Fenomena Mukbang dalam Tafsir Al-Azhar Hamka

Fenomena Mukbang dalam Tafsir Al-Azhar Hamka

 

Sejak 17 tahun yang lalu atau lebih tepatnya sejak tahun 2005, situs video sharing terbesar rilis, yaitu YouTube. YouTube menjadi platform menonton video yang paling banyak digunakan oleh masyarakat. YouTube sering kali dijadikan rujukan individu untuk mencari ide ataupun sekedar mencari hiburan visual. aplikasi ini dapat melayani pemutaran video lebih dari 2 milyar kali, dan dikunjungi lebih dari 3 milyar kunjungan per hari dan angka ini akan terus meningkat.

Pada tahun 2020, YouTube Indonesia mencatat konten yang paling banyak diminati masyarakat luas adalah film pendek, web series, dan mukbang. Hal ini dikarenakan terjadinya fenomena Covid-19 sehingga menyebabkan masyarakat mencari hiburan visual lewat YouTube. Alasan Mukbang banyak digemari masyarakat adalah karena terbatasnya masyarakat untuk bepergian antar wilayah, kota bahkan wilayah, oleh karena itu masyarakat hanya dapat menonton video Mukbang untuk memuaskan keinginannya visualnya untuk mencicipi berbagai makanan.

Mukbang dalam bahasa korea yaitu Moekbang yang merupakan gabungan dari
meogda yang artinya makan dan bangsong yang artinya siaran. mukbang secara umum dapat diartikan siaran makanan atau bisa juga disebut eating broadcasting.

Video Mukbang pertama kali populer di korea selatan. Akan tetapi sampai saat ini, sudah banyak Channel-Channel YouTube yang mengikuti termasuk kreator indonesia dan amerika. Salah satu Channel YouTube Mukbang yang terkenal di di dunia internet adalah Nikocado Avocado. Dia merupakan konten kreator asal amerika yang menjadi terkenal karena konten Mukbang Junk Food secara berlebihan hingga menyebabkan dirinya terkena obesitas, menggunakan alat bantu napas dan patahnya tulang rusuk.

BACA JUGA:  Berani Mengambil Risiko dalam Bisnis

Di sisi lain, mukbang merujuk pada fenomena yang dapat dikaitkan dengan adab makan dan minum dalam agama Islam. Hal ini pun dapat dilihat bagaimana adab makan telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW, yaitu: membaca doa sebelum dan sesudah makan, makan dengan posisi duduk dan tidak berdiri, makan dengan tangan kanan, makanan yang baik dan halal, tidak mencela makanan atau minuman, dan lainnya, yang salah satunya adalah tidak mengonsumsi makanan atau minuman secara berlebihan seperti yang dikatakan dalam hadist:

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihkannya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas” (HR. Ibnu Mājah)

Lebih lanjut menurut Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih populer dikenal sebagai Hamka, dalam buku tafsir Al-Quran yang ia tulis berjudul “Tafsir Al-Azhar”, ia mengatakan bahwa jika kita memakan makanan, dicukupilah sampai kenyang dan jangan dilanjutkan, karena selera atau nafsu makan kita masih terbuka sehingga membuat kita masih ingin terus makan dan makan. Begitu pula dengan minum yang hanya ditujukan untuk melepas dahaga, karena kalau diteruskan melebihi hal tersebut, badan akan menjadi lelah.

Selain dari hadist, Al-Quran pun juga ikut mengajarkan terkait tidak mengonsumsi makanan atau minuman secara berlebihan, yakni:

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (Al-An’am: 141)

BACA JUGA:  Pentingnya Kerja Sama Tim dalam Mendorong Produktivitas Bersama

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (Al-A’raf: 31)

Masih dengan buku Tafsir Al-Azhar oleh Hamka, ia mengatakan bahwa pada kedua surat tersebut, pada kalimat larangan untuk tidak berlebih-lebihan, memiliki maksud yang sama, yakni makan dan minumlah secara sederhana dan halal, yang hanya diperuntukkan bagi kesehatan tubuh, sehingga proses konsumsi tersebut hanya sebatas mengganjal lapar dan memenuhi nafsu makan saja. Sebaliknya, jika dilakukan pengkonsumsian makanan dan minuman secara berlebihan, meskipun itu halal, maka akan mendatangkan penyakit, merusak rumah tangga dan perekonomian karena salah satu bentuk pemborosan, dan merupakan bentuk perilaku yang tidak disukai oleh Allah karena dapat mencelakai diri si pelakunya.

Sependapat dengan Hamka, menurut Ahsin W. Al-Hafidz, dalam bukunya yang berjudul fikih kesehatan, dikatakan tentang etika makan dan minum sebagaimana anjuran Nabi Muhammad SAW, untuk tidak makan berlebihan terlalu banyak atau terlalu sedikit. Di satu sisi, seseorang harus menghindari kenyang yang melampaui batas, serta berhenti makan dan minum sebelum kenyang, ini sebagaimana perilaku Nabi Muhammad SAW, yang selalu menghindari kenyang yang berlebihan karena dapat menyebabkan sakit perut, memunculkan sifat rakus, dan memunculkan rasa malas dan ngantuk yang dapat menyebabkan kekurangan kecerdasan.

BACA JUGA:  Munggahan, Tradisi Betawi Jelang Ramadan yang Tetap Terjaga

Hamka pun berpendapat bahwa makanan dan minuman memiliki pengaruh yang sangat besar kepada jiwa dan sikap hidup, serta kelembutan atau kekasaran perilaku seseorang. Oleh karenanya, salah satu faktor di antara faktor lain dari seseorang itu beriman bisa dilihat bagaimana ia memakan atau meminum sesuatu hanya untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh, sehingga efek positif pun akan muncul seperti pikiran menjadi terbuka, rasa syukur kepada Allah semakin bertambah, ibadahnya menjadi fokus, dan jiwa atau ruh yang menempati tubuh menjadi hidup.

Jika kita analisa antara fenomena mukbang dan pendapat-pendapat Hamka, maka dapat disimpulkan bahwa makan dan minum yang cukup, lebih baik dibandingkan makan dan minum berlebihan, apalagi dilakukan untuk konten semata. Hal ini bisa diketahui karena makan dan minum yang berlebihan bisa memberikan berbagai dampak buruk pada seseorang terutama tubuhnya, sehingga kondisi jiwa yang menempati tubuh bisa terganggu. Hamka meyakini bahwa tubuh di dalamnya terdapat ruh, dan ruh yang merupakan tempat iman bersemayam akan terganggu jika kita memberikan dampak buruk pada kondisi tubuh kita, yaitu dengan memakan maupun meminum berlebihan. Akibatnya, orang tersebut akan rugi bukan hanya dalam hal kesehatan saja, tetapi dalam hal keimanan pun ikut terkena dampak negatifnya.

(Puput winarsih, Safiq Muhanawaroh dan Muhamad Yudistira, Universitas Muhammadiyah Prof.Dr.HAMKA)

Pos terkait