Kenali Dampak Psikologis Nikah Muda

Kenali Dampak Psikologis Nikah Muda

“Kapan nikah?”
“Jangan terlalu mandiri, jadi lupa nikah nanti”

Zaman sekarang banyak sekali remaja yang memutuskan untuk menikah muda dengan alasan menghindari pertanyaan yang sering dilontarkan orang lain atau bahkan dari keluarganya sendiri. Padahal pernikahan itu sangat sakral bahkan bukan suatu hal yang bisa kita jalani dengan mudah. Memang benar pernikahan merupakan bagian dari ibadah, namun dalam suatu ibadah pun kita harus memiliki niat yang benar. Begitu Pula halnya pernikahan yang juga memiliki segala bentuk persiapan yang harus diperkirakan dan dipikirkan dengan baik, mulai dari fisik, kondisi psikologis, finansial, pemilihan pasangan dan lain sebagainya. Seperti yang terterah pada hadist rasul dari Ibnu Mas’ud :

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ اَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. الجماعة

Rasulullah SAW bersabda, “Hai para pemuda, barangsiapa diantara kamu yang sudah mampu menikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekang syahwat”.

BACA JUGA:  Tanggungjawab & Integritas dalam Entrepreneur

Dalam hadist tersebut menjelaskan bagaimana kita sebagai umat islam dianjurkan untuk lebih memiliki kesiapan dalam menikah. Karena, jika kita menikah semata-mata hanya karna pressure dari orang lain, atau faktor lain yang membuaT kita mengambil keputusan secara cepat tanpa pemikiran yang matang, kita tidak akan mudah untuk menjalaninya. Dalam Studi juga menunjukkan bahwa pasangan yang menikah di usia 20-an memiliki kemungkinan 50 persen lebih besar untuk bercerai daripada pasangan yang menikah di usia 25-an ke atas. Jadi sangat wajar jika banyak sekali yang mengkhawatirkan untuk menikah di usia muda.

Terus apa saja sih dampak psikologis dari pasangan yang menikah muda? Studi mengatakan bahwa anak yang dipaksa menikah muda memiliki risiko lebih besar mengalami gangguan mental, baik itu kecemasan, stres, atau depresi. Pernikahan dengan kesiapan yang tidak matang akan rentan memiliki konflik yang berujung perceraian. Kekurangsiapan mental kedua pasangan yang belum dewasa dapat menjadi salah satu faktor konflik tersebut. Kecemasan dalam menghadapi masalah – masalah yang timbul dalam keluarga juga akan membuat pasangan remaja mudah mengalami goncangan jiwa yang dapat mengakibatkan stress dan depresi, bahkan jika keadaan ini tidak mendapatkan perhatian dan penanganan dengan baik akan mengakibatkan goncangan pada jiwa yang lebih berat lagi.

BACA JUGA:  Salah Paham? Komunikasi Kuncinya!

Selain risiko perceraian yang lebih tinggi dan dapat menyebabkan gangguan psikologis, pasangan yang menikah muda memungkinkan juga terjadinya kekerasan dalam rumah tangga dan kemiskinan. Hal ini bisa terjadi karena pria masih memiliki emosi yang belum stabil, serta belum ada kesiapan secara mental untuk menanggung nafkah dan berperan sebagai suami sekaligus ayah.

Berikut beberapa faktor kesiapan menikah yang teridentifikasi dari persepsi dewasa muda terdiri atas:

⦁ Kesiapan emosi, yaitu sebagaimana pasangan suami istri harus bisa mengontrol emosi dalam menghadapi situasi dan masalah, sehingga tidak gegabah dalam mengambil suatu keputusan.
⦁ Kesiapan sosial, yaitu bagaimana kita bisa menghadapi lingkungan sosial setelah menikah dan hidup bersama.
⦁ Kesiapan finansial, yaitu mempersiapkan finansial untuk mencukupi kehidupan saat berumah tangga.
⦁ Kesiapan peran, yaitu bagaimana kita bisa menjalani peran sebagai suami istri serta ibu dan ayah yang baik bagi anak-anak kelak.
⦁ Kematangan usia lembaga pemerintahan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berpendapat bahwa usia yang ideal untuk menikah ialah 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.

BACA JUGA:  Bahaya Cyber Crime dalam Bentuk Link Phising

Selain itu, terdapat sedikit perbedaan antara kesiapan menikah bagi laki-laki dan kesiapan menikah bagi perempuan. Faktor kesiapan menikah yang menjadi pacuan bagi laki-laki bisa berupa kesiapan finansial, kesiapan emosi, kesiapan peran, kesiapan spiritual, kesiapan fisik, dan kesiapan sosial. Sedangkan faktor kesiapan menikah yang menjadi pacuan untuk perempuan ialah kesiapan peran, kesiapan emosi, kesiapan finansial, dan kesiapan fisik, kesiapan seksual dan kesiapan spiritual.

Oleh karena itu, alangkah lebih baik bagi kita untuk mempertimbangkan kembali sebelum memutuskan untuk menikah muda, baik secara lahir maupun bathin, begitupun kondisi psikologis. Selain itu kita juga harus cermat dalam pemilihan pasangan, karena pasangan yang tepat akan membuat kita lebih bahagia dan dapat menjadi penyempurna ibadah kita.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk kita semua, terima kasih.

Oleh:
Annisa Nurfauziah
Belina Amelia Paga
Khalida Shakilla

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PPROF. DR. HAMKA
2022

Pos terkait