Kenali Halal Haramnya Makanan dalam Islam

Kenali Halal Haramnya Makanan dalam Islam

DEPOK POS – Berbagai jenis makanan dapat kita peroleh di pasaran, dari makanan yang manis hingga makanan yang masam semuanya dikemas dan disajikan dalam bentuk menarik. Bagi umat Islam ada satu faktor yang jauh lebih penting dari sekedar rasa dan penampilan yaitu halal atau haram suatu makanan (Zulaekah & Kusumawati, 2005).

Islam bukan hanya mengatur ibadah akan tetapi pula merupakan agama yang sesuai dengan akal manusia, dalam hal makanan dan minuman umat Islam diajarkan untuk makan makanan dan minum dari yang bersih dan baik bagi kesehatan tubuh. Makanan dan minuman sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan , kesehatan jasmani dan rohani, karena keduanya akan membentuk kepribadian dan karakter manusia.

Seperti firman Allah dalam Al-qur’an “Maka Khendaklah mereka menyembah tuhan pemelik rumah ini (ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan rasa lapar “(QS, Al-Quraisy (106): 3-4). Berdasarkan ayat di atas dapat dipahami bahwa makanan merupakan sesuatu yang dapat menghilangkan lapar.

BACA JUGA:  Pentingnya Memahami Pola Komunikasi Bisnis dalam Melancarkan Kegiatan Suatu Usaha

Sebelum membahas tentang hukum makanan kita akan membahas mengenai prinsip islam tentang makanan, islam mengatur umatnya dalam masalah makanan dengan prinsip halal dan thayyib. Halal berasal dari kata halla yahillu hallan wa halalan memiliki arti diizinkan, dibolehkan, dan dihalalkan. Sedangkan thayyib merupakan kata dasar dari kata taba yang terbentuk dari kata ta, alif, ba yang berarti lezat, subur, suci, halal, dam membolehkan (Samsuddin, 2020). Disamping diperintahkan agar makanan itu halal dan thayyib, bersamaan dengan itu diperintahkan agar makanan tersebut berakibat baik bagi kesehatan.

Hukum makanan terbagi menjadi halal, subhat, dan haram:

⦁ Halal memiliki arti diizinkan, dibolehkan, tidak dilarang, dan tidak diharamkan. Perlu diperhatikan pula bahwa halal memiliki kriteria yaitu, halal dalam zat atau jenisnya, cara mendapatkannya, cara pengolahan, penyimpanan, dan penyajiannya.

BACA JUGA:  Penerapan Pola Hidup Minimalis dan Manfaatnya

⦁ Subhat merupakan keraguan akan kehalalan dan keharaman dalam makanan dan minuman. Keraguan ini dapat mengenai zatnya, cara memperolehnya, cara pengolahan, dan penyimpanannya.

⦁ Haram merupakan sesuatu yang dilarang atau tidak diperbolehkan. Menurut Nashirun (2020) Hukum haram dibagi menjadi dua macam yaitu, haram lizatihi suatu keharaman yang sejak awal ditentukan Al-qur’an dan hadist. Misalnya, memakan bangkai, babi, berjudi, meminum minuman keras, dan memakan harta anak yatim. Sedangkan haram lighairihi, yaitu sesuatu yang awalnya disyari’atkan, tetapi dibarengi oleh hal-hal yang bersifat tidak baik.

Makanan yang dihalalkan dalam Islam

Makanan yang tidak mengandung bahan dari binatang yang haram untuk dimakan atau tidak disembelih menurut hukum islam, tidak mengandung bahan yang najis, tidak diproses menggunakan bahan atau alat yang terkena najis, serta pengolahan tidak bercampuran dengan bahan yang haram. Makanan yang diuraikan dalam Al-qur’an menurut quraish shihab terbagi menjadi tiga, yakni: makanan yang berasal dari tumbuhan (semua tumbuhan boleh dimakan asal memenuhi kriteria halal dan thayyib), makanan berasal dari hewan seperti hewan ternak, dan terakhir makanan olahan yang dibuat dari buah-buahan dibentuk menjadi olahan minuman.

BACA JUGA:  Memilih Calon Pasangan Hidup Berlandaskan Bibit, Bebet, Bobot

Makanan yang diharamkan dalam Islam

Berikut ini ayat Al-qur’an yang menerangkan diharamkannya beberapa jenis makanan: “Diharamkan bagimu(memakan) bangkai, darah, daging babi, dan (daging) hewan yang disembelih bukan atas nama Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu sembelih (QS, Al-maidah: 3)”. Didalil larangan ini tentu terdapat hikmah yang dapat kita ambil, pada setiap yang dilarang pasti mengandung mudharat dan pada suatu perintah pasti terkandung manfaat.

Asteria Dwima Nurhermaya, Haiza Mutia Hani, Novalia Agustin
Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Pos terkait