Implementasi Kafalah dalam Kehidupan Sehari Hari

DEPOKPOS – Kafalah merupakan salah satu bagian dari fiqih, yang mana kafalah tersebut merupakan salah satu bentuk transaksi sahabat dalam hal peminjaman atau pembiyaan. Pada hakekatnya, jaminana merupakan syarat jika melakukan transaksi pembiyaan ke lembaga keuangan atau lembaga keuangan mikro. Kafalah dalam arti bahasa berasal dari kata: kafala, yang sinonimnya: dhamina (menanggung), adh-dhammu (mengumpulkan), hamalah (beban), dan za’amah (tanggungan).

Secara istilah, sebagaimana yang dinyatakan para ulama fikih selain Hanafi, bahwa kafalah adalah menggabungkan dua tanggungan dalam permintaan dan hutang. Definisi lain adalah, Jaminan yang diberikan oleh penanggung (kâfîl) kepada pihak ketiga-pihak yang memberikan hutang/kreditor-(makfûl lahu) untuk memenuhi kewajiban pihak kedua-pihak yang berhutang/debitor-atau yang ditanggung (makfûl ‘anhu, ashil)

Pada umumnya kafalah merupakan sebuah beban yang mana beban tersebut dikaitkan dengan suatu objek berupa denda. Sedangkan kafalah merupakan tanggungan bila dikaitkan dengan harta, adapun kafalah merupakan jaminan saai dkaitkan dengan objek yang berupa jiwa.

Sementara istilah kafalah menurut tim pengembangan syariah, kafalah merupakan sebuah jaminan yang di berikan oleh penanggung (kafil) kepada pihak ketiga dalam rangka memenuhi kewajiban dari pihak yang di tanggung (makful anhu). Dengan kata apabila pihak yang ditanggung sudah mengalami wanprestasi atau tidak bisa melaksanakan kewajibannya. Setelah memahami makna dari kafalah baik dari segi etimologi ataupun terminologi kafalah juga memiliki pembagian, rukun dan syaratnya.
Kafalah dalam fiqih dibagi menjadi lima bagian yaitu, kafalah almuallaqah, kafalah binnafs, kafalah bittaslim, kafalah almunajazah, dan kafalah bil mall. Kafalah muallaqah merupakan salah satu jaminan yang lebih atau sangat sederhana dari pada kafalah al munajazah, Kafalah al-muallaqah adalah penyederhanaan berdasarkan kafalah al munjazah, baik oleh pihak perbankan juga pihak asuransi.

BACA JUGA:  Tabarru pada Asuransi Syariah

Dalam kafalah al-muallaqah yaitu jaminan yang telah dibatasi jangka waktu tertentu. Pada umumnya, kaflah ini biasa dilakukan oleh perusahaan perbankan dan asuransi. Kemudian kafalah yang kedua yaitu kafalah binnafs, kafalah bin nafs adalah perjanjian yang menjadikan diri seseorang sebagai jaminan. Pada umumnya, contoh kafalah bin nafs adalah nama baik seseorang ataupun kredibilitas yang dimiliki orang tersebut. Sebagai contoh umumnya seseorang meninjamkan uang kepada orang lain walaupun orang tersebut tidak memberikan barang apapun sebagai jaminan baginya.

Akan tetapi dengan garis besar orang tersebut merupakan orang kepercayaan dan tokoh agama terkemuka. Sehingga, dengan kata lain orang yang meminjamkan uang tersebut menjadikan tokoh agamanya sebagai salah satu jaminan apabila orang kepercayaan tokoh agama tersebut tidak dapat melunasi utang yang dipinjamnya. Kemudian pembagian yang ketiga adalah kafalah bittaslim. Kafalah bit taslim adalah jaminan ynag dilakukan untuk menjamin pengembalian barang yang disewa di akhir waktu sewa.

BACA JUGA:  Pengaruh Kesetaraan dan Keadilan terhadap Penggelapan Pajak di Indonesia

Kafalah bit taslim biasanya dilakukan oleh bank yang bekerjasama dengan perusahaan leasing untuk kepentingan nasabahnya. Jaminan pembayaraan bank yang sering dipakai berupa tabungan atau deposito dan bank mengenakan biaya jasa pada nasabahnya.

Kemudian kafalah yang keempat adalah kafalah almunajazah, Kafalah ini adalah jaminan yang tidak dibatasi oleh jangka waktu ataupun kepentingan tertentu. Contoh kafalah al munajazah adalah performance bond (jaminan prestasi) yang umum dilakukan di dunia perbankan. Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan yang sangat sering berkecipung dalam lingkup perbankan syariah.

Dan yang terakhir adalah kafalah bil mall, Kafalah bil mal adalah menjadikan seseorang sebagai penjamin orang tersebut dengan syarat orang tersebut membayar nominal uang tertentu kepada si penjamin dalam akad kafalahnya. Biasanya kafalah ini sering dilakukan oleh orang orang yang terlilit hutang sehingga tidak dapat membayar utang tersebut lagi. Kafalah bil mall ini juga masuk ke dalam akad tabaru yang mana akad yang beruhubungan dengan saling tolong menolong tanpa mengaharapkan imbalan terhadap orang lain.

Setelah memahami tentang pengertian dan contoh contoh dari pembagian kafalah, maka pada artikel ini akan membahas tentang rukun dan syarat-syarat pada kafalah. Kafalah akan sah dilakukan apabila rukun dan syaratnya dilengkapi dengan baik yaitu:

Rukun yang pertama adalah adanya kafil atau atau penjamin, syarat yang harus dipenuhi didalamnya adalahnya :
⦁ Baligh
⦁ Berakal
⦁ Tanpa adanya paksaan
⦁ Memiliki kemampuan untuk menjaminkan

BACA JUGA:  Pentingnya Menjaga Kebersihan Sungai

Rukun yang kedua adalah ada Ma’ful lahu atau orang yang memberikan pinjaman dengan syarat :

⦁ Saling kenal dengan kafil
⦁ Baligh
⦁ Berakal
⦁ Hadir saat akad kafalah

Rukun yang ketiga adalah Maful’ anhu atau adanya orang yang berutang, dengan syarat bahwa :

⦁ Mampu memberikan utangnya kepada penjamin
⦁ Kenal dengan penjamin

Rukun yang keempat adalah adanya objek penjamin atau Ma’ful bihi untuk menjamin utang, dengan syarat bahwa :

⦁ Jelas nilai, jumlah, dan spesifikasinya
⦁ Bukan hal yang diharamkan dalam syariat islam
⦁ Dapat berupa uang, benda, ataupun pekerjaan
⦁ Objek adalah tanggungan orang yang berutang

Rukun kafalah yang terkhir adalah terucapnya sighat atau ijab qabul dengan syarat :

⦁ Kalimat yang diucapkan menyatakan kesanggupan menanggung sesuatu
⦁ Tidak ada aturan detail terkait kalimat yang harus diucapkan
⦁ Dapat diucapkan sesuai kebiasaan pihak terkait

Itulah hal hal yang berkaitan dengan kafalah mulai dari pengertian, pembagian, syarat dan rukun rukun. Kafalah tersebut diperbolehkan dalam islam maka dari itu apabila ada hal hal atau orang orang yang melakukan kafalah maka hukumnya diperbolehkan.

Syifatiani Kurnia, Azra Atsyari, Shaffiyah Muzdalifah
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Sebi Sawangan, Depok

Pos terkait