Kenali Prinsip Investasi dalam Islam

DEPOKPOS – Seperti yang sudah diketahui salah satu instrumen keuangan yang saat ini diminati oleh banyak orang adalah investasi. Berbicara tentang investasi apakah kita sudah mengetahui apa pengertian dari investasi itu sendiri?.

Menurut Wikipedia Investasi adalah penanaman modal, atau pelaburan adalah suatu kegiatan menanamkan modal, baik langsung maupun tidak, dengan harapan pada waktu nanti pemilik modal mendapatkan sejumlah keuntungan dari hasil penanaman modal tersebut.

Dalam Islam investasi memiliki kedudukan pada bagan muamalah dan tidak terlepas dengan kaidah fiqh. Pada dasarnya agama islam adalah agama yang pro investasi, tetapi disini islam tidak menginginkan sumber daya yang dimilki seseorang tersebut hanya disimpan dan tidak diproduktifkan, karena secara perlahan harta tersebut akan berkurang karena harus dibayarkan zakatnya.

Secara prinsip ekonomi tidak ada perbedaan antara investasi dalam konsep islam maupun konvensional. Dimana high return dan hight risk benjadi patokan yang utama. Patokan lain yang menjadi pertimbangan juga yaitu investasi merupakan pengorbanan sekarang untuk mendapatkan manfaat dimasa yang akan datang.

Walaupun secara prinsip ekonomi tidak berbeda, tetapi di dalam agama islam dimana sebuah investasi tidak boleh dilepaskan begitu saja dengan ibadah, sehingga investasi harus berpegang teguh dengan ajaran agama islam. disini investasi selain bernilai fisik material juga harus bernilai moral spritual.

Maka dari itu perlu ditetapkan suatu kriteria tentang investasi yang sesuai dengan agama islam. Selama ini untuk mengeluarkan suatu produk hukum syari’ah yang berupa fatwa tidak terlepas dari keberadaan dewan syari’ah yang beranggotakan para ulama, praktisi maupun pakar yang berkompeten. Karena dengan adanya fatwa tersebut diharapkan bisa memberikan jaminan tentang suatu produk hukum yang legal, sehingga masyarakat merasa tidak was-was dalam melakukan aktivitas investasi.

Di negara kita yaitu Indonesia, produk hukum terkait dengan investasi syari’ah tidak terlepas dari para ulama yang tergabung dalam Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Dari sekian fatwa dibidang ekonomi yang telah dikeluarkan MUI tersebut adalah fatwa terkait dengan investasi.

Fatwa ini dikeluarkan dalam rangka merespon maraknya pertumbuhan dan seiring perkembangan lembaga keuangan islam serta lembaga ikutannya seperti pasar uang dan pasar modal Berdasarkan pemaparan diatas maka artikel ini akan mengkaji prinsip-primsip syari’ah dalam investasi, dikarenakan hal ini merupakan suatu landasan bagi penetapan investasi syari’ah dalam implementasi praktik investasi.

BACA JUGA:  Apresiasi kepada Pelanggan Setia, IOH Siapkan Rp1,7 Miliar di Pesta Hadiah IMPoin 202

Agama islam tidak membatasi aktivitas manusia dalam bermuamalah antar manusia lainnya. Salah satu aktivitas muamalah yaitu investasi. Investasi sangat dianjurkan dalam rangka untuk mengembangkan karunia Allah. Dinamakan karunia Allah karena kekayaan sangatlah penting dalam kehidupan manusia. Islam tidak memperbolehkan kekayaan ditumpuk dan ditimbun (QS. Al-Humazah [104]: 1-3).

Karena hal-hal demikian adalah menyia-nyiakan ciptaan Allah SWT dari fungsi sebenarnya harta dan secara ekonomi membahayakan. Bahaya dari penimbunana harta tersebut berupa terhambatnya penumbuhan modal. Dengan terhambatnya pertumbuhan modal lah modal kerja yang tersedia untuk investasi.

Hal ini juga yang tentunya akan menghambat laju pembangunana di suatu negara. Adanya pelarangan penumpukan dan penimbunan kekayaan, yang menyebabkan kekayaan tersebut harus diputar (QS. al-Hashr [59]: 7).

Khalifah Umar bin Khatab juga pernah berkata, “Siapa saja yang mempunyai kekayaan hendaknya mengembangkannya dan siapa saja yang mempunyai tanah, hendaknya menanaminya”.

Dari beberapa landasan hukum tersebut nampak jelas bahwa investasi atau kegiatan produktif lainnya sangatlah dianjurkan dalam islam demi tercapainya tujuan syariah kemashlahatan.

Keputusan seorang muslim untuk melakukan investasi pada suatu bidang tertentu didasarkan atas inisiatif dari dirinya sendiri, bukan karena suatu paksaan, atau sebaliknya, dimana mitra kerjanya pun bekerja sama atas inisiatif diri sendirinya. Dengan demikian, aktivitas investasi tersebut akan jauh dari unsur-unsur paksaan, aniaya dan zalim mendhalimi (QS. An-Nisa [4]:29,QS. Al-Baqarah [2]279).

Meskipun islam sangat menganjurkan kita berinvestasi, bukan berarti semua bidang usaha diperbolehkan dalam berinvestasi. Ada aturan-aturan dalam islam yang menerapkan batasan dimana aktivitas yang halal dan haram untuk dilakukan. Ini bertujuan untuk mengendalikan manusia dari kegiatan yang membahayakan masyarakat (Afzalurrahman, 2000). Berdasarkan Al-Quran, Hadits dan pendapat para ahli fiqh (ajaran islam), sesuatu yang dilarang atau diharamkan adalah:

Haram karena bendanya (zatnya)

BACA JUGA:  Matahari Memulai Program Pembukaan Gerai 2023 di REVO Town Mall Bekasi, Jawa Barat

Pelarangan kegiatan muamalah ini disebabkan karena benda atau zat yang menjadi objek dari kegiatan tersebut berdasarkan keutamaan Al-Qur’an dan hadits telah dilarang (diharamkan). Benda benda tersebut yaitu: babi, khamr, bangkai binatang dan darah. Sumber Al-Qur’an telah menjelaskan beberapa hal yang jelas dilarang untuk dilakukan (QS. Al -Baqarah [2]: 173), yang sekaligus juga merupakan ruang yang tertutup bagi aktivitas investasi. Selain dari bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih tidak menyebut asma Allah, juga disebutkan pelarangan terhadap aktivitas spekulasi berjudi (QS. Al-Baqarah [2]: 219, QS. Al-Maidah [5]: 90-91).

Haram selain karena bendanya (zatnya)

Pengetian dari pelarangan ini adalah suati kegiatan yang objek dari kegiatannya bukan merupakan benda-benda yang diharamkan karena zatnya; artinya benda-benda tersebut benda-benda yang dibolehkan (dihalalkan). Akan tetapi benda tersebut bisa menjadi diharamkan apabila adanya unsur:

  • Tadlis
  • Taghrir/Gharar
  • Riba
  • Terjadinya: Ikhtikar dan Bay Najash

Suatu benda juga bisa diharamkan karena adanya unsur tadlis. Tadlis yaitu sesuatau yang mengandung unsur penipuan. Unsur tadlis tersebut dilarang tidak hanya dalam ekonomi syari’ah melainkan juga dalam ekonomi konvensional.

Taghrir/Gharar juga termasuk salah satu unsur yang memebuat suatu benda menjadi haram, sehingga harus dihindari. Gharar atau taghrir dalam fiqih muamalah berarti: melakukan sesuatu secara membabi buta tanpa pengetahuan yang mencakupi, atau mengambil risiko sendiri dari suatu perbuatan yang mengandung risiko tanpa mengetahui dengan persis apa akibatnya, atau memasuki kancah risiko tanpa memikirkan konsekuensinya.

Menurut Ibnu Taimiyah, gharar terjadi apabila seseorang tidak tahu apa yang disimpan bagi dirinya pada akhir suatu kegiatan bisnis atau jual beli. Gharar pada dasarnya terjadi akibat adanya inclompete information yang dialami oleh kedua belah pihak. Dan terjadi unsur ketidakpastian dalam gharar yang melibatkan kedua belah pihak.

Faktor terbesar yang mempengaruhi perilaku masyarakat dalam berinvestasi kala ini tidak bisa dijauhkan dengan keberadaan tingkat bunga. Sementara itu investasi dalam ekonomi islam tidak menegenal adanya peranan bunga (QS. Al-Baqarah [2]: 275).

Islam melarang pembayaran bunga atas segala bentuk pembiayaan, ketentuan ini menunjukkan bahwa dalam ekonomi islam, tingkat bunga tidak termasuk dalam perhitungan investasi. Oleh karena itu, ongkos oportunitas (opportunity cost) dana untuk tujuan investasi adalah tingkat zakat yang dibayarkan atas dana tersebut. Dengan kata lain, tabungan yang tidak disalurkan ke investasi nyata, maka pemilik tabungan tersebut akan terbebani zakat.

BACA JUGA:  BRI Life Raih Penghargaan Living Legend Company

Tidak Sah Akadnya

Berdasarkan pengertian fiqh Akad adalah suatu perbuatan hukum yang melibatkan kedua belah pihak atau lebih, yang melakukan perjanjian. Dengan demikian kedua belah pihak atau lebih yang melakukan perjanjian tersebut tidak boleh menyimpang dan harus sejalan dengan kehendak syari’ah (hukum islam). Untuk itu dalam semua aktivitas muamalah, akad merupakan sesuatu yang harus ada, termasuk dalam aktivitas investasi.

Akad yang lazim dilakukan masyarakat modern adalah pertukaran antara “ayn” dengan “dayn” (barter antara sua hal yang berbeda, bisa berupa real asset dengan financial asset). Berdasarkan hasil studi tim pasar modal Dapartemen Keuangan (2004). Beberapa akad yang sering dijumpai dalam investasi syari’ah, antara lain: mudharabah, murabahah, salam, ishtishna, dan ijarah.

Seperti halnya dengan pengharaman disebabkan karena selain zatnya maka pada kegiatan ini benda yang dijadikan objeknya adalah benda yang berdasarkan zatnya dikategorikan halal (dibolehkan) tetapi benda tersebut menjadi haram disebabkan akad yang menjadikan dasar atas transaksi tersebut dilarang/diharamkan oleh ajaran islam.

Perjanjian-perjanjian yang dilarang tersebut antara lain:

Ta’aluq.

Terjadinya suatu perjanjian dimana pelaku, objek, dan periodenya sama.

Masalah lain yang mengemuka juga adalah masalah utang-piutang, yang harus diperhatikan dalam aktivitas investasi, mengingat utang dan piutang ini mempunyai konsekuensi dlam hukum islam. berdasarkan penjelasan ini, maka seorang muslim tidak boleh berutang kecuali karena sangat perlu.

Dan kalaupun dia terpaksa harus berutang, sama sekali tidak boleh melepaskan niat untuk membayar. Sebab dalam hadis Rasulullah SAW disebutkan:

“Barangsiapa utang uang kepada orang lain dan berniat akan mengembalikannya, maka Allah akan luluskan niatnya itu; tetapi barangsiapa mengambilnya dengan niat akan membinasakan (tidak membayar), maka Allah akan merusakkan dia”. (HR. BUKHARI)

Nursyakiah

Pos terkait