Etika dalam Komunikasi Bisnis

Etika dalam Komunikasi Bisnis

DEPOK POS – Komunikasi memiliki banyak pengertian dari berbagai ahli. Secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu “cum “ yang bermakna dengan ‘dengan’. Selanjutnya ada kata ‘units’ yang bermakna ‘sebuah’ dengan demikian kedua kata tersebut menjadi ‘communion’, dalam bahasa inggris berarti ‘common’ yaitu ‘kesamaan’. Hal ini berarti orang yang melakukan komunikasi dengan orang lain maka orang tersebut kesamaan. Kesamaan ini membuat komunikasi mudah di mengerti baik pengirim pesan maupun penerima pesan.

Apabila pesan sudah dikemas menarik dan dapat diterima dengan mudah oleh konsumen sebagai komunikan akan memberikan citra yang positif bagi pihak luar organisasi utamanya konsumen dan meningkatkan gairah karyawan organisasi dalam bekerja. Selain itu, kredibilitas perusahaan dalam menyampaikan informasi tentu saja memberikan keuntungan bagi organisasi bisnis baik dalam aspek ekonomi, social,dan budaya.

BACA JUGA:  Faktor Terjadinya Pernikahan Dibawah Umur dan Dampaknya bagi Psikologis

Etika komunikasi secara operasional merupakan tingkat dimana isi komunikasi dapat diterima dan dipahami oleh pihak lain yang terlibat dalam proses komunikasi. (Dewi 2007) Etika komunikasi yang berlaku dalam perusahaan berhubungan dengan dapat dipercayai,fair,tidak memihak, menghargai orang lain, dan mempertimbangkan pengaruh suatu ucapan atau tindakan terhadap orang lain.

Persoalan etika dipahami Bertens (dalam philipus ,2018:48) adalah pertama sebagai nilai-nilai dan norma moral yang dijadikan pedoman bagi seseorang atau kelompok orang dalam mengatur tingkah lakunya ,misalnya etika agama dan prinsip hidup yang di anut dalam kelompok masyarakat. Kedua sebagai ilmu tentang hal baik dan buruk yang menempatkan etika sebagai refleksi kritis terhadap norma-norma moral.

BACA JUGA:  Pernikahan Dini Merusak Mental, Benarkah?

Etika dalam nilai dan norma moral ini menjadi sulit dibedakan dengan etiket yang merupakan norma sopan santun. Etiket menekankan pada situasi dan kondisi,baik daerah, budaya dan pengaruh perkembangan teknologi serta perubahan global. Misalnya, jauh sebelum smartphone berkembang , mahasiswa sangat sulit menemui dan menghubungi dosen selain dengan cara tatap muka atau bertemu langsung, bahkan menghubungi via sms saja harus mempertimbangkan etiketnya.

Kemudian sejak pandemic covid-19 banyak etiket yang berubah, yang tadinya etiket bertemu harus berjabat tangan namun kini berjabat tangan menjadi hal yang dihindari.Namun etika, tetaplah menjadi kesatuan dan pemahaman bersama, tak lekang oleh waktu, missal mencuri, dibelahan dunia manapun mencuri tentu saja di larang dan merupakan perbuatan criminal. Dalam bisnis pun demikian, apabila dalam memproduksi dan menyebarluaskan informasi mengenai produk atau jasa namun dengan cara menipu ata menampilkan fakta yang bukan sebenarnya dan itu melanggar etika bisnis.

BACA JUGA:  Peran Komunikasi Lintas Budaya dalam Memahami Perilaku Konsumen

Etika dalam bisnis menurut carrol dan buchollz (2005) dikelompokan dalam tiga hal yaitu : pertama “immoral management. Ini merupakan tingkatan terendah dari manajemen dalam menerapkan prinsip-prinsip etika bisnis”. Kedua “Amoral management manajer dalam tipe ini bukan tidak tahu sama sekali dengan etika dan moralitas akan tetapi manajer yang tidak sengaja berbuat amoral”. Ketiga “Moral management tingkatan tertinggi dalam penerapan nilai-nilai dan etika pada suatu organisasi bisnis”.

Berkat veryfi putra laia
Mahasiswa universitas pamulang

Pos terkait