Fenomena Pekerja Difabel pada Kedai Kopi

DEPOK POS – Menikmati kopi sudah menjadi tradisi bagi sebagian besar rakyat Indonesia tak terkecuali yang ada di pedesaan maupun di perkotaan. Kopi menjadi salah satu minuman kegemaran yg populer di kalangan milenial hingga orang tua. Mereka begitu jatuh hati dengan minuman hitam pekat yang rasanya pahit ini. Menurut data International Coffee Organization (ICO) konsumsi kopi Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia. Indonesia berada di urutan kelima sesudah Jepang. Kegiatan minum kopi biasa dilakukan pada pagi hari, siang, sore dan malam hari bahkan pada beberapa orang tiada hari tanpa minum kopi.

Menurut Farah, ET Al (2012) kopi merupakan salah satu minuman yang digemari dan paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Perlu diperhatikan walaupun kopi banyak digemari, mengkonsumsi kopi secara terus menerus dalam jangka waktu lama tidak baik untuk kesehatan karena dalam kopi ada kandungan kafein yang berbahaya bila dikonsumsi tubuh secara berlebihan, tapi tidak juga dapat dipungkiri bahwa kopi merupakan sumber yang kaya akan zat antibodi.

Untuk memenuhi kebutuhan para penikmat kopi dengan suasana yang berbeda selain ngopi di rumah, maka mulai bermunculan kedai-kedai kopi atau cafe-cafe kopi yang didesain dan ditata dengan unik dan senyaman mungkin bagi pecinta kopi untuk mereka sekedar bercengkerama baik dengan keluarga, teman maupun kolega bisnis.

Kedai kopi adalah sebuah tempat yang pada asasnya menyediakan minuman kopi atau minuman panas lainnya. Kedai kopi mempunyai fungsi yang sama dengan tempat seperti bar dan restoran. Kedai-kedai kopi ini umumnya menyediakan berbagai jenis kopi yang penyajiannya dibuat seunik mungkin sehingga mencuri perhatian customer dan bersedia untuk mencicipi kopi tersebut. Kopi yang telah dibuat akan diantar ke meja customer oleh pramusaji yang sudah terlatih untuk menyajikan kopi secara baik dan benar sesuai Standart Operation Procedure (SOP).

Selain itu para pramusaji dituntut untuk bersikap baik pada customer dengan memenuhi permintaan mereka secara sopan dengan catatan permintaan tersebut wajar. Interaksi antara customer dan pramusaji sampai proses order adalah suatu bentuk komunikasi bisnis karena baik customer maupun pramusaji sama-sama memproduksi bahasa untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.

BACA JUGA:  Manajemen Risiko Stadion menurut Law of The Game FIFA

Dalam hal ini customer menyampaikannya kopi yang diinginkannya dan pramusaji menyajikan kopi sesuai dengan pesanan. Artinya komunikasi bisnis berjalan lancar dengan kesepakatan order serta penyajian yang diakhiri dengan pembayaran di akhir transaksi. Dapat kita katakan bahwa komunikasi bisnis yang baik antara customer dan pramusaji menyebabkan terjadinya transaksi bisnis yang ujungnya adalah pemasukan serta keuntungan bagi kedai kopi tersebut.

Pramusaji dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah orang yg melayani pesanan makan dan minum sesuai permintaan. Sedangkan menurut Ardjuna Wiwoho (2008) pramusaji adalah orang yang bertugas atau bekerja di bidang penyajian makanan dan minuman. Adapun fungsi pramusaji menurut Sugiarto (1996) yaitu pemandu selera, penyaji hidangan, duta perusahaan dan wiraniaga. Terkadang seseorang dengan profesi sebagai seorang pramusaji sering dipandang sebelah mata bahkan sering diremehkan.

Padahal ada beberapa ketearampilan wajib yang harus dimiliki oleh seorang pramusaji diantaranya sebagai berikut :

  • Ketrampilan komunikasi, seorang pramusaji yang cakap dalam komunikasi pasti bisa menjalin percakapan dengan customer begitu juga untuk kerja tim.
  • Ketrampilan pelayanan, ketrampilan yang bernilai seberapa puas atau tidaknya customer.
  • Ketelitian dan kerja tim, karena kerja tim adalah kerja kelompok maka butuh kekompakan tim, sedangkan ketelitian diperlukan dalam mencatat pesanan dan penyajian order.
  • Kondisi fisik, kondisi seorang pramusaji yang sehat membuat kinerjanya maksimal sehingga mempengaruhi penilaian customer terhadap kedai, cafe maupun restoran yang disinggahi.

Transaksi bisnis akan terjadi jika komunikasi bisnis antara customer dan pramusaji berjalan lancar. Apa yang terjadi jika komunikasi bisnis itu antara customer dan pramusaji yang dalam hal ini adalah difabel. Difabel adalah orang-orang yangg dikategorikan memiliki kemampuan berbeda dengan manusia pada umumnya. Difabel mengacu pada keterbatasan peran penyandang disabilitas dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari karena ketidakmampuan yang mereka miliki. Untuk menjelaskan kondisi orang yang memiliki keterbatasan istilah penyandang difabel terdengar lebih sopan dan halus.

Seiring berjalannya waktu terlihat fenomena munculnya beberapa kedai kopi yang mulai berani mempekerjakan penyandang difabel terutama mereka yang tuna rungu dan tuna wicara sebagai pramusaji kedai kopi bahkan ada kedai kopi yanag langsung kopinya dibuat oleh barista penyandang difabel. Apakah fenomena pekerja penyandang difabel pada kedai kopi mampu menjalankan peran dan fungsinya seperti yang dijelaskan di atas?

BACA JUGA:  Urgensi Pemahaman Akuntansi Terhadap Penyusunan Laporan Keuangan

Kita telusuri bagaimana kedai kedai kopi yang mempekerjakan penyandang difabel dengan percaya diri memulai usahanya dengan SDM yg luar biasa unik ini.

1. Deaf Cafe Fingertalk
Berdiri pada Mei 2015 oleh Disa Ahdanisa di Pamulang. Mempekerjakan 20 penyandang disabilitas insan tuli dan sudah memiliki 2 gerai. Cafe ini mengajak customer untuk memahami bahasa isyarat yang disampaikan pramusaji kalaupun tidak bisa maka komunikasi bisa tetap terjadi dengan membaca gerak bibir dan keahlian tersebut didapat dari pelatihan yang terpadu. Bahkan cafe ini sempat mendapat pujian dari mantan presiden AS Barack Obama.

2. Kopi Tuli
Didirikan pada pertengahan Mei 2018 oleh 3 sahabat berlokasi di Jl. Krukut Cinere, Depok dengan harga yang terjangkau. Bedanya Kopi Tuli dikembangkan oleh insan tuli dengan alasan untuk memberikan kesempatan dan membuka lapangan pekerjaan bagi insan tuli. Kopi Tuli telah memiliki omset hingga 100 juta. Hampir semua pekerjanya penyandang disabilitas diantaranya tuna rungu, tuna wicara dan tuna daksa.

3. Sunyi House of Coffee and Hope Kafe
Berlokasi di Jl. RS. Fatmawati yang didirikan oleh 5 orang pemuda lulusan Universitas Singapura yang ingin mengembangkan bisnis yang tidak sekedar mencari keuntungan tapi juga memberikan nilai sosial pada masyarakat sekitarnya. Kafe ini juga mempekerjakan kelompok penyandang disabilitas daksa dan yang luar biasa 2 orang baristanya adalah penyandang disabilitas daksa paraplegia dengan satu tangan pada pengguna kursi roda. Cafe ini cukup hits di kalangan pecinta kuliner.

4. Kedai Kopi Difabis
Berlokasi 20 meter dari sebelah barat Stasiun Sudirman. Ada 3 barista difabel yang membuat kopi di Kedai Difabis, mereka mengolah biji kopi sendiri dan keahlian tersebut telah terlatih dan bersertifikat. Beragam penyandang disabilitas ada insan tuli, insan daksa amputee hingga tuna netra. Di Kedai Kopi Difabis, pembeli memilih sajian di papan menu lalu menulis di white board. Cara tersebut dilakukan karena pramusaji dan barista keduanya berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat sementara tidak semua customer dapat berbahasa isyarat.

BACA JUGA:  Fanatisme Suporter Bola Indonesia

Tidak diragukan lagi dengan adanya fenomena pekerja difabel pada kedai-kedai kopi ternyata komunikasi bisnis bisa berjalan lancar dan sukses luar biasa sehingga omset perusahaan meningkat, yang berarti kesejahteraan bagi semuanya baik bagi pemilik modal maupun para pekerjanya.

Dari beberapa contoh kedai kopi yang mempekerjakan penyandang disabilitas terutama tuna rungu dan tuna wicara dapat kita simpulkan, bahwa fenomena ini mendapatkan respon yanag cukup positif dari customer bahkan gebrakan ini sempat viral karena ternyata penyandang disabilitas yang biasa disepelekan dan diremehkan mampu menunjukan kinerja yang luar biasa bahkan mungkin dianggap tidak masuk akal ketika mereka dapat melakukan tugas dan tanggung jawab selayaknya manusia normal bahkan melebihi manusia normal.

Selain itu, dengan hadirnya kedai-akedai kopi yang pekerjanya penyandang disabilitas diharapkan dapat mengedukasi customer dengan cara menyediakan beberapa informasi tentanga bahasa isyarat serta menyediakan buku buku yang dapat memenuhi rasa penasaran customer.

Khusus untuk customer yang normal dampak bertemu dengan para pekerja kedai kopi penyandang disabilitas akan lebih mengasah rasa kemanusiaannya dan lebih banyak bersyukur atas nikmat yang telah diberikan penguasa langit dan bumi bahwa masih banyak orang yang tidak seberuntung manusia normal tapi mereka tetap tegar dan berjuang mencari nafkah dan berusaha untuk dapat diterima di lingkungan sosial.

Harapan yang dapat disampaikan agar kita yang dilahirkan normal tidak lagi mendiskriminasikan kaum difabel sehingga dapat saling hidup bersama tanpa perlu memandang fisik, tapi kemampuan mereka untuk mengalahkan tantangan hidup.

Diharapkan kedepan lebih banyak kedai kopi ataupun restoran yang memapekerjakan penyandang disabilitas dan tidak hanya tuna rungu dan tuna wicara yang banyak direkrut tapi juga penyandang disabilitas lainnya.

Kaum difabel layak mendapatkan kesempatan dan juga pekerjaan karena mereka mempunyai hak yang sama dengan manusia yang dilahirkan normal dan di atas semua itu Tuhan tidaklah menciptakan mahluk-Nya dengan sia-sia pasti ada maksud dibalik penciptaan-Nya.
Sekian artikel saya kali ini semoga bermanfaat dan menambah kepedulian kita terhadap penyandang disabilitas.

Sekar Hanum Ambarwati
Fakultas Ekonomi & Bisnis
Prodi S1 Akuntansi
Mahasiswa Universitas Pamulang

Pos terkait