Dr. Wilson Rajagukguk, MSi, MA : Menyambut Baik Program Pemerintah Dalam Mengatasi Fragmentasi Geo-Ekonomi

MJ, Jakarta – Bahwa pasca pandemi, perekonomian global dihadapkan pada meningkatnya fragmentasi geo-ekonomi. Indonesia telah meningkatkan upayanya untuk mengantisipasi situasi global. Menurut praktisi ekonomi Dr. Wilson Rajagukguk, MSi, MA memaparkan, bahwa Indonesia mengalami ketimpangan dengan negara-negara di kawasan dan dunia. Dimana menurut dia, semua area di bumi ini berusaha membangun ekonomi yang semakin terspesialisasi.

Sedangkan pada satu sisi ekonomi dunia semakin mengglobal (borderless) tetapi pada sisi lain geo-ekonomi semakin meningkat. Situasi ini menurut pandangan Wilson sudah diramalkan sejak mengemukanya teori ekonomi kreatif. Salah satu ciri ekonomi kreatif adalah semakin tercipta geo-ekonomi. Fragmentasi ini sebaiknya dipandang sebagai kesempatan daripada melihatnya dari kacamata negatif (ancaman), ujarnya kepada majalahjakarta.id. Sabtu (30/12/2023).

BACA JUGA:  800 Personil Polresta Sidoarjo di Turunkan Dalam Operasi Mantap Brata Semeru 2023

Menurut Wilson, jika pemerintah sudah mengantisipasi, maka tugas semua adalah mendukung dan mendorong pemerintah melakukannya. Dicontohkan Wilson, daripada menebang hutan kalimantan untuk dijual, lebih baik menjual eko-wisata hutan kalimantan. Contoh lain adalah, Indonesia mempunyai laut yang sangat luas, kita menjaga laut kita bersih dan sebagai sumber penetral polusi udara. Seharusnya Indonesia meminta bayaran dari negara sekitar karena laut kita sebagai penetral polusi, pinta Wilson.

BACA JUGA:  Ketum AMI Minta Kejari Lamongan Segera Memanggil dan Memeriksa Oknum DPRD Lamongan Terkait Jasman Ternak Sapi Tahun 2017

Disisi kata Wilson melihat, di region Indonesia sendiri sebenarnya terjadi tingkat kerentanan dan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Fragmentasi geo-ekonomi terjadi antar wilayah di Indonesia: Jawa dan Luar Jawa: Indonesia bagian Barat dan Indonesia bagian Timur. Daerah 3T dan non 3T. Daerah penghasil minyak dan tidak penghasil minyak.

“Saya menyambut baik program pemerintah dalam mengatasi fragmentasi geo-ekonomi ini. Untuk fragmentasi dalam negeri sebenarnya sudah lama pemerintah mengantisipasinya dengan membangun Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan RI melalui UU Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah,” ungkapnya.

BACA JUGA:  Salmon Siagian : Sangat Optimis Akan Peningkatan Sepak Bola di Indonesia

Masih kata Wilson Rajaguguk menjelaskan, Inklusivitas internasional harus dijaga dan dipelihara. Siapa yang melakukan? Tentu saja pemerintah melalui lebagai internasional. Keikutsertaan Indonesia dalam lembaga ini diharapkan berdampak saling menguntungkan.

Keuntungan bersama diperoleh dengan peningkatan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi setiap anggota dalam proses pengambilan keputusan.

“Saya sependapat dengan Wamenkeu. Kita memperkuat keikursertaan dan daya tawar dalam setiap lembaga internasional,” ujarnya.

Pos terkait