Kasus Korupsi BTS Kominfo, Kejagung Terima Pengembalian Uang Rp1,6 M

JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) menerima pengembalian uang senilai Rp 1,6 miliar dalam kasus korupsi penyediaan infrastruktur base transceiver station (BTS) 4G dan infrastruktur pendukung paket 1, 2, 3, 4, dan 5 Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) 2020-2022.

Direktur Penyidikan (Dirdik) Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Kuntadi mengatakan, uang tersebut diserahkan oleh beberapa anggota kelompok kerja (Pokja) dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek penyedia infrastruktur BTS 4G. Nilai yang dikembalikan oleh anggota Pokja dan PPK kepada Kejagung totalnya Rp600 miliar.

BACA JUGA:  Bupati Meranti Suap Auditor BPK Agar Dapat WTP

“Beberapa anggota Pokja sudah menyerahkan uang. Dari PPK mau menyerahkan rumah, mobil, dan motor. Total uang yang sudah diserahkan ada Rp600 juta,” kata Kuntadi di kantornya, Kamis (9/2/2023).

Dia menambahkan, mereka mengembalikan uang dan harta benda tersebut karena mengetahui dalam proses pelelangan terjadi terjadi pelanggaran. Mereka mengetahui bahwa proses tender dalam kasus tersebut ada yang tidak sesuai.

BACA JUGA:  Lapas Pancur Batu Laksanakan Penggeledahan Rutin Kamar Hunian WBP untuk Menjaga Keamanan dan Ketertiban

“Ya ada permainan lah. Mereka sudah menyadari bahwa selama pelaksanaan pelelangan dia terima uang,” jelasnya.

Selanjutnya Kuntadi mengatakan, karena anggota Pokja menyadari dalam pelaksanaan menerima yang bukan haknya mereka mengembalikan uang tersebut.

“Kesadaran mereka bahwa memang dalam pelaksanaan pekerjaan mereka seharusnya kan tidak boleh menerima apapun,” jelasnya.

BACA JUGA:  Diduga Masuk Angin, Oknum Polisi Kombes Pol Yulius Bambang Yang Terlibat Narkoba Hanya Divonis 1 Tahun 6 Bulan Oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara

Dia menambahkan, jika digabung uang pengembalian oleh Pokja, PPK dan ahli Human Development (HUDEV) Universitas Indonesia Tahun 2020 berinisial YS yang mengembalikan uang senilai Rp1 miliar. Saat ini, total yang dikembalikan mencapai Rp1,6 miliar.

“Totalnya Rp1,6 miliar. Ini kan kasus besar yah. Kita lebih fokus pada otaknya,” pungkas Kuntadi.

Pos terkait