Katakteristik dan Pola Asuh Anak pada Keluarga Sakinah

Katakteristik dan Pola Asuh Anak pada Keluarga Sakinah

 

Pada dasarnya, perkawinan ialah suatu ikatan perjanjian yang sangat kuat yang dilakukan oleh pasangan suami istri dengan niat untuk mematuhi perintah Allah SWT. Dalam kehidupan, membangun keluarga itu mudah, tetapi menjaga, membina, dan mampu menciptakan keluarga untuk sampai pada taraf sakinah sebagaimana yang diinginkan setiap pasangan suami istri yang telah menikah bukanlah perkara yang mudah. Selain itu, adapun pengertian dari keluarga menurut konsep Islam, yaitu satu kesatuan hubungan seorang pria dan seorang wanita dengan adanya akad nikah menurut ajaran Islam. Dengan adanya ikatan akad di suatu pernikahan tersebut, bertujuan agar anak dan keturunan yang dihasilkan menjadi sah secara hukum agama (Aunur Rahim Faqih, 2001:70).

Umumnya, setiap pasangan yang sudah menikah akan berusaha untuk mewujudkan pernikahannya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Karena hal tersebut adalah tujuan dari dilaksanakannya pernikahan berdasarkan syariat Islam. Agar tercipta keluarga sampai pada taraf sakinah tentu membutuhkan usaha keras, konsisten, serta terus berkesinambungan. Selain itu, kesakinahan dalam rumah tangga dapat terwujud apabila kebutuhan setiap individu dalam keluarga dapat terpenuhi, baik dari segi ekonomi, relasi pasangan, spiritual, dan pendidikan. Apabila salah satu kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi dengan baik maka berakibat akan timbul banyak permasalahan rumah tangga, hingga berakhir pada perceraian.

Pengertian Keluarga Sakinah

Menurut KBBI, arti dari sakinah adalah kedamaian, ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan. Oleh karena itu, sakinah adalah keluarga yang tenang, tentram, dan memuaskan hati. Makna keluarga sakinah sendiri telah dijelaskan pada surat ar-Rum ayat 21, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum ayat 21).

Menurut pandangan Barat, keluarga bahagia atau keluarga sejahtera adalah keluarga yang memiliki dan mampu menikmati segala kemewahan secara material. Anggota keluarga tersebut mempunyai kesehatan yang baik agar memungkinkan mereka menikmati limpahan kekayaan secara material tersebut. Untuk mencapai tujuan ini, seluruh perhatian, tenaga dan waktu yang ditumpukan kepada usaha untuk merealisasikan pencapaian kemewahan kebendaan yang dianggap sebagai kebutuhan pokok dan persyaratan untuk kesejahteraan (Dr. Hasan Hj. Mohd Ali, 1993: 15).

Tetapi, pandangan yang dinyatakan oleh Barat berbeda dengan keluarga sakinah yang diterapkan oleh Islam. Asas pada kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga di Islam ada pada ketaqwaan kepada Allah SWT (Dr. Hasan Hj. Mohd Ali, 1993: 15). Menurut Islam, keluarga sakinah adalah keluarga yang mendapatkan ridho Allah SWT. Keridhoan Allah SWT telah dijelaskan pada surat Al-Bayyinah ayat 8 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

BACA JUGA:  7 Pondasi Bisnis Online yang Harus Dipahami

Artinya: “… Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah ayat 8).

Maka dari itu, keluarga sakinah adalah kondisi dimana sebuah keluarga yang sangat ideal yang terbentuk sesuai dengan landasan Al-Quran dan Sunnah, yang bertujuan untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Benda dan harta bukanlah tolak ukur terbentuknya keluarga sakinah sebagaimana yang sudah dinyatakan oleh negara Barat.

Dalam mewujudkan rumah tangga yang sakinah sesuai dengan tujuan pernikahan, harus ada keseimbangan pembagian tugas dalam keluarga. Bukan hanya itu, dijelaskan dalam teori psikologi keluarga Islam bahwa, dasar dan sendi dalam menciptakan keluarga yang sakinah adalah dengan adanya semua anggota keluarga yang saling menjaga relasi keluarga yakni dengan sering berinteraksi, berkomunikasi dengan baik, serta saling memahami satu sama lain dalam keluarga. Dan terpenuhinya aspek infrastruktur (sandang, pangan, dan papan), dengan stabilnya ekonomi dapat menentukan kebahagiaan dan keharmonisan keluarga.

Ciri-ciri Keluarga Sakinah

Pada dasarnya, keluarga sakinah sendiri tidak bisa diukur karena ini merupakan salah satu perkara yang abstrak dan hanya bisa ditentukan oleh pasangan yang sudah berumah tangga. Namun, ada beberapa ciri-ciri dari keluarga sakinah, yaitu:

Rumah Tangga Didirikan dengan Landasan Al-Quran dan Sunnah.
Akar terpenting dalam membentuk suatu keluarga sakinah adalah rumah tangga yang dibina atas landasan taqwa, yang dipadukan dengan Al-Quran dan Sunnah, tidak hanya atas dasar rasa cinta saja. Ini merupakan panduan kepada suami dan istri yang sekiranya akan menghadapi berbagai permasalahan yang akan datang di kehidupan rumah tangga nantinya.

Dijelaskan pada Surat An-Nisa’ ayat 59, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’ ayat 59).

BACA JUGA:  Dijamin Awet dan Tahan Lama, Ini Tips Merawat AC yang Perlu Anda Tahu

Rumah Tangga Berasaskan Kasih Sayang (Mawaddah Warahmah)

Tanpa adanya ‘al-Mawaddah’ dan ‘al-Rahmah’, masyarakat tidak akan bisa mendapatkan hidup yang tenang dan aman terutama dalam kekeluargaan. Dua hal ini sangat diperlukan karena sifat kasih sayang yang diwujudkan dalam sebuah rumah tangga yang dapat menghasilkan sebuah keluarga yang saling  menghormati, saling percaya, tolong-menolong dan bahagia. Tanpa adanya rasa kasih sayang, perkawinan akan dengan mudahnya hancur, dan kebahagiaan hanya menjadi sebuah angan-angan saja.

Mengetahui Peraturan dalam Berumah Tangga

Di setiap keluarga pasti memiliki peraturan yang wajib dipatuhi oleh setiap anggota keluarganya, di mana istri wajib taat kepada suami dengan cara tidak keluar rumah tanpa seizin, tidak menyanggah pendapat dari suami meskipun sang istri merasakan dirinya benar tetapi selama suami tidak melanggar syariat, dan tidak menceritakan rahasia yang ada di dalam rumah tangga kepada orang lain. Seorang anak juga wajib untuk taat kepada kedua orang tuanya, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan ajaran Allah SWT.
Tugas suami sebagai kepala keluarga adalah untuk memastikan setiap anggota keluarganya mematuhi peraturan yang ada dan menjalankan perannya masing-masing dalam keluarga agar keluarga sakinah dapat terbentuk. Dijelaskan pada surat An-Nisa’ ayat 34, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

Artinya: “Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. An-Nisa’ ayat 34) .

Menghormati dan Mengasihi Kedua Orang Tua

Dalam pernikahan tidak hanya menjadi penghubung antara kehidupan dua orang, tetapi juga saling mempengaruhi seluruh kehidupan dari keluarga pasangan tersebut, terutama hubungan antara orang tua dari pasangan tersebut. Maka dari itu, pasangan yang akan membina suatu keluarga yang sakinah tidak akan mengabaikan orang tua dalam masalah pemilihan jodoh, terutama pada anak laki-laki. Karena, anak laki-laki sangat membutuhkan restu dari kedua orang tua-nya, karena setelah terjadinya suatu pernikahan orang tua dari anak laki-laki tersebut masih menjadi tanggung jawab anak laki-lakinya.

BACA JUGA:  Berani Mengambil Tindakan: Kunci Sukses untuk Mencapai Mimpi dan Tujuan

Menjaga Hubungan antar Kerabat dan Ipar

Tujuan perkawinan salah satunya adalah untuk menyambungkan hubungan antara kedua belah pihak, termasuk kepada saudara ipar dan juga kerabat dekat dari kedua belah pihak. Karena, ketika terjadinya kerenggangan hubungan pada kerabat dan ipar akan muncul masalah, salah satunya adalah perceraian.

Pengasuhan Anak Dalam Keluarga Sakinah

Islam menempatkan tanggung jawab membesarkan anak sepenuhnya di pundak orang tuanya. Pendidikan dan pengasuhan anak hukumnya wajib, sama seperti kewajiban orang tua harus memastikan bahwa anak mereka dapat memperoleh penghidupan yang layak. Semua ini harus dilaksanakan demi keberlangsungan dan kesejahteraan hidup sang anak. Syariat Islam, dalam hubungannya dengan hak anak untuk mendapatkan pengasuhan dan perawatan, menuntut agar setiap orang yang berkewajiban memenuhi tugas ini dapat melakukannya dengan ikhlas, hal ini merupakan tanggung jawab yang dibebankan kepada kedua orang tua.

Artinya: “Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS. Qiyamah ayat 36)

Seorang anak sejak lahir ke dunia sampai pada umur tertentu memerlukan orang lain untuk membantunya dalam kehidupan, seperti makan, pakaian, membersihkan diri, bahkan sampai kepada kebiasaan bangun dan tidur. Karena itu, orang yang menjaganya terutama kedua orang tua perlu mempunyai rasa kasih sayang, kesabaran, dan memiliki keinginan agar anak itu menjadi anak yang shaleh di kemudian hari. Mereka harus mempunyai waktu yang cukup untuk melakukan tugas itu, karena ini merupakan tugas seumur hidup bagi para orang tua.

Berkaitan dengan nafkah keluarga, beberapa pasangan suami istri memilih untuk bekerja, tidak memandang laki-laki maupun perempuan, Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan tertentu, baik pekerjaan di rumah maupun di luar. Jika merujuk kepada hadis Nabi, dalam praktik kehidupan zaman Nabi SAW sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hall tersebut dapat kita lihat dalam sebuah profil keluarga yang sama-sama memiliki profesi dalam pekerjaan dan di sisi lain yang memiliki kewajiban untuk pengasuhan terhadap anaknya sendiri. Fenomena tersebut menuntut pasangan untuk memperhatikan perkembangan anak meskipun dalam kenyataannya ada profesi lain yang melekat pada diri mereka.

Oleh:

Irma Mulya Salsabilla & Husnah Adawiyah
Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA

Pos terkait