Fraud, Akan Terus Menghantui Para Auditor

DEPOKPOS – “Ayolah…laba bersih perusahaan bulan ini bahkan sudah mencapai 50%, tidak apa-apa kita mengambil sedikit lagi pula kita sudah bekerja keraskan?!”.

Pernyataan ini merupakan salah satu dari begitu banyaknya alasan-alasan pembenaran yang disampaikan oleh manajamen bahkan karyawan sekalipun.

Kejujuran merupakan modal terpenting bagi kita dalam menjalani hidup ini, Mohammad Hatta pernah berkata “kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar.

Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki”.

Oleh karena itu mari kita dalami sediki demi sedikit tentang fraud ini.

Pertama, apa itu fraud ?!

Fraud adalah sebuah kebohongan/penipuan yang dibuat untuk keuntungan pribadi yang merugikan orang lain.

Menurut Arens et al (2012:336) ialah “Fraud is defined as an intentional misstatement of financial statements”. Pernyataan Arens diatas menyatakan bahwa fraud didefinisikan sebagai salah saji dalam laporan keuangan yang disengaja.

Menurut Jhonstone et al (2014:34) ialah “ Fraud is an intentional act involving the use of deception that results in a material misstatement of the financial statements”.

BACA JUGA:  Menparekraf Tekankan Pentingnya Keterlibatan Swasta dalam Pengelolaan Air yang Berkelanjutan

Pernyataan Jhonstone diatas menyatakan bahwa fraud adalah tindakan yang disengaja yang melibatkan penggunaan penipuan yang menghasilkan salah saji material laporan keuangan.

Setelah mengetahui apa itu fraud kita akan menyelam kembali sedikit lebih dalam untuk mengetahui lebih banyak tentang fraud ini, yaitu kita akan mengetahui teori-teori tentang fraud ini. Sebelumnya penulis hanya akan menjelasan satu teori dasar dari empat teori tentang fraud yang ada. Apa saja ke empat teori tersebut ?! :
⦁ Triangle Theory
⦁ Diamond Theory
⦁ Pentagon Theory
⦁ Hexagon Theory

Hexagon theory merupakan perkembangan teori terbaru dalam fraud ditemukan oleh Georgios L. Vousinas pada tahun 2016 (Desviana et al., 2020).

Dalam teori pertama ini terdapat 3 hal yang menyebabkan fraud. Yaitu:

⦁ Pressure
⦁ Opportunity
⦁ Rationalization

Nah, untuk mengetahui lebih dalam lagi kita akan mengetahui apa yang dimaksud dalam 3 hal yang menyebabkan fraud ini.

BACA JUGA:  Finnet Dukung Digitalisasi Sistem Pembayaran Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung

Pertama, Pressure/Tekanan/Stimulus

Pelaku pada saat ini melakukan kejahatan yang didorong oleh tekanan dimana hal ini dapat berasal dari tekanan akan kebutuhan keuangan, target keuangan yang menurun, perekonomian keluarga yang mendesak, dan lainnya, sehingga mendorong pelaku untuk berani melakukan pencurian kas perusahaan.

Kedua, Opportunity/Kesempatan/Peluang

Bila terdapat kelemahan dalam pengendalian internal perusahaan, pengawasan yang melemah mendorong seseorang untuk bertindak dalam melakukan kecurangan. Celah ini dapat mengundang hal yang fatal bagi perusahaan dimana kelemahan dalam pengendalian internal yang berjalan dimanfaatkan oleh seseorang.

Terakhir, Rationaliation/Rasionalisasi/Pembenaran

Pada poin tersebut, pelaku akan melakukan pembenaran atau merasa bahwa tindakannya benar saat mereka melakukan kecurangan.

Perilaku tersebut muncul disaat seseorang merasa telah berbuat lebih bagi perusahaan, sehingga mereka terdorong untuk mengambil keuntungan yang didasari pemikiran bahwa hal tersebut sah-sah saja selama mereka bekerja dengan benar.

Nah, sekarang mengapa fraud akan terus menghantui para Auditor, tentunya kita sudah mengetahui apa itu fraud, bagaimana pendapat para ahli mengenai fraud dan juga salah satu teori dasar tentang fraud.

BACA JUGA:  PaintPro Luncurkan Varian Terbaru MAX Interior dan ProTech Waterproofing

Dari ke 3 hal yang menyebabkan fraud diatas kita tahu semua hal ini adalah bagian dari kehidupan yang harus kita jalani dan akan terus berada berdampingan dengan kita, dimana kita tidak bisa mengelak sekalipun atau bahkan jika kita ingin salah satu hal tersebut hilang dari kita atau tidak mendampingi kehidupan kita, hal itu merupakan hal yang mustahil dan impossible.

Oleh karena itu benar adanya jika fraud ini akan terus menghantui para Auditor dimanapun itu.

Oleh karena itu para auditor harus memiliki independensi, profesionalitas dan integritas dalam menjalani setiap tugas profesi yang dijalankan.

Serta, para Auditor harus memiliki pengetahuan lebih tentang fraud ini agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan dalam berkarier sebagai Auditor.

Paras Aditya Ramadhan

Pos terkait