indonesia

Pos terkait