Guru Besar Unhas Ditahan Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Pemalsuan Surat Putusan MA

Guru Besar Unhas Ditahan Polda Metro Jaya Terkait Dugaan Pemalsuan Surat Putusan MA

MJ. Jakarta – Setelah menjalani pemeriksaan intensif di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya pada Rabu (19/6/2024), Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) yang juga Ketua Pengurus Yayasan Sekolah Tinggi Teologia (STT) INTIM, Makassar, Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Marthen Napang, S.H, M.H. (MN), resmi ditahan Polda Metro Jaya pada Kamis (20/6/2024).

Penahanan ini terkait dengan dugaan kuat pemalsuan Surat Putusan Mahkamah Agung (MA). Penyidik mengenakan tiga pasal KUHP sekaligus kepada MN, yaitu Pasal 378, 372, dan Pasal 263 KUHP yang mencakup penipuan, pemalsuan, dan penggelapan.

Kebenaran penahanan MN dikonfirmasi oleh seorang petugas penjaga piket yang berjaga pada saat itu. Petugas tersebut membenarkan bahwa MN telah ditetapkan sebagai tersangka pada Jumat (21/6/2024).

BACA JUGA:  Kakorpolairud Baharkam Polri Gelar Rapat Koordinasi Persiapan Pilkada Serentak 2024

Sebelumnya, para wartawan berhasil mengambil foto MN saat keluar dari Direktorat Perawatan Tahanan dan Barang Bukti Polda Metro Jaya pada pukul 13.30 WIB. MN tampak dikawal oleh beberapa anggota kepolisian menuju Gedung Pusat Dokter dan Kesehatan untuk pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari proses penahanan. Pada pukul 16.00 WIB, MN kemudian dibawa ke ruang tahanan Polda Metro Jaya.

Pada hari Jumat (21/6/2024), para wartawan kembali mencoba memastikan keberadaan Prof. Dr. Marthen Napang, S.H, M.H. (MN) di Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Namun, MN tidak terlihat keluar dari gedung tersebut.

BACA JUGA:  WAKAPOLRES CEK KELENGKAPAN PERSONIL JAS HUJAN UNTUK KESIAPAN OPERASI LILIN TOBA - 2023

Kasus ini bermula pada tahun 2017 ketika MN mendatangi kliennya, John Palinggi, untuk meminta sejumlah dana operasional berkisar ratusan juta rupiah. Dana tersebut diklaim oleh MN akan digunakan untuk membantu sahabatnya, Budi Setiawan, yang tengah menghadapi kasus di Mahkamah Agung (MA).

Untuk memperlancar aksinya, MN bahkan sempat memperlihatkan beberapa salinan putusan pengadilan yang telah dimenangkannya guna meyakinkan kliennya. “Saat itu MN memberikan beberapa putusan yang konon dia menangkan. Ada 12 putusan yang diperlihatkan kepada para korban, lalu kemudian ada empat putusan yang sempat beliau minta untuk difotokopi,” jelas Mohammad Iqbal, kuasa hukum John Palinggi, kepada wartawan.

BACA JUGA:  Banjir di Jalan Demak - Kudus Mulai Surut, Tapi Jalan Masih Ditutup

John Palinggi kemudian menerima kiriman email dari MN yang berisi putusan MA terkait kasus tersebut. Setelah dicetak, putusan tersebut menunjukkan bahwa kasus yang diurus oleh MN telah dimenangkan dan dikabulkan oleh MA.

Untuk meyakinkan keaslian putusan MA tersebut, John Palinggi mendatangi kantor MA. Di sana, John mendapatkan keterangan dari staf MA bahwa putusan yang dikirim MN adalah palsu. Staf MA menunjukkan bukti putusan asli yang menyatakan banding kasasi John Palinggi sebenarnya “DITOLAK”.

Pos terkait