Faktor Terjadinya Pernikahan Dibawah Umur dan Dampaknya bagi Psikologis

Manusia merupakan makhluk sosial, sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupannya. Salah satunya yaitu manusia membutuhkan orang lain untuk menjadi pendamping hidupnya. Adapun faktor pendorong manusia untuk hidup bersama orang lain yaitu karena adanya dorongan seksual, yaitu keinginan manusia untuk menghasilkan keturunan. Untuk mendukung keinginan menghasilkan keturunannya itu, tentunya harus melalui proses Pernikahan atau Perkawinan (Hardianti & Nurwati, 2021). Islam memandang pernikahan memiliki nilai-nilai keagamaan sebagai wujud ibadah kepada Allah, mengikuti sunnah Nabi, dan mempunyai nilai-nilai kemanusiaan untuk memenuhi naluri hidup dan menumbuhkan rasa kasih sayang dalam hidup bermasyarakat. Pernikahan merupakan ikatan lahir/batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri yang bertujuan membina keluarga/rumah tangga secara rukun, tentram dan bahagia (Wibisana, 2016).

Dijaman sekarang marak sekali pernikahan dibawah umur. Pernikahan dibawah umur ialah pernikahan pada remaja dibawah usia 20 tahun yang seharusnya belum siap untuk melaksanakan pernikahan dikarenakan emosi remaja cenderung belum stabil (SYALIS & Nurwati, 2020). Masa remaja disebut juga sebagai satu periode Heightened Emotional yaitu suatu keadaan kondisi emosi nampak lebih tinggi atau nampak lebih intens dibanding dengan keadaan yang normal. Emosi yang biasanya tinggi tersebut pada akhinya dapat terwujud ke dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti halnya bingung, emosi yang berkobar–kobar ataupun mudah meledak, pertengkaran, tidak bergairah, pemalas dan juga membentuk self-defense mechanism. Adapun faktor-faktor yang menjadi penyebab dari pernikahan dibawah umur yaitu:

⦁ Faktor Ekonomi
Kesulitan ekonomi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya pernikahan dibawah umur, keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi akan cenderung menikahkan anaknya pada usia muda untuk melakukan pernikahan dini. Pernikahan ini diharapkan menjadi solusi agar beban ekonomi dalam keluarga dapat berkurang. Selain itu masalah ekonomi yang rendah juga menyebabkan orang tua tidak mampu memenuhi segala kebutuhnnya termasuk biaya sekolah sehingga dengan menikahkan tanggung jawab untuk membiayai kehidupan ankanya sudah lepas dengan harapan anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.

BACA JUGA:  Komunikasi Bisnis di Era Digital

⦁ Orang Tua
Terjadinya pernikahan juga bisa disebabkan paksaan dari orang tua. Alasannya utamanya tentunya saja faktor ekonomi, namun selain itu rasa khawatir orang tua akan terjerumusnya pergaulan bebas dan berakibat hal negatif kepada anaknya, menjodohkan anaknya dalam rangka melanggengkan hubungan dengan relasi.

⦁ Kebiasan dan adat istiadat masyarakat setempat.
Adat istiadat yang masih diyakini tertentu semakin menambah alasan terjadinya pernikahan dibawah umur di Indonesia. Misalnya keyakinan bahwa tidak boleh menolak pinangan seseorang pada putrinya walaupun masih dibawah usia 18 tahun terkadang dianggap menyepelekan dan menghina menyebabkan orang tua menikahkan putrinya. Hal menarik dari prosentase pernikahan dini di Indonesia adalah terjadinya perbandingan yang cukup signifikan antara di pedesaan dan perkotaan. Berdasarkan Analisis survei penduduk antar sensus (SUPAS) pada tahun 2005 dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) didapatkan angka pernikahan di perkotaan lebih rendah dibanding dengan di pedesaan, untuk kelompok umur 15-19 tahun perbedaannya cukup tinggi yaitu 5,28% di perkotaan sedangkan di pedesaan yaitu 11,88%. Hal ini menunjukkan bahwa wanita usia muda di perdesaan lebih banyak yang melakukan pernikahan pada usia dini (Mubasyaroh, 2016).

Melakukan pernikahan dini juga bisa menyebabkan berbagai masalah seperti terjadinya depresi,stress, kecemasan, sampai ke perceraian. Karena di usia pasangan remaja, mereka belum memahami sepenuhnya arti dari sebuah ikatan suci pernikahan, mereka melakukan pernikahan tersebut semata-mata karena cinta dan dorongan dari orang tua dari gadis agar anaknya lekas untuk menikah supaya tidak dianggap sebagai perawan tua karena pengaruh dari adat dan kebudayaan di daerah mereka karena hanya untuk menjaga image agar anak gadis mereka tidak dicap sebagai perawan tua, orang tua menanggap bawa menikahkan gadis mereka di usia dini lebih baik. Menurut Walgito dalam bukunya yang berjudul Bimbingan Konseling Islam bahwa pernikahan yang masih terlalu muda banyak mengundang masalah yang tidak diharapkan karena segi psikologisnya belum matang seperti cemas dan stress. Sedangkan menurut Dariyo dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Perkembangan Dewasa Muda” pernikahan bisa berdampak cemas, stress dan depresi (SYALIS & Nurwati, 2020)

BACA JUGA:  5 Skill yang Dibutuhkan oleh Seorang Mahasiswa

⦁ Depresi
Depresi merupakan gangguan suasana hati yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan kehilangan minat terhadap hal-hal yang disukai. Depresi dapat menyerang remaja yang menikah pada usia muda dikarenakan emosi mereka yang bergejolak, pikiran yang masih belum dewasa, tanggung jawab yang besar, dan tingginya biaya kebutuhan rumah tangga akan membebani mereka. Sesuatu yang seharusnya tidak mereka rasakan, justru dapat membuat mereka depresi. Sebab mereka tidak tahu bagaimana cara menghadapi masalah tersebut.

⦁ Cemas
Cemas adalah penjelmaan dari berbagai proses emosi yang bercampur baur, yang terjadi saat seseorang sedang mengalami tekanan atau ketegangan dan pertentangan batin. Gejala-gejala saat merasa cemas ada yang bersifat fisik dan ada yang bersifat psikologis. Gejala fisik yaitu, ujung-ujung jari terasa dingin, pencernaan tidak teratur, keringat bercucuran, tidur tidak nyenyak, nafsu makan hilang, kepala pusing, nafas sesak, dan lain-lain. Gejala psikologis seperti takut merasakan akan ditimpa bahaya atau kecelakaan, hilang kepercayaan, tidak bisa fokus, ingin lari dari kenyataan, dan masih banyak lagi. Adapun kecemasan yang terjadi dalam keluarga pernikahan dini disebabkan karena takut akan adanya bahaya yang mengancam dan persepsi itu akan menghasilkan perasaan tertekan bahkan panik.

BACA JUGA:  Ancaman Ekonomi yang Bisa Terjadi pada Suatu Negara dan Penangannnya dalam Islam

⦁ Stress
Stres bisa diartikan berbeda tergantung dari masing-masing individu mengartikannya. Namun sebagian individu mengartikan stres sebagai tekanan, desakan atau respon emosional. Para psikolog mengartikan stres kedalam berbagai bentuk. Lazarus dan Folkman menyatakan, stres psikologis adalah sebuah hubungan antara individu dengan lingkungan yang dinilai oleh individu tersebut sebagai hal yang membebani atau sangat melampaui kemampuan seseorang dan membahayakan kesejahteraannya. Penyebab dari stress dapat dibagi 3 kelompok besar yaitu, biokologis, psikososial, dan kepribadian Kematangan sosial-ekonomi dalam pernikahan sangat diperlukan karena merupakan penyangga dalam memutarkan roda keluarga sebagai akibat pernikahan. Pada dasarnya umur yang masih muda belum mempunyai pegangan dalam hal sosial ekonomi. Kenyataannya individu itu dituntut untuk bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

⦁ Perceraian
Pernikahan yang masih terlalu muda banyak mengundang masalah karena psikologisnya yang belum matang dan dapat menimbulkan terjadinya pertengkaran terhadap pasangannya karena emosi mereka yang belum stabil dan sebab lainnya dari perceraian itu adalah krisis ekonomi, kesenjangan pikiran dan mental, dorongan dari keluarga kedua belah pihak, perbedaan status sosial dan tidak adanya keharmonisan dalam rumah tangga yang akhirnya membuat pasangan tersebut melakukan perceraian karena merasa tidak adanya hubungan yang baik lagi untuk dilanjutkan (Surawan, 2019).

Itulah penjelasan mengenai faktor yang terjadi jika melakukan pernikahan dibawah umur dan dampaknya yang ditimbulkan bagi psikologis.

Raysha Nurul Aini, Niken Sekar Dewatri, Annisa Larasati
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait