Keluarga Sakinah dalam Islam

Keluarga Sakinah dalam Islam

 

Setiap manusia pasti memiliki keinginan untuk memiliki keluarga yang harmonis dan sejahtera. Islam sendiri menganjurkan untuk membangun rumah tangga yang sudah dilandaskan ajarannya seperti membangun rumah yang sakinah, mawaddah, warahmah. Kalimat ini sudah sering kita dengar, contohnya seseorang baru saja menikah dan para tamu undangan maupun keluarga yang datang akan mendoakan agar memiliki keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. Membangun keluarga dalam ajaran agama islam memang memiliki ciri-ciri yang beragam, karena berkaitan dengan cara membina keluarga yang ideal dan sesuai dengan ajaran agama. Lalu, sebenarnya apa yang dimaksud dengan keluarga sakinah, apa saja prinsip – prinsip keluarga sakinah, bagaimana pembinaan keluarga sakinah dalam islam, macam – macam keluarga sakinah, dan mewujudkannya keluarga sakinah tersebut? Mari luangkan waktu untuk memahaminya melalui penjelasan berikut.

Pengertian Keluarga sakinah

Keluarga sakinah terdiri dari dua suku kata, yakni kata keluarga dan kata sakinah. Keduanya ini merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa asing. Kata keluarga berasal dari bahasa sanskerta, kula = famili dan warga = anggota. Dalam kamus istilah fiqih dituliskan bahwa keluarga adalah orang-orang yang masih ada hubungan keturunan atau nasan, baik ke atas maupun kebawah, baik yang termasuk ahli waris maupun tidak. Adapun sebutan lainnya keluarga ialah famili.

Lalu, kata sakinah berasal dari kata arab. Sakinah yang berarti ketenangan hati atau kehebatan dan sering ditafsirkan dengan bahagia dan sejahtera. سـكـن yang artinya tenang, tidak bergerak atau diam (al-qusyairi, tt: 193). Lafaz sakinah, yaitu سكينة terdapat dlm al-quran di surat al-Taubah, 9: 26 diterjemahkan dengan ketenangan, yakni Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, berarti rasa tenang yang datangnya berasal dari Allah. Zaitunah Subhan memahami bahwa sakinah dengan sesuatu yang memuaskan hati.

Oleh karena itu, keluarga sakinah adalah keluarga yang tenang, tentram, damai, dan memuaskan hati. Makna dari kata Sakinah juga dikembangalan dari kandungan ayat 21 surat al-Rum yang artinya “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia menciptakan untuk kamu isteri dari jenismu supaya kamu tentram bersamanya. Dan dia menjadikan cinta dan kasih sayang diantara kamu. Sesungguhnya pada yang demikian itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir”. yang menunjukan dari makna tersebut bahwa rasa tentram dalam keluarga dimulai dari adanya rasa mawaddah dan rahmah antara suami dan istri.

Di buku sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan ‘Aisyiyah menjelaskan bahwa keluarga sakinah adalah konsep tentang keluarga sejahtera berdasarkan tuntunan islam yang dicanangkan pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-41 di Surakarta tahun 1985. Kita bisa simpulkan dan dapat dipahami juga bahawa keluarga sakinah adalah keluarga ideal, idaman, dan yang dicita-citakan oleh setiap insan.

Buku Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, menegaskan bahwa keluarga adalah tiang utama kehidupan umat dan bangsa, dan tempat sosialisasi nilai-nilai yang paling intensif dan menentukan.

Prinsip – Prinsip Keluarga Sakinah

Mewujudkan keluarga sakinah pada dasarnya menggerakkan proses dan fungsi-fungsi manajemen dalam kehidupan rumah tangga. Oleh karena itu selain tugas kodrati seperti hamil, melahirkan dan pemberian ASI, segala sesuatu yang menyangkut tugas-tugas menciptakan keluarga sakinah haruslah fleksibel, terbuka dan demokratis, tidak boleh kaku dan tertutup. Keluarga sakinah yang dirancang AISYIYAH adalah keluarga yang berdasarkan prinsip-prinsip ajaran islam dan anggotanya berakhlak dengan akhlak mulia. Dalam buku sejarah pertumbuhan dan perkembangan Aisyiyah menyebutkan pembinaan keluarga sakinah dalam lima penekanan aspek kehidupan yaitu aspek kehidupan beragama dalam keluarga, pendidikan bagi keluarga, kesehatan keluarga, ekonomi yang stabil bagi keluarga, serta hubungan sosial yang harmonis inter dan antar keluarga.

BACA JUGA:  Pentingnya Strategi Komunikasi Bisnis Era Digitalisasi Pada Media Belanja Online

Ada 5 prinsip yang dikembangkan dalam konsep keluarga sakinah yaitu :

1. Orientasi Ilahiah Dalam Keluarga.

Adalah orientasi bahwa seluruh anggota keluarga menyadari semua proses dan kegiatan serta keadaan kehidupan keluarga harus berpusat pada Allah SWT seperti dalam firman surah Al- Baqarah (2: 156) “Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali”.

2. Pola Keluarga Luas

Adalah bahwa dalam satu keluarga tidak hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak sebagai keluarga inti, tetapi dapat terdiri dari ayah, ibu, anak, kakek, nenek, cucu, paman, bibi yang artinya semua anggota keluarga tersebut adalah tanggung jawab kepala keluarga.

3. Pola Hubungan Kesederajatan

Adalah hubungan antara anggota dalam keluarga bersifat egaliter. Hubungan ini berdasarkan kepada prinsip bahwa semua manusia baik laki-laki maupun perempuan adalah sama, yakni sama-sama sebagai makhluk Allah. Perbedaan jenis kelamin, status, fungsi atau peran tidak menimbulkan perbedaan nilai kemanusiannya dihadapan orang lain. Di sisi Allah pun setiap manusia sama. Membedakan manusia satu dengan yang lainnya adalah kualitas taqwa, iman dan ilmu sebagaimana firman Allah dalam surah Al-hujurat (49:13) “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling taqwa diantara kamu”.

4. Perekat Mawaddah dan Rahmah

Adalah jiwa yang diliputi oleh rasa cinta dan kasih sayang, rela berkorban, menjaga dan melindungi antara satu anggota keluarga dengan yang lainnya. Dari rahmah (cinta sejati dan kasih sayang) inilah antara suami istri yang diikat dalam perkawinan yang sah serta kehadirat anak yang saleh, hormat dan patuh pada kedua orang tuanya akan menciptakan keluarga sakinah yang diliputi rasa tentram, damai bahagia dan sentosa.

5. Kebutuhan Hidup Sejahtera Dunia dan Akhirat.

Ada beberapa kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi. Kebutuhan pokok tersebut adalah kebutuhan memiliki iman terhadap Allah SWT : kebutuhan beribadah, kebutuhan pendidikan, kebutuhan ekonomi, kebutuhan kesehatan, kebutuhan hubungan sosial dan kebutuhan pengelolaan lingkungan. Disamping itu tercukupinya kebutuhan materi merupakan alat penunjang terpenuhinya hidup sejahtera dunia dan akhirat. Bukankah dalam sebuah hadist nabi bersabda “Berusahalah kamu seolah-olah kamu hidup selamanya dan beribadahlah kamu seolah-olah kamu akan meninggal esok pagi”. Meskipun kebahagiaan materi menentukan hidup sejahtera dunia akhirat, tetapi perannya disini hanya sebagai alat penunjang tercapainya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup dunia dan akhirat tersebut.

Pembinaan Keluarga Sakinah

Untuk mewujudkan keluarga sakinah harus mempunyai beberapa pembinaan yang harus dilakukan oleh keluarga secara menyeluruh, terus menerus dan berkesinambungan, diantaranya ;

Pembinaan Kehidupan Beragama
Pembinaan keagamaan ini meliputi pembinaan agama bagi ayah, ibu; pembentukan jiwa agama pada anak-anak; pembinaan suasana rumah tangga yang islami, baik dalam hal pengaturan atau tata ruang maupun dalam hal bersikap atau bertingkah laku

Pembinaan Pendidikan
Pembinaan pendidikan meliputi pendidikan formal dan juga informal, baik dari cara pembiasaan, pemberian teladan (contoh), pencegahan, preventif, perbaikan maupun dengan pemeliharaan

Pembinaan Ekonomi
Agar ekonomi keluarga selalu stabil, keluarga juga harus memiliki perencanaan anggaran rumah tangga yang baik, meningkatkan pendapatan keluarga dan juga etos kerja yang tinggi.

Pembinaan Kesehatan
Seluruh anggota keluarga harus betul-betul menyadari faktor-faktor yang akan mempengaruhi kesehatan keluarga seperti lingkungan, perilaku sehat, fasilitas kesehatan dan juga keturunan. faktor lingkungan dan perilaku sehat dapat diusahakan dengan pembiasaan pola hidup sehat seperti menjaga kebersihan makanan, tubuh, pakaian dan juga tempat.

Pembinaan Hubungan Sosial Intern dan Antar Keluarga
Hubungan sosial tentu akan terjalin dengan baik dan harmonis jika masing-masing anggota memperhatikan dan memperlakukan sesamanya secara manusiawi, lengkap dengan pemenuhan kebutuhannya dan menghormati serta menghargai segenap kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dengan demikian, akan tercapai kekompakan, kebersamaan, serta pola komunikasi yang baik, timbal balik, dan demokratis.

BACA JUGA:  7 Tips Solo Travelling yang Cocok untuk Pemula

Pembinaan kesadaran lingkungan
Keluarga dapat memberi pengaruh terhadap lingkungan dan sebaliknya lingkungan juga dapat mempengaruhi keluarga. Keluarga harus mampu menempatkan diri secara serasi, selaras dan seimbang serta berperan aktif, dan berpartisipasi untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan positif sesuai dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat.

Macam-Macam Keluarga Sakinah

Pemerintah Republik Indonesia melalui menteri agama, sebagaimana telah mengemukakan terlebih dahulu, merancangkan Pembinaan Gerakan Keluarga Sakinah pada tanggal 8 Januari 1999. Dalam program ini terdapat 5 kriteria yang disusun, diantaranya (1) keluarga Pra sakinah, (2) keluarga Sakinah I, (3) keluarga Sakinah II, (4) keluarga Sakinah III, (5) keluarga Sakinah III Plus.

Keluarga Pra Sakinah
Yaitu, keluarga yang dibentuk melalui perkawinan yang sah, tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual (basic-needs) secara minimal. Seperti keimanan, shalat, zakat fitrah, puasa, sandang, pangan, papan dan kesehatan.

Keluarga Sakinah I
Yaitu, keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar spiritual dan materil secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial psikologisnya. Seperti kebutuhan akan pendidikan, bimbingan keagamaan dalam keluarga dan belum mampu mengikuti interaksi sosial keagamaan dengan lingkungannya.

Keluarga Sakinah II
Yaitu, keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan kehidupannya dan juga mampu memahami pentingnya pelaksanaan ajaran agama serta bimbingan keagamaan dalam keluarga, serta mampu mengadakan interaksi sosial keagamaan dalam lingkungannya. Namun, keluarga ini belum mampu menghayati serta mengembangkan nilai-nilai keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia seperti melakukan infaq, wakaf, amal jariyah, menabung dsb.

Keluarga Sakinah III
Yaitu, keluarga yang dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketaqwaan, dan sosial psikologis, serta pengembangan keluarganya, tetapi belum mampu menjadi suri tauladan bagi lingkungannya.

Keluarga Sakinah III Plus
Yaitu, keluarga-keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia secara sempurna, kebutuhan sosial psikologis, dan pengembangannya, serta dapat menjadi suri tauladan bagi lingkungannya.

Mewujudkan Keluarga Sakinah
Setelah suami dan istri memahami hak dan kewajiban mereka masing-masing. Ada beberapa unsur yang sangat perlu diperjuangkan guna mewujudkan keluarga sakinah, diantaranya:

Mewujudkan Harmonisasi Hubungan Suami Istri
Hubungan suami istri atas dasar saling membutuhkan, seperti pakaian yang dipakai dan lain-lain. Oleh sebab itu, terdapat beberapa upaya dalam mewujudkan hubungan harmonisasi suami dan istri, antara lain:

Adanya Saling Pengertian
Diantara suami istri hendaknya saling memahami dan mengerti tentang keadaan masing-masing baik secara fisik maupun mental. Sebab perlu diketahui bahwa entah itu suami ataupun istri merupakan manusia yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan.

Saling Menerima Kenyataan
Sebagai suami istri, hendaknya sadar bahwa jodoh, rezeki dan mati dalam kekuasaan Allah, tidak dapat dirumuskan secara matematis, namun kepada kita manusia diperintahkan untuk melakukan ikhtiar.

Saling Melakukan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri dalam keluarga berarti setiap anggota keluarga berusaha untuk saling mengisi kekurangan yang ada pada diri masing- masing serta mau menerima dan mengakui kelebihan yang ada pada orang lain dalam lingkungan keluarga.

Memupuk Rasa Cinta
Setiap pasangan suami istri menginginkan hidup bahagia, kebahagiaan hidup adalah bersifat relatif sesuai dengan cita rasa dan keperluannya. Untuk dapat mencapai kebahagiaan keluarga hendaknya antara suami istri senantiasa berupaya memupuk rasa cinta dengan rasa saling sayang-menyayangi, kasih mengasihi, hormat-menghormati serta saling hargai-menghargai dengan penuh keterbukaan.

BACA JUGA:  Pendiri Muhammadiyah Ternyata Seorang Habib Keturunan ke-15 Rasulullah

Melaksanakan Asas Musyawarah
Sikap suka musyawarah dalam keluarga dapat menumbuhkan rasa memiliki dan rasa tanggung jawab diantara para anggota keluarga dalam menyelesaikan dan memecahkan masalah-masalah yang timbul.

Suka Memaafkan
Diantara suami-istri harus ada sikap kesediaan untuk saling memaafkan atas kesalahan masing-masing. Hal ini penting karena tidak jarang persoalan yang kecil dan sepele dapat menjadi sebab terganggunya hubungan suami istri yang tidak jarang dapat menjurus kepada perselisihan yang berkepanjangan.

Berperan Serta Untuk Kemajuan Bersama
Masing-masing suami istri harus berusaha saling membantu pada setiap usaha untuk peningkatan dan kemajuan bersama yang pada gilirannya menjadi kebahagiaan keluarga.

Membina Hubungan Antara Keluarga Anggota Keluarga dan Lingkungan

Keluarga secara garis besar bukan hanya terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak. Melainkan juga menyangkut hubungan persaudaraan yang lebih besar lagi entah itu hubungan dengan anggota keluarga ataupun hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Hubungan Antara Anggota Keluarga
Hubungan antara sesama keluarga besar harus selalu terjalin dengan baik antara keluarga kedua belah pihak. Setiap anggota keluarga, terutama orang tua terhadap anak-anak itu dituntut senantiasa bersikap baik dan berbuat sesuai dengan garis yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya.

Hubungan Dengan Lingkungan Sekitar
Lingkungan sekitar yang dimaksud adalah tetangga. Tetangga termasuk orang-orang yang terdekat dengan kita, karena umumnya mereka lah orang-orang yang pertama tahu dan dimintai pertolongan. Maka dari itu, sangatlah penting bagi kita untuk selalu berhubungan baik dengan semua pihak, karena pada dasarnya semua manusia itu saling membutuhkan. Apabila hubungan dengan beberapa pihak berjalan dengan baik, tentu kebahagiaan yang menjadi idaman setiap insan akan tercapai.

Terwujudnya Kehidupan dan Ubudiyah (ibadah) Dalam Keluarga

Dengan terwujudnya hal tersebut dalam sebuah keluarga, suasana keagamaan akan semakin didapatkan, sehingga terbebas dari 3 hal, diantaranya (1) Buta baca al-Quran, (2) Buta ibadah dan (3) Buta akhlak mulia.

Untuk mengatasi terjadinya ketiga hal tersebut, maka diperlukan penanggulangan untuk mencari solusinya dengan melakukan, antara lain:

membudidayakan sholat jama’ah dan memahami isi secara rutin
membiasakan membaca al-qur’an dan memahami isi secara rutin
mengadakan amaliah ubudiyah dalam keluarga

Meningkatkan Pendidikan dalam Keluarga
Pendidikan dalam sebuah keluarga sangatlah penting mulai dari kualitas maupun kuantitas. Pendidikan yang dimaksud antara lain, pendidikan Tauhid, pendidikan IPTEK, pendidikan akhlak dan masih banyak lagi.

Menjaga Kesehatan Keluarga dengan Baik
Semua keluarga yang ada, pasti tidak ingin salah satu dari anggota keluarganya terkena penyakit. Oleh karena itu, seluruh anggota keluarga dianjurkan untuk melakukan kegiatan seperti perilaku hidup bersih, menjaga kebersihan rumah dan melakukan olahraga secara rutin. Dengan itu, anggota keluarga akan terlindungi dari berbagai macam penyakit yang ada.

Menstabilkan Ekonomi Keluarga
Terdapat beberapa kegiatan atau cara untuk menstabilkan ekonomi keluarga, diantaranya adalah dengan mengatur dan mengendalikan keuangan, kemudian budayakan menabung dan memanfaatkan lingkungan rumah tangga seperti pekarangan dll.

Menyeimbangkan Hubungan Fungsional dalam Keluarga dan Lingkungan Sekitar
Ketika ingin mewujudkan keluarga sakinah, hubungan fungsional yang seimbang, serasi dan selaras merupakan hal yang penting. Karena jika hal ini tidak dilakukan akan berdampak negatif untuk keluarga tersebut. Ada beberapa cara untuk bisa menyeimbangkan hubungan fungsional tersebut, yaitu dengan menciptakan hubungan yang komunikatif dan mengembangkan akhlak mulia dalam sebuah keluarga. Kemudian keluarga tersebut harus menumbuhkan rasa memiliki dalam keluarga dan yang terakhir dengan mengembangkan kecintaan pada lingkungan.

Fasya Azizah, Hairruman Irsyad Naufal, Suci Nurul Annisa
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Indonesia

Pos terkait