Kasus KDRT Terjadi karena Perempuan Lemah?

Kasus KDRT Terjadi karena Perempuan Lemah?

 

Kekerasan terutama kekerasan dalam rumah tangga merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan merupakan bentuk diskriminasi. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah tindakan kekerasan terhadap seseorang, yang mengakibatkan timbulnya kesengsaraan bahkan penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran dalam rumah tangga. Kekerasan dalam bentuk dan alasan apapun merupakan perilaku yang tidak dapat dibenarkan, dan Islam melarang hal tersebut.

Larangan Melakukan KDRT dalam Islam

Dalam ajaran hukum Islam, melakukan kekerasan terhadap salah seorang pasangan suami istri dan anak dalam sebuah keluarga merupakan tindakan tercela. Angka korban kekerasan dalam rumah tangga paling banyak di dominasi oleh kaum perempuan. Tindakan pelaku KDRT, terutama dari kalangan suami seringkali mengutip literatur Islam sebagai pembenaran seseorang melakukan kekerasan fisik terhadap istrinya dengan alasan memberi pelajaran apabila isteri membangkang (nusyuz). Misalnya, surat An-Nisa ayat 34:

Artinya :
“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar”

Secara bathiniyah, Islam adalah agama keadilan dan anti kekerasan. Paling tidak, pesan demikian yang terlihat dalam rumusan-rumusan para ulama mengenai tujuan mengapa agama diturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia (maqashid al syariah). Dalam Islam, kekerasan psikis dalam rumah tangga lebih dikenal dengan istilah adhal. Secara bahasa, adhal berarti menekan, memaksa, mempersempit, membuat sakit hati, mencegah, melarang atau menghalang-halangi kehendak orang lain. Disebutkan dalam Qur’an Surat al-Thalaq ayat 6:

BACA JUGA:  Pornografi Mempengaruhi Kecerdasan Inteligensi

Artinya :
“Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. Dan jika mereka (istri-istri yang sudah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya sampai mereka melahirkan, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu maka berikanlah imbalannya kepada mereka; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan, maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya”

Bentuk kekerasan dalam KDRT bermacam-macam diantaranya adalah: fisik, seksual, psikologis, dan penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga. Sementara bentuk kekerasan yang paling besar adalah kekerasan dalam bentuk fisik dan seksual. Hal ini berbeda dari tahun sebelumnya yang menemukan bentuk kekerasan yang terbesar adalah fisik dan psikis. Kekerasan dalam bentuk pemerkosaan sebanyak 72% (2.399 kasus), dalam bentuk pencabulan sebanyak 18% (601 kasus), dan pelecehan seksual 5% (166 kasus). Data tersebut menunjukkan bahwa mayoritas korban-korban kekerasan dalam lingkup personal (domestik/rumah tangga) adalah perempuan. Tidak dipungkiri bahwa perempuan tergolong menjadi kelompok rentan terhadap kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga.

BACA JUGA:  Artikel Pendidikan Antikorupsi bagi Generasi Penerus Bangsa Dalam Lembaga Pendidikan

Wujud lain dari kekerasan dalam rumah tangga salah satunya adalah melarang istri bekerja diluar rumah untuk menambah penghasilan ekonomi rumah tangga atau untuk menutupi kekurangan ekonomi rumah tangga. Seorang suami kadang sengaja melarang istrinya bekerja di luar rumah agar istrinya secara ekonomi bergantung pada dirinya. Kalau istri sudah bergantung secara ekonomi kepada suami, maka istri tidak akan berani berbuat macam-macam.

Penyebab terjadinya KDRT

Beberapa faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, diantaranya faktor individu seperti korban penelantaran anak, penyimpangan psikologis, penyalahgunaan alkohol, faktor keluarga seperti pola pengasuhan yang buruk, konflik dalam pernikahan, kekerasan pada pasangan, rendahnya status sosial ekonomi, keterlibatan orang lain dalam masalah kekerasan, faktor komunitas seperti kemiskinan, angka kriminalitas tinggi, banyaknya pengangguran, dan faktor lingkungan sosial seperti perubahan lingkungan sosial yang cepat, kesenjangan ekonomi, kesenjangan gender, kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, budaya yang mendukung kekerasan, masa konflik atau pasca konflik.

BACA JUGA:  Pentingnya Menciptakan Komunikasi Positif dalam Keluarga

Tingginya angka KDRT memberikan dampak buruk bagi kesehatan korban. Dampak tersebut meliputi rasa takut, cemas, stress post traumatic, serta gangguan pada kegiatan sehari-hari seperti makan dan tidur yang merupakan reaksi jangka panjang dari tindak KDRT. Pada perempuan yang mengalami KDRT menyebabkan terganggunya kesehatan reproduksi, bahkan wanita tersebut dapat mengalami menopause lebih awal. Juga tindak KDRT dapat menimbulkan trauma berkepanjangan dimana para korbannya akan sulit untuk melupakan rasa takut terhadap tindak kekerasan yang dialami.

Padahal, KDRT dalam islam sangat tidak diperbolehkan. Apalagi, perempuan memiliki sifat sensitif. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya perempuan diciptakan dari tulang rusuk, dia tidak bisa lurus untukmu di atas satu jalan. Bila engkau ingin bernikmat-nikmat dengannya maka engkau bisa bernikmat-nikmat dengannya namun padanya ada kebengkokan. Jika engkau memaksa untuk meluruskannya, engkau akan memecahkannya. Dan pecahnya adalah talaknya.” (HR. Muslim).

Nisrina Shafa Hafsarah, Adinda Mutiara Khansa, Alfie Azhari Ifenta

Pos terkait