<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Oase Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<atom:link href="https://majalahjakarta.id/kategori/oase/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://majalahjakarta.id/kategori/oase/</link>
	<description>Portal Berita Jakarta dan Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 06 Apr 2026 03:03:30 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2025/08/MJ-100x100.jpg</url>
	<title>Oase Arsip - MAJALAH JAKARTA</title>
	<link>https://majalahjakarta.id/kategori/oase/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 06 Apr 2026 03:03:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[jurnalis]]></category>
		<category><![CDATA[Subuh]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=93190</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir Di tengah dunia jurnalistik yang bergerak cepat, gaduh, kompetitif, dan sering kali melelahkan nurani, seorang jurnalis...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/">Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>Di tengah dunia jurnalistik yang bergerak cepat, gaduh, kompetitif, dan sering kali melelahkan nurani, seorang jurnalis mukmin tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis, kecakapan membaca fakta, dan keberanian menyuarakan kebenaran. Ia membutuhkan operating system ruhani yang mengatur ritme hidupnya, menjaga arah batinnya, dan menegakkan niat perjuangannya.</p>
<p>Ayat yang menjadi fondasi bagi sistem hidup itu adalah firman Allah dalam QS Al-Isrā’: 78:</p>
<p>أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِدُلُوكِ ٱلشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ ٱلَّيْلِ وَقُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْءَانَ ٱلْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا</p>
<p>“<em>Tegakkanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelap malam dan (tegakkan pula) Qur&#8217;an al-Fajr. Sungguh, Qur’an al-Fajr itu disaksikan.</em>”</p>
<p>Ayat ini secara global memerintahkan penegakan shalat pada rentang waktu siang hingga malam, lalu secara khusus menonjolkan Qur’an al-Fajr, yaitu bacaan pada shalat Subuh, karena ia disaksikan.</p>
<p>Dalam susunan ayat ini, Subuh bukan sekadar salah satu waktu shalat. Ia diletakkan dalam cahaya penegasan, diberi sorotan khusus. Seakan-akan Allah sedang menunjukkan kepada hamba-Nya: di sinilah salah satu tanda paling jujur tentang keadaan ruhani seseorang.</p>
<p>Pada analisis lafaz, para mufasir mayoritas memahami Qur’ān al-Fajr sebagai shalat Subuh karena unsur yang paling menonjol di dalamnya adalah qirā’ah (bacaan Al-Qur’an). Kata al-fajr menunjuk kepada saat merekahnya cahaya setelah kegelapan malam.</p>
<p>Ini bukan hanya penanda waktu, tetapi simbol perubahan besar: dari gelap menuju terang, dari diam menuju gerak, dari tidur menuju tugas. Sementara itu, masyhūdan berarti “disaksikan”, yang dipahami sebagai disaksikan oleh malaikat malam dan malaikat siang. Maka, Subuh adalah ibadah yang berdiri di perbatasan dua alam tugas; seakan langit sendiri menaruh perhatian istimewa terhadap siapa yang bangkit menjawab panggilan Rabb-nya.</p>
<p>Inti tafsir ayat ini sangat kuat. Ini adalah salah satu ayat paling tegas tentang keistimewaan Subuh.</p>
<p>Semua shalat adalah agung, tetapi Subuh diberi penekanan khusus karena tiga hal: berada di titik transisi malam ke siang, menuntut pengorbanan lebih besar, dan disaksikan secara khusus. Dengan kata lain, Subuh adalah ibadah yang tidak mudah dipalsukan. Banyak amal lahir dapat dipertontonkan, tetapi bangun di saat tubuh meminta rebah adalah ujian kejujuran yang sunyi. Karena itu, pesan utama ayat ini sangat relevan untuk gerakan dakwah jurnalistik: Subuh adalah shalat yang bersaksi atas hidup ruhani seseorang.</p>
<p>Bagi seorang jurnalis mukmin, hidup bukan hanya soal mengejar berita tercepat, tetapi menjaga hati agar tidak kehilangan cahaya saat menatap realitas yang gelap. Ia setiap hari berhadapan dengan propaganda, manipulasi, kebisingan opini, dan godaan untuk menukar amanah dengan popularitas. Dalam situasi seperti itu, Subuh bukan sekadar ritual personal, melainkan pusat kalibrasi jiwa. Ia membersihkan batin sebelum seseorang memasuki gelanggang informasi, menata niat sebelum pena bergerak, dan meluruskan arah sebelum lisan dan tulisan menjangkau publik.</p>
<p>Tadabbur kontekstual ayat ini sangat tajam: Subuh memisahkan dua jenis manusia, yaitu mereka yang hidup dipimpin syahwat tidurnya dan mereka yang hidup dipimpin panggilan Rabb-nya. Inilah garis pembeda yang halus namun menentukan. Jurnalis yang dikendalikan hawa nafsu akan mudah reaktif, larut dalam sensasi, terpancing emosi massa, dan mengorbankan akurasi demi gema.</p>
<h3>Operating System</h3>
<p>Sebaliknya, jurnalis yang menjaga Subuh sedang membangun empat fondasi besar: disiplin, kejernihan batin, daya tahan jiwa, dan arah hidup yang tidak reaktif. Ia tidak memulai hari dari kegaduhan notifikasi, tetapi dari perjumpaan dengan Allah; tidak membuka pagi dengan kemarahan publik, tetapi dengan ayat-ayat yang disaksikan malaikat.</p>
<p>Di sinilah Subuh berubah menjadi operating system kehidupan seorang jurnalis mukmin. Disiplin bangun sebelum fajar melahirkan disiplin memverifikasi fakta. Kejernihan batin dalam qiyam dan tilawah melahirkan kejernihan dalam membaca peristiwa. Daya tahan jiwa yang dibangun dengan melawan kantuk melahirkan keteguhan saat menghadapi tekanan. Arah hidup yang tidak reaktif membuatnya menulis bukan sekadar untuk merespons arus, tetapi untuk memimpin kesadaran umat.</p>
<p>Ibnul Qayyim memberikan isyarat yang sangat dalam: “Barang siapa memperbaiki batinnya, Allah akan memperbaiki lahiriahnya.” Kalimat ini sangat layak menjadi prinsip kerja jurnalistik Islam. Sebab, kerusakan banyak media berawal bukan dari lemahnya teknologi, melainkan dari rapuhnya batin. Ketika batin rusak, fakta dijual. Ketika hati gelap, berita dijadikan senjata syahwat, bukan alat penerang umat.</p>
<p>Maka, membangun redaksi yang bersih harus dimulai dari membangun jiwa yang bersih, dan salah satu pintu paling agung ke arah itu adalah Subuh.<br />
Ibnul Jauzi mengingatkan bahwa waktu adalah modal paling mahal manusia, dan orang yang lalai akan kehilangan hidupnya sedikit demi sedikit tanpa merasa.</p>
<p>Dalam semangat itu, Subuh adalah deklarasi bahwa seorang mukmin tidak menyerahkan pagi pertamanya kepada kelalaian. Ia merebut awal harinya untuk Allah. Bukankah peradaban besar selalu dimulai oleh orang-orang yang bangun lebih awal daripada kebanyakan manusia? Bukankah kebangkitan umat juga dimulai ketika ada generasi yang memuliakan pagi, bukan menodainya dengan kelambanan?</p>
<p>Al-Ghazali mengajarkan bahwa hati itu seperti cermin; bila terus tertutup karat, ia tidak lagi mampu memantulkan kebenaran. Seorang jurnalis mukmin sangat membutuhkan hati yang bening, sebab ia bekerja di wilayah persepsi, makna, dan arah publik. Jika cerminnya kusam, ia akan melihat fakta dengan kabut kepentingan. Namun, jika ia merawat ruhnya—terutama di waktu Subuh—jiwanya menjadi lebih peka membedakan antara informasi yang mencerahkan dan narasi yang menyesatkan.</p>
<p>Abdullah bin Al-Mubarak, ulama mujahid yang juga saudagar, zahid, dan pencinta ilmu, memberi teladan penting bahwa amal besar dibangun dengan disiplin pribadi yang kokoh. Dari kehidupan para salaf, kita belajar: kemenangan di ruang publik selalu didahului kemenangan atas diri sendiri. Tidak ada futuhat bagi orang yang kalah setiap pagi oleh kasurnya sendiri.</p>
<p>Ada sebuah kisah hikmah yang patut direnungkan. Sebagian ulama salaf menangis ketika tertinggal takbiratul ihram dan merasa musibah itu lebih berat daripada kehilangan urusan dunia. Mengapa? Karena mereka tahu bahwa ukuran kekuatan ruhani seseorang sering tampak pada hal-hal yang orang lain anggap kecil. Dalam dunia dakwah jurnalistik hari ini, banyak orang ingin memengaruhi umat, tetapi sedikit yang rela menertibkan dirinya pada waktu fajar. Padahal, pengaruh tanpa kebeningan hanya akan menjadi kebisingan baru.</p>
<p>Predictive tadabbur ayat ini sangat penting untuk gerakan. Bila sebuah keluarga menjaga Subuh, sangat mungkin akan lahir ritme hidup yang lebih tertib, ruh ibadah yang lebih kuat, akhlak yang lebih terjaga, dan keputusan hidup yang lebih jernih. Jika sebuah umat kehilangan Subuh, umat itu biasanya kehilangan kesiapan, kesadaran, disiplin, dan kemampuan memulai peradaban dari pagi hari.<br />
Maka, dalam konteks jurnalistik dakwah, jika para jurnalis, editor, penulis, host, dan pemimpin media Islam menjaga Subuh secara berjamaah—dalam makna ruhani dan disiplin hidup—sangat mungkin akan lahir ekosistem media yang lebih tenang, jujur, akurat, dan visioner.</p>
<p>Karena itu, tema seri pertama Buletin Editorial Dakwah ini ditegaskan: “Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin.” Integritas bukan hanya soal tidak berbohong kepada manusia, tetapi terlebih dahulu tidak berkhianat kepada panggilan Allah yang paling awal setiap hari. Siapa yang menjaga Subuh, ia sedang belajar menjaga amanah. Siapa yang memuliakan fajar, ia sedang menyiapkan dirinya menjadi penjaga cahaya di tengah gelapnya zaman.</p>
<p>Seorang jurnalis mukmin harus mampu berkata kepada dirinya setiap pagi: sebelum aku menulis untuk manusia, aku harus lebih dulu berdiri di hadapan Tuhanku. Sebelum aku menuntut dunia mendengar suaraku, aku harus memastikan hatiku lebih dahulu mendengar panggilan-Nya. Sebelum aku menjadi saksi atas zaman, aku harus memastikan bahwa shalat Subuhku masih menjadi saksi atas hidup ruhaniku.</p>
<p>Itulah fondasi pertama. Itulah sistem operasi awal. Itulah titik berangkat seorang jurnalis mukmin dalam gerakan dakwah jurnalismenya: bukan dari layar, bukan dari ruang redaksi, bukan dari hiruk-pikuk dunia, tetapi dari fajar yang disaksikan—dari ayat yang hidup, dari sujud yang melahirkan keberanian, dari Subuh yang menata peradaban.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/">Subuh, Titik Lahirnya Integritas Jurnalis Mukmin</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/subuh-titik-lahirnya-integritas-jurnalis-mukmin/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/ikpmturki.org/wp-content/uploads/2022/04/3107415650.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2026 22:30:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Bachtiar Natsir]]></category>
		<category><![CDATA[UBN]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=92717</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir Mari kita jujur pada diri sendiri, mengapa semangat takwa dan silaturahim sering hanya terasa hangat saat...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/">Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>Mari kita jujur pada diri sendiri, mengapa semangat takwa dan silaturahim sering hanya terasa hangat saat Ramadan dan Syawal? Setelah itu, perlahan memudar, bahkan hilang tanpa terasa. Padahal, takwa bukan ibadah musiman, dan silaturahim bukan tradisi tahunan.</p>
<p>Takwa adalah bukti cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia seharusnya hidup dalam setiap keputusan, ucapan, dan sikap kita. Allah berfirman:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ</p>
<p>“<em>Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya</em>.” (QS Ali Imran: 102)</p>
<p>Jika takwa benar-benar tertanam, ia akan melahirkan akhlak yang konsisten, termasuk dalam menjaga hubungan dengan sesama manusia.</p>
<p>Begitu pula dengan silaturahim. Ia bukan sekadar ritual maaf-maafan saat Idulfitri atau ajang kumpul keluarga setahun sekali. Silaturahim adalah komitmen jangka panjang untuk tetap terhubung, peduli, dan hadir dalam kehidupan orang-orang terdekat kita, bahkan ketika tidak ada momen besar.</p>
<p>Al-Qur’an menegaskan bahwa menjaga hubungan keluarga adalah bagian dari ketakwaan:</p>
<p>وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ</p>
<p>“<em>Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan peliharalah hubungan kekeluargaan</em>…” (QS An-Nisa: 1)</p>
<p>Bahkan, Allah memperingatkan keras bagi mereka yang merusak hubungan tersebut.</p>
<p>فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِن تَوَلَّيْتُمْ أَن تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ</p>
<p>“<em>Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?</em>” (QS Muhammad: 22)</p>
<p>Ironisnya, banyak orang begitu hangat saat Syawal, tetapi kembali dingin setelahnya. Grup WhatsApp keluarga kembali sepi, pesan tak lagi dibalas, dan kabar kerabat sering terlewat. Silaturahim akhirnya hanya menjadi formalitas, bukan kebutuhan ruhani.</p>
<p>Padahal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan janji yang sangat nyata.</p>
<p>مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ</p>
<p>“<em>Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim</em>.” (HR Bukhari dan Muslim)*</p>
<p>Artinya, silaturahim bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menghadirkan keberkahan nyata dalam hidup.</p>
<p>Lebih dalam lagi, dalam hadis qudsi Allah berfirman:</p>
<p>أَنَا الرَّحْمَنُ، وَهِيَ الرَّحِمُ، شَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنِ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ</p>
<p>“<em>Aku adalah Ar-Rahman, dan rahim (kekerabatan) Aku ciptakan dari nama-Ku. Barang siapa menyambungnya, Aku akan menyambungnya. Barang siapa memutuskannya, Aku akan memutusnya</em>.” (HR Bukhari)*</p>
<p>Namun tantangan terbesar justru muncul ketika hubungan tidak berjalan baik. Tidak semua keluarga hangat, tidak semua kerabat membalas kebaikan. Di sinilah kualitas iman diuji.</p>
<p>Rasulullah menegaskan:</p>
<p>لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا</p>
<p>“<em>Bukanlah orang yang menyambung silaturahim itu yang sekadar membalas, tetapi yang tetap menyambung ketika diputuskan</em>.” (HR Bukhari)*</p>
<p>Bahkan ketika kita diperlakukan buruk, Rasulullah tetap memberi kabar gembira:</p>
<p>لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ</p>
<p>“<em>Jika engkau seperti yang engkau katakan, maka seakan-akan engkau menaburkan abu panas ke wajah mereka</em>…” *(HR Muslim)*</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa menjaga silaturahim bukan soal perasaan, tetapi pilihan iman.</p>
<p>Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq juga menjadi pelajaran besar. Meski disakiti oleh kerabatnya, ia tetap memaafkan dan membantu. Sikap ini sejalan dengan firman Allah:</p>
<p>وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ</p>
<p>“<em>Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu</em>?” (QS An-Nur: 22)</p>
<h3>Konsistensi</h3>
<p>Hari ini, menjaga silaturahim sebenarnya tidak sulit. Tidak harus dengan pertemuan besar. Cukup dengan pesan singkat, telepon, atau sekadar menanyakan kabar.</p>
<p>Yang sulit bukan caranya, tetapi konsistensinya.</p>
<p>Karena itu, jangan jadikan silaturahim sebagai agenda musiman. Jadikan ia sebagai bagian dari hidup. Jangan menunggu momen, tapi ciptakan momen.</p>
<p>Jika kita ingin hidup lebih berkah, hati lebih tenang, dan hubungan lebih hangat, maka rawatlah silaturahim. Bahkan ketika tidak ada alasan dunia untuk melakukannya.</p>
<p>Sebab pada akhirnya, yang dinilai bukan seberapa sering kita bertemu, tetapi seberapa tulus kita menjaga hubungan karena Allah. _Wallahu a’lam bish shawab_.**</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/">Idulfitri Usai, Silaturahim Ikut Selesai?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/idulfitri-usai-silaturahim-ikut-selesai/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ustadz-bachtiar-nasir-_121019211040-512.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>UBN Perkenalkan I’tikaf Strategic Camp 2026, Integrasikan Ibadah dan Strategi Peradaban</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Mar 2026 07:57:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=92648</guid>

					<description><![CDATA[<p>JAKARTA — Ulama nasional Ustaz Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN memperkenalkan program I’tikaf Strategic Camp 2026 sebagai pendekatan baru...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban/">UBN Perkenalkan I’tikaf Strategic Camp 2026, Integrasikan Ibadah dan Strategi Peradaban</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><strong>JAKARTA</strong> — Ulama nasional Ustaz Bachtiar Nasir yang akrab disapa UBN memperkenalkan program I’tikaf Strategic Camp 2026 sebagai pendekatan baru dalam pelaksanaan i’tikaf. Kegiatan ini berlangsung pada 11–18 Maret 2026 (Ramadhan 1447 H) di Aula Masjid Baitul Maqdis Indonesia, Tebet Utara, Jakarta Selatan.</p>
<p>Sebanyak 100 peserta dari kalangan aktivis dakwah, baik ikhwan maupun akhwat, mengikuti program ini. Tidak hanya berfokus pada ibadah ritual, I’tikaf Strategic Camp dirancang sebagai ruang pembinaan intensif yang mengintegrasikan dimensi spiritual dan strategi peradaban.</p>
<p>“I’tikaf bukan sekadar uzlah atau pengasingan diri, tetapi momentum untuk menyiapkan diri menghadirkan perubahan berbasis nilai wahyu,” ujar UBN dalam salah satu sesi pembukaan.</p>
<p>Selama program berlangsung, peserta menjalani qiyamul lail pada malam hari, sementara siang diisi dengan pelatihan kepemimpinan, kajian sirah, dan pembentukan pola pikir strategis. Konsep ini dirumuskan dalam pendekatan “Masjid sebagai Laboratorium Peradaban”.</p>
<p>Program ini disusun dalam tiga pilar utama. Pertama, ruhiyah intensif, meliputi qiyamul lail berjamaah, tilawah dan tadabbur tematik, dzikir, muhasabah harian, hingga simulasi i’tikaf 10 malam terakhir.</p>
<p>Kedua, fikrah strategis, dengan mengkaji empat peristiwa penting dalam sejarah Islam sebagai kerangka pembelajaran.</p>
<p>“Badar bukan cerita masa lalu, tetapi template kemenangan,” menjadi salah satu penekanan dalam materi.</p>
<p>Selain itu, peserta juga mempelajari Spirit Bai’at Ridwan tentang loyalitas, Spirit Hudaibiyah terkait strategi jangka panjang, serta Spirit Fathu Makkah yang menekankan etika kemenangan tanpa balas dendam.</p>
<p>Ketiga, harakah atau pembangunan gerakan, melalui simulasi pembentukan tim dakwah, penyusunan roadmap, hingga penguatan visi global, termasuk isu pembebasan Baitul Maqdis.</p>
<p>Berbeda dari pola ceramah konvensional, program ini menggunakan pendekatan partisipatif berbasis experiential learning.</p>
<p>Peserta tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi juga mensimulasikan situasi krisis, pengambilan keputusan cepat, serta menghadapi tekanan eksternal.</p>
<p>Melalui metode tadabbur tematik-strategis, ayat Al-Qur’an dijadikan kerangka kepemimpinan dan blueprint organisasi.</p>
<p>Sementara dalam group strategic lab, peserta menyusun program dakwah dan solusi konkret atas persoalan umat.</p>
<p>Program ini diarahkan untuk membentuk kader dengan orientasi peradaban jangka panjang.</p>
<p>Konsep pembebasan Baitul Maqdis yang diangkat tidak hanya dimaknai secara fisik, tetapi mencakup aspek spiritual, intelektual, dan strategis.</p>
<p>“Fathu Makkah bukan akhir, tetapi awal peradaban,” menjadi salah satu narasi kunci yang ditekankan dalam pembelajaran.</p>
<p>Selama pelaksanaan, sejumlah perubahan terlihat pada peserta, mulai dari pergeseran pola pikir yang lebih strategis, penguatan kesadaran kolektif, hingga peningkatan disiplin ibadah.</p>
<p>Namun demikian, program ini juga menghadapi sejumlah tantangan, seperti menjaga konsistensi pasca-camp, memastikan implementasi nyata dari blueprint yang telah disusun, serta memperluas model agar dapat diterapkan secara nasional dan global.</p>
<p>Melalui program ini, UBN menegaskan kembali peran masjid tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat strategi dan perubahan.</p>
<p>Dikatakan UBN, sembilan hari pelaksanaan, masjid difungsikan sebagai ruang ibadah sekaligus pusat pembinaan dan perumusan gerakan.</p>
<p>Jika model ini dapat direplikasi secara luas, masjid dinilai berpotensi kembali menjadi pusat lahirnya peradaban, sebagaimana pada masa awal Islam.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban/">UBN Perkenalkan I’tikaf Strategic Camp 2026, Integrasikan Ibadah dan Strategi Peradaban</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/ubn-perkenalkan-itikaf-strategic-camp-2026-integrasikan-ibadah-dan-strategi-peradaban/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/res.cloudinary.com/dfrmdtanm/images/c_scale,w_448,h_337,dpr_2/f_auto,q_auto/v1773401505/IMG-20260313-WA0008/IMG-20260313-WA0008.jpg?_i=AA&#038;ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/</link>
					<comments>https://majalahjakarta.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2026 11:31:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://majalahjakarta.id/?p=92510</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oleh: KH Bachtiar Nasir “Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah....</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Oleh: KH Bachtiar Nasir</strong></em></p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Israel dan Amerika versus Iran semakin memanas. Perang Iran versus Amerika–Israel ini bukanlah perang agama, melainkan perang hegemoni. Disinyalir, Trump memang sudah lama mengincar Pulau Kharg yang merupakan terminal utama ekspor minyak mentah Iran.</p>
<p>Iran juga telah lama melancarkan proyek Bulan Sabit Persia, yang targetnya membentang meliputi Iran, Irak, Suriah, Libanon Selatan, dan Yaman. Wilayah yang belum tercakup saat ini adalah Palestina. Setelah itu, Iran diperkirakan dapat memperluas pengaruhnya hingga menguasai kawasan Teluk.</p>
<p>Israel dan Amerika Serikat yang saat ini menjajah wilayah Palestina tentu merasa terganggu dengan langkah tersebut. Belum lagi Turki dan Qatar di forum BOP yang berunding untuk menjatuhkan Netanyahu. Situasi ini membuat Netanyahu “kebakaran jenggot”, lalu dibukalah Epstein file, termasuk yang berkaitan dengan Trump. Dengan adanya file tersebut, Trump kemudian ditekan oleh Israel untuk menyerang Iran yang dianggap menghalangi pembentukan Israel Raya antara Sungai Eufrat dan Sungai Tigris.</p>
<p>Karena itu, jangan sampai kita justru sibuk berdebat membela salah satu pihak, sementara kita sendiri belum tahu apa yang bisa kita lakukan untuk membela Masjidil Aqsha dan kaum Muslimin di Palestina, yang menjadi objek perebutan tersebut.</p>
<p>Nah, sekarang adalah momentum di ruang-ruang i’tikaf ini untuk membersamai Masjidil Aqsha dengan apa pun yang mampu kita lakukan. Mungkin kita tidak bisa membersamai mereka melalui pendekatan militer, tetapi kita masih bisa mendampingi mereka melalui media, pemberitaan, ekonomi, dan berbagai upaya lainnya.</p>
<h3>Semangat Badar</h3>
<p>Dengan kehendak Allah, Perang Badar juga terjadi pada bulan Ramadhan. Rasulullah saw beserta para sahabat pada saat itu sebenarnya tidak berniat berperang, tetapi mereka tetap siap secara psikis jika harus menghadapi peperangan.</p>
<p>Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memiliki sekitar 313 pasukan, sebagian besar pasukan infanteri, dengan beberapa pasukan berkuda.</p>
<p>“<em>Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah supaya kamu mensyukuri-Nya</em>.” (QS. Ali Imran: 123).</p>
<p>Perang Badar tidak dimulai dengan mengasah pedang, melainkan dengan mengasah iman dan takwa. Perang Badar bermula ketika kafilah dagang Abu Sufyan dihadang dan diblokir secara ekonomi, karena mereka berasal dari kaum yang memerangi Allah dan Rasulullah Shallallahu wa alaihi wa sallam membunuh para sahabat, serta menyerang dakwah Islam baik secara fisik maupun psikis.</p>
<p>Perang Badar kerap terlupakan dari spirit Ramadhan kita, padahal ia adalah peristiwa besar yang benar-benar terjadi dengan skenario yang diatur langsung oleh Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Perang Badar sendiri merupakan manifestasi blueprint kemenangan umat, yang di dalamnya tergambar jelas strategi, kepemimpinan, dan intervensi Ilahiyah. Jika dilihat dari jumlah pasukan, kemenangan kaum Muslimin tampak sangat sulit. Pasukan Quraisy ketika itu berjumlah sekitar 1.000 orang, dengan kuda dan pasukan pemanah yang lengkap.</p>
<p>Oleh karena itu, Perang Badar sejatinya bukan sekadar kalkulasi kekuatan fisik, melainkan pembuktian iman pada saat yang paling kritis.</p>
<p>“… <em>jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) pada hari Furqan, yaitu hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu</em>.” (QS. Al-Anfal: 41).</p>
<p>Begitu pula dengan momentum i’tikaf kita. Ada yang datang ke masjid dengan label i’tikaf hanya sekadar berpindah tempat tidur, bermain ponsel lebih banyak daripada tilawah, lalu rebahan sambil menunggu waktu sahur.</p>
<p>Namun, ada pula yang datang ke masjid dengan niat yang sungguh-sungguh untuk membentuk jiwa.</p>
<h4>Belajar dari Badar</h4>
<p>Inilah Ramadhan—hari pembeda. Ia membedakan mana orang-orang yang benar-benar datang pada bulan Ramadhan untuk membuktikan kemurnian iman dan semangat ibadahnya, dan mana yang hanya sekadar bermain-main di hadapan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p>Layaknya Perang Badar yang membuka tabir dengan jelas: mana orang-orang yang beriman dan mana yang berpura-pura.</p>
<p>Perang Badar juga mengajarkan kepada kita bahwa perang—apa pun bentuknya—harus dilakukan karena Allah Ta’ala, bukan karena nafsu hegemoni, harta, gengsi, apalagi ego kesukuan atau nasionalisme semata.</p>
<p>Dibutuhkan pemimpin-pemimpin yang memiliki keberanian, ketajaman akal, dan kejernihan tauhid untuk memimpin umat melewati masa-masa tersulit. Dalam Perang Badar, kita melihat bagaimana interaksi antara pemimpin dan orang-orang yang dipimpinnya dilandasi oleh cinta karena Allah Ta’ala.</p>
<p>Di Perang Badar, kita menyaksikan sosok Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang begitu dicintai para sahabat dan umatnya—sosok yang melandaskan segala perbuatannya semata-mata karena Allah.</p>
<p>Satu kata kunci yang sangat penting diajarkan Rasulullah saw. dalam Perang Badar adalah bahwa perang hanya boleh terjadi jika di dalamnya terdapat cita-cita untuk meninggikan kalimat Laa Ilaaha Illallah serta mewujudkan penghambaan kepada Allah sebagaimana firman-Nya: iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.</p>
<p>Semua itu beliau ajarkan dan buktikan dengan taruhan nyawa di Perang Badar, pada bulan Ramadhan.</p>
<p>Karena itu, sangat penting kiranya pada bulan Ramadhan ini—dan juga pada bulan-bulan lainnya—kita menempatkan kesadaran bertauhid dan semangat pengabdian kepada Allah Ta’ala sebagai cara hidup kita di dunia ini.*</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/">Ramadhan Bukan Sekadar Puasa, Inilah Spirit Badar yang Terlupakan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://majalahjakarta.id/ramadhan-bukan-sekadar-puasa-inilah-spirit-badar-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
		<media:content url="https://majalahjakarta.id/go/wp-content/uploads/2026/03/IMG-20260313-WA0008.jpg" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pilar Islam yang Mempersatukan Umat</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/pilar-islam-yang-mempersatukan-umat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 03 Sep 2024 02:34:15 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=74859</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Zakat, salah satu rukun Islam, merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah mencapai nisab (batas minimal harta yang...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/pilar-islam-yang-mempersatukan-umat/">Pilar Islam yang Mempersatukan Umat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Zakat, salah satu rukun Islam, merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang telah mencapai nisab (batas minimal harta yang wajib dizakati). Lebih dari sekadar kewajiban agama, zakat juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat. Dalam Islam, zakat bukan hanya sekedar pemberian, namun juga merupakan bentuk ibadah yang bertujuan untuk menyucikan harta dan jiwa, serta menumbuhkan rasa solidaritas di antara sesama umat. Melalui zakat, harta yang dimiliki oleh seorang muslim dialokasikan untuk membantu mereka yang membutuhkan, sehingga tercipta keseimbangan dan keadilan dalam masyarakat.</p>
<p>Zakat, dalam bahasa arab berarti &#8220;memurnikan&#8221; atau &#8220;meningkatkan&#8221;. Dalam konteks Islam, zakat adalah suatu bentuk sumbangan yang wajib diberikan oleh umat Muslim kepada mereka yang membutuhkan. Prinsip dasar zakat adalah membagi rezeki dengan sesama dan menegakkan keadilan sosial. Zakat merupakan rebalancing wealth: mengambil dari yang memiliki lebih dan memberikan kepada mereka yang kurang beruntung.</p>
<p>Zakat mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk harta benda, pertanian, kebun, hewan ternak, dan perdagangan. Orang yang mencapai nisab atau batas penghasilan tertentu harus membayar zakat dengan persentase yang telah ditentukan seperti 2,5% dari harta yang dimiliki. Zakat diberikan kepada delapan golongan yang berhak menerimanya; yaitu fakir, miskin, amil (petugas zakat), muallaf (orang yang baru masuk Islam), budak yang ingin membeli kebebasan, orang yang berhutang, fi sabilillah (mengeluarkan di jalan Allah), dan ibnu sabil (orang yang dalam perjalanan).</p>
<p>Pemberian zakat bukan hanya sekedar membantu mereka yang kurang beruntung, tetapi juga sebagai cara untuk mempererat tali persaudaraan di antara sesama muslim. Zakat mencerminkan prinsip solidaritas sosial, bahwa kita sebagai individu dan umat Islam harus saling peduli dan membantu satu sama lain dalam mencapai kesejahteraan bersama. Dalam Al-Qur&#8217;an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 41 &#8220;Orang-orang yang jika Kami teguhkan mereka di muka bumi mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang ma&#8217;ruf dan mencegah dari yang munkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.&#8221;</p>
<p>Zakat juga memiliki dampak yang signifikan dalam membangun masyarakat yang adil dan berkeadilan. Dalam Islam, harta adalah amanah dari Allah yang harus dikelola dengan bijaksana. Ketika seorang muslim menunaikan zakat, dia secara tidak langsung mengakui bahwa harta yang dimilikinya bukanlah hak pribadi semata, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial. Zakat membantu mengurangi kesenjangan ekonomi dan mendorong redistribusi kekayaan secara adil. Dalam Islam, terdapat kepercayaan kuat bahwa keadilan sosial dapat tercapai melalui zakat, sehingga tercipta lingkungan yang harmonis dan berkeadilan.</p>
<p>Melalui zakat, umat muslim juga diajarkan untuk menghargai harta yang dimiliki dan menyadari bahwa kekayaan diperoleh bukan semata-mata karena keberhasilan individu, tetapi juga karena kehendak Allah SWT. Zakat menjaga kesederhanaan dan menumbuhkan sikap rendah hati dalam diri umat muslim. Dengan mengeluarkan sebagian harta yang dimiliki, seorang muslim menjaga agar tidak terlalu terikat pada dunia materi dan ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat luas.</p>
<p>Dalam konteks Indonesia, zakat memiliki peran penting dalam membantu mengatasi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi. Zakat sekarang juga bisa disalurkan melalui lembaga zakat yang dipercaya untuk mengelolanya dengan baik. Lembaga zakat ini akan memberikan bantuan kepada fakir miskin dan membangun program-program sosial yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang membutuhkan. Zakat dapat memberikan dampak positif dalam meningkatkan taraf hidup dan memberi harapan kepada mereka yang kurang beruntung, sehingga mereka dapat bangkit dari kemiskinan dan hidup lebih sejahtera.</p>
<p>Dalam kesimpulan, zakat bukan hanya sekedar kewajiban agama, tetapi juga merupakan pilar yang mempersatukan umat Islam. Melalui zakat, kita diajarkan untuk membagi kekayaan dengan mereka yang membutuhkan dan ikut bertanggung jawab dalam membangun masyarakat yang adil dan berkeadilan. Zakat juga mengajarkan nilai-nilai solidaritas dan kepedulian sosial dalam masyarakat Islam. Dengan demikian, zakat memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan harmoni dan kesatuan umat Islam serta membangun masyarakat yang lebih baik.</p>
<p>Ammar Robbani</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/pilar-islam-yang-mempersatukan-umat/">Pilar Islam yang Mempersatukan Umat</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/thohiryasin.id/storage/images/posts/d621a7c564e12c23457c3049e82a2576.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Pikiran Positif Menjadikan Iman Produktif</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/pikiran-positif-menjadikan-iman-produktif/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 29 Aug 2024 10:12:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=74612</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Hidup akan lebih bermakna jika menjalaninya memakai Iman, karena akan mendatangkan pikiran positif sehingga menjadi produktif. Hal ini...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/pikiran-positif-menjadikan-iman-produktif/">Pikiran Positif Menjadikan Iman Produktif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Hidup akan lebih bermakna jika menjalaninya memakai Iman, karena akan mendatangkan pikiran positif sehingga menjadi produktif. Hal ini diungkapkan oleh Pemerhati Remaja, Uswatun Hasanah dalam Kajian, Menjadi Remaja Taat, Ahad (25/08/2024) di Analogue Cafe, Cinere, Depok.</p>
<p>Di hadapan sekitar 20 Muslimah remaja, aktivis dakwah yang akrab disapa Kak Uswa itu mengatakan, produktif bukan semata-mata menghasilkan uang, tetapi menghasilkan karya yang bermanfaat untuk orang banyak.</p>
<p>“Produktif itu bukan semata-mata menghasilkan uang, tetapi bisa juga menghasilkan karya yang bermanfaat untuk orang banyak,” ungkapnya.</p>
<p><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-full wp-post-74612 wp-image-74615 aligncenter" src="https://res.cloudinary.com/dpqg36bu1/images/v1724937905/WhatsApp-Image-2024-08-29-at-08.05.51-depokpos/WhatsApp-Image-2024-08-29-at-08.05.51-depokpos.jpeg?_i=AA" alt="" width="800" height="600" /></p>
<p>Sebagai Muslim, lanjut Kak Uswa, pentingnya menyadari atau memahami 3 simpul pertanyaan besar (Uqdah al-Kubra) yakni, darimana manusia berasal, untuk apa manusia hidup, dan mau ke mana setelah kematian. Sebabnya, segala sesuatu perbuatan akan dipertanggung jawabkan di akhirat nanti.</p>
<p>Kak Uswa menegaskan, Iman kepada Allah korelasinya adalah taat, patuh dan tunduk kepada aturan Allah.  “Iman kepada Allah korelasinya adalah taat, patuh, dan tunduk kepada aturan Allah. Perintahnya lakukan, larangannya tinggalkan,” tegasnya.</p>
<p>Lebih dalam Kak Uswa menyampaikan, bahwa dalam Islam, manusia diperintahkan untuk selalu berpikir.  “Dalam Islam itu, kita disuruh untuk berpikir karena kita memiliki akal, kita spesial,” bebernya.</p>
<p>Tak hanya itu, menurutnya, sebagai remaja seharusnya dapat meluangkan waktu untuk mengkaji Islam.  “Nah, untuk remaja minimal meluangkan waktu 2 jam dalam seminggu untuk mengkaji Islam, agar kepala kita tidak tumpul,” kata Kak Uswa.</p>
<p>Menurut Kak Uswa, akidah Islam sangat berkaitan dengan kehidupan manusia. Bukan hanya tentang ibadah mahdah saja, namun juga dalam berpolitik.  Dalam Islam ada aturan berpolitik, namun definisinya berbeda.</p>
<p>“Definisi berpolitik dalam kacamata Islam adalah mengurus urusan umat, seperti yang dilakukan oleh Rasulullah saw,” terangnya.</p>
<p>Menurut Kak Uswa, berbeda sekali dengan kondisi umat saat ini yang mana akan dipandang jika memiliki uang banyak.  Padahal dalam Islam, standar kebahagiaan seorang Muslim adalah mendapatkan ridho Allah, dan standar perbuatan orang beriman adalah hukum syara.</p>
<p>“Standar kebahagiaan seorang Muslim adalah mendapatkan ridha Allah, dan standar perbuatan orang beriman adalah hukum syara,” pungkasnya. <em>[Mustikawati]</em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/pikiran-positif-menjadikan-iman-produktif/">Pikiran Positif Menjadikan Iman Produktif</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i2.wp.com/osccdn.medcom.id/images/content/2021/06/30/8fa20525e33f4337b0a48faa58542c48.png?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Bolehkah Berwudhu dengan Air Mineral?</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/bolehkah-berwudhu-dengan-air-mineral/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Aug 2024 08:33:46 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Wudhu]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=74263</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Dalam keseharian umat Islam, tata cara berwudhu merupakan ritual penting sebelum melaksanakan salat. Salah satu pertanyaan yang sering...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/bolehkah-berwudhu-dengan-air-mineral/">Bolehkah Berwudhu dengan Air Mineral?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong> </a>&#8211; Dalam keseharian umat Islam, tata cara berwudhu merupakan ritual penting sebelum melaksanakan salat. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah apakah air mineral dapat digunakan untuk berwudhu? Pertanyaan ini memunculkan diskusi mengenai kesucian air mineral dalam konteks keagamaan.</p>
<p>Air mineral sendiri merupakan air biasa yang telah melalui proses pembersihan bakteri. Sumber airnya dapat berasal dari air hujan, air sumur, air laut, atau air biasa lainnya. Proses pembersihan tersebut melibatkan teknologi seperti sinar ultraviolet atau sinar ozon. Meskipun dulunya sinar ultraviolet banyak digunakan, namun karena dampak bahayanya, kini sinar ozon dianggap sebagai alternatif yang lebih aman.</p>
<p>Dari sudut pandang agama Islam, air mineral dianggap sebagai air mutlak yang suci dan mampu mensucikan. Dalil yang mendukung kesucian air biasa yang berasal dari laut dan kemudian menjadi air sumur dapat ditemukan dalam Al-Qur’an, seperti surat Al-Furqan ayat 48 yang menyatakan, “Dan Kami turunkan dari langit air yang suci/bersih.”</p>
<p>Selain itu, surat Al-Anfaal ayat 11 juga menegaskan, “Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengannya.” Hadis juga memberikan petunjuk terkait kebolehan menggunakan air laut untuk berwudhu, sebagaimana jawaban Nabi Muhammad SAW ketika ditanya tentang hal tersebut lantas menjawab: “Laut itu airnya suci, bangkainya pun halal.“</p>
<p>Dengan dasar-dasar tersebut, umat Islam memiliki keleluasaan dalam menggunakan air mineral untuk berwudhu. Kesucian air mineral dan keselamatan teknologi yang digunakan dalam proses penyuciannya menjadikannya pilihan yang dapat dipertimbangkan. Hal ini mencerminkan evolusi metode pembersihan air sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga umat Islam dapat menjalankan ibadah dengan nyaman dan dalam ketaatan agama.</p>
<p><em>Referensi:</em><br />
<em>Tim Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, “Bolehkah Air Aqua untuk Wudhu dan Bedak untuk Tayamum?” dalam Suara Muhammadiyah,</em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/bolehkah-berwudhu-dengan-air-mineral/">Bolehkah Berwudhu dengan Air Mineral?</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i1.wp.com/rubrik.co.id/wp-content/uploads/2024/05/tata-cara-berwudhu-yang-benar-sebuah-panduan-untuk-pembersihan-spiritual-dalam-islam.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Panduan Lengkap Tata Cara Shalat Istikharah</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/panduan-lengkap-tata-cara-shalat-istikharah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 24 Aug 2024 08:31:10 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<category><![CDATA[Shalat Istikharah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=74260</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Shalat Istikharah adalah shalat sunah yang dilakukan untuk memohon petunjuk kepada Allah atau dipilihkan antara beberapa pilihan yang...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/panduan-lengkap-tata-cara-shalat-istikharah/">Panduan Lengkap Tata Cara Shalat Istikharah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Shalat Istikharah adalah shalat sunah yang dilakukan untuk memohon petunjuk kepada Allah atau dipilihkan antara beberapa pilihan yang paling baik untuk dilaksanakan. Shalat ini sangat penting untuk dilaksanakan karena manusia adalah makhluk yang lemah dan sangat butuh pertolongan Allah dalam setiap urusannya.</p>
<p>Setinggi apapun ilmu yang dimiliki, manusia tidak akan mengetahui perkara yang gaib. Ia juga tidak mengetahui manakah kejadian yang baik dan buruk pada masa yang akan datang.</p>
<p>Seorang muslim sangat yakin dan tidak ada keraguan sedikitpun bahwa yang mengatur segala urusan adalah Allah Ta’ala. Dialah yang menakdirkan dan menentukan segala sesuatu sesuai yang Dia kehendaki pada hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p>وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ (68) وَرَبُّكَ يَعْلَمُ مَا تُكِنُّ صُدُورُهُمْ وَمَا يُعْلِنُونَ (69) وَهُوَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ لَهُ الْحَمْدُ فِي الْأُولَى وَالْآخِرَةِ وَلَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ – القصص : 68 – 70</p>
<p>“Dan Rabbmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka. Maha suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan (dengan Dia). Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan. Dan Dialah Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia, bagi-Nyalah segala puji di dunia dan di akhirat, dan bagi-Nyalah segala penentuan dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan” [QS. al-Qashash: 68-70].</p>
<p>Oleh karena itu, Allah SWT memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya agar senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya agar diberikan petunjuk untuk memperoleh kebaikan bagi kehidupannya dan terhindar dari keburukan. Cara yang terbaik dalam memohon pertolongan kepada Allah SWT adalah melalui shalat, sebagaimana hal ini difirmankan Allah SWT di dalam al-Qur’an yang berbunyi:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ – البقرة : 153</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” [QS. al-Baqarah: 153].</p>
<p>Untuk melaksanakan perintah Allah SWT di atas, seorang muslim haruslah mengikuti petunjuk Rasulullah SAW. Sebab, Beliaulah satu-satunya orang yang diutus Allah SWT untuk menjelaskan tata-cara yang benar dalam berkomunikasi antara hamba dengan Penciptanya. Sebaliknya, seorang muslim harus menjauhi tata-cara di luar petunjuk Rasulullah SAW, sebagaimana yang telah dilakukan oleh masyarakat jahiliyah sebelum datangnya Islam. Ketika akan melakukan suatu pekerjaan, mereka menentukan pilihan dengan azlam (undian). Setelah Islam datang, Allah SWT melarang cara-cara semacam ini, dan kemudian diganti dengan shalat istikharah.</p>
<h3>Dasar Hukum Shalat Istikharah</h3>
<p>Tuntunan shalat istikharah didasarkan pada hadits sahih yang bersumber dari sahabat Jabir bin ‘Abdillah r.a. Dia berkata:</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ</p>
<p>Rasulullah SAW mengajari kami shalat istikharah dalam setiap perkara atau urusan yang kami hadapi, sebagaimana Beliau mengajarkan kami suatu surat dari al-Qur’an. Beliau berkata: “Jika salah seorang di antara kalian berniat dalam suatu urusan, maka lakukanlah shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib, kemudian berdoalah…”. [HR. al-Bukhari].</p>
<p>Berdasarkan hadits di atas, al-‘Allamah al-Qurthubi rahimahullah mengatakan bahwa “sebagian ulama menjelaskan: tidak sepantasnya bagi orang yang ingin menjalankan di antara urusan dunianya sampai ia meminta pada Allah pilihan dalam urusannya tersebut yaitu dengan melaksanakan shalat istikharah. Jadi, shalat istikharah adalah salah satu amalan yang biasa dilakukan oleh seorang muslim setiap akan melakukan suatu urusan.</p>
<p>Namun demikian, para ulama bersepakat bahwa shalat istikharah bukan termasuk amalan wajib (fardlu), melainkan dianjuran (mustahab/sunah). Hal ini didasarkan pada sabda Nabi Muhammad SAW tersebut di atas yang berbunyi: “maka lakukanlah shalat dua rakaat yang bukan shalat wajib”. Selain itu, pendapat ini juga didasarkan pada jawaban Rasulullah SAW ketika seorang laki-laki bertanya tentang Islam. Beliau SAW menjawab: “shalat lima waktu sehari semalam”. Lalu ia tanyakan pada Nabi SAW:</p>
<p>هَلْ عَلَىَّ غَيْرُهَا قَالَ « لاَ ، إِلاَّ أَنْ تَطَّوَّعَ »</p>
<p>“Apakah aku memiliki kewajiban shalat lainnya?” Nabi SAW pun menjawab: “Tidak ada, kecuali jika engkau ingin menambah dengan shalat sunah” [HR. Bukhari dan Muslim].</p>
<h2>Tata-Cara Shalat Istikharah</h2>
<h3>Waktu Pelaksanaan</h3>
<p>Shalat istikharah dapat dilakukan kapan saja, baik siang maupun malam hari, asalkan bukan pada 3 waktu yang terlarang untuk melakukan shalat, yakni ketika matahari terbit atau sedang berada di tengah atau sedang terbenam [HR. Jama’ah kecuali Bukhari]. Akan tetapi, jika shalat istikharah tidak bisa diundur atau dibutuhkan saat itu juga, maka sebagian ulama berpandangan bahwa hal itu boleh dikerjakan saat itu juga walaupun pada waktu yang terlarang.</p>
<p>Pandangan yang demikian itu didasarkan pada kebutuhan pelaksanaan shalat istikharah yang perlu dilakukan secepatnya. Dengan demikian, jadilah ia shalat sunah yang disyariatkan karena adanya sebab, sementara sudah dimaklumi bahwa waktu-waktu terlarang shalat ini tidak berlaku pada shalat-shalat sunah yang mempunyai sebab, seperti tahiyatul masjid, shalat sunah wudhu, dan semacamnya. Pandangan ini merupakan mazhab Imam asy-Syafi’i dan sebuah riwayat dari Imam Ahmad, serta pendapat yang dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiah [Lihat, Majmu’ al-Fatawa: 23/210-215].</p>
<p>Jadi, pelaksanaan shalat istikharah tidak terikat dengan waktu tertentu, tetapi ia dilakukan ketika seseorang telah berniat atau bertekad melakukan suatu pekerjaan tertentu. Hal ini didasarkan pada penggunaan kata هَمَّ dalam sabda Rasulullah SAW di atas yang memiliki arti berniat, juga pada isi doa istikharah yang menunjukkan telah adanya niat seseorang dalam mengerjakan sesuatu. Oleh karena itu, jika seseorang masih belum berniat untuk mengerjakan sesuatu atau masih ada beberapa pilihan yang akan dikerjakan, hendaklah ia terlebih dahulu berniat atau menentukan pilihannya, lalu lakukanlah istikharah.</p>
<p>Pekerjaan yang dimaksud berkaitan dengan perkara-perkara yang mubah, bukan yang wajib dilaksanakan, atau haram dilakukan. Dalam hal ini, al-Hafiz Ibnu Hajar berkata dalam “al-Fath” (11/220); “Ibnu Abi Hamzah berkata: amalan yang wajib dan yang sunah tidak perlu melakukan istikharah dalam melakukannya, sebagaimana yang haram dan makruh tidak perlu melakukan istikharah dalam meninggalkannya. Maka urusan yang butuh istikharah hanya terbatas pada perkara yang mubah dan dalam urusan yang sunah jika di depannya ada dua amalan sunah yang hanya bisa dikerjakan salah satunya, mana yang dia kerjakan lebih dahulu dan yang dia mencukupkan diri dengannya. Maka janganlah sekali-kali kamu meremehkan suatu urusan, akan tetapi hendaknya kamu beristikharah kepada Allah dalam urusan yang kecil dan yang besar, yang mulia atau yang rendah, dan pada semua amalan yang disyariatkan istikharah padanya. Karena terkadang ada amalan yang dianggap remeh akan tetapi lahir darinya perkara yang mulia”.</p>
<h3>Kaifiat Shalat Istikharah</h3>
<p>Sebagaimana dijelaskan di dalam hadits riwayat al-Bukhari di atas, shalat istikharah dilakukan sebanyak 2 rakaat. Adapun tata-caranya hendaklah dilakukan sebagaimana tata-cara shalat yang lain, baik yang meliputi bacaan maupun gerakan shalat. Sebagian ulama menganjurkan ketika rakaat pertama dan setelah membaca al-Fatihah hendaklah seseorang membaca surat al-Kafirun, dan di rakaat kedua membaca surat al-Ikhlas. Namun pendapat semacam ini tidak ada landasannya, sehingga ia tidak bisa dijadikan pegangan. Oleh karenanya, dalam shalat istikharah, seseorang boleh memilih surat apa saja dalam al-Qur’an. As-Sayyid Sabiq dalam “Fiqhus-Sunnah” mengatakan bahwa tidak ada ketentuan yang kuat tentang surat atau ayat apa yang harus secara khusus dibaca pada 2 rakaat istikharah itu. Selain itu juga tidak ada anjuran untuk mengulang-ulang ayat tertentu dalam suatu rakaat.</p>
<p>Perbedaan shalat istikharah dengan shalat pada umumnya hanyalah pada bacaan doa setelah selesai shalat. Teks doa istikharah terdiri dari dua macam, yaitu pertama, berbunyi:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ*) خَيْرٌ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ*) شَرٌّ لِى فِى دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى</p>
<p>“Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amra*) khairan lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amra*) syarrun lii fii diinii wa ma’aasyi wa ‘aqibati amrii, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khaira haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih”</p>
<p>“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini *) baik untukku dalam agamaku, kehidupanku dan jalan hidupku, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini *) buruk untukku, agamaku dan jalan hidupkku, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun kebaikan itu berada, dan ridhailah aku dengan kebaikan</p>
<p>Adapun teks doa istikharah yang kedua sama dengan di atas, hanya ada beberapa kalimat yang berbeda, yaitu: kalimat [دِينِى وَمَعَاشِى وَعَاقِبَةِ أَمْرِى] diganti dengan [عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ]. Dengan demikian, teks lengkapnya adalah sebagai berikut:</p>
<p>اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِك وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ*) خَيْرٌ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِى وَيَسِّرْهُ لِى ثُمَّ بَارِكْ لِى فِيهِ ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ *)شَرٌّ لِى فِى عَاجِلِ أَمْرِى وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّى وَاصْرِفْنِى عَنْهُ ، وَاقْدُرْ لِى الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِى</p>
<p>“Allahumma inni astakhii-ruka bi ‘ilmika, wa astaq-diruka bi qud-ratika, wa as-aluka min fadh-likal adziim, fa in-naka taq-diru wa laa aq-diru, wa ta’lamu wa laa a’lamu, wa anta ‘allaamul ghuyub. Allahumma in kunta ta’lamu anna hadzal amra*) khairan lii fii ‘aajili amrii wa aajilih faq-dur-hu lii, wa yas-sirhu lii, tsumma baarik lii fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna hadzal amra *) syarrun lii fii ‘aajili amrii wa aajilih, fash-rifhu ‘annii was-rifnii ‘anhu, waqdur lial khaira haitsu kaana tsumma ardhi-nii bih.</p>
<p>“Ya Allah, aku memohon petunjuk kebaikan kepada-Mu dengan ilmu-Mu. Aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu. Ya Allah, seandainya Engkau tahu bahwa masalah ini *) baik untukku di waktu dekat atau di masa nanti, jadikanlah untukku dan mudahkanlah bagiku dan berkahilah aku di dalam masalah ini. Namun jika Engkau tahu bahwa masalah ini *) buruk untukku, di waktu dekat atau di masa nanti, jauhkan aku darinya dan jauhkan masalah itu dariku. Tetapkanlah bagiku kebaikan di mana pun kebaikan itu berada dan ridhailah aku dengan kebaikan”.</p>
<p>*) Sebutkan urusan yang sedang dihadapi</p>
<p>Kedua teks doa tersebut bersumber dari hadits Jabir r.a. yang diriwayatkan oleh sl-Bukhari dalam kitab Shahihnya yang berbunyi:</p>
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا الِاسْتِخَارَةَ فِي الْأُمُورِ كُلِّهَا كَمَا يُعَلِّمُنَا السُّورَةَ مِنْ الْقُرْآنِ يَقُولُ إِذَا هَمَّ أَحَدُكُمْ بِالْأَمْرِ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلَا أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الْأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي أَوْ قَالَ فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ وَاقْدُرْ لِي الْخَيْرَ حَيْثُ كَانَ ثُمَّ أَرْضِنِي قَالَ وَيُسَمِّي حَاجَتَهُ</p>
<p>“Rasulullah SAW mengajari kami istikharah dalam setiap urusan yang kami hadapi sebagaimana Beliau mengajarkan kami suatu surat dari al-Qur’an. Beliau SAW bersabda: ‘Jika seorang dari kalian menghadapi masalah maka ruku’lah (shalat) dua rakaat yang bukan shalat wajib kemudian berdoalah: Allahumma inniy astakhiiruka bi ‘ilmika wa astaqdiruka biqudratika wa as-aluka min fadhlikal ‘azhim, fainnaka taqdiru wa laa aqdiru wa ta’lamu wa laa a’lamu wa anta ‘allaamul ghuyuub. Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amra khairul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aaqibati amriy” atau- ‘Aajili amriy wa aajilihi -faqdurhu liy wa yassirhu liy tsumma baarik liy fiihi. Wa in kunta ta’lamu anna haadzal amru syarrul liy fiy diiniy wa ma’aasyiy wa ‘aqibati amriy” atau- fiy ‘aajili amriy wa aajilihi- fashrifhu ‘anniy washrifniy ‘anhu waqdurliyl khaira haitsu kaana tsumm ar dhiniy”.</p>
<p>“Ya Allah, aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmu-Mu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan aku memohon karunia-Mu yang Agung. Karena Engkau Maha Mampu sedang aku tidak mampu, Engkau Maha Mengetahui sedangkan aku tidak mengetahui, Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang gaib. Ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau Beliau bersabda; di waktu dekat atau di masa nanti- maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah, kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya ya Allah, bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini -atau Beliau bersabda; di waktu dekat atau di masa nanti- maka jauhkanlah urusan dariku dan jauhkanlah aku darinya. Dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja di mana pun adanya, kemudian jadikanlah aku ridha dengan ketetapan-Mu itu’. Beliau bersabda: ‘Dan hendaklah seseorang sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu’. [HR. al-Bukhari, No. 1162].</p>
<p><strong>Keterangan:</strong></p>
<p>Cara menyebutkan urusan misalnya: Allahumma in kunta ta’lamu anna haadzal amra (Ya Allah, jika engkau mengetahui bahwa urusan ini) misalnya saja perjalananku ke Surabaya atau pernikahanku dengan si Fulanah atau usahaku membuka warung atau yang lainnya.</p>
<p>Doa shalat istikharah yang lebih tepat dibaca setelah shalat, dan bukan di dalam shalat, sebagaimana disebutkan di dalam hadits di atas. Syaikh Musthafa al- ‘Adawi hafizhahullah mengatakan: “aku tidak mengetahui dalil yang sahih yang menyatakan bahwa doa istikharah dibaca ketika sujud atau setelah tasyahud (sebelum salam), kecuali landasannya adalah dalil yang sifatnya umum yang menyatakan bahwa ketika sujud dan tasyahud akhir adalah tempat terbaik untuk berdoa. Akan tetapi, hadits ini sudah cukup sebagai dalil tegas bahwa doa istikharah adalah setelah shalat.</p>
<p>Seseorang setelah melakukan shalat istikharah, hendaknya dia memilih untuk mengerjakan apa yang hendak dilakukan dari urusan yang ingin dikerjakan. Jika urusan itu merupakan kebaikan, maka insya Allah dia akan dimudahkan oleh Allah SWT, dan jika itu merupakan kejelekan maka Allah akan memalingkannya dari urusan tersebut. Muhammad bin Ali az-Zamlakani rahimahullah berkata: “jika seseorang sudah shalat istikharah dua rakaat untuk suatu urusan, maka setelah itu hendaknya dia mengerjakan urusan yang dia ingin kerjakan, baik hatinya lapang/tenang dalam mengerjakan urusan itu ataukah tidak. Karena, pada urusan tersebut terdapat kebaikan walaupun mungkin hatinya tidak tenang dalam mengerjakannya”. Dan beliau juga berkata: “karena dalam hadits (Jabir) tersebut tidak disebutkan adanya kelapangan/ketenangan jiwa” [Thabaqat asy-Syafi’iah al-Kubra: 9/206]. Maksudnya: Dalam hadits Jabir di atas tidak disebutkan bahwa hendaknya dia mengerjakan apa yang hatinya tenang dalam mengerjakannya (wallahu a’lam).</p>
<p>Sebagian orang beranggapan bahwa jawaban istikharah akan Allah sampaikan dalam mimpi. Ini adalah anggapan yang sama sekali tidak berdalil, sebab tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi. Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizhahullah mengatakan: mimpi tidak bisa dijadikan acuan hukum fikih. Sebab di dalam mimpi, setan memiliki peluang besar untuk memainkan perannya, sehingga bisa jadi setan menggunakan mimpi untuk mempermainkan manusia. Nabi Muhammad SAW bersabda:</p>
<p>الرُّؤْيَا ثَلاَثَةٌ : فَبُشْرَى مِنَ اللهِ ، وَحَدِيثُ النَّفْسِ ، وَتَخْوِيفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ – أحمد</p>
<p>“Mimpi ada 3 macam, (yaitu) berita gembira dari Allah, dari bisikan hati, dan ketakutan dari setan” [HR. Ahmad].</p>
<p>Beliau juga menjelaskan bahwa mimpi tidak bisa untuk menetapkan hukum, namun hanya sebatas diketahui. Dan tidak ada hubungan antara shalat istikharah dengan mimpi. Karena itu, tidak disyaratkan, bahwa setiap istikharah pasti diikuti dengan mimpi. Hanya saja, jika ada orang yang istikharah kemudian dia tidur dan bermimpi yang baik, bisa jadi ini merupakan tanda baik baginya dan melapangkan jiwanya. Tetapi, sekali lagi, tidak ada keterkaitan antara istikharah dengan mimpi.</p>
<p>Sebagian ulama berpandangan bahwa melakukan istikharah tidak harus dengan shalat khusus, tapi bisa dengan semua shalat sunah. Artinya, seseorang bisa melakukan shalat rawatib, dhuha, tahiyatul masjid, atau shalat sunah lainnya, kemudian setelah mengerjakan shalat dia membaca doa istikharah. Pandangan tersebut didasarkan pada hadits tentang shalat istikharah di atas yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:</p>
<p>فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ مِنْ غَيْرِ الْفَرِيضَةِ</p>
<p>“Kerjakanlah shalat dua rakaat selain shalat fardhu…”</p>
<p>Dalam hal ini, Imam an-Nawawi mengatakan:</p>
<p>والظاهر أنها تحصل بركعتين من السنن الرواتب ، وبتحية المسجد، وغيرها من النوافل</p>
<p>“Dan yang jelas, doa istikharah bisa dilakukan setelah melaksanakan shalat rawatib, tahiyatul masjid, atau shalat sunnah lainnya” [Bughyatul Mutathawi’, hlm. 45].</p>
<p>Istikharah boleh dilakukan berulang kali dalam urusan yang kita inginkan untuk mohon petunjuk kepada Allah. Sebab, istikharah adalah doa, dan tentu saja boleh dilakukan berulang kali. Wallahu A’lam.</p>
<p>narasumber utama artikel ini: Zaini Munir Fadloli<br />
Sumber Artikel : http://tuntunanislam.id</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/panduan-lengkap-tata-cara-shalat-istikharah/">Panduan Lengkap Tata Cara Shalat Istikharah</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i3.wp.com/nawacita.co/wp-content/uploads/2022/07/shalat-istikharah.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
		<item>
		<title>Dari Lotre, Togel, hingga Judol, Semua Sama Haramnya</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/dari-lotre-togel-hingga-judol-semua-sama-haramnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Aug 2024 00:07:30 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=73985</guid>

					<description><![CDATA[<p>Dari lotre, togel, hingga judi online (judol) semua sama haramnya walaupun berbeda tampilannya. Hal tersebut diungkap oleh Mubalighah Kota Depok,...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/dari-lotre-togel-hingga-judol-semua-sama-haramnya/">Dari Lotre, Togel, hingga Judol, Semua Sama Haramnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Dari lotre, togel, hingga judi online (judol) semua sama haramnya walaupun berbeda tampilannya.</p>
<p>Hal tersebut diungkap oleh Mubalighah Kota Depok, Ustadzah Sri Agustini dalam kajian Muslimah Bulanan, Marak Judi Online di Tengah Masyarakat, Islam Solusinya, Ahad, (10/8/2024) di Masjid Hidayatul Husaini, Cimanggis Depok.</p>
<p>Ia pun mengibaratkan judi ini seperti kue donat. Donat zaman dulu dengan zaman sekarang resepnya sama, yang berbeda hanya tampilannya.</p>
<p>“Donat yang asli bahannya apa saja? Telor, tepung, gula, pengembang. Berbagai jenis donat ini dari dulu sampai sekarang resepnya sama, yang berbeda hanya toppingnya. Dikasih seres, cokelat, keju, matcha. Semakin bervariasi agar lebih menarik dan tidak membosankan. Begitu juga dengan judi, hari ini telah berkembang menjadi judol. Kalau dulu orang main judi harus mendatangi tempat penjualannya, sekarang bisa berjudi melalui hape yang terkoneksi internet. Akhirnya, di kamar juga bisa main judi, tidak perlu keluar rumah lagi,” terangnya di hadapan puluhan peserta.</p>
<p><strong>Fakta Judi Dilegalkan</strong></p>
<p>Ustadzah Sri Agustini juga membeberkan fakta bahwa Indonesia pernah melegalkan judi, yaitu mulai tahun 1957 hingga 1996.</p>
<p>&#8220;Dulu ada Nalo (Nasional Lotre), Togel (Toto Gelap), dan Porkas atau Pekan Olah Raga dan Ketangkasan, jenis undian berhadiah dalam bidang olahraga, terutama sepak bola. Dahulu tiap malam Kamis atau malam Jumat program ini paling ditunggu-tunggu, karena ada undian Nalo-nya, menebak sekian angka di belakang. Sampai di daerah Jawa ada orang tidur di kuburan di gunung Kawi, Jawa Timur untuk dapat petunjuk angka-angka Nalo yang keluar waktu pengundian berlangsung,” ungkapnya.</p>
<p>Lanjutnya, memang judi awalnya dilegalkan negara, namun seiring waktu menjadi dihentikan kegiatannya.</p>
<p>“Pada 1957 hingga 1996, saat Indonesia dipimpin oleh Presiden Soeharto dengan Sudomo sebagai salah satu menterinya, pemerintah melegalkan perjudian. Pada 1991 hingga 1993, pemain judi disebut sebagai Dermawan, Sumbangan Dermawan Berhadiah, kemudian diubah menjadi Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB). Nah, itu adalah judi resmi di hadapan negara. Kemudian pada 1996 kegiatan ini dibubarkan karena banyak protes dari masyarakat,” bebernya.</p>
<p>Protes yang dilayangkan sebab masyarakat tahu juga judi itu haram, judi yang dilegalkan negara harus dihentikan, karena bertentangan dengan ajaran Islam. Oleh karenanya, Ustadzah Sri di akhir pemaparannya dengan lugas mengajak para jamaah yang antusias mendengarkan materi untuk aktif menyampaikan ke para tetangga dan handai taulan agar berhenti dan menjauh dari perjudian, termasuk judol.[]Fatmah Ramadhani Ginting</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/dari-lotre-togel-hingga-judol-semua-sama-haramnya/">Dari Lotre, Togel, hingga Judol, Semua Sama Haramnya</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ini Keutamaan Berdoa Ketika Turun Hujan</title>
		<link>https://majalahjakarta.id/ini-keutamaan-berdoa-ketika-turun-hujan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Redaksi]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 20 Aug 2024 04:36:32 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Oase]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.depokpos.com/?p=73941</guid>

					<description><![CDATA[<p>DEPOKPOS &#8211; Sebagian besar wilayah Indonesia terletak di garis khatulistiwa, sehingga banyak terjadi curah hujan pada musim hujan. Dan musim...</p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ini-keutamaan-berdoa-ketika-turun-hujan/">Ini Keutamaan Berdoa Ketika Turun Hujan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.depokpos.com/"><strong>DEPOKPOS</strong></a> &#8211; Sebagian besar wilayah Indonesia terletak di garis khatulistiwa, sehingga banyak terjadi curah hujan pada musim hujan. Dan musim ini biasanya berlangsung dari bulan September hingga April.</p>
<p>Hujan merupakan berkah dari Allah SWT dan juga fenomena alam dimana kebermanfaatanya membantu kehidupan manusia, adapun firman Allah SWT tentang menurunkan hujan, yaitu pada surat Ar-Rum ayat 48 yang artinya :</p>
<p><em>“Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka bergembira”.</em></p>
<p>Bahkan Rasulullah SAW menganjurkan untuk berdoa saat hujan turun. Terdapat hadits dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,</p>
<p>ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِوَ تَحْتَ المَطَرِ</p>
<p>Artinya : “<em>Dua do’a yang tidak pernah ditolak: pertama, yaitu do’a ketika adzan dan kedua, do’a ketika turunnya hujan.”</em></p>
<p>Adapun anjuran berdoa yang dipanjatkan ketika turun hujan menurut hadist dari Ummul Mukminin, Aisyah R.A adalah :</p>
<p>إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّباً نَافِعاً</p>
<p>Artinya : <em>Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, ”Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].</em></p>
<p>Pada waktu hujan merupakan waktu yang mustajab untuk berdoa dan dikabulkan karena penuh berkah dan rahmat, selain membaca doa ketika turun hujan, maka orang muslim juga dianjurkan untuk berdoa atas hajat atau keinginan nya. Demikian penjelasan keutamaan berdoa ketika hujan turun, agar senantiasa bersyukur ketika hujan turun dan tidak mensia-sia kan kesempatan untuk berdoa baik itu kepentingan akhirat dan dunia.</p>
<p><em>Shofi Hanifa Fauziah, mahasiswi STEI SEBI</em></p>
<p>Artikel <a href="https://majalahjakarta.id/ini-keutamaan-berdoa-ketika-turun-hujan/">Ini Keutamaan Berdoa Ketika Turun Hujan</a> pertama kali tampil pada <a href="https://majalahjakarta.id">MAJALAH JAKARTA</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
		<media:content url="https://i0.wp.com/www.daaruttauhiid.org/wp-content/uploads/2021/02/Berdoa-ketika-Hujan_Daarut-Tauhiid.jpg?ssl=1" medium="image"></media:content>
            	</item>
	</channel>
</rss>
