Kasus DBD terus Meningkat, Program Apa yang Paling Cocok Untuk Berantas DBD?

Kasus DBD terus Meningkat, Program Apa yang Paling Cocok Untuk Berantas DBD?

DEPOK POS – Menjelang musim penghujan, kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai meningkat di beberapa negara. Penyakit DBD merupakan penyakit yang umumnya disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit DBD terdapat di lebih dari 100 negara yang ada di bumi, salah satunya termasuk negara-negara di Benua Asia yang memiliki kasus DBD yang tinggi dibandingkan dengan negara di benua lainnya.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat hingga minggu ke-36 pada tahun 2022, jumlah total kasus DBD di Indonesia mencapai 87.501 kasus dengan 816 kasus kematian. Selain di Indonesia, negara-negara tetangga juga mencatat kasus DBD yang tak kalah tinggi. Contohnya di Malaysia, kasus DBD pada 2019 tercatat 157% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Sementara di Thailand, tercatat ada 166.680 kasus DBD dari tahun 2017-2022. Di India, sejauh ini tercatat ada 30.627 kasus DBD selama tahun 2022.

Kenapa sih kasus DBD masih terus tinggi dan meningkat setiap tahunnya di negara-negara Asia? Bukankah setiap negara sudah punya program pencegahan dan pengendalian DBD masing-masing? Oleh karena itu, mari kita lihat dan bandingkan program pencegahan dan pengendalian DBD di Asia!

Pencegahan dan Pengendalian DBD di Indonesia

Di Indonesia, salah satu program paling terkenal untuk mencegah DBD adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Dua program PSN yang paling banyak dilakukan di Indonesia adalah Jumantik dan Gerakan 3M+. Jumantik (Juru Pemantauan Jentik) adalah gerakan untuk melakukan pemeriksaan, pemantauan, dan pemberantasan jentik nyamuk yang biasanya diadakan di lingkungan tempat tinggal atau di sekolah-sekolah. Biasanya kalau di sekolah-sekolah, para pelaku Jumantik ini disebut sebagai “Jumantik Cilik”.

BACA JUGA:  Bun! Ajari Ini Agar Anak Pintar Pilih Jajanan

Sementara, gerakan 3M+ adalah gerakan untuk mencegah DBD yang terdiri atas poin menguras penampungan air, menutup tempat penampungan air, mendaur ulang barang bekas, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menggunakan obat anti-nyamuk, memasang kawat kasa di jendela, rutin gotong royong membersihkan lingkungan, rutin memeriksa tempat penampungan air, meletakkan pakaian yang sudah dipakai di wadah tertutup, memberikan larvasida pada tempat penampungan air, memperbaiki saluran air yang tidak lancar, dan menanam tumbuhan pengusir nyamuk.

Untuk upaya pengendaliannya, di Indonesia sering dilakukan larvasida dan fogging. Upaya larvasida dilakukan dengan pemberian bubuk abate untuk membunuh larva-larva nyamuk. Namun, fogging dinilai kurang efektif karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak membunuh telur atau larva. Bahkan telur atau larva tersebut cenderung berisiko untuk resisten terhadap insektisida yang digunakan dalam fogging.

Pencegahan dan Pengendalian DBD di Thailand

Di Thailand, ada dua program yang difokuskan untuk pencegahan dan pengendalian DBD. Pertama yaitu kampanye “6 Steps Campaign on DHF Prevention and Control” yang fokus pada ajakan masyarakat agar secara aktif melakukan pencegahan dan pengontrolan DBD di lingkungan masing-masing. Ada enam langkah dalam kampanye ini, yaitu menutup tempat penampungan air terbuka, mengontrol pembiakan nyamuk, rutin mengganti air di vas bunga, rutin membersihkan penampungan air, menjaga kebersihan rumah, dan melakukan praktek kampanye ini secara terus-menerus.

BACA JUGA:  Hepatitis B dapat Menular dari Ibu ke Anak? Yuk, Kenali Pencegahannya

Sementara program kedua adalah thermal fogging yang dilakukan menggunakan pestisida jenis pyrethroids untuk membunuh nyamuk Aedes aegypti. Namun, ternyata thermal fogging ini menuai banyak masalah. Thermal fogging dapat membuat nyamuk Aedes aegypti bermutasi sehingga menjadi resisten terhadap pestisida yang disemprotkan. Artinya, nyamuk-nyamuk Aedes aegypti bisa saja akan tetap hidup, lho, walaupun sudah disemprotkan pestisida.

Pencegahan dan Pengendalian DBD di Malaysia

Di Malaysia, program pencegahan dan pengendalian DBD dilakukan secara terintegrasi dari program yang ditetapkan oleh pemerintah meliputi 3 komponen utama, yaitu vektor kontrol dan surveilans, partisipasi komunitas, dan pelaksanaan dari komponen tersebut. Vektor kontrol dilakukan dengan penggunaan pestisida yang bertujuan untuk mengurangi populasi nyamuk dengan melakukan fogging. Namun, beberapa jenis insektisida yang digunakan untuk fogging mengancam keberhasilan vektor kontrol karena nyamuk menjadi resisten terhadap pestisida.

Surveilans dilakukan dari rumah ke rumah untuk melakukan survei perindukan larva. Hasil dari survei tersebut digunakan untuk menentukan beberapa indikator, lho seperti House Index dan Breteau Index. Kedua indeks ini digunakan untuk menunjukkan daerah-daerah yang berisiko. Di sebagian besar negara, survei larva digunakan bukan sebagai indikator perkembangbiakan nyamuk sehingga indeks larva yang didapatkan tidak menyatakan kebenaran dan aktualisasi terkait situasi perindukan larva yang terdapat di lapangan. Dengan demikian, House Index dan Breteau Index tidak akurat sebagai indikator perkembangbiakan nyamuk.

BACA JUGA:  Mengenal Lebih Jauh Tuberkulosis (TBC)

Pencegahan dan Pengendalian DBD di India

Di India, pencegahan dan pengendalian DBD termasuk dalam program integrasi pengendalian penyakit tular vektor secara nasional, yaitu National Vector Borne Diseases Control Programme. Program pengendalian dan pencegahan DBD di India meliputi surveilans penyakit, manajemen kasus dan vektor, serta respon cepat dan tanggap terhadap outbreak. Surveilans penyakit dilakukan secara bertahap dari desa hingga skala nasional terkait kasus DBD. Manajemen kasus dan vektor dilakukan dengan melakukan identifikasi mengenai wilayah dan populasi yang berisiko. Identifikasi kasus dilakukan dengan melihat kepadatan vektor, perkembangbiakan vektor, dan kerentanan populasi. Kemudian, untuk mengendalikan outbreak dengue di India, terdapat persiapan dari segi epidemi dan juga manajemen media. Manajemen vektor di India dilakukan dengan menyemprotkan insektisida untuk mengurangi perindukan larva, tetapi nyamuk Aedes akan tetap hidup karena resisten terhadap pestisida.

Jadi, Program Mana yang Paling Efektif?

Dari empat negara yang telah disebutkan, bisa kita lihat kalau setiap negara it
u selalu punya program fogging untuk mengatasi DBD. Namun ternyata, fogging tidak terlalu efektif karena dapat membuat nyamuk menjadi resisten dan berbahaya juga bagi manusia dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, program untuk mengatasi DBD yang paling efektif adalah melalui tindakan pencegahan DBD, karena seperti kata pepatah, mencegah itu lebih baik daripada mengobati.

Erika dan Maria Marchella Purwaningtyas
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.

Pos terkait