KDRT yang Membuat Retaknya Pernikahan

DEPOK POS – Pernikahan sekarang bukanlah hal yang dianggap serius. Jaman sekarang banyak sekali anak remaja yang kurang perhatian dan didikan dari kedua orang tua. Banyak anak remaja yang berpacaran tidak sewajarnya, yaitu berhubungan sex tanpa mengenal status. Mereka tidak berpikir lebih akibat berhubungan sex, yang mengharuskan mereka menjenjang ke lebih yang serius, yaitu pernikahan. Pernikahan adalah menyatukan kedua insan antara seorang lelaki dan seorang perempuan yang membentuk pasangan sebagai suami istri, kedua insan yang sudah siap untuk berumah tangga, dan kedua insan yang sudah sepakat untuk mengikat janji suci untuk setia menemani sampai maut memisahkan. Tentunya pernikahan juga bertujuan untuk memiliki keturunan yang sholeh dan sholehah. Pernikahan termasuk ibadah yang sangai mulia, karena memiliki tujuan yang baik. Hukum nikah dalam islam sangat dianjurkan, boleh bila seseorang memang sudah merasa mampu untuk menikah.

Tentunya pernikahan bukanlah hal yang harus dianggap sembarangan, seseorang yang harus benar benar mampu, terutama terhadap lelaki, apakah ia nanti kelak bisa memimpin rumah tangganya? apakah ia nanti kelak bisa menuntun istrinya dan keturunannya ke jalan yang benar? Apakah ia kelak nanti bisa menafkahi istri dan keturunannya? dan yang terakhir, apakah ia bisa untuk tetap menemani sang istri dan keturunannya dalam keadaan susah maupun senang? Sebaliknya, sudah seharusnya istripun harus berbakti kepada suami, melayani suami dengan penuh kasih sayang, ikhlas, dan ridho karena Allah Swt.

BACA JUGA:  Penerapan Teknologi Fisika Nano untuk Meningkatkan Produksi, Kualitas, dan Efisiensi Pertanian

Di dalam pernikahan harus didasari dengan adanya kasih sayang, saling menyanyangi, saling melindungi satu sama lain, saling menemani, dan tidak boleh saling menjatuhkan apa lagi saling menyakiti secara fisik dan mental. Sering kali di dalam rumah tangga kita temui adanya kekerasan, saling beradu argumen, saling cekcok, dan sering bertengkar yang mengakibatkan retaknya keluarga bahkan sampai ada yang mengadukan penceraian. Berdasarkan dalam pasal 113 Kompilasi Hukum Islam menyatakan perkawinan dapat putus karena :

1. Kematian
2. Penceraian
3. Keputusan pengadilan

Retaknya pernikahan bisa terjadi karena pasangan sudah saling tidak percaya, saling beradu argumen dan tidak mau mengalah, saling egois, saling memikirkan perasaannya sendiri, gengsi terhadap pasangan, menaruh rasa curiga berlebihan, dan yang lebih parahnya lagi, sudah merasa bosan terhadap pasangan.

zaman sekarang sudah tidak heran lagi dengan suami yang menalakkan istrinya, istri yang menalakkan suaminya, suami yang selingkuh dan meninggalkan sang istri demi perempuan lain, dan istri yang selingkuh dan meninggalkan sang suami demi lelaki lain. Seolah olah selingkuh bukanlah hal perkara yang serius, seolah olah pernikahan hal perkara buat main main dan hanya untuk memiliki keturunan saja.

Ketika emosi meluap luap, kedua pasangan suami istri yang tidak bisa dilerai, laut lamban laun kekerasan dalam rumah tangga pun terjadi. Seringnya sang suami yang selalu melakukan kekerasan. Kekerasan dalam rumah tangga dapat berupa kekerasan fisik, yaitu ditendang, dipukul, dicekik, dan ditampar. Kekerasan psikis nya yaitu di caci maki, dan dikasih ancaman, ancaman yang dimaksud bisa berupa ancaman pembunuhan ataupun yang lainnya.

BACA JUGA:  Komunikasi Non Verbal Terhadap Kepuasan Pelanggan

Di dalam agama islam, penceraian tidak dilarang, namun Sang Maha Pencipta sangat membenci sebuah penceraian. Penceraian adalah jalan terakhir ketika semua cara telah dilakukan dan tetap tidak menemukan solusi untuk mempertahankannya. Namun di dalam agama islam juga sangat dilarang melakukan kekerasan, terutama terhadap perempuan. Perempuan harus dijaga benar benar, dilindungi dangan penuh kasih sayang dan harus dihormati, karna dengan tidak adanya perempuan, kita tidak bisa lahir ke dunia ini. Islam sangat melindungi perempuan dari kekerasan, melalui pelaksanaan aturan-aturan dan kebijakan seperti :

1. Perintah mempergauli istri secara ma’ruf dan larangan berbuat aniaya terhadap istri (QS. Al-Baqarah: 228-229 dan QS. An-Nisa: 19).

2. Penerapan sanksi bagi pelaku kekerasan, di antaranya pelaku akan dihukum qishas jika terjadi pembunuhan atau dihukum ta’zir maupun membayar denda (diyat) jika terjadi penganiayaan fisik.

Begitupun dengan pasal 44 ayat 1 :

1: ”Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah).”

Pada dasarnya kekerasan tidak dibenarkan oleh norma norma. Sebab bisa mengakibatkan trauma bagi si korban, yaitu stres, depresi, bahkan ada sebagian orang yang sudah tidak kuat menjalaninya dan memilih untuk pergi selama-lamanya. Beberapa yang menjadi faktor yang bisa menyebabkan kekerasan dalam hal rumah tangga yaitu karena ketidak pahaman satu sama lain yang akhirnya meminculkan tiran dan sewenang wenang terhadap pasangan.

BACA JUGA:  Flu Burung Kembali Merebak, Cegah dan Hindari dengan Cara Ini

Berdasarkan kasus di atas, berikut cara cara untuk terhindar dari adanya kekerasan dalam hal rumah tangga :

1. Saling percaya satu sama lain
Tentu hal ini sangat diperlukan oleh pasangan suami istri, karna hilangnya kepercayaan bisa menyebabkan bibit bibit pertengkaran.
2. Hindari berprasangka buruk
Suudzon, tentu jelas hal ini dilarang juga dalam agama islam. Ini terjadi karena hilangnya kepercayaan, yang bisa membuat pasangan bisa berprasangka buruk, dan menimbulkan pertengkaran.
3. Menjalan komunikasi yang baik

Membangun dan menjaga komunikasi adalah hal yang penting dalam hubungan pasangan suami istri, percakapan yang paling efektif yaitu percakapan antar tatap muka.

Kekerasan dalam rumah tangga tentunya bisa menyebabkan retaknya pernikahan, namun dengan melakukan pencegahan dan sebisa mungkin untuk selalu menjaga pernikahan dari banyaknya godaan, bisa membuat rumah tangga yang harmonis, saling menyanyangi satu sama lain, saling menemani, dan membuat rumah tangga yang sakinnah mawaddah warrahmah.

Disusun oleh: ( kelompok 9: Ainun jariyah, Dzakiyah najah, Tazkya Aulia Badjeher)

Pos terkait