Deteksi Dini Demam Berdarah Menggunakan Model Ramalan Cuaca

Deteksi Dini Demam Berdarah Menggunakan Model Ramalan Cuaca

DEPOK POS – Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, penyakit demam berdarah dengue ditandai dengan demam 2-7 hari dengan suhu 38-40 derajat celcius, nyeri kepala, nyeri di punggung dan ulu hati, terdapat bintik-bintik merah pada kulit. Menurut World Health Organization (WHO) negara indonesia menjadi negara dengan kasus Demam Berdarah Dengue tertinggi di Asia Tenggara. Berdasarkan data profil kesehatan indonesia pada tahun 2016, terdapat 204.171 kasus kesakitan demam berdarah dengue dengan jumlah kematian sebanyak 1.598 orang orang.

Vektor demam berdarah dengue dikenal dengan dua jenis vektor Demam Berdarah Dengue yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus. Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti yaitu badan kecil berwarna hitam dengan bintik-bintik putih, jarak terbang nyamuk sekitar 1o meter, umur nyamuk betina dapat mencapai 1 bulan dan menghisap darah pada pagi hari sekitar pukul 09.00-10.00 dan sore hari pada pukul 16.00-17.00, nyamuk betina menghisap darah untuk pematangan sel telur, sedangkan nyamuk jantan memakan sari-sari tumbuhan, di dalam rumah nyamuk ini dapat hidup di genangan air bersih bukan di got atau comberan, dapat hidup di bak mandi. virus ini dapat ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang terinfeksi, virus ini dapat hidup melalui 2 mekanisme. mekanisme pertama, transmisi vertikal dalam tubuh nyamuk, dimana virus yang ditularkan dari nyamuk betina pada telurnya yang nantinya akan menjadi nyamuk. dan mekanisme kedua yaitu nyamuk Aedes aegypti yaitu dari darah penderita yang dihisap, nyamuk betina dapat menularkan virus Demam Berdarah Dengue setelah melewati masa inkubasi 8-10 hari yang membuat virus berkembang dan menyebar yang berakhir pada infeksi saluran kelenjar ludah sehingga nyamuk menjadi tertular selama hidupnya.

BACA JUGA:  Perubahan Iklim dan Ancaman Penyakit Tular Vektor di Indonesia

Salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian Demam Berdarah Dengue adalah iklim dan cuaca. Faktor yang menyebabkan terjadinya Demam Berdarah Dengue seperti curah hujan, curah hujan merupakan berkumpulnya ketinggian air hujan dalam tempat yang datar, tidak meresap, menguap dan mengalir, genangan yang disebabkan oleh hujan menjadi tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti. Musim hujan menjadi musim meningkatnya jumlah kasus Demam Berdarah Dengue dikarenakan tidak hanya curah hujan meningkat, tetapi suhu bumi juga meningkat yang dapat memicu perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Selain itu kelembaban juga menjadi faktor penyebab Demam Berdarah Dengue, kelembaban merupakan jumlah keseluruhan air yang berada dalam udara yang mempengaruhi perkembangan hidup nyamuk karena kelembaban rendah memperpendek usia nyamuk sedangkan tinggi memperpanjang usia nyamuk.

Data-data terkait iklim dan cuaca dapat digunakan untuk membangun sistem deteksi dini demam berdarah yang berbasis ramalan cuaca. Dengan adanya sistem deteksi dini demam berdarah yang berbasis ramalan cuaca, wabah Demam Berdarah Dengue dapat terdeteksi dengan cepat dan intervensi atau program penanggulangan Demam Berdarah Dengue dapat ditentukan sehingga kasus Demam Berdarah Dengue dapat ditangani dengan cepat.

BACA JUGA:  Banyak Remaja Mengalami Kelebihan Berat Badan dan Obesitas pada Masa Pandemi Covid-19, Apa Solusinya?

Sistem peringatan dini merupakan serangkaian kapasitas untuk menghasilkan dan menyebarkan informasi peringatan yang tepat waktu dan bermakna yang memungkinkan individu, komunitas, dan organisasi yang berisiko untuk bersiap dan bertindak dengan tepat dalam waktu yang cukup untuk mengurangi bahaya atau kerugian.

Di Indonesia sendiri, sistem deteksi dini demam berdarah yang berbasis ramalan cuaca sudah mulai dikembangkan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG bersama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah melakukan pengembangan model peringatan dini penyebaran penyakit demam berdarah berbasis iklim (DBDKlim) di wilayah DKI Jakarta yang akan terintegrasi juga dengan sistem informasi di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Peringatan dini DBDKlim dapat diakses melalui laman resmi DBDKlim milik BMKG, yaitu http://dbd.bmkg.go.id/.

DBDKlim menyediakan informasi prediksi kejadian Demam Berdarah Dengue (per 100.000 penduduk) hingga tiga bulan ke depan dan prediksi kelembaban udara (RH atau relative humidity) hingga lima bulan ke depan.

Hasil prediksi kejadian Demam Berdarah Dengue dibagi menjadi tiga, yaitu aman atau hijau yang artinya angka insiden Demam Berdarah Dengue kurang dari tiga, kuning atau waspada yang artinya angka insiden Demam Berdarah Dengue 3-10, dan merah atau awas yang artinya angka insiden Demam Berdarah Dengue lebih dari 10. Setiap kategori memiliki rekomendasi tindak lanjutnya masing-masing. Tindak lanjut yang direkomendasikan jika hasil prediksi berwarna hijau adalah penyelidikan epidemiologi (PE), penyuluhan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), dan larvasidasi selektif. Tindak lanjut yang direkomendasikan jika hasil prediksi berwarna kuning adalah penyelidikan epidemiologi (PE), penyuluhan, pemberantasan sarang nyamuk (PSN), larvasidasi selektif, dan fogging fokus. Tindak lanjut yang direkomendasikan jika hasil prediksi berwarna merah adalah penyelidikan epidemiologi (PE), penyuluhan, peningkatan frekuensi pemberantasan sarang nyamuk (PSN), larvasidasi massal, dan fogging fokus.

BACA JUGA:  Aksesibilitas Fasilitas Pelayanan Kesehatan Berpengaruh terhadap Penurunan Angka Kematian Bayi di Indonesia

Peta prediksi kelembaban udara (RH) menunjukkan peluang kesesuaian RH untuk vektor Demam Berdarah Dengue. Semakin tinggi peluang kesesuaian RH untuk vektor Demam Berdarah Dengue, semakin tinggi pula kemungkinan pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti yang dipengaruhi oleh kelembaban udara (RH) dan akan berakibat pada meningkatnya penduduk yang terjangkit Demam Berdarah Dengue.

Informasi yang disediakan DBDKlim sangat berguna dalam penanggulangan Demam Berdarah Dengue karena dengan adanya data-data yang terintegrasi di satu laman dapat mempercepat penemuan insiden sehingga insiden yang ada dapat ditangani dengan cepat. Oleh karena itu, diharapkan DBDKlim dapat digunakan di provinsi lain mengingat Demam Berdarah Dengue termasuk penyakit yang memakan banyak korban.

Oleh: Asma’ Fauziah, Syifa Aulia Hudriah
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.

Pos terkait