IDE PEMAKZULAN dan KATA BAJINGAN TOLOL PUN BEBAS di NEGARA DEMOKRASI LIBERAL

MJ, Jakarta – Dinamika politik semakin panas, ditandai dengan permainan berbahaya Machfud MD menerima aspirasi petisi 100 yang terus menggelindingkan ide pemakzulan Jokowi. Ide pemakzulan ini sudah bergulir dari setahun sebelumnya, namun tentu saja tidak mendapatkan angin darimanapun juga, ibaratnya seperti berteriak di padang pasir di tengah kepercayaan aproval ratting Jokowi yang spektakuler, hingga mencapai 80%.

Mendekati pencoblosan pemilu 2024 yang tinggal sebulan lagi, sungguh menggelikan mendengar kata pemakzulan. Sontak Jimly Asidiqie berkomentar, bahwa munculnya ide pemakzulan disebabkan kepentingan takut kalahnya dari kepentingan politik tertentu, siapa lagi tertuduhnya kalau bukan calon Wapres 03, Machfud MD sendiri.

Pertanyaan sederhana dan rasionalnya, seburuk apapun Jokowi, untuk apa dimakzulkan ? toh sebentar lagi juga, dia diganti dengan presiden yang baru. Meminjam kata Gusdur ; *gitu saja kok repot !*

Dengan munculnya wacana pemakzulan tersebut, dan sebelumnya hinggar bingar Rocky Gerung mengatakan Bajingan Tolol yang ditujukan kepada presiden Jokowi, membuat bergidik semua anak bangsa yang masih berpegang teguh terhadap budaya, peradaban kesantunan yang berpijak pada agama dan nilai luhur dari Pancasila.

BACA JUGA:  Sesmenpora Lantik dr.Bayu Rahadian Sebagai Analis Kebijakan Ahli Utama Kemenpora

Apakah benar, semakin brutalnya Demokrasi kita ini, bahkan mungkin ? sudah mengalahkan Demokrasi Liberalnya Amerika ?. Semua bicara bebas, dengan tanpa ada resiko apapun ? sementara jika bicaranya itu di zaman Orba, terbayang orang-orang tersebut bakal langsung hilang tanpa bekas. Dan saat ini pun, jika bicara di Korut tentu sudah jadi pakan buaya, di Cina pasti sudah di tembak mati, atau di monarki Arab Saudi bisa langsung di pancung ataupun di hukum seumur hidup.

Di Indonesia bebas merdeka dan sudah ada UU ITE pun, tetap masih bisa bicara bebas selama mampu beretorika secara hukum atau bahkan selama yang di serang seperti presiden Jokowi tidak mengadukannya secara hukum. Tentunya apresiasi yang sangat tinggi patut diberikan pada presiden Jokowi yang selalu tersenyum simpul, jika ditanya wartawan terkait serangan-serangan politik terhadap dirinya. Senyumnya tersebut seolah bicara ; *”biarlah anjing menggonggong, kafilah pun berlalu”*. Kita masih ingat SBY pun, tidak sesabar Jokowi, manakala mengadukan secara hukum almarhum Zaenal Ma’arif yang menyerangnya ketika itu.

Demikian hebatnya Demokrasi dan kebebasan di Indonesia saat ini, kalau melihat kejadian-kejadian terkini dalam menghadapi Pemilu 2024. Bebas, sebebas bebasnya, tanpa tata krama dan tedeng aling-aling lagi. Bahkan bisa di sebut super Liberal.

BACA JUGA:  Komodo Viktor Di Lepas liarkan Ke Habitatnya Di Cagar Alam Waewul Labuan Bajo

Kenikmatan mana lagi yang didustakan bangsa Indonesia ? dengan kebebasan mutlak seperti ini. Tinggal moral masing-masing jujur bicara ?

Selain hal tersebut dalam debat pilpres pun sudah tanpa adab, terlihat lawan debat bebas menyerang pribadi bukan fokus pada visi misi dan program yang diperdebatkan.

Demikian luar biasa kebebasan yang terjadi dan tentu saja Rakyat menonton semua opera politik ini dan alhamdulillah patut disyukuri rakyat sama sekali tidak terpancing, mereka tetap tenang, aman terkendali, memahami bahwa kedaulatannya ada di kotak suara yang tinggal 27 hari lagi.

Dan dari semua dinamika politik demokrasi liberal ini, kita semua bisa mengambil hikmah dan kita tersadarkan bahwa bangsa Indonesia semakin cerdas dalam berpolitik dan memahami hakikat kepentingan di atas kepentingan adalah Persatuan Indonesia.

Pertarungan politik sekeras apapun di antara politisi dan jejaringnya, tentu tidak akan berpengaruh apapun ?, selama yang mulia Rakyat Indonesia sadar posisi untuk tetap berpijak dan berpegang teguh pada ideologis agung tersebut. Indonesia sudah dewasa di dalam berpolitik, silahkan bicara sebebas-bebasnya untuk mengambil hati Rakyat.

BACA JUGA:  Menyambut Ramadhan, Meraih Ketaatan

Negara besar Indonesia, sudah berusia 79 tahun dari sejak kemerdekan dengan dinamika darah dan airmata beserta ke tujuh presidennya, Indonesia mendapat bimbingan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, menemukan bentuk bernegara yang sungguh sangat baik dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

Dan sekarang Indonesia sudah sangat dewasa dan cerdas untuk menjaga keamanan negara dan sadar cuma negara yang aman dan damailah yang bisa membangun dan membangun negaranya. Mustahil negara konflik bisa membangun, yang ada hanyalah penderitaan demi penderitaan.

Untuk mencapai kepentingan di atas kepentingan tersebit, sudah barang tentu semua anak bangsa punya kewajiban untuk lebih mengokohkan kedaulatan rakyat, dalam menghadapi pemilu kali ini, semuanya bisa bergerak sesuai kapasitas masing-masing, secara bersama-sama dalam menjaga dan mengawasi Pemilu yang Langsung Umum Bebas dan *Rahasia* (LUBER) di tambah Jujur dan Adil. (JURDIL).

Pos terkait