Emotional Eating: Pengaruh Stres terhadap Perilaku Makan Mahasiswa

Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa dan merupakan fase yang kritis terhadap perubahan dan penyesuaian (Rizkiana dan Sumiati, 2018). Masa remaja ditandai dengan adanya perubahan fisik dan psikologis, termasuk perubahan emosi yang cukup signifikan. Pada masa ini, sebagian remaja mengalami kesulitan dalam mengatasi luapan emosi yang dialami, sehingga memilih untuk mengatasinya dengan makan (Tittandi, 2022). Sebuah penelitian di Polandia menunjukkan bahwa 73% remaja berusia 15-20 tahun mengalami emotional eating, baik dengan tingkat rendah, sedang, maupun tinggi (Skolmowska et al., 2022). Di Indonesia, terdapat penelitian yang dilakukan terhadap 328 remaja usia 12-18 tahun di Tangerang Selatan, hasilnya menunjukkan bahwa 86% remaja mengalami emotional eating tingkat sedang dan tinggi (Rizkiana dan Sumiati, 2018). Emotional eating adalah kecenderungan untuk makan sebagai respons terhadap emosi negatif (misalnya depresi, kecemasan, stres) dengan pilihan makanan terutama yang padat energi atau tinggi kalori dan rasanya lezat (Konttinen et al., 2019).

Terdapat beberapa jenis emotional eating, yaitu makan sebagai respons terhadap depresi, kecemasan/kemarahan, kebosanan, dan emosi positif (Braden et al., 2018). Makan sebagai respons terhadap emosi negatif yang dapat menimbulkan rasa kepercayaan diri dan kenyamanan sementara. Hal tersebut dapat menjadi tempat pelarian dari emosi negatif dan menjadi asal mula kebiasaan makan yang tidak sehat (Ekim and Ocakci, 2020). Penelitian menunjukkan bahwa terdapat kelompok yang lebih rentan mengalami emotional eating, yaitu perempuan dan remaja dengan berat badan berlebih (Skolmowska et al., 2022).

BACA JUGA:  Terapi Bobath untuk Penderita Stroke

Penelitian lainnya menemukan bahwa sepertiga dari mahasiswa di University of Rhode Island mengalami emotional eating. Jenis makanan yang dikonsumsi oleh mahasiswa saat mengalami emotional eating adalah makanan yang tidak sehat, seperti fast food serta makanan dengan kandungan gula dan garam yang tinggi (Bennett, Greene & Barcott, 2012).

Emotional eating pada mahasiswa dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah stres yang berkaitan dengan kegiatan akademik, khususnya saat ujian atau menyelesaikan tugas kuliah. Rasa ketidaknyamanan akibat suatu peristiwa juga dapat menyebabkan emotional eating. Ketidaknyamanan tersebut dapat terjadi ketika seseorang tidak dapat melampiaskan perasaannya sehingga cenderung mengkonsumsi makanan sebagai upaya pelarian dari emosi negatif yang dialami. Selain itu, rasa bosan atau jenuh juga dapat menyebabkan emotional eating (Rachmah & Priyanti, 2019).

BACA JUGA:  Urgensi Kesehatan Mental bagi Remaja

Perilaku emotional eating lebih sering ditemukan pada mahasiswa perempuan dibandingkan laki-laki akibat cara penanganan stres yang berbeda, dimana perempuan menggunakan emotion-focused coping atau berfokus pada usaha menghilangkan emosi negatif dalam menghadapi masalah sedangkan laki-laki cenderung menggunakan problem-focused coping yaitu menghadapi masalah tersebut secara langsung. Hal ini menyebabkan kecenderungan perempuan untuk melakukan emotional eating ketika merasa stres, sedangkan laki-laki ketika merasa bosan atau cemas (Gryzela & Ariana, 2021). Emotional eating juga dapat disebabkan oleh perilaku restriksi diet atau pembatasan makan yang lebih banyak dilakukan oleh perempuan dibandingkan laki-laki. Orang dengan restriksi diet cenderung melakukan emotional eating ketika merasakan stres atau perasaan negatif lainnya (Bermanian et al, 2021).

Perilaku emotional eating pada mahasiswa dapat menyebabkan gangguan makan berlebih (binge-eating disorder) (Zahry & Ling, 2021). Gangguan makan tersebut dapat meningkatkan risiko terkena penyakit seperti diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, dan sindrom metabolik (Badrasawi & Zidan, 2019). Emotional eating juga dapat menyebabkan peningkatan berat badan dan risiko terkena obesitas. Hal ini didukung dengan penelitian oleh Barcott (2012) yang menunjukan bahwa perilaku emotional eating mengakibatkan mahasiswa mengalami kenaikan berat badan rata-rata sebanyak 5 kg selama duduk di bangku kuliah.

BACA JUGA:  Pengaruh Virus Hepatitis B Terhadap Ibu Hamil

Mahasiswa termasuk kelompok yang rentan mengalami emotional eating. Oleh karena itu, mahasiswa perlu menghindari perilaku emotional eating dengan mengalihkan berbagai emosi negatif yang dirasakan ke arah yang lebih positif, seperti dengan aktivitas fisik dan manajemen stres (Frayn et al., 2018). Aktivitas fisik dapat menurunkan tingkat stres mahasiswa dan menjadi upaya untuk mempertahankan berat badan ideal pada mahasiswa yang melakukan emotional eating. Mahasiswa juga dapat menggunakan manajemen stres seperti mencari dukungan mental dari teman atau keluarga atau mencoba teknik relaksasi (yoga atau meditasi) sebagai alternatif ketika sedang mengalami stres atau emosi negatif.

Dayu Nazella, Farisa Lukman Gismar
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Pos terkait