Hukum Poligami dan Monogami Menurut Pandangan Islam

Hukum Poligami dan Monogami Menurut Pandangan Islam

DEPOK POS – Kata nikah secara bahasa dimaknai “berkumpul atau menindas” (hosen,1971:65). secara istilah pernikahan adalah akad seseorang perempuan yang keduanya bukan muhrim (Sulaiman Rasyid 1954:355). pengertian yang sama dalam kamus istilah fiqh, yaitu nikah adalah suatu akad yang menghalalkan pergaulan seorang laki-laki dan seorang perempuan yang bukan muhrim.
Al-quran menyebutkan bahwa pernikahan atau perkawinan adalah ‘mitsaqan ghalizan’ yang berarti perjanjian yang teguh. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Nisa’ (4:21) artinya : “dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil ari kamu perjanjian yang teguh”.

Tujuan utama pernikahan dalam Islam yaitu membangun sebuah keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah (keluarga yang diselimuti dengan ketentraman, kecintaan, serta rasa kasih sayang) serta untuk menjalankan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sebagaimana difirmankan Allah SWT dalam surat Ar-Rum ayat 21 “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang (mawaddah warahmah)”. Pernikahan menjadi keinginan dari banyak setiap pasangan untuk bisa memiliki buah hati serta mendidik generasi barunya.
Dengan pernikahan yang sah menurut islam, diharapkan akan terbentuk suatu rumah tangga yang di dalamnya terdapat keluarga yang bahagia dan harmonis, yakni keluarga yang hidup tenang, rukun, dan damai serta diliputi oleh rasa cinta dan kasih sayang atau keluarga sakinah.

BACA JUGA:  Instagram sebagai Media Pemasaran yang Aktif

Hukum Poligami dan Monogami

Berbicara monogami dan poligami, maka tidak lepas dari pembahasan asas atau prinsip perkawinan. Adapun asas atau prinsip perkawinan menurut hukum Islam sebagai berikut :

a. Perkawinan berdasar dan untuk menegakkan hukum Allah
b. Ikatan perkawinan adalah untuk selamanya
c. Suami sebagai kepala rumah tangga, istri sebagai ibu rumah tangga, masing-masing bertanggung jawab
d. Monogami sebagai prinsip, poligami sebagai pengecualian

Ciri-ciri pernikahan dalam islam pada dasarnya adalah monogami, yakni satu suami memiliki satu istri, atau sebaliknya satu istri memiliki satu suami. Akan tetapi, laki-laki muslim dibolehkan menikahi atau memiliki istri paling banyak 4 (empat) orang dalam waktu yang bersamaan dengan persyaratan yang cukup berat, yaitu berlaku adil kepada semua istri. Poligami (menurut Antropologi poligini) dalam islam dibatasi sampai empat orang istri dan disyaratkan mampu berlaku adil kepada semua istri. Poligami yang dipahami masyarakat Indonesia selama ini, dan pengertian yang sama juga terdapat dalam kamus umum bahasa Indonesia yaitu poligami adalah seorang laki-laki beristri lebih dari satu dalam waktu bersamaan. Pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan disebut dengan istilah monogami. Tradisi poligami sudah ada selama berabad-abad, terutama dilakukan oleh laki-laki terpandang, seperti raja, orang-orang bangsawan, termasuk para nabi. Contohnya nabi Ibrahim dan nabi Sulaiman. Nabi Muhammad SAW serta para sahabat nabi Muhammad SAW.

BACA JUGA:  Pandangan Islam Terhadap Pelaku KDRT

Dasar hukum perkawinan monogami dalam Islam didasarkan pada ayat 3 surat Annisa. Di mana dijelaskan bahwa perkawinan menurut Islam harus didasarkan kepada dan untuk menegakkan hukum Allah. Salah satu kewajiban yang harus ditegakkan adalah berlaku adil. Jika sebelum kawin dengan istri kedua sudah khawatir atau takut tidak akan berbuat adil, maka hendaknya berketetapan hati untuk tetap menjaga ikatan perkawinan dengan seorang wanita saja, karena memang pada dasarnya suruhan untuk mengikat tali perkawinan itu hanya dengan seorang perempuan.

Hal ini dibuktikan dengan ayat yang diawali dengan kata “mastna” atau artinya dua, tetapi diakhiri dengan kalimat “fawahidah“ yang artinya cukup satu dengan penghubung kata “fainlam ta’dilu“ yang artinya jika takut tidak berlaku adil. Kalimat yang terdapat dalam ayat 3 surat Annisa itu jelas menyatakan bahwa prinsip perkawinan dalam Islam adalah monogami, sedangkan poligami merupakan kebolehan yang dibebani syarat yang sangat berat yaitu berlaku adil.

Syarat Poligami

BACA JUGA:  Musik dan Pengaruhnya Terhadap Mood Hingga Kesehatan Mental

Persyaratan poligami didasarkan pada ayat 3 dan 129 surat Annisa yang intinya adalah :

a. Harus memiliki dana yang cukup untuk membiayai berbagai keperluan isteri isterinya dan anak anaknya.
b. Harus memperlakukan semua istrinya secara adil dalam memenuhi hak hak isteri.

Menurut Abdurrahman syarat poligami sebagai berikut :

a. Istri punya penyakit yang sulit disembuhkan
b. Istri mandul
c. Istri sakit ingatan
d. Istri lanjut usia sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban sebagai istri
e. Istri memiliki sifat buruk
f. Istri pergi dari rumah
g. Ketika jumlah perempuan terlalu banyak
h. Kebutuhan biologis suami sepanjang tidak membawa mudharat bagi kehidupannya dan pekerjaannya

Sifat pernikahan dalam islam pada dasarnya adalah abadi atau lestari sampai akhir ayat, artinya tak terceraikan. Akan tetapi, dalam keadaan yang “sangat mendesak dan tidak ada jalan lain serta dengan alasan yang tepat” perceraian diperbolehkan. Rasul memperingatkan bahwa meskipun dibolehkan , cerai adalah perbuatan halal yang paling dibenci Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW bersabda : أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ artinya perbuatan halal yang sangat dibenci oleh Allah adalah thalak (diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Hakim).

Qurratun Nada Syafnawati, Dino Dinasty Hariyanto, Muhammad Ikhsan Ramadhan
Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait