Hati-Hati, Citra Tubuh Negatif Dapat Berujung pada Komplikasi Kesehatan, Infertil, hingga Kematian

DEPOK POS – Saat ini, remaja, kelompok yang berusia 14-19 tahun telah mencapai 16% populasi dunia (UNICEF, 2022). Jumlah populasi yang strategis ini dapat menjadi pisau bermata dua sebab mereka adalah kelompok umur yang mentalnya masih belum stabil. Apalagi, masa remaja juga diikuti dengan berbagai perubahan, baik fisik, hormonal, maupun psikologis. Mereka juga mulai menunjukkan ketertarikan dengan lawan jenis, sangat memperhatikan pandangan orang, dan ingin terlihat menarik untuk dapat diterima oleh teman sebaya (Amalia, L., 2007) Akibatnya, mereka mulai mempunyai citra tubuh terhadap dirinya.

Citra tubuh adalah persepsi seseorang terhadap bentuk tubuhnya sehingga bersifat subjektif tergantung gambaran tubuh ideal yang diinginkan. Artinya, seseorang dapat merasa tidak menarik dan kekurangan secara fisik, tetapi mungkin menurut pandangan orang lain sudah ideal. Semakin besarnya perbedaan antara persepsi tubuh ideal dengan tubuhnya saat ini dapat menyebabkan seseorang merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya sehingga mempunyai citra tubuh negatif. Di samping itu, citra tubuh negatif lebih banyak terjadi pada remaja putri ketimbang putra. (Amalia, L., 2007).

Citra tubuh negatif dapat membuat seseorang mempunyai persepsi tubuh ideal yang keliru. Banyak remaja putri yang percaya bahwa mereka gendut sekalipun berada dalam rentang berat badan normal ataupun underweight (kurang berat badan) (Neumark, et al, 2002). Karena persepsi dirinya yang menganggap gendut ini, remaja putri akan menurunkan berat badannya (Jones, 2002). Penelitian yang dilakukan Ozer, et al, 1998 menemukan bahwa 44% remaja putri percaya bahwa mereka overweight (kelebihan berat badan) padahal sebenarnya mereka berada dalam berat badan yang normal dan 60% diantaranya sedang melakukan diet untuk menurunkan berat badan. Akan tetapi, untuk menurunkan berat badannya tersebut, mereka cenderung melakukan diet yang tidak sehat (Boutelle K, 2002). Perilaku diet yang tidak sehat, seperti melakukan olahraga tingkat berat, melewatkan waktu makan, melakukan puasa, penggunaan obat pencahar, penggunaan pil diet, hingga memuntahkan makanan yang diinduksi sendiri. Perilaku-perilaku ini jika terus berlanjut dan membesar dapat berujung kepada perilaku makan yang menyimpang (eating disorder) (Mendes V, et al 2013).

BACA JUGA:  Pahami Gejala dan Cara Mengobati Hipertensi

Perilaku makan yang menyimpang (eating disorder) diantaranya, yaitu anorexia nervosa dan bulimia. Anoreksia nervosa merupakan gangguan makan yang disebabkan oleh ketakutan terhadap penambahan berat badan. Penderita anorexia nervosa memiliki persepsi bahwa mereka memiliki berat badan yang berlebih, meskipun sebenarnya mereka memiliki berat badan yang berada dibawah standar kesehatan. Mereka akan melakukan berbagai cara supaya tidak mengalami penambahan berat badan, mulai dari pembatasan asupan kalori, berolahraga secara berlebihan, hingga berpuasa secara berlebihan. Sedangkan penderita bulimia nervosa akan makan secara berlebihan dan diikuti rasa penyesalan sehingga mereka akan berusaha untuk mengeluarkan kembali apa yang telah mereka makan (Alwisol, 2002).

Selain berkaitan erat dengan kebiasaan makan yang menyimpang, citra tubuh juga berkaitan erat dengan gangguan psikologis. Pertama, ia dapat mempengaruhi harga diri (self-esteem) yang dimiliki individu. Harga diri ini meliputi penghargaan dan kepercayaan terhadap diri sendiri. Kebutuhan mengenai harga diri dibagi menjadi dua, yaitu penghargaan terhadap diri sendiri dan penghargaan yang berasal dari orang lain (Maslow dalam Alwisol, 2002). Kedua, depresi. Individu yang memiliki citra tubuh negatif dapat mengalami depresi. Komentar “gemuk” atau bahkan kontak mata lawan bicara saat melihat dirinya dapat memicu depresi.. Ketiga. gangguan mental. Gangguan mental terkait bentuk dan ukuran tubuh, salah satunya adalah Body Dysmorphic Disorder (BDD), yaitu gangguan mental ketika individu meyakini bahwa dirinya memiliki kekurangan dalam penampilan fisik sehingga membuat dirinya tidak menarik. Penderita BDD akan merasa malu, tidak layak, cemas, dan tertekan karena kelemahan yang mereka miliki, sekalipun kekurangan tersebut sangatlah minim. Bagi mereka, kekurangan tersebut merupakan masalah yang besar hingga dapat menimbulkan tekanan emosional sehingga mereka merasa terganggu dan kesulitan dalam melakukan kegiatan sehari-hari (Alwisol, 2002).

BACA JUGA:  Benarkah Daun Salam dapat Menurunkan Kolestrol?

Perilaku makan yang menyimpang hingga gangguan mental menjadikan orang yang mempunyai citra tubuh negatif menjadi rentan terhadap masalah kesehatan hingga berujung pada kecacatan hingga kematian. Penyimpangan perilaku makan, seperti anorexia nervosa maupun bulimia dapat berujung pada komplikasi kesehatan, seperti pertumbuhan terhambat, masalah jantung, masalah kulit, masalah endokrin, masalah pencernaan, masalah sistem saraf, gagal ginjal, amenore (tidak menstruasi), infertilitas, hingga berujung kepada kecacatan bahkan kematian (Moore CA, 2022).

Permasalahan citra tubuh pada remaja wanita bukanlah perkara remeh. Untuk mencegah dan mengatasinya, kita harus belajar mencintai diri sendiri (self-love). Self-love dapat digambarkan sebagai penerimaan terhadap diri sendiri dengan segala kelebihan dan kekurangan. Individu yang mencintai dirinya sendiri akan melakukan hal-hal untuk memenuhi kebutuhan dirinya tanpa memikirkan hal lain yang membuatnya tidak nyaman. Selain itu, ia juga memandang bahwa dirinya berharga dan berhak untuk bahagia (Herabadi, A. G, 2007).

Terdapat beberapa cara untuk menerapkan self-love. Yang pertama, yaitu kesadaran diri (self-awareness). Kesadaran diri merupakan kesadaran diri kita terhadap proses berpikir atau cara pandang yang kita miliki. Hal ini dapat mempengaruhi tindakan kita, cara kita memandang sebuah kejadian, dan emosi yang kita miliki. Dengan memiliki kesadaran diri, kita dapat meminimalisasi situasi yang menyebabkan penyesalan karena kita akan merespon situasi dengan lebih cermat, tidak ceroboh, dan tidak impulsif. Yang kedua, self-worth, yaitu keyakinan yang kita miliki terhadap nilai diri kita sendiri. Misalnya, kita merasa bahwa kita pantas mendapatkan reward karena kita telah berusaha untuk mengerjakan sesuatu. Terlepas dari tercapai atau tidaknya tujuan kita, kita harus tetap menyadari bahwa diri kita berharga dan berhak untuk mendapatkan hadiah. Yang ketiga adalah harga diri (self-esteem). Harga diri ini muncul dari self-worth yang baik. Jika kita merasa bahwa diri kita berharga, maka kita akan merasa nyaman dan puas terhadap diri kita sendiri dengan apapun kondisi yang kita miliki. Kita juga akan lebih jujur kepada diri kita sendiri, dan menerima segala yang telah kita miliki. Yang terakhir adalah kepedulian pada diri sendiri (self-care). Penerapan kepedulian pada diri sendiri ini sebagian besar ditunjukkan pada perilaku yang menguntungkan diri sendiri, misalnya berolahraga dengan teratur, menjaga pola makan, dan menjaga waktu tidur. Namun, kepedulian pada diri sendiri ini tidak hanya terbatas pada pola hidup saja. Ia juga dapat dilakukan sebagai apresiasi kita terhadap diri kita. Bentuk apresiasi tersebut bisa dilakukan dengan hal-hal kecil seperti membaca buku, menonton film, memakai masker wajah, berbincang dengan teman, melukis, ataupun melakukan hal lain sesuai dengan kenyamanan diri kita (Steg, L., Buunk, A.P., & Rothengatter, T. (2008).

BACA JUGA:  Klorinasi pada Air dapat Mencegah Diare, Mengapa?

Citra tubuh ternyata bukan hal yang remeh karena berkaitan erat dengan kesehatan, sehingga perlu hati-hati dalam menyikapinya. Berawal dari rasa tidak puas terhadap bentuk tubuh ternyata dapat berujung pada perilaku makan yang menyimpang hingga masalah kesehatan. Oleh karena itu, untuk mencegah dampak kesehatan yang merugikan tersebut, jika seseorang sudah merasa tidak puas dengan bentuk tubuhnya, sebaiknya perlu berhati-hati. Setelah membaca artikel ini, bagaimana dengan kamu? Apakah kamu merasa puas dengan bentuk tubuhmu sendiri?

Widya Nurhidayah, Tazkiyyah Alhaura
Mahasiswa FKM UI

Pos terkait