Keluarga Sakinah dalam Perspektif Psikologi

Keluarga Sakinah dalam Perspektif Psikologi

DEPOK POS – Keluarga Sakinah merupakan gabungan dari dua kata, yaitu keluarga dan sakinah. Keluarga berarti ahlun dalam bahasa Arab. Selain kata ahlun, ada juga kata yang berarti keluarga yaitu ali dan ashir. Ahlun sendiri berasal dari kata ahila yang artinya suka, gembira dan baik hati.

Dalam pandangan Islam, keluarga adalah satu kesatuan ikatan antara seorang pria dan seorang wanita melalui perkawinan yang berdasarkan ajaran Islam. Quraish Shihab mendefinisikan keluarga sebagai suatu kelompok yang didasarkan pada kerabat yang terutama bertanggung jawab atas kebutuhan sosial dan kebutuhan dasar tertentu lainnya dari anak-anak mereka.

Keluarga terdiri dari sekelompok orang yang memiliki hubungan darah, perkawinan atau adopsi yang hidup bersama tanpa batas waktu.

Kata Sakinah berasal dari bahasa Arab yang artinya tenang. Sedangkan dalam kamus umum bahasa Indonesia, sakinah artinya damai, atau tempat yang aman dan tenang. Keluarga Sakinah adalah keluarga yang hidup dalam keadaan tenang dan damai.

Menurut pandangan Dr. Hasan Hj. Mohd Ali, penerapan keluarga sakinah dalam islam merujuk kepada asas kebahagiaan dan kesejahteraan keluarga yang terletak pada ketakwaan kepada Allah SWT. Keluarga sakinah merupakan keluarga yang didalamnya terletak keridhaan Allah SWT.

Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah : 8

جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ

Artinya : “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”

Dalam keluarga sakinah terdapat beberapa karakteristik, antara lain :

Lurusnya Niat (Islâh al-Niyyah) dan Kuatnya Hubungan Dengan Allah SWT (Quwwatu shilah bi(a)llâh)

Motivasi dalam menikah sebaiknya bukan didasari hanya untuk memuaskan kebutuhan biologis/fisik. Menikah merupakan salah satu tanda kebesaran serta perintah dari Allah SWT sehingga bersifat sakral dan bernilai ibadah. Selain itu, menikah juga merupakan sunnah Rasul, maka dalam prosesi pernikahan dan menjalani kehidupan setelah pernikahan dianjurkan untuk mencontoh Rasul.

Hubungan yang kuat dengan Allah SWT dapat menghasilkan keteguhan hati (kemapanan ruhiyah), yang akan mempengaruhi keberhasilan dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersamaan dengan jiwa yang bergantung hanya kepada Allah SWT (ta‟alluq bi(a)llah).

Keteguhan hati dapat diwujudkan dengan pendekatan diri kepada Allah SWT (taqarrub ila(a)llâh), sehingga seseorang merasakan kebersamaan Allah SWT dalam segala aktifitasnya (ma‟iyat(a)llâh), dan selalu merasa diawasi oleh Allah SWT dalam segenap tindakannya (muraqobat(a)llâh).

Kasih Sayang

Dalam proses mewujudkan keluarga sakinah, ikatan kasih sayang antara anak dengan orang tua mempunyai peran yang sangat penting. Curahan kasih sayang yang orang tua berikan kepada anaknya dapat menciptakan kesan yang sangat kuat di dalam hati seorang anak. Perasaan inilah yang berperan dalam membentuk jiwa, serta membangun kepribadiannya.

BACA JUGA:  Resesi Ekonomi Global, Mungkinkah Terjadi di Indonesia?

Para pakar psikologi menjelaskan bahwa perasaan seorang anak terhadap curahan cinta, respon, dan interaksi orang-orang di sekitar terhadap dirinya sangat penting dalam membantu pertumbuhan emosional, kejiwaan, serta kecerdasan anak.

Selain itu, Kehidupan suami-istri dalam berumah tangga sangat berpeluang mengalami berbagai kesulitan seperti beban pekerjaan, pemenuhan nafkah, pendidikan anak, dan lainnya. Oleh sebab itu, untuk dapat meringankannya diperlukan sikap saling tolong-menolong antara satu sama lain. Sikap saling tolong menolong inilah yang akan mempererat hubungan kasih sayang di antara suami dan istri.

Saling Terbuka (Mushârohah), Santun dan Bijak (Mu’âsyarah bil Ma’rûf)

Keterbukaan ini harus diwujudkan dalam interaksi kejiwaan (syu‟ur), pemikiran (fikrah), sikap (mauqif), dan tingkah laku (akhlâq), sehingga masing-masing dapat mengenal kepribadian suami atau istrinya dan dapat menumbuhkan sikap saling percaya (tsiqoh).

Sikap saling percaya dapat dicapai bila suami atau istri saling terbuka dalam segala hal, baik mengenai perasaan atau keinginan, ide atau pendapat, dan sifat atau kepribadian. Jangan sampai seorang suami atau istri memendam perasaan dan prasangka buruk yang berpotensi menjadi konflik berkepanjangan.

Jika terjadi hal yang demikian, hendaknya suami atau istri segera introspeksi (bermuhâsabah) dan mengklarifikasi penyebab dari timbulnya masalah tersebut, serta mencari solusi bersama untuk penyelesaiannya.

Selain itu, sikap santun dan bijak juga diperlukan dalam menciptakan suasana yang nyaman. Sikap santun dan bijak mencerminkan kondisi ruhiyah yang mapan, dimana seseorang cenderung bisa mengontrol emosinya sehingga terhindar dari amarah.

Komunikasi dan Musyawarah

Dalam keluarga sakinah, seorang ayah harus mampu mewujudkan suasana keluarga yang harmonis serta komunikatif antara orang tua dan anak. Dalam keluarga, komunikasi memiliki beberapa fungsi seperti menjadi sarana untuk mengungkapkan kasih sayang, media untuk menyatakan penerimaan atau penolakan, sarana untuk menambah keakraban antar sesama anggota keluarga, serta menjadi alat ukur bagi baik-buruknya kegiatan komunikasi dalam sebuah keluarga.

Komunikasi yang baik dapat menjadi kunci dari keutuhan keluarga, kasih sayang dan tanggung jawab yang besar, prestasi belajar anak yang semakin membaik, tingkat kesehatan mental keluarga yang baik, semangat kerja, kepuasan hubungan suami istri, dan hubungan emosional antar anggota keluarga yang semakin erat, serta kemampuan dalam menghadapi persoalan keluarga yang baik.

Tasâmuh (Toleran) dan Pemaaf

Perbedaan dari setiap anggota keluarga seperti cara berpikir, bersikap, bertindak, dll, harus disikapi dengan sikap toleran (tasamuh) agar tidak menjadi sumber konflik. Oleh karena itu, masing-masing anggota keluarga harus mengenali kelemahan dan kelebihan dari setiap anggota keluarga lainnya, kemudian berusaha untuk memperbaiki kelemahan yang ada dan memupuk kelebihannya.

Sikap toleran juga menuntut adanya sikap pemaaf yang meliputi 3 tingkatan, yaitu al-afwu (memaafkan orang jika memang diminta), al-shafhu (memaafkan orang lain walaupun tidak diminta), dan al-maghfirah (memintakan ampun pada Allah SWT untuk orang lain). Memaafkan bukan berarti suatu kesalahan dibiarkan terjadi terus menerus, tapi memaafkan berarti berusaha memberikan kesempatan untuk memperbaiki.

BACA JUGA:  Tips Memulai Usaha dari Nol

Adil dan Persamaan

Keadilan merupakan sebuah keseimbangan, tidak berat ke satu sisi, tidak pilih kasih, tidak diskriminatif, dan memenuhi kebutuhan sesuai proporsi masing-masing. Sikap adil mempunyai pengaruh besar terhadap anak-anak, memperlakukan mereka secara sama tanpa pilih kasih dapat menjadikan anak tumbuh sehat dan jauh dari sifat iri hati, dengki, dan dendam.

Islam sendiri mewajibkan kepada orang tua untuk bersikap adil kepada anak-anak, sekaligus melarang untuk melebih- lebihkan dan mengutamakan salah satu dari anak-anak. Sebab hal itu dapat menjerumuskan mereka kepada perbuatan durhaka, dan dapat merusak silaturahmi.

Sabar dan Syukur

Kesabaran adalah keridhaan dalam menerima kelemahan atau kekurangan dari pasangan yang memang diluar kesanggupannya. Begitupun penerimaan orang tua terhadap anak-anak dengan segala potensi dan kecenderungannya.

Kesabaran dalam kehidupan rumah tangga merupakan hal yang mendasar untuk mencapai keberkahan. Selain itu syukur juga merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan berumah tangga.

Mensyukuri rezeki yang diberikan Allah SWT seberapapun besarnya dan bersyukur atas keadaan suami, serta tidak membandingkan dengan suami orang lain merupakan hal yang diperlukan dalam mencapai keberkahan.

Pembahasan mengenai keluarga dalam psikologi masuk dalam psikologi keluarga. Psikologi keluarga adalah psikologi terapan yang fokus pada interaksi antar anggota keluarga dan konteks yang turut mempengaruhi keluarga seperti lingkungan keluarga.

Dalam psikologi keluarga dijelaskan bahwa keluarga merupakan tempat yang penting bagi perkembangan secara fisik, emosi, spiritual, dan sosial. keluarga yang menjadi sumber kasih sayang, perlindungan, dan pembangunan konsep diri pertama bagi setiap individu.

Keluarga dalam perspektif psikologi juga diartikan sebagai sekumpulan orang yang hidup bersama dalam tempat tinggal dan masing-masing anggota merasakan adanya pertautan batin sehingga terjadi saling mempengaruhi, memperhatikan, dan saling menyerahkan diri.

Dalam memenuhi peran dan fungsi-fungsi yang baik dalam berkeluarga maka akan menghasilkan konsep keluarga yang bahagia. Keluarga sakinah yang diartikan sebagai keluarga yang tentram, tenang, penuh kebahagiaan, dan sejahtera secara lahir dan batin dalam islam juga dapat didefinisikan sebagai keluarga bahagia dalam psikologi.

Keadaan bahagia dalam keluarga dapat dibuktikan dengan adanya hasil dari hubungan baik dan harmonis antara pasangan suami istri yang menghasilkan anak-anak berprestasi.

Seseorang yang bahagia didefinisikan dalam psikologi jika ia mampu memahami kebutuhan-kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat fisik seperti sandang, pangan, papan, dan kebutuhan psikis seperti rasa aman, rasa ingin tahu, rasa bebas merdeka, mencapai kesuksesan, dan memperoleh keadilan, serta kebutuhan sosial seperti kebutuhan memperoleh kasih sayang, kebutuhan dihargai atau memperoleh penghargaan.

Sedangkan dalam pendekatan agama Islam, manusia akan mempunyai jiwa yang tentram apabila manusia tersebut mempunyai iman yang kuat, teguh, dan benar serta selalu mengingat Allah SWT.

BACA JUGA:  Kecerdasan Emosi dalam Berkomunikasi

Maka dapat disimpulkan bahwa keluarga bahagia dalam psikologi islam adalah keluarga yang setiap anggotanya memiliki kebahagiaan atau kesejahteraan atas dirinya sendiri, dirinya dalam perannya sebagai anggota keluarga dan dirinya sebagai hamba Allah.

Untuk menggapai keluarga yang sakinah atau bahagia dibutuhkan kerjasama atau upaya-upaya yang harus dilakukan oleh setiap anggota keluarga. Akan lebih mudah jika memiliki rencana pernikahan yang sakinah dari sebelum dua individu sah menjadi suami dan istri.

Namun masih banyak orang yang belum sadar bahwa keluarga harus memiliki visi keluarga sakinah untuk membangun masa depan yang cerah hingga generasi selanjutnya. Selain itu, masih banyak yang belum mengetahui cara atau upaya dalam mencapai keluarga yang sakinah atau keluarga bahagia.

Dalam berkeluarga, suami dan istri adalah peran paling penting dalam setiap keputusan dan sistem yang dibangun dalam keluarga. Maka, membangun harmonisasi antara suami dan istri adalah keutamaan dari terbangunnya keluarga yang sakinah.

Untuk mewujudkannya ada beberapa upaya yang bisa dilakukan antara lain :

Adanya saling pengertian antara suami dan istri, komunikasi adalah hal yang penting, namun tanpa paham, mengerti, dan menghargai satu sama lain maka komunikasi tidak ada artinya.

Saling menerima kenyataan, suami dan istri hendaknya harus menyadari bahwa semua yang terjadi pada kehidupan manusia tak luput dari kehendak Allah SWT, sedangkan manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Bersyukur juga penting dalam membangun keluarga yang sederhana.

Saling melakukan penyesuaian diri, penyesuaian diri dalam keluarga berarti sikap anggota keluarga yang berusaha untuk dapat saling mengisi kekurangan satu sama lain dan mengakui kelebihan masing- masing anggota keluarga.

Memupuk rasa cinta, dalam berkeluarga permasalahan menjadi kebutuhan untuk berkembang lebih baik. Namun tetap saja memberi rasa negatif pada diri kita. Agar permasalahan dalam keluarga bisa dihadapi dengan damai diperlukan rasa saling mencinta pada setiap anggota terutama suami dan istri.

Melaksanakan asas musyawarah, dengan bermusyawarah setiap anggota keluarga akan penting keberadaannya. Selain untuk menyelesaikan masalah dan menentukan keputusan bersama, musyawarah bisa meningkatkan self esteem dalam diri.

Saling memaafkan, hal ini juga penting untuk menanamkan sikap memaafkan. Walaupun dalam satu keluarga yang sama, keluarga tetaplah terdiri dari beberapa kepala yang memiliki ciri khas kepribadiannya yang berbeda. Hal kecil/sepele yang terjadi bisa menjadi permasalahan yang besar dan mengganggu keharmonisan dalam berkeluarga.

Pada dasarnya keluarga merupakan suatu lingkungan yang tidak hanya terdiri dari suami, istri, dan anak-anak saja didalamnya, namun keluarga juga menyangkut hubungan yang lebih besar baik hubungan anggota keluarga itu sendiri maupun hubungan dengan lingkungan masyarakat. Hubungan yang baik antar sesama akan menciptakan suasana yang aman, tentram, dan damai yang mengantar pada kesakinahan sebuah keluarga.

Oleh : Namira Elbira Firdaus, Shafiyyah Muthi’ah, Irsya Elfradhia
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait