Hilang Rasa Antara Suami Istri

Penerapan teknologi fisika dalam pertanian telah mampu meningkatkan produksi, kualitas, dan efisiensi dalam sektor pertanian

Oleh : Ayyuhanna Widowati, Pendidik

Fenomena ’hilang rasa’ di antara suami istri akhir-akhir ini marak terjadi, terutama di kalangan artis yang berujung pada perselingkuhan dan perceraian. Ini membuktikan begitu rapuhnya ikatan pernikahan dan bangunan keluarga saat ini. Suami atau istri dengan mudahnya melanggar komitmen yang telah diucapkan sehingga pernikahan tidak lagi menjadi ikatan sakral yang harus dijaga. Bahkan ada suami yang berselingkuh dengan alasan sudah ‘hilang rasa’ terhadap istrinya.

Inilah akibat kehidupan sekuler liberal yang menjauhkan kehidupan manusia dari agama. Kehidupan berkeluarga menjadi rapuh karena tidak dilandasi agama. Hal ini bisa berdampak pada rusaknya pergaulan dalam masyarakat, dimana interaksi laki-laki dan perempuan tidak terbatas. Berduaan antara laki-laki dan perempuan non mahram menjadi biasa saja.

BACA JUGA:  Wajibnya Jaminan Kehalalan Produk Makanan dan Minuman

Selain itu adanya kebebasan tiap individu untuk meraih kesenangan masing-masing. Di antara pasutri tersebut merasa tidak puas dengan pasangannya ,sampai akhirnya ’hilang rasa’.

Padahal pernikahan di dalam Islam adalah ibadah. Islam menyebut pernikahan sebagai mitsaqan ghalidza (perjanjian agung) yang tidak bisa dimain-mainkan. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. An Nisa ayat 21 yang artinya ’’Dan bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami-istri). Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu’’.

BACA JUGA:  Debar Harap Capres Cawapres

Maka dari itu pernikahan dalam Islam bukan hanya mencari kesenangan antara suami istri, tetapi lebih dari itu pernikahan mempunyai tujuan mulia dan suci yang harus dijaga.

Kehidupan berumah tangga akan menghadirkan pernikahan yang sakinah, mawadah, dan rahmah. Sakinah adalah ketenteraman, ketenangan dan kebahagiaan. Mawadah menurut Ibnu Katsir adalah al-mahabbah atau rasa cinta yang tulus dari suami dan istri. Rahmah adalah kasih sayang. Semua itu akan terjalani dalam bangunan keluarga muslim.

BACA JUGA:  Naiknya Harga Kebutuhan Pangan, Menambah Hidup Makin Sulit

Juga yang menjadi standar kebahagiaan seorang muslim adalah ridha Allah Ta’ala, bukan materi atau kesenangan semata. Suami istri akan berlomba-lomba memenuhi hak pasangannya dengan melaksanakan kewajiban yang telah Allah tetapkan pada mereka. Istri senantiasa taat pada suami dan optimal dalam pelayanannya. Begitu pun suami bekerja dengan gigih untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan menjadi pelindung bagi mereka. Semua itu dilakukan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.[]

Pos terkait