Eksistensi Bahasa Indonesia sebagai Komunikasi di Media Sosial

Mulai terlihat adanya tanda-tanda pergeseran bahasa Indonesia oleh bahasa asing dari aspek kosakata

DEPOKPOS – Eksistensi dapat diartikan keberadaaan. Dalam konteks ini yang dimaksud adalah keberadaan bahasa Indonesia, dan salah satu indikasinya adalah familiarnya yaitu bahasa Indonesia. Seiring perkembangan zaman dan berjalannya waktu, mulai terlihat adanya tanda-tanda pergeseran bahasa Indonesia oleh bahasa asing dari aspek kosakata.

Hal tersebut disebabkan oleh era millennial yang menuntut dan mengakibatkan adanya istilahistilah baru dalam berkomunikasi. Sehingga mengakibatkan lebih sering menggunakan istilah-istilah baru tersebut, yang notabene adalah bahasa asing, dibandingkan padanan kosakata dalam bahasa Indonesianya

Di era milenial, komunikasi, media, dan teknologi digital lebih sering digunakan dan dipahami. Generasi yang saat ini berada di era milenial memiliki kepribadian yang unik. Sejak duduk di bangku sekolah ia sudah memanfaatkan gadget dan menjadikan internet sebagai kebutuhan mendasar, selalu online untuk mendapatkan informasi segar atau sekedar untuk bercengkerama di media sosial.

BACA JUGA:  Pasar Tradisional, Tetap Bernilai Meskipun Tergerus Modernisasi

Generasi milenial, atau mereka yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000, adalah generasi yang masih eksis saat ini. Saat ini, upaya dilakukan untuk mengembangkan bahasa Indonesia melalui penggunaan infografis di media sosial.  Generasi milenial saat ini sedang memperluas pengetahuannya tentang bahasa gaul dan bahasa asing. Karena seseorang akan merasa stylish dan lebih trendy jika berbicara dengan bahasa asing dan gaul.

Generasi milenial seringkali memilih makanan dan minuman siap saji yang tidak sehat bagi mereka. Generasi milenial berlomba-lomba menghadirkan tren terbaru di Era Industri 4.0 karena memiliki akses pengetahuan yang begitu luas dan tidak ada habisnya. Eksistensi bahasa Indonesia pada generasi milenial di era industri 4.0 mengalami peningkatan yang signifikan, menurut kalangan terpelajar yang merespon hal tersebut.

Perkembangan bahasa Indonesia dipengaruhi oleh hal ini. Akibat perilaku yang cenderung menyisipkan istilah asing, fungsi bahasa Indonesia mulai tergantikan atau tergeser oleh bahasa asing.padahal padanan dalam bahasa Indonesianya ada, karena mentalitas yang berpikir akan tampil canggih, modern, dan untuk tujuan meningkatkan komunikasi di masa milenial. Manusia menggunakan bahasa sebagai media komunikasi; bahasa ini bisa berwujud suara atau tulisan (Fatimah, Purnamasari, Pratiwi, & Firmansyah, 2018).

BACA JUGA:  Pernikahan Dini, Pengaruhnya pada Kesehatan Mental

Alat yang paling efektif untuk setiap kegiatan komunikasi adalah bahasa. Bahasa digunakan secara berbeda berdasarkan maksud dan tujuan komunikasi lisan dan tulisan. Media sosial merupakan salah satu dari berbagai cara yang dapat dilakukan masyarakat untuk berkomunikasi seiring berkembangnya peradaban manusia.

Sebagai negara multibahasa dengan ratusan bahasa daerah, Indonesia tentu saja menghasilkan ragam ragam bahasa yang kita sebut sebagai bahasa daerah. Diputuskan bahwa bahasa Indonesia harus dinyatakan sebagai bahasa nasional untuk memudahkan komunikasi mengingat banyaknya bahasa daerah yang digunakan oleh penduduk Indonesia.

Pasal 36 UUD 1945 menetapkan pemisahan bahasa daerah dan bahasa nasional, atau bahasa Indonesia. Menurut Pasal 36 UUD 1945, bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara, bahasa pengantar, sarana pemajuan dan penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan bahasa media massa.

BACA JUGA:  Pentingnya Strategi Komunikasi Bisnis Era Digitalisasi Pada Media Belanja Online

Setiap warga negara Indonesia harus turut membangun dan menyebarkan etos kebahasaan yang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa media sosial terdepan di era globalisasi. Pengaruh alat komunikasi yang semakin bergaya intelektual harus dilakukan dengan memperkuat kebanggaan bangsa Indonesia.

Dengan dihilangkannya kaidah atau tatanan penggunaan bahasa Indonesia, hal ini dimaksudkan untuk pengajaran bahasa nasional. Namun jika kita memahami peristiwa yang terjadi di latar belakang, kita akan menyadari bahwa bahasa Indonesia tidak dipahami secara jelas dan utuh.

Banyak penutur yang masih memiliki harga diri rendah, oleh karena itu meskipun banyak kata asing dengan padanan bahasa Indonesianya, mereka merasa lebih terpelajar jika memasukkannya dalam komunikasi sehari-hari, baik lisan maupun tulisan.

Anis Solehah – Prodi Akuntansi S1-Universitas Pamulang

Pos terkait