Kepemimpinan Perempuan dalam Islam: Beradab, Amanah dan Bijaksana

Kepemimpinan Perempuan dalam Islam: Beradab, Amanah dan Bijaksana

MAJALAH JAKARTA Kedudukan perempuan dan laki-laki memang sudah setara. Bahkan saat ini kaum perempuan di Indonesia sudah leluasa untuk menentukan dan mengembangkan kariernya sesuai dengan keinginan dan kompetisinya.

Dan sudah cukup banyak pos penting yang pernah dan sedang dipegang oleh kaum perempuan, seperti presiden, wakil presiden, menteri, hakim, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, gubernur dan jabatan-jabatan penting lainnya.

Hal ini menjadi landasan dalam menjawab pertanyaan: “Apakah perempuan boleh menjadi seorang pemimpin ?”

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu ditelaah terlebih dahulu firman-firman Allah SWT dalam Al-Qur’an. Dalam Al Qur’an surah An-Nisa at 34, Kaum Laki-laki adalah Pemimpin bagi Kaum Wanita Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman:

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا

Artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An Nisaa’ : 34)

BACA JUGA:  Tingginya Penyakit Sifilis, Buah Sistem Kapitalis Sekuler

Islam menilai bahwa perempuan dan laki-laki adalah dua pondasi masyarakat tempat mereka mempunyai peran yang sama dalam penciptaan, pembentukan, pengaturan, dan pemanfaatan masyarakat.

Islam juga telah memberikan berbagai hak, kehormatan, dan kewajiban kepada perempuan sesuai dengan harkat dan martabat mereka sebagai makhluk yang bertanggungjawab di hadapan Allah, baik terhadap diri, keluarga, masyarakat, maupun negara.

Jika Allah saja telah memberikan hak dan tanggungjawab kepada perempuan yaitu menjadi “manusia” sebagai hamba Allah tidak ada alasan bagi kaum laki-laki untuk merasa superior terhadap gender perempuan.

BACA JUGA:  Potensi Sengketa Perselisihan Hasil Perolehan Pemilu dan Peran Mahkamah Konstitusi

Laki-laki dan perempuan adalah sama-sama makhluk Allah yang besok di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban selama masa hidupnya.

Sebelum hadirnya Islam pun, perempuan sudah dapat menjadi pemimpin. Dalam Al-Qur’an Surah An-Naml ayat: 23 dijelaskan tentang kepemimpinan Ratu Balqis yang memimpin kerajaan Saba’ (Yaman) pada masa Nabi Sulaiman AS yang merupakan salah satu contoh bahwa Islam tidak melarang perempuan untuk mengambil peran menjadi seorang pemimpin dalam sebuah komunitas publik.

Ratu Balqis menjadi bukti bahwa Al-Qur’an Surah An-Naml: 29-33 menceritakan role model pemimpin perempuan yang memiliki jiwa kepemimpinan yang demokratis, arif, bijaksana dan memiliki kemampuan intelektual dalam mempertimbangkan kebijakan negara yang didasarkan atas kemaslahatan rakyatnya.

Sesuai dengan prinsip yang selalu digaungkan dalam Islam, yaitu “tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bi al-maslahah” (yang artinya adalah kebijakan pemimpin harus didasarkan atas kemaslahatan rakyat.

Jadi, Bolehkah Perempuan Menjadi Pemimpin dalam Islam?

Tentu saja diperbolehkan, selama Perempuan tersebut memiliki kemampuan, kemauan dan keinginan untuk berkinerja dengan penuh amanah, beradab dan Bijaksana dengan semua orang.

BACA JUGA:  Ikuti Konser Blackpink, Remaja Terpapar Budaya Asing

Banyak sekali pemimpin perempuan di zaman Rasulullah yang bisa menjadi contoh, tidak hanya bagi perempuan tapi juga laki-laki. Salah satu Tokoh pemimpin perempuan dalam sejarah islam adalah Khadijah Al-Kubra, ia adalah perempuan yang mandiri dengan memimpin perusahaan besar peninggalan sang ayah di mekkah. hebatnya lagi, Khadijah saat memimpin perusahaan tersebut merupakan Ibu tunggal yang juga mengurus 2 orang anaknya yaitu Abdullah dan Abu Hallah karena ia ditinggalkan suami yang telah tewas di medan perang.

Meski khadijah merupakan pengusaha yang sukses namun ia mempunyai jiwa kemanusiaan yang tinggi dan dermawan. Dan sampai saat ini, Khadijah banyak dijadikan sebagai simbol kemajuan perempuan muslim yang ingin menjadi pengusaha.

Namanya banyak dipakai oleh lembaga kemanusiaan sebagai wujud penghormatan atas dedikasinya dalam membongkar stereotip terhadap perempuan pada saat itu, dan peran besarnya dalam penyebaran agama Islam.

Oleh: Anna Jamia Maghdalena Ningsih – Mahasiswi Perbankan Syariah STEI SEBI

Pos terkait