Isra Mi’raj 1444 H: Momentum Mencontoh Keimanan Abu Bakar RA

DEPOKPOS – Kaum muslim baru saja memperingati Isra Mi’raj yang bertepatan pada 27 Rajab 1444 H atau Sabtu lalu.

Peristiwa tersebut merupakan perjalanan Rasulullah saw pada sebagian malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa di Palestina, kemudian dilanjut dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha.

Sayangnya, peringatan Isra Mi’raj hanya dianggap sebatas tradisi kaum muslim saja. Bahkan, banyak dari saudara kita saat ini yang mengabaikan peristiwa tersebut.

Hikmah yang terjadi pada malam tersebut hampir tersisihkan. Lantas, pelajaran penting apa yang bisa kita ambil dari peringatan Isra Mi’raj ini?

Seperti yang kita ketahui dan tertuang di dalam QS Al-Isra ayat 1, peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa kemudian ke Sidratul Muntaha hanya dalam semalam.

Pada malam tersebut Rasulullah dipertemukan dengan nabi dan rasul terdahulu dan diperlihatkan siksaan yang diterima oleh penghuni neraka.

Kemudian, beliau dinaikkan ke Sidratul Muntaha dan di sana beliau diberikan perintah shalat secara langsung. Peristiwa tersebut sungguh di luar akal manusia.

Perjalanan yang pada saat itu seharusnya ditempuh dalam waktu berbulan-bulan hanya ditempuh oleh Rasulullah kurang dari semalam bahkan sungguh mustahil manusia dapat melakukan perjalanan ke Sidratul Muntaha.

BACA JUGA:  Hari Jum'at, Waktu yang Tepat Membaca Surah Al kahfi

Kaum muslim pada saat itu diuji keimanannya, apakah mereka tidak mempercayai Rasulullah dan meninggalkan Islam atau malah bertambah tingkat keimanannya setelah mendengar peristiwa tersebut.
Salah satu sahabat yang menunjukkan totalitas keimanannya adalah Abu Bakar ra.

Beliau setelah mendengar perjalanan Rasulullah dalam Isra Mikraj, berkata “In qola shodaqo” (jika ia berkata begitu, maka benar) tanpa sedikit pun meragukan perkataan Rasulullah.

Padahal, pada saat itu banyak yang menyebut bahwa Rasulullah berbohong karena peristiwa yang di luar nalar akal manusia. Inilah bukti keimanan Abu Bakar yang sepatutnya dicontoh oleh kaum muslim saat ini.

Seorang Muslim yang mengaku beriman kepada Rasulullah haruslah mempercayai segala perkataan disampaikan beliau. Termasuk kebenaran firman Allah SWT yang diturutkan lewat perantara lisan Rasulullah.

Pengakuan atas kebenaran tersebut adalah bentuk konsekuensi keimanan kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Keimanan yang demikian akan menghasilkan ketaatan pada Syariat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam QS Al-Baqarah ayat 208:

BACA JUGA:  Cegah Pemurtadan, Dai Sambas Lakukan Safari Dakwah

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya (kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah : 208)

Islam ketika diturunkan oleh Allah SWT bukanlah sebatas agama ruhiyah semata yang mengatur urusan manusia dengan Allah SWT. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Syekh Muhammad Syaltut bahwa risalah Islam mengadung akidah dan syariat yang bersumber dari Al-Qur’an.

Syariat Islam meliputi pengaturan hubungan manusia dengan Allah SWT yaitu berkaitan dengan ibadah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri yaitu berkaitan dengan akhlak, pakaian, dan makanan, serta mengatur hubungan manusia dengan manusia lainnya yaitu berkaitan dengan keluarga, masyarakat, dan negara.

Oleh karena itu, Islam merupakan sebuah ideologi atau mabda yang dari akidah Islamlah melahirkan aturan-aturan kehidupan yang dinamakan dengan Syariat Islam.

Maka, sikap muslim yang mengimani Allah SWT, Rasulullah, dan syariat-Nya adalah mendengar dan taat serta tunduk kepada syariat Islam.

Karena syariat Islam bersumber langsung dari pencipta manusia sehingga sudah semestinya hanya Allah lah yang mengetahui segala hal yang dibutuhkan manusia termasuk pengaturan di dalam kehidupan mereka.

BACA JUGA:  Ragnar Oratmangoen, Menjadi Mualaf di Usia 15 Tahun

Segala bentuk peraturan-peraturan, perjanjian-perjanjian, dan konferensi-konferensi yang lahir dari akal manusia tidak akan mampu menghasilkan keberkahan di dalam hidup manusia. Melainkan, itu semua malah menimbulkan berbagai macam kerusakan mulai dari merusak bumi, masyarakat, hingga individu.

Dengan demikian, peringatan Isra Mikraj tidak cukup hanya dianggap sebagai tradisi kaum muslim semata. Seperti halnya Abu Bakar ra. yang mempercayai seluruh perkataan Rasulullah tanpa keraguan karena keimanan beliau.

Lewat peringatan ini haruslah menjadi momentum untuk semakin mengokohkan keimanan pada Allah SWT dan Rasulullah dengan bukti ketundukan pada syariat Islam.

Karena hanya syariat Islam lah yang mampu mengatur kehidupan manusia dan mendatangkan keberkahan seperti yang difirmankan Allah SWT:

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-A’raf : 96)

Fatimah Azzahrah Hanifah

Pos terkait